One Night Romance

One Night Romance
Bab 59


__ADS_3

Siang hari setelah makan siang sekitar jam dua, seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak pengantin meninggalkan hotel. Keluarga dari Kyai Sodiq pulang dan menginap di rumah Rendy, dan keluarga besar Fabian juga langsung pulang ke rumah mereka masing-masing mengingat besok mereka sudah harus kembali berkerja karena tidak mengambil cuti. 


Keluarga Abrisam sendiri juga terlihat ada di lobby hotel, sepertinya mereka juga akan pergi meninggalkan hotel untuk kembali ke rumah mereka.


"Akhirnya keponakan ku satu ini sudah jadi seorang istri." Dengan gemas Alex merangkul leher Maura. Dia mengusap kasar rambut kepala Maura.


"Paman ihhh!!! Bau ketiak nya. Belum mandi yaa." Maura menutup hidungnya dengan menjapit hidung menggunakan kedua jarinya, jari telunjuk juga jari jempol. Tangan satunya lagi dia gunakan untuk menepis tangan Alex yang melingkar di lehernya dengan susah payah.


"Wahhh menghina ini namanya. Orang tadi Paman mandi kembang tujuh rupa, air tujuh sumber sama pakai sabun tujuh kali." Dengan sombongnya Alex berbicara.


"Pantas saja bau banget." Sahut Maura yang sudah lepas dari jeratan Alex, dia pura-pura masih menutup hidungnya yang padahal tidak mencium bau tak sedap, melainkan bau yang sangat wangi. Melebihi wangi tubuhnya.


"Paman lebay. Sudah sana!!! Itu ditunggu Aunty Ane sama bocil." Nadia ikut menimpali dan mendorong tubuh Alex yang belum juga pergi padahal Anelis juga kedua anaknya telah menunggu di mobil.


Alex menghadap ke arah Maura juga Nadia, dia menunjuk kedua ponakannya itu dengan mengancam. "Awas kalian nanti." Ancamnya sebelum akhirnya masuk kedalam mobil dan meninggalkan plataran hotel.


"Kak, kami pulang duluan ya." Pamit Caca dengan mendorong kursi roda Oma Lea. Dia ingin membawa Oma Lea menginap di rumahnya.


"Iya hati-hati. Obatnya Mama jangan lupa. Paksa Mama kalau Mama susah minum obat." Pesan Freya pada Caca mengingat Oma Lea sangat susah minum obat. 


"Siap kakak ipar. Nanti kalau Mama nggak mau minum obat akan Caca kirim langsung ke panti jompo." Ujar Caca yang membuat Oma Lea menggeram tertahan, sepertinya Oma Lea tidak mau dikirim ke panti jompo.


"Ya sudah cepat sana pulang. Biar Mama bisa langsung istirahat." Kata Bryan yang meminta Caca untuk segera pulang dan membawa Oma Lea istirahat.


"Kami duluan, Kak." Pamit Evan dengan menggendong putri keduanya yang berusia delapan tahu karena kaki putrinya keseleo pagi tadi waktu berenang.


Setelah dua mobil yang membawa Oma Lea juga keluarga kecil Evan berlalu pergi, kini tinggal Maura bersama kedua orang tuanya juga ketiga adiknya yang belum pulang. Mungkin sebentar lagi karena mobil mereka sudah terlihat ada didepan lobby hotel, barang bawaan mereka juga sudah dimasukkan dalam mobil.


"Bunda pulang sekarang?" Tanya Maura yang terlihat memeluk tubuh Freya dengan manja.


"Iya. Kamu mau ikut pulang ke rumah?" Tanya Freya balik memberi penawaran. Dia juga terlihat membalas pelukan sang putri yang tingginya melebihi dirinya.


Maura menggeleng kepala pelan menandakan kalau dia tidak ingin ikut pulang. "Kakak masih nunggu Bian dulu. Mungkin sore baru pulang dari rumah sakit." Ungkap Maura.


"Iya tidak apa. Tapi jangan keluyuran ya. Nunggu suami kamu di dalam kamar saja, kamu masih pengantin baru. Nggak baik keluar kamar sendirian apalagi ini kamu lagi diluar, bukan di rumah." Pesan Freya yang khawatir terjadi sesuatu pada putrinya yang baru saja menikah.


