
Mobil yang Fabian kemudikan sudah sampai di depan rumah keluarga Abrisam. Tanpa mematikan mesin mobil, Fabian segera membuka pintu dan turun dari dalam mobil. Dia memutar lewat depan dan membuka pintu buat Maura. Tidak lupa, dia juga membantu Maura turun dari mobil. Padahal semua itu tidak perlu dia lakukan karena Maura masih sehat dan bisa melakukan semuanya sendiri.
Maura sendiri yang diperlakukan seperti ratu sama Fabian merasa sangat senang. Dia tidak protes dan justru menikmatinya. Karena selain Ayahnya, ternyata ada juga yang memperlakukan dirinya dengan begitu lembut dan penuh perhatian.
"Kamu jadi langsung pulang? Tidak mampir dulu?" Tanya Maura saat melihat Fabian mengambil tas juga beberapa kantong oleh-oleh yang mereka beli sebelum kembali ke Jakarta.
"Iya, aku ada sedikit kerjaan." Jawab Fabian setelah menutup pintu kembali dengan sikunya, karena kedua tangannya membawa tentengan barang. "Maaf tidak bisa mampir. Tolong sampaikan salam ku buat Ayah sama Bunda kamu."
Maura mengangguk dan mengambil alih semua barang yang ada ditangan Fabian. "Iya, nanti aku sampaikan sama Ayah Bunda." Balas Maura. "Nanti kabari aku ya kalau ada waktu senggang?" Pinta Maura pada kekasihnya itu.
"Tanpa kamu beri tahu pun, aku tetap akan kasih kabar buat kamu." Fabian mengusap pelan rambut kepala Maura.
"Bagus kalau kamu mengerti." Timpal Maura dengan tersenyum.
"Aku pulang dulu." pamit Fabian. Dia memberikan kecupan di kening Maura sebelum akhirnya masuk kembali kedalam mobil.
Maura melambaikan tangan dengan susah payah pada Fabian karena tangannya penuh dengan tas juga kantong oleh-oleh. Dia segera masuk kedalam rumah setelah mobil Fabian berlalu pergi.
"Assalamualaikum!!!" Teriak Maura.
"Walaikumsalam salam, Non Maura." Jawab Bik Mae yang kebetulan baru saja turun dari lantai dua. Dia mendekati Maura dan mengambil alih apa yang dibawa Nona Mudahnya.
"Dimana ini penghuninya? Sepi banget." Tanya Maura saat melihat rumah yang terlihat begitu sepi.
"Tuan sama Nyonya pergi, katanya ada pertemuan diluar gitu. Adik-adik Nona juga pergi ke rumah Nyonya Caca." Jawab Bik Mae.
Maura mengangguk paham. "Ya sudah Bik Mae simpan aja dulu itu semua. Kecuali yang kantong hitam, bisa Bik Mae bagian sama yang lain."
"Siap, Non. Makasih." Ucap Bik Mae yang senang karena juga dapat oleh-oleh dari Bandung.
Maura berlalu menuju lantai dua. Dia bukannya masuk ke dalam kamarnya, melainkan kamar Oma Lea. Dia melihat Oma Lea yang sepertinya tengah disuapi sama suster yang menjaga Oma Lea.
"Assalamualaikum, Oma." Sapa Maura dengan tersenyum. Dia mengambil tangan Oma Lea dan dia cium punggung tangannya. Dia juga mencium pipi Oma satu-satunya itu.
Oma Lea meresponnya dengan tersenyum, dia belum bisa berbicara dengan jelas.
"Biar Mora aja yang menyuapi Oma, Sus." Maura mengambil piring yang ada ditangan Suster dan duduk disamping Oma Lea.
"Oma sudah dengar belum soal Mora sama Bian?" Tanya Maura disela-sela menyuapi Oma Lea.
Terlihat Oma Lea menganggukkan kepalanya, itu berarti Oma Lea sudah mendengar dari Bryan atau mungkin dari Freya.
"Apa Oma setuju bila Mora menikah sama Bian?" Tanya Maura.
Terlihat Oma Lea menganggukkan kepalanya lagi dan membuat Maura tersenyum senang. Omanya juga menyetujui dirinya menikah dengan Fabian.
