One Night Romance

One Night Romance
Bab 62


__ADS_3

Raka terlihat fokus dengan kemudinya, matanya fokus mengikuti mobil yang jaraknya tidak begitu jauh dari mobilnya saat ini. Matanya sesekali fokus pada sebuah GPS pada ponselnya yang dia letakkan pada dashboard mobil saat mobil didepannya hilang pada pandangannya.


"Shitt!!" Umpat Raka saat dirinya harus terhalang lampu merah dan kehilangan jejak mobil didepannya. Raka menggeram tertahan saat GPS pada ponselnya tiba-tiba eror. Dia segera menghubungi Jordi.


"Ada apa? Kenapa GPS nya tiba-tiba eror?" Tanya Raka setelah sambungan telepon terhubung.


"Sorry. Ada sedikit trouble, dalam tahap perbaikan." Jawab Jordi dari seberang telepon.


"Cepat!! Jangan sampai kehilangan jejak mereka." Ucap Raka dengan tegas juga perintah tak terbantahkan. 


Matanya menatap tajam pada arah depan. Dia melajukan mobil kembali setelah lampu hijau dengan kecepatan sedang. Nafasnya memberat saat mengingat kejadian malam tadi.


FLASHBACK ON


"Sial!!" Umpat Raka yang awalnya sudah selesai check in dan tengah menunggu waktu boarding pesawat memilih untuk keluar dari ruang tunggu. Dia terlihat berjalan cepat menuju ke jalan keluar menuju lobby bandara. 


Raka langsung masuk ke dalam taksi setelah sampai di lobby bandara. "Apartemen ABC." Kata Raka pada supir taksi. Dan taksi itu segera melesat keluar area parkir bandara menuju tempat yang dituju.


Raka membuang nafas berat saat dirinya memutuskan untuk membatalkan penerbangannya dan memilih pergi ke apartemen ABC. Apartemen yang dimana Anggie tinggal. Raka terus kepikiran dengan perkataan Anggie sore tadi saat mengatakan kalau wanita itu hamil anaknya. Meski malam itu saat mereka melakukan hubungan dewasa memakai pelindung, belum tentu pelindung itu aman. Bisa jadi balon pelindung itu ada kebocoran seperti yang Anggie katakan dan menyebabkan wanita itu hamil.


Raka segera turun dari mobil taksi setelah sampai di apartemen yang ditujunya. Setelah membayar, Raka melangkahkan kakinya masuk lewat pintu utama apartemen. Dengan membawa tas punggungnya yang hanya dia selempangkan pada bahu kanannya saja. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat dirinya sampai di apartemen ABC.


Raka naik menggunakan lift menuju unit apartemen Anggie. Dia masih ingat tempatnya karena baru sore tadi dirinya datang ketempat ini. Dia segera keluar dari dalam lift, langsung kakinya terhenti saat ada seorang lelaki yang menggendong seorang wanita langsung berbalik arah dan keluar lewat tangga darurat. Kening Raka mengkerut saat memperhatikan gerak-gerik lelaki itu karena sangat mencurigakan. Dia tidak perduli dan melanjutkan langkah kakinya menuju unit apartemen Anggie.


Raka menatap curiga pintu unit apartemen Anggie yang terbuka sedikit. Dengan perlahan dia membuka pintu itu lebar dan pandangan matanya menatap kaget dengan apa yang dilihatnya. Dia masuk sambil menatap sekeliling ruangan yang nampak berantakan.


"Anggie!!" Panggil Raka pelan, dia mengintip kamar tidur yang juga sangat berantakan.


"Anggie!!" Raka kembali memanggil Anggie saat tidak menemukan keberadaan dokter wanita yang mengaku hamil anak darinya itu.


"Kemana dia?" Gumam Raka saat dikamar mandi Anggie juga tidak terlihat.


Alisnya bertaut saat mengingat seorang lelaki yang mencurigakan tadi. Raka segera keluar dari unit apartemen Anggie dan menuju tangga darurat dimana lelaki itu tadi masuk lewat sana untuk keluar dari apartemen.


