
Pagi ini, Maura bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena diganggu Fabian untuk aktivitas panas di fajar hari, melainkan karena dirinya saat ini tengah berada di rumah orang tua Fabian yang artinya rumah mertuanya. Maura tidak ingin dipandang jelek sama Ibu mertuanya karena bangun telat, jadi dia memutuskan bangun sebelum fajar menyingsing.
Maura mandi dan sholat subuh sebelum akhirnya keluar menuju dapur. Dia ingin menunjukkan kepiawaiannya dalam memasak. Karena ini pertama kalinya dia berkumpul bersama orang tua Fabian setelah seminggu menikah. Kebetulan juga hari ini hari minggu, jadi dirinya bisa menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk suami, juga kedua mertuanya.
Meninggalkan Fabian yang masih sangat pulas tertidur, Maura pergi menuju dapur. Namun sebelumnya dia memasang alarm sekitar jam lima dan dia letakkan didekat Fabian untuk membangunkan suaminya itu.
Maura segera membuka pintu kulkas dan melihat bahan apa saja yang bisa dia olah untuk sarapan pagi. Tidak ada yang menegurnya karena ini masih jam empat lewat sedikit dan belum terlihat ada yang bangun. Para pelayan juga belum terlihat, mungkin masih sholat subuh.
"Masak apa ya?!" Maura terlihat bingung sendiri harus memasak apa untuk dia hidangkan buat sarapan pagi ini. Apalagi dia tidak tahu makanan seperti apa yang biasa kedua orang tua Fabian makan setiap harinya untuk sarapan pagi.
Maura melihat ada ubi kuning di kulkas paling bawah. Dia mengambilnya dan memutuskan untuk membuat Bake Sweet Potatoes. Dia juga mengambil tomat ceri juga sayur buncis serta keju mozzarella dan beberapa daun pastry juga oregano kering untuk toping.
"Semoga mereka suka." Gumam Maura berharap Sandi juga Shanti menyukai sarapan sehat yang dia buat.
"Non Maura ngapain pagi-pagi di dapur."
Auchhh
Maura mengaduh kesakitan saat ada yang tiba-tiba datang menegurnya. Tangannya yang tengah memasukkan loyang kedalam oven terkena oven yang sudah panas. Dia tidak memakai sarung tangan tahan panas yang mengakibatkan tangannya terkena pinggiran oven yang tengah menyala dan membakar kulitnya.
Bibik pelayan yang mendengar menantu baru di rumah majikannya mengeluh kesakitan terlihat panik. Dia mendekat pada Maura dan melihat tangan Maura yang terbakar. "Aduh Non. Bibik minta maaf ya." Ucapnya merasa bersalah karena sudah membuat tangan menantu di keluarga Nugraha terluka.
Maura menggeleng sambil tersenyum tipis. "Nggak apa kok, Bik. Maura hanya kaget saja tadi." Balas Maura menenangkan Bibik pelayan yang terlihat khawatir, takut terkena marah. "Oh iya, Bik. Apa sarapan yang biasa Mama sama Papa makan di pagi hari?" Tanya Maura mengalihkan kekhwatiran Bibik pelayan.
"Nggak ada menu yang spesifik sih, Non. Biasanya yang simpel dan mudah gitu. Ibu Shanti nggak mau ribet kalau pagi hari."
Maura mengangguk paham. Dia berharap apa yang dia masak pagi ini cocok di lidah Mama juga Papa mertuanya. Kalau untuk Fabian nggak perlu ditanya lagi, suami dari Maura itu selalu lahap menyantap makanan apa saja yang Maura buat.
"Harum banget wanginya." Gumam Shanti saat mencium aroma wangi dari arah dapur. "Bibik masak apa sih?" Terdengar suara Shanti yang baru saja datang ke dapur. "Maura!! Kok kamu ada disini?" Shanti terlihat kaget saat melihat Maura juga ada di dapur di pagi buta seperti ini.
"Iya, Ma. Maura mau buatkan sarapan sehat buat Mama sama Papa. Semoga kalian suka ya sama masakan Maura." Ucap Maura dengan tersenyum manis menatap Shanti.
__ADS_1
"Pasti Mama sama Papa suka. Semalam kan kamu juga yang membantu Mama menyiapkan makan malam." Timpal Shanti, dia melirik kearah oven yang menyala. "Kamu bikin apa?" Tanya Shanti penasaran.