"Mora senang Oma merestui kami." Kata Maura. "Bian itu orangnya baik, Oma. Dia tinggi, tampan, smart, juga Dokter terbaik di rumah sakit kita. Dia memperlakukan Mora dengan sangat baik. Jadi Oma tidak perlu khawatir kalau Bian akan menyakiti Mora. Dia begitu sayang sama Mora. Nanti kapan-kapan Mora akan kenalkan Bian sama Oma." Ucap Maura panjang lebar menceritakan tentang Fabian.
Maura tidak tahu saja kalau kemarin setelah pulang dari Bali Fabian sudah diperkenalkan pada Oma Lea terlebih dahulu sama Bryan. Jadi kenapa saat ditanya Maura, Oma Lea selalu menjawab dengan anggukan kepala juga senyum. Karena memang sudah kenal dulu dan sudah mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan Maura.
"Ini yang terakhir, Oma." Maura menyuapi suapan terakhir pada Oma Lea. "Setelah itu minum obatnya." Maura memberikan piring yang sudah kosong pada Suster. "Obatnya dimana, Sus?" Tanya Maura karena tidak melihat obat di atas nakas.
"Tunggu, Non." Suster terlihat mengambil obat yang disimpan di laci meja TV.
"Kenapa nggak disimpan disini aja sih Sus?" Maura terlihat heran kenapa harus disimpan jauh-jauh obatnya.
__ADS_1
"Maaf, Non. Kalau disimpan disini, Nyonya sering ambil diam-diam. Terus dibuangnya." Terang Suster memberi tahu pada Maura.
Maura geleng kepala, dia baru tahu soal ini. "Oma nggak mau minum obat?" Tanya Maura. "Memangnya Oma nggak mau sembuh? Memangnya Oma nggak mau hadir di nikahannya Mora nanti? Kalau Oma nggak mau ya udah. Padahal Mora ada rencana setelah Bian kembali bekerja, aku akan minta Bian yang mengobati Oma. Kebetulan Bian kan dokter bedah saraf. Jadi cocok untuk Oma, biar segera diterapi sama Bian. Tapi kelihatannya Oma tidak butuh semua itu. Ya sudah deh, terserah Oma aja mau cepat sembuh apa nggak." Maura langsung pergi begitu saja. Bukannya dia marah sama Oma Lea, dia juga bukan tidak peduli sama Oma Lea. Maura hanya sadar diri tidak bisa membujuk Oma Lea yang memiliki watak keras kepala sedari dulu. Hanya menantunya saja, Freya yang bisa meluluhkan sifat keras kepalanya itu. Jadi biar Freya saja nantinya yang membujuk Oma Lea.
🌷🌷🌷
Sore harinya Maura terlihat duduk di balkon kamarnya sambil bermain ponsel. Dia mengirim voice note pada Fabian.
"Bi!! Kamu dimana sekarang?" Pesan suara yang Maura kirim untuk Fabian.
"Aku di rumah." Balas Fabian melalui pesan singkat.
Mengetahui Fabian ada di rumah, Maura memutuskan untuk menghubungi kekasihnya itu. Keningnya mengkerut saat mendengar suara yang sangat berisik setelah Fabian mengangkat panggilannya. Sepertinya Fabian sedang tidak ada di rumah. Lelaki itu sepertinya tengah berbohong pada dirinya.
"Kamu dimana, Bi?" Tanya Maura penasaran.
"Sayang, cincin ini bagus kan di jari aku."
Maura melotot kan kedua bola matanya saat mendengar suara perempuan begitu jelas ditelinga nya. "Siapa itu, Bi? Kamu ada dimana sekarang?" Cerca Maura yang sepertinya tengah menahan amarah.
"Ntar dulu. Aku telpon kamu nanti."
Maura melihat ponselnya yang sambungan teleponnya diputus sepihak sama Fabian. Nafasnya terlebih memburu dengan wajah yang merah karena marah. Dia segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan Ayahnya. Hanya sang Ayah lah yang bisa membantunya saat ini.
"Ayah mana, Bun?" Tanya Maura pada Freya.
"Ayah ada meeting di samping sama teman-temannya." Jawab Freya. "Kenapa mencari Ayah?" Tanya Freya penasaran.
Maura menggeleng kepala pelan. "Lama nggak, Bun kira-kira Ayah meeting nya?" Tanya Maura lagi.