"Shitt!!" Umpat Raka dengan nafas memburu setelah sampai di lantai satu namun tidak menemukan lelaki mencurigakan itu.


Raka memutuskan untuk pergi dari sana dan menuju bengkel miliknya yang saat ini dikelola sama temannya, Jordi.


"Lho!! Bukannya tadi kamu terbang ke Makassar? Kenapa masih ada disini?" Jordi terlihat kaget saat melihat Raka yang datang ke bengkel. Setahu dia temannya itu tadi pamitan mau kembali ke Makassar.


"Mana laptop kamu? Keluarkan cepat!!" Perintah Raka tak terbantah. Dia langsung duduk di sofa menatap Jordi tajam karena temannya itu tidak kunjung pergi.


Melihat Raka yang menatapnya tajam, Jordi langsung bergegas mengambil laptop miliknya. "Ini!!" Jordi menyerahkan laptopnya pada Raka.


Tanpa basa-basi lagi, Raka langsung membuka laptop itu dan berselancar pada sebuah situs dengan berbagai angka juga huruf yang hanya dia saja yang tahu. 


Jordi duduk disebelah Raka, keningnya mengkerut saat melihat Raka mencari jejak rekaman CCTV di sebuah apartemen. Dia juga tahu apa yang Raka lakukan karena dia juga seorang ahli komputer, juga ahli IT. "Siapa yang kau cari?" Tanya Jordi penasaran.


"Ambil laptop yang lain. Bantu aku cari seseorang." Bukannya menjawab apa yang Jordi tanyakan, Raka justru memerintah Jordi untuk membantunya.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Jordi langsung bergegas mengambil laptop dan membantu Raka mencari seseorang yang dia sendiri tidak tahu siapa yang Raka cari.


Raka menatap tajam apa yang dia temukan dalam rekaman CCTV, dia zoom dan dia amati gambar itu. "Cari tahu siapa lelaki ini." Perintah Raka setelah mengirim foto lelaki yang dia curigai tadi pada email Jordi.


Jordi langsung melakukan tugasnya dan Raka sendiri mencari tahu kendaraan yang tadi dibawa lelaki mencurigakan itu. Keduanya berkutat dengan laptop sampai tengah malam. Bahkan keduanya sampai tertidur dengan laptop yang masih menyala.


Hingga pagi harinya kedua kembali mencari apa yang mereka cari. Jordi mencari tahu siapa lelaki yang ada difoto dan Raka sendiri mencari tahu nomor polisi mobil yang dibawa lelaki itu. 

__ADS_1


"Dia warga negara asing." Ungkap Jordi setelah mendapatkan apa yang dia cari. "Dia baru bebas dari penjara." Sambungnya lagi memberikan informasi pada Raka.


Raka menoleh sebentar kearah laptop yang Jordi pegang. Dia hanya mengangguk dan kembali fokus pada layar laptopnya saat ternyata benar, lelaki itu membawa Anggie pergi. Dia kembali mencari keberadaan mobil yang sudah dia ketahui nomor polisinya. 


"Kamu pantau terus mobil ini. Kirim ke GPS ku." Raka memberikan laptopnya pada Jordi.


"Kau mau kemana?" Tanya Jordi saat melihat Raka bersiap-siap.


"Mengejar mobil itu." Jawab Raka dan berlalu pergi sambil membawa kunci mobil yang dia ambil diatas meja yang tentunya mobil milik Jordi. "Cepat kirim Jor!!" Teriak Raka dari lantai satu.


"Siapa sih yang dia cari sebenarnya?" Jordi begitu penasaran sambil mengerjakan tugas dari Raka. Dia mengabaikan rasa penasarannya.


FLASHBACK OFF


Raka melaju pelan sambil melihat ke sisi jalan, hari sudah mulai malam dan dia belum menemukan mobil yang dia buntuti tadi. Umpatan kasar terus keluar dari mulut Raka karena Jordi begitu lama memulihkan situs GPS yang eror.