"Baked Sweet Potatoes." Jawab Maura yang kini tengah memotong buah tomat ceri menjadi empat bagian.
Shanti terlihat tak percaya dengan apa yang Maura buat untuk sarapan pagi mereka. "Mama biasanya makan Baked Sweet Potatoes kalau nginap di hotel saja." Gurau Shanti, memang kenyataannya seperti itu. Dia bisa memakan sarapan sehat kalau tengah menginap di hotel maupun resort. "Ternyata selain cantik dan pekerja keras, menantu Mama satu ini juga pintar memasak." Puji Shanti yang merasa bangga dengan kemampuan yang Maura miliki. Meski berasal dari keluarga kaya raya, tapi masih mau bekerja dan usaha. Tidak manja yang apa-apa harus dilayani.
"Maura masih belajar kok, Ma." Maura merendahkan dirinya sendiri. Dia memang masih belajar, belum sepenuhnya bisa memasak, hanya beberapa masakan saja yang bisa dia olah. Terkadang dia juga bertanya pada Freya ataupun Anelis yang memang sekarang memegang restoran milik Oma Marissa.
Baked Sweet Potatoes yang Maura buat sudah siap dan sudah dihidangkan di atas meja makan. Maura segera pamit pada Shanti untuk memanggil Fabian yang masih berada didalam kamar.
"Bee!! Kamu sudah bangun? Ayo turun buat sarapan!" Seru Maura masuk kedalam kamar, namun dia tidak melihat keberadaan Fabian ada disana. Maura menatap sekeliling kamar dan melihat pintu balkon terbuka, dia juga melihat Fabian yang tengah berdiri melamun di balkon kamar. Maura melangkah mendekat pada Fabian. "Morning, Bee!" Maura memeluk lengan kiri Fabian dengan posesif.
Fabian terkejut, dia menoleh dan tersenyum pada Maura yang datang tanpa suara langsung memeluknya. "Pagi juga, Amor." Fabian mendaratkan ciuman pada kening Maura.
"Kamu lagi mikirin apa? Aku lihat dari tadi hanya diam saja. Bahkan aku masuk aja kamu nggak noleh sama sekali." Ujar Maura dengan menatap mata Fabian. Pandangan matanya menuntut meminta penjelasan pada Fabian.
Fabian menggeleng kepala pelan. "Nggak ada. Aku hanya sedang menikmati udara pagi saja." Ucap Fabian berbohong. Tidak mungkin dia akan mengatakan kalau saat ini dirinya tengah diselimuti rasa takut. Takut Maura akan berpaling darinya.
Fabian memejamkan mata untuk mengambil nafas dari hidung, dan dia hembuskan nafas perlahan keluar dari mulut. Fabian membuka matanya dan menatap Maura dengan tatapan kekhawatiran serta ketakutan. Fabian menunduk, melepaskan pelukan tangan Maura pada lengannya dan kini justru kedua tangannya yang memegang tangan Maura. "Aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu, Maura." Ucap Fabian lirih dengan menunduk, menatap kedua tangan Maura yang tengah dia pegang.
Bukannya senang dengan ucapan cinta yang Fabian berikan, Maura justru terlihat bingung. Kenapa Fabian tiba-tiba mengungkapkan itu di pagi hari seperti sekarang ini. Apa yang tengah mengganggu pikirannya.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidupku. Aku takut kamu pergi meninggalkan ku sendirian disini." Ucap Fabian lagi sambil menatap mata Maura dengan mata memerah.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Tanya Maura ditengah kebingungannya dengan apa yang Fabian ucapkan. "Aku tidak akan mungkin meninggalkan kamu, kecuali kalau kamu melakukan kesalahan yang tidak bisa aku maaafkan. Berzina dan selingkuh. Aku tidak bisa menerima semua itu." Sambung Maura menjelaskan kalau dirinya tidak akan pergi dari hidup Fabian kecuali dua kemungkinan besar yang membuat dia akhirnya pergi dari hidup Fabian.
Fabian menggeleng kepala pelan. "Aku tidak mungkin akan menghianati kamu, Ra. Justru aku yang takut kamu akan berpaling dariku. Aku tidak memiliki kekayaan seperti yang kamu miliki. Orang tua ku tidak sekaya keluarga kamu. Aku takut kamu berpaling dan memilih mereka yang jauh lebih memiliki segalanya dari apa yang aku miliki sekarang." Suara Fabian terdengar tercekat saat mengatakan itu.