"Nggak tahu ya. Sepertinya sebentar lagi juga sudah selesai. Kamu tunggu aja." Kata Freya dan diangguki Maura.
Hingga sampai malam, Maura tidak kunjung menemui Bryan karena Ayahnya itu justru keluar setelah selesai meeting. Maura begitu kesal, apalagi sekarang nomor Fabian tidak bisa dihubungi. Kemana sebenarnya lelaki itu pergi, dan siapa perempuan yang memanggil sayang tadi. Maura rasanya ingin sekali menemui Fabian dan menampar lelaki itu.
"Sayang!!" Freya masuk ke kamar Maura yang pintunya terbuka lebar. "Kamu ganti baju ya. Temani Bunda dinner sama kolega menggantikan Ayah kamu." Freya memberikan sebuah gaun warna lilac kepada Maura.
"Males ah Bun." Tolak Maura dan menarik selimut. Dia sekarang lagi bad mood, malas untuk melakukan kegiatan apapun.
"Sebentar aja sayang. Ini sangat penting. Ini soal nasib perusahaan kita. Kalau kamu nggak mau datang, Ayah kamu akan kehilangan perusahaan yang sudah dibangun Opa sejak dulu."
Maura sontak saja langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dia bahkan langsung turun dari atas kasur. "Maksud Bunda apa? Kenapa bukan Ayah sendiri yang hadir kesana?"
"Ayah kamu lagi menangani yang lain. Ayo temani Bunda. Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa membantu kelangsungan hidup perusahaan keluarga."
Maura akhirnya setuju, dia tidak ingin perusahaan yang sudah didirikan sama Opa Omanya dengan susah payah harus hilang begitu saja dan jatuh ke tangan orang lain. Dia harus membantu Ayah sama Bundanya untuk tetap mempertahankan perusahaan keluarga.
Maura sama Freya sudah sampai di sebuah hotel. Keduanya masuk dan menuju ke sebuah restoran mewah yang ada di lantai sebelas.
"Bun!! Kenapa mereka meminta pertemuan disini?" Tanya Maura penasaran.
"Bunda nggak tahu, kita ikuti saja kemauan mereka." Jawab Freya.
"Siapa sih Bun sebenarnya mereka? Maura sangat penasaran." Tanya Maura karena memang Freya tidak memberi tahu siapa orang yang ingin mengambil alih perusahaan keluarga Abrisam.
"Nanti kamu juga akan tahu." Jawaban Freya membuat Maura semakin dibuat penasaran.
__ADS_1
"Dengan Nona Maura." Seorang pelayan menegur saat melihat kedatangan Maura juga Freya.
Maura mengangguk mengiyakan.
"Mari Nona ikuti saya."
Maura melirik ke arah Freya. "Ikuti saja." Kata Freya.
Keduanya mengikuti pelayan itu hingga sampai di sebuah restoran yang pintunya masih tertutup. "Sudah sampai Nona. Saya permisi dulu." Pelayan itu pamit undur diri.
"Sayang, seperti Bunda mau ke toilet sebentar. Sudah tidak tahan lagi." Freya juga pergi setelah beralasan ingin ke toilet.
Maura melihat ke kanan kiri sebelum akhirnya membuka pelan pintu itu. Dua daun pintu terbuka bersamaan, Maura terpaku melihat siapa yang berdiri di depan sana. Restoran yang pencahayaan dibuat redup, sedang ada dua spot light yang mengarah pada dirinya juga lelaki yang membuatnya terpaku. Dia juga bisa melihat ada sebuah tulisan yang di panggung dengan dekor begitu indahnya.
Bibir Maura bergetar, bersamaan dengan matanya yang memerah dan berkaca-kaca saat lelaki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Fabian melangkah kearahnya dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Diikuti dengan gerakan spot light
Matanya bergerak melihat sekeliling juga ada orang-orang yang dia sayang tengah mengabadikan moment dirinya juga Fabian. Meski tidak begitu jelas, karena pencahayaan kurang terang. Tapi Maura tahu kalau disana ada kedua orang tuanya juga saudara yang lainnya. Bahkan Bundanya yang katanya tadi mau ke toilet, ternyata sudah bergabung disana.
Fabian tersenyum pada Maura, senyum yang sedari tadi dia pancarkan saat menyambut kedatangan Maura. Dia mengulurkan tangannya pada Maura dan ternyata gadis itu langsung menyambut uluran tangan darinya. Fabian membawa Maura ke panggung atas panggung kecil.
