
Masih di resto sambil menikmati sarapan pagi mereka. Fabian dan Maura terlihat seperti pasangan kekasih yang sempurna. Yang laki-laki terlihat tampan dan yang wanita terlihat cantik. Apalagi Maura sesekali tersenyum juga tertawa mendengar candaan yang keluar dari mulut Fabian. Ternyata seorang Fabian bisa bercanda juga, pikir Maura.
"Tunggu sebentar!" Ucap Fabian sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang sedari tadi bergetar. Dilihatnya ada nama Nanda yang tengah memanggilnya.
"Iya Nda, ada apa?" Tanya Fabian setelah mengangkat sambungan telepon dari Nanda.
"Nda? Siapa itu Nda?" Tanya Maura dalam hati. Dia begitu penasaran siapa yang dipanggil Nda sama Fabian. "Bunda? Dinda? Nanda? Kanda atau siapa?" Maura terus saja menebak siapa yang dipanggil Nda sama Fabian. Apalagi dia samar-samar juga mendengar kalau yang menelepon Fabian itu perempuan, terdengar suaranya walau tidak begitu jelas. Apalagi Fabian terlihat diam mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan perempuan itu dalam telepon.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Fabian mengakhiri sambungan telepon dari Nanda. Tanpa memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana, Fabian menatap Maura. "Aku minta maaf karena nggak bisa menemani kamu makan sampai selesai. Aku pergi dulu." Fabian berdiri dari duduknya setelah berpamitan pada Maura. Tidak lupa dia juga membayar makanan mereka sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Maura sendirian.
"Siapa sih sebenarnya yang telepon tadi? Kenapa Fabian pergi buru-buru begitu?" Gumam Maura yang kesal karena ditinggal pergi Fabian begitu saja setelah mendapat telepon dari seorang perempuan.
Maura yang kesal, meletakkan sendok juga garpu nya dengan kesar. Dia sudah tidak berselera untuk melanjutkan sarapan paginya. "Menyebalkan." Gerutu Maura.
Putri dari Bryan itu memutuskan untuk mengikuti Fabian. Dengan setengah berlari dia mengikuti kemana perginya dokter muda berstatus duda itu pergi. Untung saja Fabian pergi dengan jalan kaki, jadi Maura bisa menyusul lelaki itu dengan mudah meski harus setelah berlari karena langkah kaki Fabian yang lebar, berbeda dengan dirinya.
Maura menghentikan langkah kakinya saat tiba-tiba Fabian berhenti dan membalikkan tubuhnya. Maura tersenyum kecut sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena merasa ketahuan kalau tengah mengikuti Fabian.
"Kalau mau ikut bilang. Jangan diam-diam ngikutin dari belakang." Kata Fabian yang terdengar dingin. "Sini!!" Perintahnya dengan mengulurkan tangannya kepada Maura yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
Dengan ragu Maura melangkah maju mendekat ke arah Fabian. Dia menunduk malu karena ketahuan mengikuti diam-diam.
Tanpa banyak kata, Fabian meraih tangan Maura karena wanita itu tidak mau menyambut uluran tangan darinya. Kedua berjalan beriringan dengan bergandeng tangan dalam diam. Maura sendiri tidak tahu Fabian akan membawanya pergi kemana. Dia juga tidak berani bertanya mengingat Fabian tadi sepertinya buru-buru pergi. Pasti ada hal urgent yang tengah terjadi saat ini.
"Kenapa kesini?" Batin Maura saat langkah kakinya saat mengikuti langkah kaki Fabian ternyata menuju samping resort tempatnya menginap. Dimana ditempat itu tengah ada pembangunan yang tengah dihentikan.
"Bian!"
Maura sontak saja menoleh saat ada seorang perempuan yang memanggil nama Fabian. Dia menatap perempuan itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Cantik sih, tapi aku jauh lebih cantik dari dia." Gumam Maura lirih mengomentari penampilan perempuan yang mendekat ke arah dirinya juga Fabian.
