
"Dokter Raka!! Bisa ikut saya sebentar?"
Raka yang baru saja keluar dari ruang rawat inap tengah menulis laporan kesehatan pasien. Dia mengangkat kepalanya melihat Gerry yang tadi menegurnya. Dia tersenyum miring saat melihat tatapan mata Gerry pada dirinya.
"Untuk pasien yang tadi, tolong kamu cek tekanan darahnya tiap satu atau dua jam sekali." Ucap Raka pada perawat yang tadi menemaninya mengontrol pasien. Dia juga memberikan laporan yang dia isi tadi kepada sang perawat.
"Baik, Dok." Perawat itu menerima buku laporan itu dan pergi melanjutkan tugasnya.
Raka melihat Gerry, tanpa mengatakan apapun keduanya pergi menuju sebuah lorong sepi yang tidak dilalui banyak orang.
Gerry yang berjalan terlebih dahulu lantas berbalik dan menyerang Raka secara tiba-tiba saat dirasa mereka sudah berada ditempat yang aman dan sepi. Badan Raka terbentur dinding dengan kerah kemejanya yang dicekik sama Gerry.
Raka diam saja dan justru tersenyum kepada Gerry yang terlihat sangat kesal dan marah pada dirinya. Dia melirik tangan Gerry yang masih memegang kerah kemejanya. Bisa saja sebenarnya Raka melawan dan membalas Gerry, tapi tidak dia lakukan dan hanya diam saja menunggu reaksi Gerry selanjutnya.
"Aku sudah menuruti apa yang kau mau, tapi kenapa kau justru membuat gosip yang tersebar di seluruh rumah sakit." Ujar Gerry dengan emosi. Dia menatap nyalang pada Raka. Dia tidak perduli Raka itu seniornya maupun atasannya. Tindakan Raka yang seenaknya sendiri membuat Gerry jengah.
"Gosip!!" Ulang Raka dengan menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda dia tidak paham apa yang Gerry katakan. "Gosip apa memangnya? Aku kok nggak tahu." Raka mempertanyakan gosip yang Gerry maksud kan.
"Kau nggak usah pura-pura tidak tahu, Raka." Gerry menarik kerah kemeja Raka dengan kuat. "Kau kan yang menyebar gosip tentang Fabian juga Maura." Tuduh Gerry pada Raka.
"Kenapa kau menuduhku, Dokter Gerry? Memang ada gosip apa tentang mereka?" Tanya Raka dengan tenang melepaskan cengkraman tangan Gerry pada kerah kemejanya, namun Gerry semakin mencengkram erat kerah kemeja Raka.
"Kau kan yang menyebarkan gosip tentang kejadian Maura yang keguguran dan ditemani Fabian saat melakukan tindakan. Kau juga menyebarkan gosip kalau Bian selingkuh dengan Maura sampai Maura hamil dan berakhir Fabian cerai dengan Aurel." Sungut Gerry yang sangat yakin kalau Raka yang sudah membuat gosip itu. Mengingat saat Maura keguguran dirinya juga Raka tidak sengaja melihat dan mendengar percakapan antara Andre juga Bryan dan beberapa dokter juga perawat yang menangani Maura.
Raka tertawa dan melepas paksa tangan Gerry yang mencengkeram kerah kemejanya. Dia menunduk dan mengusap ujung matanya yang hampir saja mengeluarkan air mata karena tertawa. "Bukankah itu sebuah fakta." Ucap Raka menatap Gerry. "Kau juga tahu tentang itu dan kau yang jadi penyebab utamanya." Raka tersenyum saat mengatakan itu membuat Gerry geram.
"Tapi kau dalang dibalik semua itu." Balas Gerry tidak terima Raka menyebutnya penyebab masalah yang Fabian dapatkan.
"Mana buktinya?" Tanya Raka santai dengan tersenyum miring.
Gerry memejamkan kedua matanya erat dengan kedua tangan yang mengepal erat. "Bodoh." Umpat Gerry dalam hati mengatai dirinya sendiri karena memang dirinya tidak memiliki bukti kalau Raka yang memintanya menaruh obat di minuman Fabian. Dia membuka kedua matanya dan menatap tajam pada Raka yang masih tersenyum mengejeknya. "Aku memang gak ada bukti. Tapi cepat atau lambat kejahatan yang kau lakukan akan terkuak." Kata Gerry yang yakin Raka pasti akan mendapatkan balasannya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Gerry pergi meninggalkan Raka yang masih terlihat santai seakan tidak memiliki kesalahan apapun. "Aku yakin kau yang menyebar berita itu Raka, karena Dokter Andre juga Tuan Bryan sudah memberi peringatan kepada mereka yang terlibat dalam mengurus Maura selama di rumah sakit kemarin." Gumam Gerry dalam hati.
