One Night Romance

One Night Romance
Bab 51


__ADS_3

Maura keluar kamar dengan memakai jaget mengingat begitu dinginnya Bandung di pagi hari. Matanya menatap ke semua penjuru arah mencari keberadaan Fabian. Karena tidak menemukan keberadaan Fabian juga keadaan rumah yang terlihat sepi dan hanya terdengar suara kicauan burung, Maura melangkah menuju teras samping yang pintunya terbuka lebar. 


"Fabian kemana?" Gumam Maura karena diluar rumah juga tidak terlihat batang hidung Fabian. "Apa dia masih marah sama aku gara-gara semalam?" Maura terlihat murung mengingat Fabian semalam yang keluar kamar sampai membanting pintu dengan keras karena ajakannya dia tolak.


Maura yakin, pasti semalam keinginan Fabian untuk bercinta sudah diujung kepala sehingga membuat lelaki itu marah. Maura tahu betul bagaimana reaksinya bila sesuatu has rat lelaki maupun perempuan yang tidak terpenuhi akan seperti apa, dia pernah mempelajarinya saat kuliah dulu. Tapi mau bagaimana lagi, bukan dirinya tidak mau melakukan itu sama Fabian, dia tidak ingin menambah dosa lagi karena harus bercinta di saat keduanya belum memiliki ikatan yang halal.


Maura mencoba mencari Fabian kembali, dia turun dari teras samping dan melangkah menuju halaman belakang rumah, disana dia melihat Oma Ratih yang tengah merawat bunga mawar berbagai macam warna. Sepertinya Oma Ratih suka sama bunga mawar, pikir Maura.


"Pagi Oma!" Sapa Maura dengan tersenyum. Dia mendekat dan mencium wangi bunga mawar yang masih ada dipohon.


Oma Ratih hanya melirik saja, dia tidak menjawab sapaan dari Maura. Maura sendiri yang mendapat perlakukan seperti itu hanya acuh saja. Dia sepertinya juga tidak peduli, karena yang dia pedulikan saat ini adalah kemarahan Fabian. Jangan sampai lelaki itu terlalu lama marahnya atau dirinya akan ditinggal pergi sama Fabian, karena Fabian lebih memilih wanita lain. Maura tidak ingin kejadian yang sudah-sudah terulang kembali pada dirinya. Cukup Rafa saja yang meninggalkan dirinya, namun tidak untuk Fabian. Lelaki itu harus berada disisinya.


"Oma lihat Bian, tidak?" Tanya Maura.


"Bukannya dia tidur sama kamu semalam. Kenapa pagi-pagi mencari keberadaan Bian? Apa kalian habis bertengkar semalam?" Maura diam saja tidak menjawab apapun. Pasti semua orang semalam dengar atau mungkin melihat saat Fabian keluar kamar dengan membanting pintu.


"Kenapa semalam harus berbohong?" Maura mengangkat kepalanya melihat ke arah Oma Ratih. Apa Oma Ratih sudah tahu kalau dirinya berbohong dan pura-pura hamil, pikir Maura. "Kau tidak hamil, tapi baru saja keguguran sekitar dua minggu yang lalu." Maura terdiam, pasti Fabian yang sudah memberi tahu Oma Ratih dan menceritakan kejadian yang sebenarnya sudah terjadi diantara mereka berdua.


"Maaf, Oma. Maura salah sudah berbohong semalam." Ucap Maura menyesal karena sudah membohongi Oma Ratih.


"Anak muda jaman sekarang suka sekali membohongi orang tua hanya untuk mendapatkan restu." Omel Oma Ratih.


"Kalau seperti itu, apa Oma tidak akan merestui kami?" Tanya Maura yang merasa takut akan jawaban penolakan dari Oma Ratih.


"Oma tidak akan merestui hubungan kalian sampai akhirnya hubungan kalian halal nantinya."


Maura menghembuskan nafas perlahan sambil menundukkan kepalanya. Ternyata mendapat restu dari Oma Ratih tidak semudah yang dia bayangkan. Lebih mudah mendapatkan proyek pekerjaan daripada restu dari orang tua, apalagi nenek-nenek seperti Oma Ratih, pikir Maura.


Tapi tunggu!! Maura mengingat kalimat yang diucapkan Oma Ratih tadi, sepertinya dirinya salah mencerna ucapakan Oma Ratih. Dia mengangkat kepalanya sambil menatap Oma Ratih. Dia kembali mencerna kalimat yang Oma Ratih ucapkan, sampai akhir dia tersenyum.


"Terima kasih, Oma!!" Pekik Maura yang senang karena akhirnya Oma Ratih merestui dirinya. Dia sampai memeluk tubuh Oma Ratih tanpa sadar karena rasa bahagianya.


"Kau bisa membunuh ku kalau seperti ini caranya." Keluh Oma Ratih yang merasakan sesak karena pelukan dari Maura yang begitu kencang. Dia bahkan sampai terbatuk-batuk.