__ADS_1
"Kenapa bisa begini lagi? Bukannya kemarin katamu mereka sudah setuju untuk melanjutkan pembangunannya?" Fabian bertanya dengan nada tinggi. Sepertinya dia tengah marah saat ini.
Maura sampai kaget dibuatnya, karena ini pertama kalinya dirinya mendengar Fabian berbicara dengan nada suara yang tinggi. Ada apa sebenarnya? Kenapa Fabian terlihat begitu marah? Maura bertanya dalam hatinya ada apa gerangan yang terjadi pada Fabian saat ini.
Maura menutup mulutnya sendiri saat mengingat sesuatu. Dia menatap bangunan yang belum selesai dikerjakan namun sudah ditinggal sama kontraktor nya. "Jadi ini tempat yang Ayah maksud semalam." Gumam Maura dalam hati.
"Aku juga nggak tahu. Para pekerja tidak ada yang datang hari ini. Aku juga sudah menghubungi pihak kontraktor nya, tapi mereka tidak bisa dihubungi. Dan Billy saat ini pergi ke kantor mereka. Semoga dia bisa bertemu dengan atasan juga penanggung jawabnya." Timpal Nadia yang sepertinya tengah pusing dengan apa yang baru saja terjadi dengan proyek nya.
Fabian memejamkan kedua matanya dengan mengambil nafas panjang dan dia hembuskan perlahan. Sudah dua kali dirinya ditipu pihak kontraktor dan membuat pembangunan resort miliknya harus tertunda lagi padahal sudah lebih dari setahun.
"Kalau boleh tahu, resort yang akan dibangun ini milik siapa?" Tanya Maura penasaran. Dia menatap Fabian juga Nanda bergantian.
"Kamu??" Tanya Nanda menelisik penampilan Maura yang terlihat sederhana penampilannya, namun apa yang dikenakannya itu barang branded semua. Siapa sebenarnya wanita itu, pikir Nanda. Apalagi saat melihat Maura datang bersama Fabian dengan bergandeng tangan. "Apa dia kekasih Bian?" Tebak Nanda dalam hati.
"Saya Maura, temannya Fabian." Dengan tersenyum, Maura memperkenalkan diri pada Nanda sebagai teman Fabian.
Fabian hanya melirik saja saat Maura hanya menganggapnya sebagai teman. Dia tidak mau berdebat dengan Maura karena saat ini dia tengah menahan emosinya untuk tidak marah akibat pembangunan resort miliknya harus gagal lagi dan lagi.
"Apa resort ini milik kamu, Bi?" Tanya Maura menatap Fabian. Dia bisa menebak dari ekspresi Fabian saat ini kalau benar resort yang gagal dalam pembangunannya itu memang benar milik Fabian meski lelaki itu belum menjawab.
Fabian mengangguk samar dengan memejamkan kedua matanya. Dia bingung harus bagaimana lagi sekarang untuk membuat bangunan yang belum jadi itu berdiri kokoh seperti resort yang ada disebelahnya. Apalagi keuangannya sekarang sudah mulai menipis.
Melihat anggukan kepala dari Fabian membuat Maura mengingat akan sesuatu. "Bi, aku ingin berbicara berdua denganmu. Ada satu hal yang harus kamu ketahui." Ucap Maura dengan menatap serius pada mata Fabian.
"Apa?" Tanya Fabian dengan mengerutkan keningnya membalas tatapan Maura dengan kebingungan.
"Ayo ikut aku!" Maura menarik tangan Fabian tanpa ada protes dari Fabian. Dia membawa Fabian ke tepi pantai.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Ra?" Tanya Fabian dengan malas. Bukan malas dengan Maura, lebih tepatnya dia malas membahas sesuatu yang tidak penting karena saat ini pikirannya tengah kacau gara-gara pembangunan resort nya gagal lagi. Dia berharap Maura mengerti akan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Apa kamu punya musuh?" Tanya Maura menatap Fabian yang berdiri dihadapannya.
Fabian menggeleng kepala pelan. "Aku nggak tahu." Jawab Fabian karena merasa tidak memiliki musuh, tapi tidak tahu dengan orang lain yang mengenalnya.
