
"Amor, maaf ya. Aku nggak bisa antar kamu ke kamar Anggie. Aku sudah telat." Ujar Fabian yang terlihat terburu-buru karena sekarang sudah hampir jam sembilan pagi kurang tujuh belas menit dan itu artinya jadwal operasi akan segera dilakukan sebentar lagi. Apalagi dirinya nanti yang bertindak sebagai dokter bedahnya juga sebagai dokter penanggung jawab. Sudah dipastikan pasti sekarang dirinya sudah ditunggu rekannya karena sedari tadi ponsel miliknya yang satu lagi terus berdering. Bahkan saat diperjalanan tadi Vira sudah menghubunginya dan menanyakan posisinya sekarang ada dimana. Namun sebelum pergi, tidak lupa Fabian memberikan kecupan pada kening Maura.
Maura menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena suaminya itu sudah berlalu pergi. Istri dari Fabian itu terlihat mendesah pelan mengingat apa yang mereka lakukan tadi sebelum berangkat ke rumah sakit. Andai saja tadi Fabian tidak meminta jatah sebelum berangkat kerja, sudah pasti mereka tidak akan terburu-buru seperti sekarang ini. Ditambah diperjalanan tadi sempat macet karena ada kecelakaan.
Bahkan tadi yang mengemudikan mobil bukan Fabian, melainkan Maura sendiri. Maura takut karena terburu-buru Fabian tidak bisa konsentrasi dan justru membuat keduanya dalam bahaya saat menuju rumah sakit.
"Maura!!"
Maura terlihat menatap sekeliling saat ada yang memanggil namanya. Dari suaranya dia sangat kenal dan tahu siapa orang yang tengah menyapanya. Maura tersenyum saat pandangan matanya menangkap sosok wanita yang dulu hampir saja menjadi ibu mertuanya, Annisa.
"Umma!!" Maura mengambil tangan kanan Annisa dengan kedua tangannya dan dia salim dengan Annisa. "Umma sama siapa kesini? Siapa yang sakit? Umma sakit?" Maura menatap Annisa dengan berbagai pertanyaan dia ajukan pada wanita berpakaian syar'i itu.
Annisa terkekeh kecil mendengar pertanyaan beruntun yang Maura ajukan pada dirinya. Annisa menggeleng kepala pelan sambil tersenyum. "Alhamdulillah Umma sehat wal afiat, Umma tidak sakit. Umma kesini tadi diantar sopir. Umma lagi antar Mila periksa kandungannya." Jawab Annisa
"Ohhh!!" Maura mengangguk sambil tersenyum. Dia pikir tadi istri dari Rendy itu tengah sakit dan mau periksa, ternyata mengantar Kamila periksa kandungan. "Terus Kak Mila nya kemana?" Tanya Maura saat tidak melihat keberadaan Kamila. "Kenapa tidak diantar Kak Rafa?" Tanya Maura lagi.
"Mila ke toilet tadi." Jawab Annisa dan mengajak Maura untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Tidak begitu nyaman mengobrol sambil berdiri, apalagi banyak orang berlalu lalang. "Rafa pergi lagi ke Bali setelah pernikahan kamu kemarin, makanya Umma sekarang yang antar Mila kontrol." Terang Annisa memberi tahu keberadaan Rafa.
Maura mengangguk samar dengan kening mengkerut tanda kalau dia bingung. Pasalnya saat ini di kantor ABA Corp tidak ada proyek pembangunan di Bali. Terus ngapain lelaki itu pergi ke Bali, pikir Maura. Tapi Maura tidak bertanya sedang apa Rafa ada di Bali, dia tidak ingin tahu kehidupan Rafa lagi. Lagian sekarang dia sudah menerima takdir yang sudah ada dan Fabian adalah rumahnya sekarang dan selamanya.
"Kamu sendiri kenapa ada disini? Mau ketemu Dokter Bian atau tadi baru ngantar Dokter Bian?" Tanya Annisa.
__ADS_1
"Maura kesini tadi bareng sama Bian. Maura mau jenguk Anggie, Umma." Jawab Maura apa adanya tanpa ditutupi.
"Ah!! Umma kasihan dengar cerita Dokter Anggie dari Papa kamu. Malang sekali nasib dia." Annisa terlebih prihatin mengingat cerita Anggie yang sudah Rendy ceritakan pada dirinya beberapa hari yang lalu. "Terus bagaimana keadaan Dokter Anggie sekarang? Apa sudah sadar?" Tanya Annisa penasaran. Sebagai sesama perempuan pasti ada rasa iba terhadap apa yang terjadi pada Anggie. Apalagi dulu Annisa juga hampir mengalami hal yang sama.