Maura langsung melepas pelukannya pada tubuh Oma Ratih, dia menyengir kuda karena merasa bersalah sudah membuat Oma Ratih sampai terbatuk-batuk. "Maaf, Oma." Ucap Maura menyesal.


"Sudah sana jauh-jauh." Usir Oma Ratih yang sepertinya tidak suka Maura ada didekatnya.


Dengan terpaksa Maura menurut apa yang diminta sama Oma Ratih. Maura berbalik badan dan berniat untuk pergi mencari Fabian lagi. Siapa tahu lelaki itu ada di sungai atau mungkin main ke air terjun, pikir Maura.


Namun, belum juga Maura melangkah dia sudah tersenyum saat melihat Fabian berjalan pulang bersama Putra juga. Maura berlari kecil menghampiri Fabian.


"Bi!! Kamu tadi dari mana?" Tanya Maura dengan tersenyum senang karena akhirnya Fabian kembali.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Fabian yang membawa beberapa sayuran ditangannya langsung masuk kedalam rumah. Sepertinya dia masih marah sama Maura karena kejadian semalam. 


Melihat Maura yang terlihat sedih karena diacuhkan sama Fabian, Putra mencoba mencairkan suasana. "Ra, kami tadi mancing di sungai dapat ikan gabus." Putra menunjukkan sekitar tiga ekor ikan gabus yang diikat di sebuah tali. "Ini!" Putra memberikan ikan gabus itu pada Maura. "Kamu bisa masak buat sarapan pagi kita, sama sayuran yang dibawa Bian tadi. Kamu bisa masak kan?" Tanya Putra memastikan. Takut saja ternyata Maura tidak bisa masak, mengingat Maura adalah seorang anak dari konglomerat.


Maura mengangguk sambil melihat ikan gabus yang sudah bersih, sepertinya sudah disiangi sama Putra, jadi dia tinggal mengolahnya saja.


"Sudah sana pergi masak!! Sudah lapar ini. Perut sudah keroncongan." Perintah Putra dengan cengengesan, tidak merasa sungkan sama sekali pada Maura.


Maura mengangguk saja dan pergi menuju dapur. Dia memasak yang dia bisa. Mengingat kalau Oma Ratih memiliki riwayat penyakit kolesterol juga gula, Maura memutuskan membuat steam ikan gabus juga tumis capcay. Menu simpel untuk sarapan pagi ini.


"Semoga mereka semua suka." Ucap Maura setelah selesai menghidangkan masakan yang baru saja selesai diolahnya.


"Masak apa kamu?" Tanya Oma Ratih.


"Masak steam ikan gabus sama tumis capcay, Oma. Semoga Oma suka yaa." Jawab Maura dengan tersenyum pada Oma Ratih. Dia juga mempersilahkan Oma Ratih untuk duduk.


"Wihhhh!! Harum banget aromanya." Seru Putra yang sepertinya baru selesai mandi. "Enak nggak nih? Biasanya kalau Mama yang masak aromanya menggoda, tapi rasanya bikin susah ngunyah." Putra sepertinya tengah curhat kalau Mamanya tidak bisa masak.


"Aku nggak tahu, belum aku cicipi." Jawab Maura.


Putra mengangguk dan mengambil sumpit untuk mencicipi sedikit steam ikan gabus yang dibuat oleh Maura.


"Duduk kalau makan." Dengan patuh Putra duduk setelah mendapat teguran dari Oma Ratih.


"Bagaimana?" Tanya Maura sampai memiringkan kepalanya melihat Putra yang sampai memejamkan matanya saat mencicipi masakannya.


Maura hanya tersenyum saja menanggapi aksi berlebihan dari Putra. Maura melihat Fabian yang baru saja keluar kamar yang sama dengan dirinya. "Bi, sini!! Sarapannya sudah siap." Maura menarik kursi yang masih kosong untuk Fabian tempati.


Fabian hanya melirik saja kearah Maura, bukannya duduk di kursi yang sudah Maura siapkan, Fabian justru duduk di kursi satunya lagi tepat disamping kursi yang sudah Maura siapkan.


Maura tersenyum kecut melihat Fabian yang sepertinya sungguh marah pada dirinya. Akhirnya dia tempati sendiri kursi yang tadi dia siapkan untuk Fabian.


Maura senang melihat Fabian yang sepertinya suka sama masakannya, buktinya lelaki itu terlihat begitu lahap. "Mau nambah, Bi?" Tanya Maura saat melihat isi piring Fabian tinggal sedikit lagi. Sayangnya Fabian hanya diam tidak memberikan respon apapun.


"Dia hanya gengsi aja, Ra." Sahut Putra yang sepertinya kasihan melihat Maura sedari tadi diacuhkan sama Fabian. "Sebenarnya steam ikan itu kesukaan dia. Dia bisa habisin sendiri tuh seporsi gede steam ikan." 