"Kejahatan." Raka tertawa mengingat apa yang Gerry katakan tadi. Namun, beberapa detik kemudian tawa itu berubah dengan wajah yang merah menahan amarah. "Aku tidak pernah melakukan kejahatan. Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan saat apa yang aku inginkan tidak kunjung ku dapatkan."
🌷🌷🌷
Di bagian departemen umum, Fabian terlihat duduk dalam diam. Dia yang hampir dua puluh empat berada di ruang operasi langsung diminta ke ruang departemen umum setelah selesai dengan tugasnya. Bahkan dia juga tidak diberi waktu untuk beristirahat walau hanya sebentar saja.
Disana juga ada Andre dan beberapa staf rumah sakit bagian departemen umum. Ada juga seorang perawat yang tengah menangis karena terus dicerca berbagai pertanyaan.
"Apa kamu yakin ponsel kamu hilang?" Tanya seorang staf bagian departemen umum, namanya Lusi.
Perawat itu mengangguk membenarkan. Pertanyaan yang sama terus saja ditanyakan untuk dirinya dan dia tetap dengan jawabannya. Ponselnya memang hilang.
"Yakin??" Tanya lagi dengan penuh penekanan.
"Benar Bu. Saya tidak bohong. Ponsel saya hilang tiga hari yang lalu sebelum Nona Maura masuk rumah sakit." Jawab perawat itu dengan jawaban yang masih sama, tidak berubah.
"Tapi gosip itu tersebar melalui ponsel kamu, Susi." Timpal Lusi sambil menunjukkan laptop miliknya yang isinya data pencarian alamat IP nomor yang sudah menyebar berita tentang Fabian juga Maura. Dan alamat IP pada ponselnya Susi lah yang pertama kali menyebarkan berita itu.
"Mana buktinya?" Tanya Lusi. "Apa kamu bisa membuktikan kalau benar ponsel kamu hilang?" Tanyanya lagi.
Susi melihat ponselnya yang ada di atas meja. Ponselnya tadi sudah dicek, namun nomor dan alamat IP nya berbeda. Mereka berpikir Susi memiliki dua ponsel. Padahal Susi hanya memiliki satu ponsel saja yang baru saja dia beli kemarin juga dengan nomornya.
"Dokter Anggie." Gumam Susi lirih saat mengingat siapa orang yang bisa membuktikan kalau ponselnya memang benar hilang. "Dokter Anggie yang kemarin menemani saya beli ponsel baru. Beliau juga tahu kalau ponsel lama saya hilang." Ujar Susi cepat. Dia menatap Lusi juga Andre bergantian, air matanya sudah tidak jatuh lagi.
"Panggil Dokter Anggie kesini!" Andre memerintahkan staff yang lain untuk segera menghuni Anggie.
Tidak sampai sepuluh menit Anggie tiba di ruang departemen umum. Dia kaget saat melihat suasana yang begitu tegang, ada Fabian juga seorang perawat yang dia kenal, Susi. Anggie duduk sesuai instruksi.
"Dokter Anggie, apa kamu kenal dengan perawat Susi?" Tanya Lusi pada Anggie yang langsung diangguki sama Anggie.
__ADS_1
"Saya kenal, Bu. Susi ini perawat yang sering membantu saya saat tugas." Jawab Anggie jujur tanpa ada keraguan.
"Apa kamu juga tahu kalau ponselnya Susi hilang?" Tanya Lusi lagi dan diangguki ragu sama Anggie.
Bukannya Anggie ragu, tapi dia merasa aneh saja kenapa ponsel Susi yang hilang dirinya juga harus ikut ditanya dan kenapa juga harus dipanggil ke departemen umum segala.
"Apa kamu juga yang menemani Susi membeli ponsel baru?" Anggie merasa aneh sekarang saat ditanya seperti itu. Bukannya menjawab, dia justru melihat kearah Susi yang sepertinya habis menangis. Dia juga melihat kearah Fabian yang nampak bersandar dengan mata terpejam tanpa bersuara sedikitpun, sepertinya kelelahan.