Pagi tadi saja saat Fabian pamit untuk pergi ke rumah sakit, semua orang dibuat terkejut karena pengantin pria langsung bekerja padahal baru saja melangsungkan pernikahan. Dengan terpaksa Fabian pergi ke rumah sakit diantar sama Andre juga beberapa bodyguard untuk menjamin keamanan pengantin baru.


Maura tertawa mendengar pesan dari Freya. Dia mengurangi pelukannya dan menatap sang Bunda lucu. "Maura aman Bun disini. Apalagi Ayah sudah menempatkan beberapa bodyguard khusus untuk Maura. Bunda nggak perlu khawatir seperti itu." Ucap Maura dengan tersenyum, meyakinkan sang Bunda kalau dirinya akan aman disini.


Freya menatap Bryan yang terlihat mengangguk samar, memintanya untuk tidak terlalu khawatir berlebihan pada Maura. "Baiklah, tapi kamu harus ingat pesan Bunda ya." Maura mengangguk mengiyakan. 

__ADS_1


"Bunda juga berpesan sama kamu untuk patuh dan hormat pada suami, layani suami sebaik mungkin. Nggak boleh merendahkan suami. Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik. Harus saling terbuka dan percaya. Satu lagi, jangan lupakan ibadah. Ingatkan satu sama lain bila kalian lupa." Dengan lembut Freya memberi pesan juga nasehat kepada putrinya yang baru saja menjalani kehidupan baru rumah tangga.


"Dan satu lagi, ini yang paling penting. Kalau mau pergi kemana pun kasih kabar ke suami, minta ijin dulu. Apalagi kalau kamu ada kerjaan keluar kota. Ijin dulu sama suami." Bryan ikut menimpali dan memberi nasehat kepada Maura, putri kesayangannya yang sekarang sudah menikah.


Maura tersenyum dan mengangguk. "Pesan dan nasehat Bunda sama Ayah akan selalu Maura ingat. Makasih Ayah Bunda." Maura memeluk kedua orang tuanya bersamaan. Dia begitu bersyukur memiliki orang tua yang begitu sayang dan perduli pada dirinya. "Maura janji tidak akan mengecewakan Ayah sama Bunda lagi." Batin Maura dalam hati.


"Kami pulang dulu. Kamu setelah ini langsung kembali ke kamar." Ujar Freya setelah Maura melepaskan pelukannya.


"Hati-hati, yang rukun sama suami. Pakai apa yang kamu beli di Singapore kemarin." Maura tersenyum malu saat Bryan mengingatkan apa yang dia beli waktu di Singapore kemarin. Tidak perlu diingatkan lagi dirinya semalam sudah memakai pakaian haram itu.


"Memang apa yang Kakak beli?" Tanya Freya mengerutkan keningnya menatap curiga pada Maura juga Bryan.


"Pasti baju tidur yang mirip seperti saringan tahu yang Kak Maura beli. Bunda kan juga punya baju seperti itu. Padahal Ayah punya banyak uang, tapi malah beli baju tidur kurang bahan seperti itu. Apa nggak kedinginan apa kalau malam." Sahut si kecil Shaqila dengan wajah polosnya.


Melihat Kakak juga Ayah Bundanya yang speechless dengan ucapan Shaqila membuat Attar menarik dan membawa adik bontotnya itu menuju mobil diikuti Nadia.


"Kak Atta ihhh!! Main tarik-tarik aja." Keluh Shaqila yang ditarik Attar.


"Kamu terlalu berisik, kita pulang duluan." Ucap Attar tegas.


Ketiga adiknya Maura itu segera masuk kedalam mobil dan memilih pulang terlebih dahulu meninggalkan kedua orang tuanya. Mereka bahkan tidak pamit, langsung saja pergi.


"Eemm!! Maura pamit kembali ke kamar. Ayah sama Bunda hati-hati di jalan." Setelah mengatakan itu, Maura langsung berbalik dan melangkahkan kakinya cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai dimana kamarnya berada.


"Nggak!! Aku nggak ajarin apa-apa." Bryan menggeleng, mengelak dirinya mengajarkan sesuatu yang buruk pada Maura. "Sudah ayo kita pulang! Atau kamu mau kita bulan madu disini?" Ajak Bryan dengan tersenyum mesum pada sang istri.


