
Pagi ini Maura terlihat berada di ruang makan bersama dengan Freya juga. Maura yang baru saja keluar dari dapur terlihat membawa baki nampan kayu.
"Buat apa baki itu, sayang?" Tanya Freya saat melihat Maura membawa baki nampan kayu. Saat ini dirinya tengah menata sarapan pagi yang baru saja selesai dia masak dengan bantuan ART tentunya.
"Maura mau makan di kamar saja, Bun." Jawab Maura dan meletakkan baki nampan tersebut di atas meja. "Bian buru-buru. Sekarang aja lagi mempelajari rekam medis pasien yang pagi ini akan dioperasi. Ada sedikit masalah katanya. Makanya sekarang lagi mempelajari lagi." Terang Maura sambil mengambil nasi dalam mangkok kecil juga beberapa lauk yang sudah dimasak sang Bunda. Dia tidak membantu masak pagi ini karena tadi dirinya telat bangun.
Freya mengangguk saja karena dia tidak paham dengan dunia medis. Kalau soal hitung menghitung dia akan maju paling depan tanpa diminta.
"Bun, nanti sore Maura sama Bian tidak langsung pulang ke rumah. Kami akan menginap di rumah Mama beberapa malam. Mama tadi malam menelepon dan meminta kami untuk menginap disana sebelum kami tinggal di rumah kami sendiri." Ujar Maura mengingat tadi malam mertuanya menghubungi Fabian dan memberi tahu kalau sudah ada di rumah dan mertuanya itu juga meminta dirinya sama Fabian untuk menginap beberapa di rumahnya.
Freya terlihat kaget, pasalnya ini baru empat hari Maura juga Fabian menginap di rumah padahal sebelumnya mereka mengatakan kalau akan menginap selama seminggu. Namun Freya tidak mau melarangnya mengingat Maura sekarang sudah menikah dan harus ikut suami. "Iya tidak apa. Kamu disana nanti harus sopan, yang rajin, jangan bangun kesiangan ya. Malu Bunda." Pesan Freya mengingatkan Maura untuk tidak bangun telat dan kesiangan.
"Memang Maura pernah apa bangun kesiangan." Sahut Maura dengan raut wajah tak berdosa. Padahal dia sering sekali bangun telat bahkan kesiangan.
"Tidak pernah sih, tapi sering." Timpal Freya dengan sindiran. Dia tersenyum mengejek pada putrinya itu.
Maura mencebikkan bibirnya, dia kesal karena pagi-pagi Bundanya itu sudah menyindirnya. Walau kenyataannya itu memang benar adanya. "Ayah mana, Bun?" Tanya Maura yang kini beralih menuang susu kedalam gelas. Dia melupakan kekesalannya karena dibilang sering bangun kesiangan.
Freya duduk di kursi sambil melihat apa yang Maura lakukan setelah selesai dengan tugasnya. "Ayah habis subuh tadi pergi ke acara joging bersama dengan di GOR dekat balaikota."
"Kenapa Bunda nggak ikut? Biasanya kalau ada acara santai seperti ini Bunda pasti ikut Ayah." Kata Maura yang penasaran kenapa Bundanya justru ada di rumah dan tidak ikut pergi bersama Bryan.
"Bunda jam delapan nanti ada tapping lanjut janji temu dengan klien ,jadi nggak bisa ikut Ayah." Jawab Freya memberi tahu apa kegiatannya pagi ini.
Maura menganggukkan kepalanya sekilas. "Maura ke kamar dulu, Bun." Pamit Maura setelah apa yang dia ambil untuk sarapan pagi sudah siap semua diatas baki nampan kayu.
"Kamu nanti ke rumah sakit untuk menjenguk Anggie?" Maura menghentikan langkah kakinya saat Freya bertanya pada dirinya.
__ADS_1
Maura membalikkan badannya dan mengangguk mengiyakan. "Iya, Bun. Cuma pagi aja karena siangnya Maura ada kerjaan." Jawab Maura.
"Salam buat Anggie dari Bunda. Cepat kembali bangun karena kebahagiaan tengah menantinya." Ucap Freya yang merasa sedih dan kasihan akan nasib yang Anggie alami.
"Baik, Bun. Nanti akan Maura sampaikan pada Anggie." Balas Maura yang kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dia naik ke lantai dua melalui tangga, padahal ada lift yang mempermudah dirinya menuju lantai atas tanpa harus lelah melangkah.
Sesampainya di kamar, Maura langsung meletakkan apa yang dia bawa di atas meja dekat sang suami duduk. Dia melihat suaminya yang masih fokus dengan laptop di atas pangkuannya juga beberapa lembaran berkas disisi kanan. Maura mendekat, mengambil lembaran berkas itu dan duduk disisi kanannya Fabian yang tidak menghiraukan kehadirannya dan tetap fokus dengan apa yang tengah dikerjakan.
"Mau makan sekarang?" Tawar Maura sambil melihat isi lembaran berkas sekilas, lantas dia letakkan di atas pangkuannya karena tidak begitu paham dunia bedah.
"Kamu duluan saja." Tolak Fabian menjawab tawaran yang diberikan Maura. Dia menjawab tanpa menoleh maupun melihat kearah dimana sang istri sekarang tengah duduk disisinya.