"Yang benar?" Maura tidak menyangka kalau apa yang dia olah tadi adalah makanan kesukaan Fabian. Dia begitu senang, terlihat senyum di bibirnya yang merekah sempurna. Bahkan kedua pancaran matanya juga terlihat berbinar.


"Aku sudah selesai makan." Fabian meletakkan alat makannya diatas piring. "Aku duluan." Fabian berdiri dari duduknya.


Melihat Fabian yang menyudahi sarapan paginya dan berdiri, Maura langsung melakukan hal yang sama dan segera mengalungkan kedua tangannya pada leher Fabian. Dia tidak perduli disana masih ada Oma Ratih juga Putra. Dia hanya tidak tahan bila terus diacuhkan sama Fabian.


"Maaf!" Ucap Maura lirih dengan mata memerah sambil menatap mata Fabian. 

__ADS_1


"Kamu apa-apaan. Lepas!!" Fabian sepertinya tidak begitu nyaman dengan tindakan yang Maura lakukan saat ini.


Bukannya melepas dan menjauh dari Fabian, Maura justru merapatkan tubuhnya pada tubuh Fabian. Bahkan tingginya yang tidak begitu jauh dari Fabian, membuat wajah keduanya begitu dekat.


"Oma. Sepertinya tadi ada bunga yang belum diberi pupuk. Ayo cek lagi, Oma." Putra mengajak Oma Ratih untuk pergi dari sana saat melihat suasana yang sudah tidak kondusif lagi.


"Maafkan aku dulu." Ucap Maura meminta maaf lagi pada Fabian.


Fabian membuang muka kesamping sambil memejamkan matanya juga mengambil nafas panjang.


"Bi, I'm sorry." Ucap Maura dengan suara manja. "Aku janji, setelah kita nikah nanti kamu boleh minta kapan saja dan dimana saja. Tanpa perlu pakai balon udara malah." Maura dengan lancarnya mengucapkan kalimat seperti itu pada seorang lelaki.


Fabian kembali menatap Maura. Dia belum memberi balasan apapun pada Maura. Dia masih diam dan terus menatap manik mata biru milik Maura.


"Bi, please!!! Maafkan aku soal semalam." Maura sampai mengerucutkan bibirnya tepat didepan Fabian. Matanya bergerak-gerak sambil membalas tatapan Fabian.


Bukannya memberi jawaban, Fabian justru memeluk tubuh Maura. "Maaf!! Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu." Ucap Fabian yang sepertinya juga menyesal soal semalam.


Maura tersenyum, dia menganggukkan kepalanya senang akhirnya Fabian mau membalasnya juga. "Kamu sudah tidak marah lagi kan sama aku?" Tanya Muara.


Fabian melepaskan pelukannya pada tubuh Maura. Dia mendorong pelan tubuh Maura biar tidak terlalu intim. "Aku sudah tidak marah lagi sama kamu. Maaf sudah mengacuhkan kamu sejak tadi." Fabian mengusap pelipis Maura dengan tangannya untuk menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi wajah cantik Maura.


"It's oke. Tapi jangan diulangi lagi." Fabian mengangguk, menurut apa yang Maura katakan.


"Kita pulang pagi ini. Sore nanti aku ada acara." Ujar Fabian memberi tahu.


"Baiklah. Kalau begitu aku mandi dan siap-siap dulu." Fabian menahan tangan Maura sebelum wanita itu melangkah pergi. "Ada apa?" Tanya Maura.


"Kalau cuma kiss, boleh kan?" Maura tertawa kecil mendengar apa yang diminta sama Fabian.


"Apa kamu mau ciuman selamat pagi?" Maura kembali mendekat pada Fabian. Wajahnya dia angkat saat berbicara.


"Kalau kamu ijinkan." Balas Fabian.


"Dengan sen-emmm!!" Belum juga Maura menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah disambar duluan sama bibir Fabian.


Keduanya saling memejamkan mata, menikmati ciuman selamat pagi yang penuh gai rah. Bahkan suara kecapan bibir keduanya terdengar begitu keras di rumah yang tidak begitu besar itu. Permainan lidah Fabian sungguh membuat Maura kesulitan untuk membalasnya.


"Emmhhhh!!!" Maura memukul lengan Fabian disaat dirasa pasokan oksigen dalam tubuhnya berkurang.


"Kenapa kamu brutal sekali?" Keluh Maura merasa permainan lidah Fabian pagi ini tidak seperti biasanya. 


Fabian tertawa kecil. "Itu balasan semalam." 

__ADS_1


Maura mencebikkan bibirnya sambil memukul kembali lengan Fabian. Dengan nafas yang masih memburu, Maura berlalu pergi masuk ke kamar untuk mandi dan siap-siap.


Fabian membiarkan saja, dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Persiapkan semuanya. Malam nanti kita datang ke rumahnya. Aku juga akan memberi tahu mereka." 


__ADS_2