"Maura Hanin Az-Zahra, maaf bila kita awalnya bertemu karena sebuah kesalahan. Sekarang aku ingin memperbaiki kesalahan itu bersama mu. Aku harap kamu juga mau memperbaikinya bersama ku." Melihat Maura yang menganggukkan kepala, Fabian memberikan buket bunga mawar merah itu pada Maura.
Maura sampai menutup mulutnya bahkan sampai melangkah mundur karena kaget saat Fabian tiba-tiba berlutut di hadapannya.
"Aku memang bukan cinta pertamamu, juga bukan cinta kedua kamu, atau ketiga kamu. Tapi aku ingin kamu menjadikanku cinta terakhir kamu. Seperti aku yang mencintaimu tanpa syarat dan tidak dapat ditarik kembali."
"Maura Hanin Az-Zahra, beri aku kehormatan untuk mencintaimu selamanya. Will you marry me, Amor?" Bersama dengan itu, Fabian mengeluarkan sebuah cincin dari saku jasnya. Menatap Maura dengan tersenyum manis.
"Terima kasih kamu sudah menyiapkan semua ini untuk aku. Tapi aku minta maaf, aku nggak bisa menerimanya."
Semoga orang terlihat kaget dengan jawaban yang Maura berikan. Mungkin itu hanya sebuah kebohongan saja, pikir mereka karena tahu bagaimana Maura yang suka jahil dulunya.
Fabian sendiri, senyum yang ada bibirnya meredup mendengar penolakan dari Maura. Namun dia mencoba untuk tidak bersedih. Dia kembali tersenyum dan berdiri. "Thanks untuk semuanya." Ucap Fabian dan membalikkan badan untuk turun dari atas panggung.
"Kenapa kamu pergi?"
Fabian menghentikan langkahnya. Dia tidak berbalik menatap Maura, dia hanya diam saja. Hatinya terlalu sakit karena penolakan dari Maura tadi.
"Katanya kamu ingin menikah dengan ku. Kenapa cincinnya tidak kamu sematkan ke jari manis aku? Aku nggak bisa memakainya sendiri."
Fabian membalikkan tubuhnya, dia melihat Maura yang tersenyum kearahnya dengan mengulurkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang buket bunga.
"Kamu nggak mau menyelamatkan nya disini?" Maura menggerakkan jari-jari tangan kirinya saat Fabian justru diam saja menatapnya. Apa Fabian kesal karena sudah dia kerjain, pikir Maura.
Bukannya menjawab, Fabian justru memberikan cincin itu pada Shanti dan meminta Shanti untuk memakaikannya pada Maura.
"Jadi kamu mau menerima lamaran dari Fabian?" Tanya Shanti memastikan. Dia kini sudah diatas panggung kecil bersama Maura.
"Kenapa aku harus nolak Tante, bila ada lelaki yang mau bertanggung jawab atas aku juga mencintai ku tanpa syarat." Jawab Maura dengan yakin.
Shanti tersenyum senang, dia lantas menyematkan cincin yang sore tadi Fabian beli di jari manis Maura. "Terima kasih sayang sudah mau menerima putra Tante." Shanti memeluk tubuh Maura.
"Sama-sama Tante. Maura juga sangat berterima kasih." Ucap Maura membalas pelukan Shanti.
Seruan bahagia terdengar dari para keluarga yang ikut menyaksikan langsung acara lamaran. Bahkan adik juga keponakan Maura yang turut bergabung juga terlihat senang. Ucapan selamat Maura juga Fabian dapatkan dari keluarga juga saudara yang hadir.
__ADS_1
"Ayah!" panggil Maura lirih saat berhadapan dengan Bryan. Dia tadi tidak sengaja melihat Bryan yang menghapus air mata sembunyi-sembunyi.
"Selamat putri cantik Ayah, putri kesayangannya Ayah." Bryan memeluk tubuh Maura dengan sangat erat. Putri kesayangannya sebentar lagi sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabnya, sudah memiliki orang yang dicintainya, sudah memiliki bahu untuk tempatnya bersandar. Sebentar lagi dia akan kehilangan putri kesayangannya yang selalu manja pada dirinya. "Jangan pernah lupakan Ayah, putri kecil ku." batin Bryan dalam hati.