
Sehari sebelum pernikahan Maura dengan Fabian digelar, Bryan mengadakan konferensi pers di Halona Hotel tempat digelarnya acara pernikahan Maura dengan Fabian besok siang.
Sore itu saat Maura tiba di hotel bersama Bundanya dibuat begitu tercengang melihat apa yang dilakukan oleh Ayahnya, pasalnya Bryan sama sekali tidak membicarakan tentang konferensi pers sebelumnya dengan dirinya. Bahkan saat dirinya bertanya sama Freya, Bundanya itu juga tidak tahu menahu soal konferensi pers itu.
"Ayah!!" Maura memanggil Bryan yang masih berbincang dengan Bara juga Rendy sebelum konferensi pers di mulai.
Bryan yang mendengar suara Maura lantas menoleh dan melihat Maura yang berjalan ke arahnya bersama Freya juga. Dia tersenyum menyambut kedatangan istri juga anaknya meski raut wajah istri juga anaknya nampak begitu syok.
"Pas banget kalian sudah sampai." Ujar Bryan setelah Freya juga Maura sudah berada di hadapannya.
"Maksud Ayah apa? Kenapa mengadakan konferensi pers tidak memberi tahu Maura dulu? Maura tidak mau acara pernikahan Maura diliput media, Ayah." Maura terlihat begitu tidak suka dengan keputusan Bryan yang mengundang media. Dia ingin pernikahannya dengan Fabian berjalan sesuai rencananya tanpa adanya media, mengingat media sekarang suka membesar-besarkan berita, banyak yang tidak sesuai fakta.
Bryan tersenyum tipis, dia mengusap lembut salah satu lengan atas Maura. "Mereka tidak akan melihat acara pernikahan kamu besok."
"Terus kenapa mereka ada disini?" Sahut Maura dengan cepat. Dia begitu ingin tahu apa tujuan wartawan itu berada di hotel milik keluarganya itu. Apa wartawan berita itu tahu kalau dirinya besok akan menikah, pikirnya.
"Ayah akan mengadakan konferensi pers, memperkenalkan kamu kembali ke dunia." Tak hanya Maura saja yang tercengang, Freya pun juga dibuat tercengang dengan apa yang disampaikan Bryan. "Dulu kamu ingin terkenal tanpa adanya embel-embel nama keluarga, dan Ayah menurutinya dengan menghapus berita tentang siapa diri kamu sebenarnya. Sekarang sebelum kamu menikah, Ayah ingin memperkenalkan kamu lagi sebagai putri dari keluarga Abrisam, putri Bryan Alvaro."
"Tapi, Ayah...." Maura terlihat begitu ragu dengan keputusan Ayahnya itu. Dia menatap Bryan dengan keraguan. Meski seluruh karyawan perusahaan keluarga sendiri juga beberapa kolega mengenali siapa dirinya, tapi orang lain di luar sana mengenalnya sebagai Dokter Maura yang juga seorang model mengingat Maura sering mengikuti peragaan busana yang diselenggarakan Caca, Aunty nya sendiri. Mereka tidak tahu kalau dirinya putri dari Abrisam Bryan Alvaro.
"Apa kamu takut fans kamu kecewa saat mengetahui siapa diri kamu sebenarnya?" Tanya Bryan menatap lekat pada mata Maura.
Maura mengangguk samar, seperkian detik kemudian dia menggeleng cepat. "Tidak!! Bukan seperti itu."
"Kalau begitu ayo ikut Ayah kedepan bersama Bunda juga. Ayah ingin mengenalkan kamu sebagai putri Ayah yang sah." Bryan merangkul pundak Maura dari samping dan menggandeng tangan Freya untuk menuju lokasi yang sudah Bryan siapkan untuk konferensi pers.
Maura akhirnya pasrah mengikuti apa kemauan Ayahnya. Jujur saja dia belum siap orang diluar sana mengetahui identitas dirinya sebenarnya, tapi di sisi lain Maura merasa Ayahnya ingin diakui kalau Bryan adalah Ayah dari Maura mengingat Maura tidak pernah menyebut siapa orang tuanya bila ada wawancara.
Maura sedikit mendongak untuk melihat Ayahnya yang tepat ada disampingnya. Dia tersenyum tipis dan kembali menatap kedepan dengan masih tersenyum. "Maafkan Maura, Ayah. Mulai detik ini Maura akan memberi tahu pada dunia kalau aku ini putri Ayah, putri dari Abrisam Bryan Alvaro." Ucap Maura dalam hati yang akhirnya memutuskan untuk menyetujui keputusan Ayahnya untuk melakukan konferensi pers.