"Dokter Anggie!" Panggil Lusi.
Anggie reflek melihat kearah Lusi saat namanya dipanggil. Dia mengangguk cepat. "Iya, saya yang menemani Susi membeli ponsel baru juga nomor baru kemarin." Jawab Anggie. "Memangnya ada apa ya, Bu Lusi?" Tanya Anggie penasaran.
"Kamu temanan kan sama Maura?" Tanya Andre dan Anggie mengangguk membenarkan. "Kamu pasti juga sudah tahu berita yang tersebar kemarin seperti apa?" Anggie mengangguk samar. Dia akhirnya paham kenapa dia dipanggil kesini. Ternyata masalah gosip yang tersebar kemarin. Pantas saja Fabian ada disini, pikirannya. Lalu, kenapa ada Susi juga disini? Batin Anggie mempertanyakan keberadaan Susi di departemen umum. "Berita itu tersebar melalui ponsel Susi."
"HAH!!!" Anggie kaget, menatap Andre tidak percaya. Dia tidak salah dengarkan, pikirannya. "Tapi bagaimana bisa? Susi saja kemarin tidak tahu kalau ada gosip itu karena ponselnya hilang. Apa mungkin ponselnya Susi disalah gunakan sama orang lain untuk membuat berita ini?" Tebak Anggie yang entah kenapa otaknya bisa langsung diajak kerjasama setelah tadi dibuat kaget.
Andre dan Lusi juga beberapa staf lainnya saling menatap dan ada juga yang saling berbisik. Sepertinya mereka tengah mempertanyakan tebakan Anggie benar atau tidak.
"Bisa jadi." Sahut Fabian yang sedari tadi diam. "Mungkin orang itu ingin menjatuhkan nama saya atau mungkin nama keluarga Abrisam." Sambungnya. Dari kemarin dirinya sudah berpikiran seperti itu. Pasti ada oknum yang tidak suka pada dirinya atau keluarga Abrisam, jadi memanfaatkan kejadian Maura yang keguguran menjadi berita dan gosip. Tapi anehnya kenapa gosip itu hanya tersebar di rumah sakit saja, tidak sampai keluar. Itu yang membuat Fabian sampai sekarang terus kepikiran. Untung saja saat berada di ruang operasi dia bisa konsentrasi, kalau tidak sudah tamat kariernya.
Andre menatap Fabian, apa yang Fabian juga sempat terlintas dipikirannya. Kalau memang itu benar, siapa pelaku dibalik semua ini dan apa motif dari pelaku.
"Kalian kembalilah bekerja." Perintah Andre begitu saja pada Anggie juga Susi. Dia sudah tahu jawabannya sekarang meski belum tahu siapa pelaku penyebar gosip tersebut.
Anggie juga Susi mengangguk dan pamit untuk melanjutkan kembali pekerjaan mereka
"Dokter Fabian." Fabian membuka matanya dan duduk kembali dengan tegak sambil menatap Andre yang tadi memanggilnya. "Kamu tahukan maksud dari kamu dipanggil kesini?" Tanya Andre dan langsung diangguki sama Fabian.
Andre berdiri dari duduknya, "Aku serahkan pada kalian." Ucap Andre pada staf departemen umum dan berlalu pergi karena itu sudah bukan urusannya lagi.
"Maaf Dokter Fabian, untuk sementara ijin praktek dokter kami cabut untuk sementara waktu." Ujar Lusi pada Fabian. "Semoga untuk kedepannya Dokter Fabian bisa menghormati dan tidak melakukan tindakan asusila yang akan mempengaruhi karier Anda." Fabian mengangguk paham. Tindakannya yang mabuk dan melecehkan seorang wanita hingga hamil diluar nikah itu perbuatan asusila yang tidak pantas untuk dimaafkan. Dia akan menerima keputusan yang sudah dibuat untuk dirinya.
__ADS_1
Surat ijin praktek dicabut untuk sementara waktu tidak masalah buat dirinya, tapi untuk karier sebagai dokter Fabian akan terus mempertahankannya karena jadi dokter adalah keinginan dan cita-citanya. Jadi seorang dokter yang hebat dan terbaik adalah impian terbesarnya meski asmaranya tidak begitu mendukung karena karier dan asmaranya tidak berjalan seimbang.
"Seenggaknya aku bisa istirahat beberapa hari tanpa harus memikirkan pasien."