"Belum Umma. Anggie masih belum mau membuka matanya. Mungkin dia takut kalau dia membuka matanya ketakutan yang dia rasakan." Maura terlihat sedih dan murung saat menceritakan keadaan Anggie saat ini.
Annisa merangkul lengan Maura dari samping dan mengusap lembut lengan atas Maura. "Kamu nggak boleh sedih. Kamu harus beri semangat pada Dokter Anggie. Kalau bisa kamu cerita sesuatu yang bahagia saat menjenguk Dokter Anggie. Biar Dokter Anggie memiliki semangat hidup."
Maura mengangguk mengiyakan. Dokter yang menangani Anggie juga bilang seperti itu beberapa hari yang lalu. Saat menjenguk Anggie harus menceritakan tentang kebahagiaan dan semangat hidup, bukan bercerita tentang kesedihan.
"Umma, Maura tinggal dulu ya. Mau lihat Anggie." Pamit Maura karena dirinya harus segera melihat keadaan Anggie sebelum akhirnya siang nanti dirinya ada kerjaan lain sampai sore.
"Iya sayang. Salam buat Dokter Anggie." Ucap Annisa yang tidak menahan Maura untuk pergi menjenguk Anggie.
"Dokter Raka!! Kenapa anda ada disini?" Tanya Maura pada Raka, lelaki yang membuatnya kaget saat masuk kedalam kamar rawat inap Anggie. Dia menatap curiga pada Raka. Pasalnya lelaki itu empat hari yang lalu sudah kembali ke Makassar dan sekarang sudah ada disini lagi. Apa dia tidak kerja, pikirnya.
"Saya hanya menjenguk rekan kerja." Jawab Raka dengan datar. "Saya permisi dulu." Raka pamit undur diri.
"Tunggu!!" Cegah Maura yang menghalangi pintu kamar dia masih berdiri didekat pintu. "Bisa kita bicara sebentar." Ujar Maura menatap Raka, mantan rekan kerja Fabian. "Hanya sebentar. Ini soal Anggie." Ujar Maura saat tidak ada tanggapan sama sekali dari Raka.
Raka diam tanpa mengeluarkan suara, namun kepalanya memberikan anggukan tanda kalau dia menyetujui untuk mengobrol sebentar.
__ADS_1
Keduanya keluar dari kamar rawat inap dan menuju sebuah koridor yang tidak terlalu ramai meski ada beberapa orang yang lewat. Sebenarnya Raka tidak setuju karena pasti ada yang mengenalinya. Namun Maura juga tidak setuju kalau keduanya berbicara ditempat yang sepi dan di koridor inilah mereka saat ini. Masih bisa dipantau oleh orang lain.
"Aku tidak tahu ada hubungan apa diantara kalian berdua." Maura mengawali pembicaraan. Dia berdiri sedikit jauh dari Raka. Memberi jarak karena tidak ingin orang yang melihatnya berpikiran negatif tentang keduanya. Dia tidak menatap Raka, melainkan pandangannya mengarah pada jendela kaca besar yang memperlihatkan suasana luar yang sudah nampak begitu terik padahal masih terbilang pagi menjelang siang. "Aku lihat di rekaman CCTV apartemen Anggie, kamu datang sebelum kejadian yang menimpa Anggie terjadi dan malamnya kamu datang lagi kesana. Apa dari situ kamu mencari keberadaan Anggie hingga akhirnya kamu menyelamatkan dia?" Tanya Maura menoleh ke arah Raka. Terlihat lelaki itu menganggukkan kepalanya dengan pandangan lurus kedepan. Entah apa yang Raka pikirkan, Maura tidak tahu, yang jelas Raka terlihat diam dan memikirkan sesuatu.
Maura kembali melihat kearah depan. "Lelaki itu Kakak nya Anggie." Kata Maura sambil melirik Raka, sepertinya lelaki itu tidak terkejut sama sekali. Pasti Raka sudah tahu, pikir Maura mengingat siapa Raka, yang dengan mudah mencari informasi seseorang dengan keahliannya. Pasti Raka sudah mencari informasi tentang Anggie dan Mike.
"Miris sekali hidup Anggie. Dia di perkosa Kakak nya sendiri hanya karena masalah orang tuanya." Maura kembali bercerita, entah didengar atau tidak sama Raka, dia tidak perduli. Entah Raka sudah tahu semua atau belum, Maura juga tidak perduli, dia akan tetap cerita. Anggap saja dia memberi tahu Raka bagaimana kisah hidup Anggie. Walau sebenarnya itu tidak diperlukan mengingat tidak ada hubungan apapun antara Raka juga Anggie. Tapi Maura merasa ada sesuatu diantara Raka dan juga Anggie.