Freya mendengkus kesal dan berlalu pergi menuju mobil yang sudah terparkir rapi di depan pintu hotel. Dia malas menanggapi suaminya itu, lebih baik segera pulang dan istirahat.


"Maura!!"


Maura yang baru saja keluar dari dalam lift menoleh saat ada yang memanggil namanya. Raut wajahnya terlihat kaget saat melihat siapa orang yang telah memanggilnya. Seorang lelaki yang katanya memiliki perasaan pada dirinya, dan sangat membenci Fabian, siapa lagi kalau bukan Raka. Maura tidak menyangka kalau Raka ada dihadapannya sekarang, padahal setahu dia, Raka ada di Makassar sekarang. Apa Ayah yang mengundangku? Dan kemarin dia datang ke pernikahannya? Pikir Maura.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Raka dengan menatap wajah Maura, wanita yang sampai detik ini masih ada dihatinya. Wanita yang sudah tidak bisa dia gapai lagi. Bodohnya dia dulu kenapa hanya mengagumi saja dan mencintai dalam diam. Dia sungguh menyesal karena wanita itu kini sudah menjadi milik musuhnya, mantan adik iparnya.


Maura menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki, begitu pun dengan Raka yang ikut melihat beberapa orang yang datang mendekat dengan pakaian seragam jas hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka. Mereka adalah bodyguard yang mengawal Maura.


"Anda tidak apa, Nona?" Maura menggeleng kepalanya saat mendapat pertanyaan dari salah satu bodyguard nya.


"Kalau begitu, silahkan kembali ke kamar, Nona." Bodyguard tadi mempersilahkan Maura untuk kembali ke kamar. Dan sepertinya Maura menurut.


"Tunggu!!" Seru Raka sebelum Maura melangkah pergi.

__ADS_1


Maura mengurungkan niatnya untuk melanjutkan langkah kakinya. Dia menghadap ke arah Raka dengan jarak sekitar dua meter tanpa menatap langsung lelaki tersebut. "Katakan saja, Saya tidak ada waktu." 


Raka tersenyum tipis mendengar ucapan Maura, wanita itu sudah berubah. Tidak seperti dulu saat bertemu dengan dirinya selalu menampilkan raut wajah santai dan ramah, tidak seperti sekarang yang terlihat begitu dingin. "Selamat atas pernikahan kamu dengan Bian." Raka mengulurkan tangan kanannya memberi selamat pada Maura.


Maura melihat uluran tangan itu, jujur saja dia masih kesal pada Raka yang sudah menjebak Fabian juga menyebar berita gosip tentang mereka di rumah sakit, ditambah lelaki itu juga menyukainya diam-diam. Tapi tanpa adanya campur tangan Raka juga, dirinya mungkin sampai sekarang belum mengenal Fabian. Apalagi sampai menikah dengan Fabian, seharusnya dia berterima kasih untuk semuanya pada Raka.


"Terima kasih." Maura terpaksa menyambut uluran tangan Raka dan mereka berjabat tangan meski hanya sebentar karena Maura langsung menarik tangannya. "Saya permisi dulu." Tanpa basa-basi lagi Maura langsung pergi meninggalkan Raka, tidak baik bila harus bertemu dengan pria lain disaat suaminya tengah bekerja, apalagi pria itu dulunya pernah memiliki rasa pada dirinya. Lebih baik Maura segera pergi untuk menghindari fitnah. Dia juga tidak memiliki urutan dengan pria itu.


Setelah Maura pergi dan menghilang dari pandangannya, Raka terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri yang merasa bodoh karena sampai sekarang dirinya masih begitu mengharapkan Maura. Dia masih memiliki perasaan pada istri orang.


Dering ponsel yang bergetar di saku celananya membuat Raka segera mengambil ponselnya. Raut wajahnya tiba-tiba mengeras saat melihat siapa yang tengah menghubunginya. Dengan malas, lelaki itu mengangkat sambungan telepon tanpa mengeluarkan suara apapun. Dia diam mendengar suara dari balik ponselnya. 