Raka menghentikan mobilnya dan parkir di bahu jalan. Dia membuka kaca mobil dan melihat sekeliling jalan yang sudah sangat jauh dari ibukota, bahkan kini sudah berada di pinggiran kota. Raka menghembus nafas panjang, entah kenapa dia harus senekat itu mencari keberadaan Anggie yang jelas-jelas bukan siapa-siapa untuk dirinya. Hanya seorang wanita one night stand yang kebetulan juga mantan rekan kerjanya. Dia tidak memiliki hubungan lebih dengan wanita itu. Tapi entah kenapa hatinya tergerak untuk menyelamatkan wanita yang pernah dia tiduri itu.


Raka menghembus nafas sejenak saat mendengar ponselnya yang berdering. Dilihatnya ada panggilan masuk dari Jordi. Dia segera mengangkat panggilan itu melalui alat komunikasi yang dia tempel di telinga. "Bagaimana?" Tanya Raka.


"Ini sudah pulih, tapi aku belum berhasil kirim ke GPS kamu." Raka menggeram tertahan mendengar informasi dari Jordi, tahu seperti ini tadi lebih baik dia bawa laptop sendiri. "Lebih baik kamu ikuti saja petunjuk yang aku berikan. Jangan ditutup teleponnya." Raka terlihat mengangguk meski Jordi tidak bisa melihatnya. Dia sepertinya menyetujui saran yang Jordi berikan. "Jaraknya sekitar empat kilometer dari kamu. Ada di pinggiran kota, tapi dekat hutan." Kening Raka mengkerut mendengarnya.


"Hutan!!" Ulang Raka memastikan kalau dia tidak salah dengar. 


"Hmmm!!!! Di daerah perkampungan dekat pinggiran hutan." Ungkap Jordi.


Raka menganggukkan kepalanya, dia kembali melajukan mobilnya sesuai arahan dari Jordi menuju tempat dimana katanya orang yang membawa Anggie berada saat ini.


"Mobilnya terparkir di sebuah rumah kosong paling ujung." Suara Jordi kembali terdengar di telinga Raka saat sudah hampir sampai ditempat tujuan.


Tempat itu terlihat sepi, padahal terdapat begitu banyak rumah meski jarak antara rumah sekitar dua puluh meter, mungkin karena sudah malam dan ini sudah jam sepuluh malam lebih.


"Aku yakin mereka tidak ada dalam. Kalaupun ada pasti sudah digerebek warga." Tebak Raka mengingat warga kampung biasanya curiga kalau ada orang asing, pasti akan selalu dipantau. Apalagi yang datang ini sangat mencurigakan, pasti mereka sudah menangkapnya.


Raka mencoba melihat kedalam rumah itu dengan bantuan lampu pada ponselnya. Rumah itu terlihat sepi, tidak ada cahaya penerangan sama sekali. Benar tebakannya, mereka tidak ada didalam. 


Raka langsung mematikan lampu ponselnya saat melihat seorang lelaki yang berjalan kearah hutan. Raka yang penasaran mengikuti lelaki itu dari jarak jauh, namun masih dapat dia pantau. Dia menebak, lelaki itu adalah orang yang sama yang membawa Anggie pergi.


"Shitt!!" Umpat Raka saat tangannya yang memegang sebuah pohon dikerubuti semut. Dia buru-buru pergi sambil mengusap lengannya, menyingkirkan semut yang berada di tangannya.


Raka berjalan perlahan saat lelaki itu masuk ke sebuah gubuk kecil. Dia melangkah mendekat dan mengintip dari luar. Keningnya mengkerut saat didalam sana remang dan sedikit gelap karena hanya ada penerangan cahaya lilin. Dia tidak melihat apapun didalam sana.


"Ku kira kau dimana, ternyata ada disini."


Raka begitu kaget saat lelaki yang dia buntuti itu tepat berada dihadapannya. Sial, dia ketahuan, batinnya yang kesal karena secepat itu harus ketangkap basah.


"Sini kamu!!"