Kini Maura sudah duduk diantara kedua orang tuanya juga ada Bara sama Rendy juga disisi kanan kiri mereka yang ikut duduk dan dibelakang mereka ada beberapa bodyguard.
"Sore semuanya! Terima kasih sudah hadir kesini." Ucap Bryan pada wartawan yang meliput dan duduk di meja mereka masing-masing. Tertib dan tidak ada yang saling berdesakan maupun berebut untuk mengambil gambar.
"Langsung saja tidak perlu basa-basi lagi. Saya ingin menyampaikan pada kalian semua kalau besok putri saya akan menikah." Semua wartawan tercengang mendengar kabar dari Bryan. Putri yang mana pikir mereka, karena setahu mereka putrinya Bryan masih sekolah menengah atas. Belum ada yang lulus.
"Maaf menyela Tuan Bryan." Bryan melihat kearah seorang wartawan yang sudah berumur sekitar empat puluh tahunan. "Apa putri yang Anda maksud itu anak kecil yang dulu pernah anda kenalkan setelah menikah dengan Nyonya Freya?" Tanya wartawan itu yang sepertinya masih mengingat kejadian puluhan tahun silam.
"Benar." Semua orang melihat kearah Maura yang langsung berdiri dari duduknya sambil tersenyum. "Saya anak kecil itu. Saya Maura Hanin Az-Zahra, putri dari Ayah Bryan juga Bunda Freya. Maaf kalau sebelumnya Saya tidak pernah jujur pada kalian setiap kalian menanyakan siapa orang tua Saya." Maura menundukkan kepala juga bahunya dalam sebagai permohonan maafnya pada wartawan juga orang di luar sana.
Bryan dan juga Freya tersenyum akhirnya Maura mau mengaku pada wartawan siapa sebenarnya dirinya. Keduanya begitu senang karena justru Maura sendiri yang mengatakan itu.
Maura mengangkat kepala juga bahunya dan kembali menatap para wartawan sebentar dan beralih menatap Bryan dan juga Freya bergantian. Meminta keduanya untuk berdiri disisinya. "Mereka lah orang tua kandung Saya." Maura merangkul lengan kedua orang tuanya disisinya dengan tersenyum manis.
"Maura memang putri kandung saya dengan Freya. Kakak dari ketiga adiknya yang masih menempuh pendidikan." Kata Bryan dengan menatap wartawan. "Selain itu ada yang ingin Saya sampaikan pada kalian." Bryan beralih menatap Maura yang juga menatapnya. "Maura memang putri kandung Saya, tapi Saya tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Bahkan saat dirinya nikah besok, Saya tidak bisa menjadi wali untuk putri kesayangan Saya sendiri." Ungkap Bryan dengan tersenyum juga mata berkaca-kaca, bahkan suaranya terdengar bergetar seperti menahan sakit di dadanya. "Meski seperti itu, Saya tetap sayang dan cinta pada dia. Putri yang selalu membanggakan Saya dengan prestasi yang dia raih di usianya yang masih belia."
Maura menangis mendengar apa yang Bryan katakan, tapi dia juga tersenyum pada Bryan. Dia lantas memeluk tubuh Ayahnya dengan sangat erat. Menangis dalam dekapan Ayahnya.
Freya yang melihat anak dan suaminya ikut terharu. Dia juga meneteskan air mata dengan senyum di bibirnya. Freya mengusap air matanya dan melihat kearah wartawan yang sepertinya juga terharu melihat ayah dan anak itu, buktinya mereka diam dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih untuk kalian yang sudah hadir. Kami minta maaf sudah meminta waktu kalian untuk datang kesini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Freya menundukkan kepalanya sebentar pada wartawan sebelum akhirnya mengajak Bryan juga Maura untuk masuk kedalam hotel.
__ADS_1
Acara konferensi pers dilanjutkan sama Bara juga Rendy. Mereka menunjukkan beberapa foto kebersamaan Maura dengan kedua orang tuanya juga ketiga adiknya yang tidak diekspos ke media. Mulai detik ini foto juga video itu akan diunggah ke media sesuai perintah dari Bryan.
Konferensi pers yang tadi dilakukan secara live dipenuhi berbagai komentar positif juga negatif. Banyak yang tidak menyangka kalau Bryan dan Freya dulunya pernah memiliki anak diluar nikah, tapi banyak juga yang terharu melihat pengakuan mereka dan kasih sayang mereka yang tulus. Meski berawal dari sebuah kesalahan, mereka bisa membuktikan kalau mereka bisa berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Banyak juga dari detergent yang penasaran siapa sosok calon suami dari Maura. Mereka menebak pasti lelaki yang akan menikahi Maura dari kalangan konglomerat juga, atau mungkin dari kalangan artis maupun anak seorang menteri. Tidak mungkin dari kalangan biasa, pikir detergent.