"Bi!! Semalam Ayah nelepon." Ucap Maura lirih yang membuat Fabian langsung membalas tatapan Maura. "Ayah sudah menyelidiki kabar gosip yang tersebar di rumah sakit. Gosip itu sengaja disebar sama salah satu rekan kerja kamu." Apa yang Maura sampaikan itu tidak membuat Fabian kaget, pasalnya dia sendiri sudah menduga kalau gosip tentang mereka itu yang menyebarkan memang orang yang bekerja di rumah sakit. Tapi dia tidak tahu pasti siapa orang yang sudah menyebarkan gosip itu. Apalagi dia tidak merasa memiliki musuh di rumah sakit.
"Siapa dia?" Tanya Fabian penasaran. Dia ingin tahu siapa sebenarnya orang yang sudah menyebar berita gosip itu dan apa motif dari orang itu melakukan semua ini.
"Mantan ipar kamu sekaligus rekan kerja kamu. Dokter Raka." Ungkap Maura yang membuat Fabian langsung terdiam. "Apa dia melakukan itu karena ingin balas dendam sama kamu? Dia kan Kakaknya Aurel, mantan istri kamu. Apa dia tidak terima kamu menceraikan adiknya, makanya dia melakukan ini sama kamu." Tebak Maura yang entah kenapa memiliki pikiran seperti itu.
"Apa kamu yang meminta Ayah kamu untuk menyelidiki berita itu?" Bukannya menjawab Fabian justru balik bertanya pada Maura.
Maura mengangguk mengiyakan. "Iya. Saat Anggie memberi kabar tentang gosip itu, aku langsung minta sama Ayah untuk menyelidikinya diam-diam." Jawab Maura jujur tanpa ada yang dia tutupi. "Ini buktinya." Maura mengeluarkan ponsel miliknya dan membuka email yang tadi malam Bryan kirim pada dirinya.
Fabian mengambil ponsel Maura dan dia lihat video yang menggambarkan dimana Raka menemukan sebuah ponsel, juga video saat Raka berbicara dengan seseorang untuk membatalkan kontrak kerjasama pembangunan Malibu Resort, yang dimana Malibu Resort adalah resort milik Fabian.
"Kenapa kamu tidak langsung memberi tahu ku?" Tanya Fabian yang seperti tengah marah karena baru tahu informasi ini, padahal sedari tadi dirinya bersama Maura.
Maura menundukkan kepalanya, "maaf.!" Ucap Maura lirih. Bukan maksud dia tidak mau memberi tahu pada Fabian saat itu juga, tapi dia malu bertemu dengan Fabian mengingat apa yang mereka lakukan malam tadi. Tadi pun saat keduanya sarapan bersama, dia juga lupa untuk memberi tahu dan baru ingat tadi setelah melihat pembangunan resort yang belum selesai.
"Ini!" Fabian mengembalikan ponsel milik Maura. "Lain kali kalau hal seperti ini segera beritahu, jangan disimpan sendiri." Fabian memberi peringatan kepada Maura.
"Kamu marah sama aku?" tanya Maura menatap Fabian dengan wajah sedih. Dia takut kalau Fabian sungguh marah pada dirinya.
"Siapa yang marah sama kamu." ucap Fabian sambil mengusap kepala Maura. "Aku nggak ada marah sama kamu. Aku hanya kesal saja sama Raka." sambung Fabian dengan membalas tatapan Maura. "Terima kasih kamu sudah memberitahu ku, menyelidiki berita itu juga. Sampaikan terima kasih ku untuk Ayah kamu juga."
Maura tersenyum senang karena Fabian tidak marah pada dirinya. Dengan spontan dia memeluk tubuh Fabian dengan erat. "Terima kasih kamu tidak marah sama aku." ucap Maura senang, dia bahkan sampai memejamkan matanya saat memeluk tubuh Fabian.
"Nyaman banget keliatannya meluk tubuh ku. Sudah ketagihan ya?!" ejek Fabian dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Nggak juga. Aku hanya ingin mencari kedamaian saja." sanggah Maura dengan mengulum senyum dan dengan posisi yang sama, sambil memeluk tubuh Fabian dengan erat.