"Mungkin Anggie tidak mau kembali membuka matanya karena tidak mau melanjutkan hidupnya dan mengingat apa yang sudah dia terima dari kakaknya sendiri." Maura terdiam sejenak untuk mengambil nafas panjang dan dia hembuskan perlahan. "Andai saja Anggie tahu kalau Mike bukan Kakak kandungnya. Mungkin Anggie tidak akan separah ini sampai tidak mau lagi membuka matanya." Sambung Maura mengungkapkan siapa sosok Mike pada Raka.
Perkataan Maura sukses membuat Raka menoleh ke arah Maura dengan tatapan menuntut. Raut wajahnya juga terlihat terkejut saat tahu lelaki yang sudah menodai Anggie sebelum dirinya ternyata bukan kakak kandung dari Anggie. Terus siapa lelaki itu? Dia sudah mencari tahu siapa Mike sebenarnya dan dari informasi yang dia dapat kalau Mike adalah kakak dari Anggie. Tapi kenapa Maura justru mengatakan hal sebaliknya, kalau Mike bukannya kakak dari Anggie dan itu artinya Mike adalah orang lain dan tidak memiliki hubungan darah apapun dengan Anggie.
Kening Maura mengkerut saat melihat Raka yang menatapnya dengan tatapan menuntut dan sepertinya lelaki itu tengah kaget dan terkejut dengan apa yang sudah dia ungkapkan. "Apa Raka belum tahu kalau Mike itu bukan kakak kandung Anggie?" Batin Maura bertanya-tanya. Sepertinya memang belum dilihat dari raut wajah terkejutnya Raka.
"Iya, Mike bukan kakak kandung Anggie. Meski Ibunya Mike istri pertama dari Ayahnya Anggie, tapi Mike bukan darah daging Ayahnya Anggie. Ibunya Mike hamil dengan pria lain tanpa sepengetahuan suaminya, Ayahnya Anggie." Ujar Maura menjelaskan pada Raka meski lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, tapi dari tatapan matanya sudah menjelaskan kalau Raka memang minta penjelasan dari dirinya tentang siapa Mike sebenarnya. "Bahkan saat ini tanpa sepengetahuan Anggie, setelah Mike bebas dari penjara telah membunuh kedua orang tua Anggie dan dia kabur kesini juga kembali melecehkan Anggie untuk kesekian kali. Untung saja sekarang dia sudah kembali mendekam di penjara untuk seumur hidup." Maura mendecakkan lidahnya kesal mengingat kenapa Mike tidak dapat hukuman mati saja, kenapa harus hukuman seumur hidup.
Raka diam tanpa menanggapi apapun yang Maura sampaikan, namun dari tatapan matanya sudah menunjukkan kalau lelaki itu tengah menahan amarah dan kekesalannya. Rahangnya mengerat hingga urat leher menonjol keluar, serta kedua tangan yang mengepal kuat memperlihatkan otot tangan tangannya. Mike sudah keterlaluan terhadap Anggie. Batin Raka terus saja mengumpat apapun pada Mike. Ingin rasanya dia kembali menemui Mike dan menghajar lelaki itu sampai masuk ruang ICU.
Maura memicingkan kedua matanya melihat Raka yang sepertinya tengah menahan amarah. Dia menatap Raka penuh selidik. "Kau suka sama Anggie?" Tanya Maura dengan tatapan rasa ingin tahunya. Di otaknya saat ini sudah berpikir kalau Raka memiliki rasa untuk Anggie melihat dari reaksi yang Raka berikan saat dirinya menceritakan siapa Mike dan apa saja yang sudah Mike perbuat pada Anggie. Dari itu semua Maura menyimpulkan kalau Raka memiliki perasaan lebih pada Anggie, bukan hanya perduli karena Anggie rekan kerjanya, tapi lebih dari itu.
Raka yang tengah menahan amarah juga kekesalannya terlihat berkedip sekali dan beralih menatap Maura yang menatapnya penuh selidik. "Kau tahu siapa wanita yang aku suka adalah kamu." Ucap Raka dan berlalu pergi dari hadapan Maura.
__ADS_1
Maura mendengkus kesal mendengar jawaban yang Raka berikan. "Dasar lelaki tidak waras. Sudah tahu yang aku suka itu Bian bukan kamu. Masih saja berharap. Dan kenapa juga tidak mau jujur kalau sudah ada rasa untuk Anggie. Baru saja kemarin ada disini sekarang sudah ada disini lagi dan meninggalkan pekerjaan." Omel Maura yang kesal pada Raka sambil pandangannya menatap sekeliling. Dia bernafas lega karena tidak menemukan sosok Fabian. Kalau suaminya itu muncul, sudah dipastikan akan besar kepala karena dia mengatakan kalau lelaki yang Maura suka adalah Fabian. Karena selama ini Maura belum mengutarakan langsung kata itu pada Fabian. Gengsi Maura masih tinggi meski tiap hari mereka selalu bermesraan.