"Penasaran banget sama calonnya Maura."
"Maura aja secantik itu, pasti calonnya seperti pangeran Arab."
"Ohh ternyata dokter itu anak haram. Cantik sih, sayangnya anak haram."
"Jadi dia Maura kecil itu. Masyaallah sekarang sudah gede tambah cantik."
"Kita lihat besok gaes, setampan apa calonnya Maura."
🌷🌷🌷
Jantung Maura berdetak kencang, dia menunduk dengan buket bunga pengantin yang dia pegang digenggamnya erat saat Fabian mulai mengikrarkan janji suci pernikahan antara keduanya. Bibirnya bergetar menahan senyumnya saat mendengar kata 'Sah' diucapkan berulang sebanyak tiga kali. Tangannya dia angkat sampai dada saat sang penghulu membacakan doa, dia juga mengaminkan doa tersebut.
Sah. Tepat pukul tiga siang menjelang sore Maura sudah berganti status dari lajang menjadi seorang istri dari Fabian Arbie Nugraha.
Dengan dibantu Amelia juga Anggie, Maura berdiri dari duduknya saat Fabian datang menghampiri. Maura menunduk malu saat Fabian tersenyum kearahnya. Apalagi Anggie juga Amelia menggoda dirinya. Ingin rasanya Maura segera mengakhiri acara ini sekarang juga.
"Ra!! Sambut itu suami kamu." Amelia dengan hebohnya menyenggol lengan Maura. Dia begitu gemas melihat Maura yang malu-malu, padahal biasanya malu-maluin.
Keduanya melangkah menuju tempat dimana Fabian tadi melaksanakan ijab qobul. Keduanya berdiri berhadapan, dengan dituntun Kyai Sodiq, Fabian meletakkan tangan kanannya di ubun-ubun Maura dan membaca doa.
Allahumma barik li fi ahli, wa barik ahli fiya allahumarzuqhum minni, warzuqni minhum. Allahummajma’ banaina ma jama’ta fi khair wa farriq bainana idza faraqta fi khair”
Maura mencium tangan Fabian setelah Fabian selesai membaca doa. Keduanya lantas duduk dan menandatangani buku nikah. Tidak lupa, setelah itu keduanya sungkem kepada kedua orang tua mereka bergantian.
Maura menangis saat sungkem kepada Ayah dan juga Bundanya. Dia tidak bisa membendung air matanya saat Ayah dan Bundanya berpesan pada dirinya untuk menjadi istri yang sholeha, patuh dan taat pada suami.
"Sekarang tugas Ayah sama Bunda sudah selesai, sekarang yang akan menjaga dan membimbing kamu adalah suami kamu. Maka turuti lah dia selagi itu dalam kebaikan dan dijalan yang benar."
"Fabian, tolong jaga putri Ayah sama Bunda dengan baik. Tidak boleh lecet sedikit saja baik dalam maupun luar. Bila kamu tidak sanggup, antar dia kembali dan jangan biarkan dia pulang sendiri."
Fabian mengangguk mengiyakan. Dia paham apa yang dimaksud dari pesan yang Bryan juga Freya sampaikan pada dirinya. Sebisa mungkin dia akan menjada dan melindungi Maura juga membimbing istrinya itu meski dirinya tidak begitu terlalu paham agama. Seenggaknya dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Maura juga sungkem kepada kedua orang tua Fabian. Mereka menerima dirinya dengan suka hati. Tidak banyak pesan yang disampaikan Sandi maupun Shanti. Mereka hanya berpesan untuk saling jujur dan percaya, juga jangan lupakan untuk tetap berkomunikasi juga bekerja sama. Tentunya jangan lupakan Allah, karena Allah yang telah menyatukan mereka.
Maura juga Fabian sekarang sudah berdiri di panggung pernikahan. Ucapan selamat mereka dapatkan dari keluarga, kerabat juga teman yang hadir karena mereka hanya mengundang orang-orang terdekat saja saat acara ijab qobul.
"Ra, langsung diproses ya. Biar kita segera dapat ponakan." Goda Anggie yang disetujui sama Amelia.
"Iya, Ra. Jangan di tunda lagi." Sahut Amelia, dia lantas melihat kearah Fabian. "Dokter Bian, langsung gas pol aja nanti. Gempur Maura sampai tidak bisa jalan." Seloroh Amelia yang tidak bisa memfilter ucapannya membuat Anggie juga Fabian tertawa, berbeda dengan Maura yang melotot tak suka ke arah Amelia.