ARGHHH


Raka membuka mata lebar saat mendengar suara jeritan seorang wanita. Dia kembali mengintip dan ternyata dia tidak ketahuan. Dia melihat lelaki itu menyeret seorang wanita yang dia kenal, wanita itu Anggie. Kaki juga tangan Anggie terlihat terikat.


Raut wajah Raka berubah seketika melihat keadaan Anggie seperti sekarang ini. Tatapan matanya terlihat tajam, rahangnya mengeras juga kedua tangannya yang mengepal erat. Tidak lupa, nafasnya yang memburu menandakan kalau dokter muda itu tengah menahan geram dan amarah.


Raka tidak bisa mendengar apa yang lelaki itu katakan pada Anggie, tapi dia mendengar Anggie menangis juga berteriak, padahal lelaki itu tidak melakukan apapun dan hanya menunjukkan sesuatu pada ponsel.


ARGHHH

__ADS_1


Raka terlihat marah saat mendengar Anggie yang menjerit. Apalagi dia juga melihat lelaki itu tengah melakukan perbuatan tidak senonoh pada Anggie. Raka yang tidak bisa melihat perbuatan lelaki itu langsung mendobrak masuk kedalam gubuk kecil itu.


Mike, lelaki itu yang tengah menikmati tubuh Anggie menoleh saat ada seseorang yang masuk. Tubuhnya segera menjauh dari Anggie. Dia takut kalau yang masuk itu adalah warga sekitar dan akan menangkap dirinya.


Sedangkan Anggie sudah pingsan terlebih dahulu karena ulah Mike yang bermain kasar oada tubuhnya. Apalagi Mike berulang kali menyentuhnya bahkan menyiksanya dalam sehari ini.


Raka yang gelap mata langsung menyeret Mike dan menghajar lelaki yang sudah memperlakukan Anggie layaknya boneka peliharaan. Mike tidak sempat melawan karena tenaga Raka yang begitu kuat, tidak sebanding dengan dirinya.


Uhukk


Mike terbatuk saat dadanya diinjak Raka dengan sangat kuat. Dia tidak tahu siapa Raka dan untuk apa Raka datang menghajar dirinya. Apa lelaki itu kekasih Anggie, pikirnya.


Raka tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dia menatap tajam pada Mike dengan posisi kaki kanan masih menginjak dada Mike. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya dan Bughh, Raka menonjok rahang Mike hingga bibir juga hidung Mike mengeluarkan darah. Bahkan suara rintihan kesakitan keluar dari mulut Mike.


Raka menyeringai, dia lantas menjauh dari tubuh Mike dan melepas hoodie hitam yang dia kenakan. Dia menatap prihatin pada Anggie yang tidak memakai sehelai benangpun dan badannya penuh dengan luka. Raka lantas memakaikan hoodie miliknya pada untuk menutupi tubuh polos Anggie.


Raka hanya diam saja dan menatap dalam diam pada wajah pucat Anggie. Dia mengangkat tubuh Anggie setelah hoodie itu terpasang sempurna pada tubuh Anggie. Raka berlalu pergi dari sana dan segera membawa Anggie ke rumah sakit untuk perawatan. Raka melihat Mike sebelum kakinya akhirnya melangkah keluar dari gubuk kecil itu.


DOR


Raka terdiam saat punggungnya merasakan sesuatu baru saja mengenai punggungnya. Raka memejamkan matanya saat rasa sakit yang amat sangat menyerang punggungnya. Dia membuka matanya dan melihat kearah Mike yang menyeringai dengan pistol ditangannya, namun keadaannya sangat lemah karena pukulan yang dia berikan tadi.


Raka hanya diam dan kembali melanjutkan langkah kakinya dengan menahan sakit akibat tembakan yang mengenai punggungnya. Dia tidak perduli akan rasa sakit yang dirasa, yang ada dipikirannya saat ini adalah segera membawa Anggie ke rumah sakit supaya mendapatkan perawatan.