Raka memejamkan matanya dengan mengambil nafas sejenak sebelum akhirnya memutus sambungan telepon. Dia membuka kedua matanya dan segera masuk lift, pergi dari hotel menuju suatu tempat.


Sesampainya di tempat yang dia tuju, Raka dengan malas melangkahkan kakinya masuk ke sebuah apartemen. Dia mengetuk pintu di salah satu unit apartemen tersebut.


Tak butuh waktu lama, pintu itu terbuka dari dalam, Raka menatap tajam sosok wanita yang penampilannya terlihat sangat kacau, seperti habis marah dan menangis. Pandangan mata keduanya saling bertemu dan wanita itu langsung memutus kontak mata mereka dan melangkah masuk kedalam diikuti Raka dari belakang.


Raka menatap sekeliling apartemen yang pertama kalinya dia datang kesana. Semua tertata rapi, tidak begitu banyak barang.


Pluk


Raka secara reflex menangkap apa yang dilempar wanita itu kearahnya, namun sayangnya apa yang dilempar tadi jatuh ke lantai. Raka menunduk, melihat apa yang terjatuh tadi. Keningnya mengkerut melihat sesuatu yang sangat familiar di penglihatannya. Dengab ragu Raka mengambil benda yang jatuh itu. 


"Ini bukan milik kamu, kan?" Tanya Raka dengan menatap benda yang saat ini ada ditangan kanannya. Kepalanya menggeleng perlahan melihat benda yang mirip termometer itu menunjukkan garis dua merah.


"Menurut kamu?" Tanya balik wanita itu dengan suara serak.


"Tidak mungkin kamu hamil. Kita melakukannya cuma sekali dan aku pakai pengaman." Raka menatap mata wanita yang dulu adalah rekan kerjanya di rumah sakit.


Wanita itu tertawa sarkas mendengar apa yang Raka katakan. Dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. "Iya kita melakukannya cuma sekali dan pakai pengaman. Tapi apa kamu yakin pengaman kamu itu tidak bocor?"


Raka tertawa keras untuk menutupi keterkejutan nya. "Siapa tahu kau melakukannya lagi dengan lelaki lain." Tuduh Raka. "Ingat Anggie!! Waktu aku pakai kamu, kamu sudah tidak perawan lagi. Bisa jadi itu benih dari lelaki lain. Jadi nggak usah terlalu berharap aku mau bertanggung jawab atas kamu. Cari saja lelaki yang mau menjadi Ayah buat anak yang kamu kandung."


Anggie berdiri dari duduknya dan menatap tajam pada Raka. Nafasnya terdengar memburu menahan amarah di dalam dadanya. "Tapi ini anak kamu, Raka." Tegas Anggie.


Raka terkekeh pelan. "Sudahlah Anggie. Aku tahu kau suka sama aku dan ingin aku menjadi Ayah untuk anak kamu. Tapi sayangnya, aku bukan Ayah dari anak yang kamu kandung." Raka meletakkan test pack yang ada didalam genggamannya ke atas meja dan berlalu pergi meninggalkan apartemen Anggie.


Air mata Anggie kembali keluar melihat Raka yang pergi begitu saja. Dia begitu menyesal kenapa malam itu dirinya tidak menolak saat Raka mengancam ingin memperkosa dirinya. Dia justru dengan suka rela memberikan tubuhnya pada lelaki itu. Lelaki yang sejak awal dirinya masuk dan bekerja di rumah sakit dia kagumi, dia sukai, bahkan dia berharap menjadi kekasih dari Raka, syukur kalau menjadi istri dari Raka. Tapi kini, lelaki itu justru tidak percaya kalau dirinya hamil anak dari Raka hanya karena pakai pengaman juga dirinya sudah tidak perawan lagi.


Anggie tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, dia menatap penampilannya pada cermin. Penampilan yang sangat kacau, mata sembab, wajah pucat, rambut acak-acakan dan hanya memakai kemeja putih over size dengan hot pants.

__ADS_1


"ARGGHHHHH!!!" Teriak Anggie dengan melempar semua alat make up yang ada diatas meja riasnya.


"Kenapa semua orang tidak ada yang menginginkan aku?" Pekik Anggie dengan menangis histeris meratapi hidupnya.


__ADS_2