"Kalau lupa caranya kasih tau aku, nanti aku ajari." Sahut Gerry yang tiba-tiba nongol.
__ADS_1
"Yeeee!!! Apaan ikut-ikutan. Minggir sana!" Usir Amelia yang sepertinya tidak suka dengan Gerry.
"Jangan gitu Mel." Tegur Anggie. "Nanti suka bingung loh."
"Sama dia!!" Amelia juga Gerry saling menunjuk satu sama lain. "Huuwweeekkkk!!!" Dengan kompaknya Gerry sama Amelia merasa jijik.
"Sudah sana kalian pergi, masih banyak yang antri." Usir Maura yang pusing melihat tingkah teman-temannya.
Dengan terpaksa mereka bertiga segera turun dari atas panggung karena saudara yang lain masih ada yang belum memberi selamat pada kedua mempelai.
"Selamat ya Ra, Dokter Bian. Semoga menjadi keluarga yang samawa." Ucap Rafa yang datang juga bersama Kamila.
"Makasih, Kak." Balas Maura dengan tersenyum pada Rafa juga Kamila
Mereka saling bersalaman, dan Maura juga Kamila saling berpelukan singkat. Maura sudah melupakan kedua orang itu. Dia sudah mengikhlaskan Rafa bersama Kamila. Kalau bukan sakit hatinya karena Rafa, dirinya tidak mungkin akan bertemu dengan Fabian yang begitu sangat mencintainya, lelaki yang bertanggung jawab, itu yang Maura suka dari Fabian.
"Kak Maura!!"
Maura menoleh saat mendengar ada memanggilnya. "Kalian pulang juga?" Maura terlihat kaget saat melihat Candra juga Jihan datang ke pernikahannya. Bahkan dia juga melihat Zahro juga cucu dari Kyai Sodiq juga keponakan dari Annisa.
"Iya Kak. Kami ijin sampai hari senin, hari selasa nya kembali lagi ke pondok." Jawab Candra mewakili saudaranya yang lain.
"Uhh!! Padahal kakak kangen banget sama kalian." Maura memeluk tubuh Candra juga Jihan bersamaan. Keduanya sudah Maura anggap seperti adiknya sendiri. Apalagi Candra, dia begitu sayang sama Candra karena mengingatkan dirinya akan Mutia.
"Kenalkan, ini suami Kakak. Tampan kan?" Setelah melepaskan pelukannya, Maura memperkenalkan Fabian pada Candra dan saudara yang lain.
"Sangat tampan, seperti Papa sama Ayah waktu masih muda dulu." Jawab Jihan yang sembari tersenyum menatap Fabian.
Fabian membalasnya dengan tersenyum pada sepupunya Maura yang ternyata begitu banyaknya. Dia juga memperkenalkan dirinya pada saudara juga sepupu Maura.
Mereka basa-basi sebentar sebelum akhirnya turun dari atas panggung meninggalkan Attar yang masih ada disana.
"Kenapa ditekuk seperti itu wajahnya?" Tegur Maura sambil menepuk pelan pipi Attar. "Itu ada Zahro datang. Makin cantik saja dia." Maura mengomentari penampilan Zahro yang sekarang makin cantik.
"Siapa? Pacar kamu, Ta?" Tanya Fabian yang tersenyum menggoda Attar.
"Pacar!! Cih!! Wanita itu manusia paling ribet dimuka bumi ini." Attar mencibir dan berlalu pergi begitu saja.
"Aku sumpahin kamu nantinya akan bucin setengah mampus sama wanita yang suka sama kamu." Timpal Maura yang tidak suka Attar menyebut kalau wanita itu manusia paling ribet dimuka bumi.
"Sabar!!! Jangan emosi!! Hari ini hari kita. Sabar ya!! Tahan emosinya!!." Dengan perlahan dan lembut Fabian mengusap punggung Maura untuk tidak melupakan emosinya karena perkataan Attar.
Maura mengambil nafas panjang melalui hidung dan dia keluarkan perlahan melalui mulutnya. Emosinya sudah lumayan reda setelah mencoba bersama akan perkataan yang Attar ucapkan tadi.
"Gimana? Sudah tenang?" tanya Fabian menatap lembut pada Maura dan dijawab anggukan kepala sama Maura.
"Kenapa lihatnya begitu?" tanya Maura saat Fabian terus menatap dengan tersenyum. Dia bisa melting kalau ditatap terus seperti itu.
"Masih ada satu acara lagi, aku nggak sabar buat nanti malam. Aku ingin menunjukkan sesuatu pada kamu dan mungkin tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu."
__ADS_1