Dari arah depan Raka melihat beberapa orang datang mendekat. Dia menghentikan langkahnya saat melihat polisi yang datang. Dia tidak memanggil polisi, apa warga yang memanggil polisi, pikirnya.


"Orangnya ada didalam." Ucap Raka lirih pada polisi yang mengepungnya. Mungkin mereka pikir, Raka adalah penculiknya.


Dua anggota polisi memeriksa dan masuk kedalam, sedang yang lainnya masih mengepung Raka yang wajahnya sudah pucat juga tengah menahan rasa sakit.


"Raka!! Kamu ada disini juga?" Semua orang melihat kearah belakang, begitu dengan Raka.


"Tuan Fabian kenal sama lelaki itu?" Tanya salah seorang anggota polisi.


Fabian menganggukkan kepalanya. "Kami kenal. Dokter Anggie juga mengenalnya." Jawab Fabian. Dia menatap curiga pada Raka. Kenapa mantan iparnya itu ada disini sekarang? Bukankah seharusnya Raka sudah ada di Makassar? Fabian terus menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Tolong dia!" Ucap Raka lirih sebelum akhirnya dirinya terjatuh karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit pada punggungnya yang tertembak. Anggie yang ada di gendongannya juga ikut terjatuh.


"Raka!!" seru mereka saat Raka pingsan.


Fabian bersama Rendy juga Evan mengurusi Raka juga Anggie, sedangkan Bara beserta anggota polisi mengurus Mike yang sekarang sudah tertangkap untuk segera dibawa ke kantor polisi.


Untung saja Fabian tadi sempat memanggil ambulan untuk mengikuti mereka, jadi sekarang Anggie juga Raka berada didalam satu ambulan bersama Fabian juga.


Raka sudah sadar, tapi masih dalam kondisi lemah. Berbeda dengan Anggie yang masih pingsang dan belum sadarkan diri.


"Bisa pelan sedikit nggak." keluh Raka saat merasakan sakit pada luka dipunggung nya saat diobati Fabian.


Plakk. Fabian dengan gemas memukul pundak Raka. "Makanya kalau takut sakit, nggak usah jadi sok pahlawan." ejek Fabian tanpa mengurangi fokus pada pengambilan peluru yang bersarang pada punggung Raka. Meski tidak begitu dalam, tapi darah terlihat keluar banyak.


Raka hanya menggeram saja mendapatkan ejekan dari Fabian. Dia menahan sakit karena suntikan bius yang Fabian berikan tidak mempan pada tubuhnya. Buktinya saat ini dia merasakan sakit saat mantan adik iparnya itu melakukan tindakan darurat pengambilan peluru.


Raka melirik ke samping lewat ujung matanya, dimana dia melihat Anggie masih berbaring dengan mata tertutup dan tangan sudah terpasang infus. Luka-luka yang ada di tubuh Anggie hanya dibersihkan saja.


"Tubuh mu ternyata kebal juga ya meski biusnya tidak mempan." ujar Fabian saat dirinya mulai menjahit bekas luka tembak pada punggung Raka. Dia melihat Raka yang hanya menggeram, menahan sakit tanpa berteriak ataupun mendesis kesakitan.


Raka hanya memutar bola mata malas. Dia tidak membalas perkataan Fabian. Sungguh dirinya tidak menyangka harus terlihat selemah ini dihadapan Fabian yang masih dia anggap musuh. Dia yakin, pasti saat ini Fabian tengah mengejeknya habis-habisan. Entah ekspresi seperti apa yang Fabian tunjukkan dibelakang dirinya saat ini, Raka tidak perduli. Meski dirinya masih menganggap Fabian musuh, tapi dia tidak berniat melakukan kesalahan lagi seperti dulu terhadap Fabian maupun yang lainnya.

__ADS_1


Raka kembali melihat kearah Anggie dalam diam. Matanya terus fokus pada wajah Anggie yang terlihat sedih, sembab juga pucat. Entah apa yang lelaki itu pikirkan saat ini. Yang pasti pancaran mata itu begitu dalam menatap wajah Anggie.


__ADS_2