Maura mendengkus perlahan karena merasa diacuhkan sama Fabian. Perasaan suaminya itu hanya seorang dokter bedah, tapi sibuknya mengalahkan pengusaha sukses yang memiliki banyak cabang perusahaan dimana-mana.
Karena kesal, Maura meletakkan lembaran berkas itu kepangkuan Fabian hingga membuat lelaki itu menoleh kearah pekerjaannya terganggu. Fabian tidak marah dengan apa yang istrinya itu lakukan. Dia hanya menghembuskan nafas pelan dan menyingkirkan lembaran berkas ke sisi kanannya dan kembali fokus.
Fabian melihat sendok yang ada tepat didepan mulutnya, dia lantas menoleh kearah Maura yang tengah menatapnya dengan tersenyum. Entah itu senyuman yang tulus atau keterpaksaan, yang jelas Fabian melihat itu sebuah senyum keterpaksaan yang istrinya berikan untuk dirinya.
"Aa!!" Seru Maura meminta Fabian untuk membuka mulutnya, dia bahkan sampai ikut membuka mulut untuk mencontohkan nya.
Fabian menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Dia lantas mengikuti perintah dari sang istri untuk membuka mulut dan akhirnya satu suapan masuk kedalam mulutnya.
Maura menarik sendok yang sudah kosong dan diisi kembali dengan nasi juga lauk serta sayur kemudian dia suapkan untuk dirinya sendiri. Begitu seterusnya bergantian dengan Fabian.
"Makasih ya, Amor!" Ucap Fabian dengan tulus disertai senyuman manis dia berikan pada sang istri yang tengah mengambilkan minum untuk dirinya setelah selesai makan.
"Hmmm!!" Maura hanya berdehem dan memberikan segelas air putih untuk suaminya.
__ADS_1
Fabian masih tersenyum melihat istrinya yang sepertinya masih kesal pada dirinya. Meski kesal, istrinya itu tetap melayani dirinya. Sebelum mengambil gelas yang berisi air dari tangan Maura, Fabian menyingkirkan laptop juga lembaran berkas disisi kanannya. Fabian meminum air yang sudah diberikan istrinya itu dan menyisakan setengah gelas air. "Ini untuk kamu." Fabian memberikan sisa setengah gelas air pada sang istri sebelum istrinya itu meminum susu.
Maura melihat gelas yang ada di tangan Fabian, tanpa banyak bicara Maura mengambil gelas itu dan meminumnya hingga tandas.Β
Fabian tersenyum tipis, dia lantas memeluk pinggang Maura dari samping. Diletakkannya wajahnya pada sisi tengkuk leher sang istri. "Maaf ya, tadi sudah mengabaikan kamu." Ucap Fabian lirih.
Maura memejamkan matanya saat hembusan nafas hangat dari hidung Fabian mengenai tengkuknya. Maura terlihat menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasannya.
"Kamu nggak mau memaafkan aku." Fabian kembali berucap sambil mencium tengkuk sang istri. Tak hanya mencium, dia juga menye sap nya hingga meninggalkan bekas merah keunguan di tengkuk istrinya.
Maura menggigit bibir bawahnya menahan untuk tidak mengeluarkan kata vulgar. Dia masih memejamkan menikmati sentuhan bibir sang suami di area lehernya.
"Jawab Amor!!"
"ARGHHH!!" Akhirnya yang dia tahan sedari tadi keluar juga dari mulut MauraΒ saat Fabian tidak hanya mengisap lehernya, namun juga memencet salah satu squishy kembar miliknya. "Iya aku maafkan."Β Ujar Maura memberi jawaban atas permintaan maaf dari Fabian. "Lepas Bee!! Katanya buru-buru ke rumah sakit." Ucap Maura dengan menahan diri untuk tidak melenguh karena tangan suaminya itu tidak kunjung berhenti dan justru main di aset atas juga bawah miliknya. Bibir itu juga masih mencium dan menyesap lehernya. Suhu tubuhnya tiba-tiba memanas karena serangan hawa panas sentuhan yang suaminya berikan pagi ini.
"Kita main satu ronde sebelum pergi ke rumah sakit." Gumam Fabian dengan menggeram tertahan.
Tanpa menunggu persetujuan dari Maura, Fabian lantas mengangkat tubuh Maura dan membawanya ke ranjang. Fabian kembali memberikan sentuhan pada tubuh Maura sebelum akhirnya pakaian yang melekat pada tubuh keduanya terlepas satu persatu. Fabian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Arghh!!!" Lenguh Maura saat belalai panjang milik sang suami memasuki intinya.
Dibalik selimut, Fabian terlihat bergerak maju mundur hingga membuat Maura yang berada dibawanya hanya bisa melenguh dan mengeluarkan kata-kata vulgar yang begitu merdu di telinga Fabian hingga membuat lelaki itu semakin semangat untuk berpacu.
πππ
Maaf ya baru up lagi ππ othor lagi opname di RS, jadi nggak bisa up dulu. Ini othor sempatin nulis dan up buat menghilangkan rindu kalian semua.
__ADS_1
Minta doa nya ya biar othor cepat sembuh π