Apa yang Raka katakan semalam sungguh membuat hatinya gundah. Raka memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dokter dan memilih melanjutkan usahanya yang dia bangun sejak muda. Apalagi alasan Raka mengundurkan diri karena cinta. Dia takut Raka akan merebut Maura darinya. Dia tidak ingin itu terjadi. Maura adalah miliknya, Maura adalah hidupnya sekarang ini. Tidak ada yang boleh mengambil Maura darinya, kecuali kematian. Tapi melihat status sosial ekonomi nya sekarang, Fabian tidak memiliki apapun selain pekerjaannya sebagai dokter juga sebuah resort kecil di Bali.
"Jadi itu yang membuat kamu melamun tadi?" Tanya Maura. Dia tersenyum tipis saat melihat Fabian yang menganggukkan kepalanya. "Bee!" Maura kini yang justru memegang kedua tangan Fabian sambil menatap Fabian dengan senyum teduh. "Kalau kamu takut kehilangan aku dan aku lebih memilih mereka yang lebih kaya dari kamu. Seharusnya kamu buktikan pada aku, kalau kamu mampu dan bisa membahagiakan aku walau tanpa kemewahan. Aku juga siap kalau berjuang sama kamu dari bawah. Membuka bisnis dan usaha untuk masa depan kita. Untuk anak-anak kita nantinya."
__ADS_1
Fabian tersenyum patah dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka kalau Maura justru menerimanya dan mengajak dirinya untuk membuka bisnis juga usaha bersama untuk masa depan keluarga kecil mereka. Maura mau berjuang bersama dirinya dari bawah itu sungguh membuat Fabian terharu. "Kamu yakin mau berjuang dari bawah sama suami kamu yang tidak memiliki apapun ini?" Fabian memastikan lagi meski sebenarnya tidak perlu dia tanyakan lagi.
"Hemm!!" Maura tersenyum dan mengangguk. "Aku sangat mau dan sangat ingin berjuang bersama kamu untuk masa depan kita."
Fabian tersenyum nyaris tertawa dengan tetesan air mata, dia menangis terharu karena Maura mau menerimanya juga mau berjuang bersama dirinya. Fabian lantas memeluk tubuh Maura dengan erat. Dia juga mengecup puncak kepala Maura beberapa kali. "Terima kasih, Amor. Terima kasih."
Maura tersenyum, mengangguk dalam pelukan Fabian. Dia membalas pelukan Fabian tidak kalah eratnya. Berjuang bersama pasangan halal adalah impiannya. Meski kehidupannya bergelimang harta, tapi Maura ingin memiliki bisnis dan usaha sendiri bersama suami. Biar kelak bisa dia berikan kepada anaknya.
Fabian melepaskan pelukannya, dia menangkup wajah Maura. Tersenyum menatap wajah cantik sang istri. Perlahan Fabian mengecup kening Maura lama. Dia sungguh berterima kasih pada Tuhan yang mengirim wanita sebagai istrinya yang memiliki hati lembut serta berjiwa besar seperti Maura. Meski berasal dari keluarga terpandang, keluarga konglomerat, tapi mau berjuang bersama dirinya yang belum memiliki apapun.
Maura tersenyum manis membalas tatapan Fabian setelah suaminya itu melepaskan kecupannya pada keningnya. "Bee, boleh aku bertanya?" Ijin Maura yang ingin menanyakan sesuatu pada Fabian.
"Kamu mau tanya apa?" Ujar Fabian sambil memeluk pinggang Maura.
"Aku dengar dari Paman Andre kalau kamu ditawari jadi wakil direktur rumah sakit, tapi kamu belum mau menerimanya. Kenapa kamu tidak mau menerimanya? Bukankah itu kesempatan yang bagus buat karir kamu?" Tanya Maura yang begitu penasaran alasan apa yang membuat suaminya itu belum juga menerima tawaran yang diberikan Andre.
Fabian melepaskan pelukannya pada pinggang Maura, dia menggeser tubuhnya dan berdiri menghadap luar, melihat awan pagi yang masih cerah dengan udara yang masih bersih juga. Fabian terlihat menghembuskan nafas perlahan. "Tawaran yang dokter Andre berikan memang sangat bagus untuk karir aku kedepannya. Bahkan Ayah Bryan juga sudah memaksa aku menerima tawaran itu, tapi tetap aku tolak. Aku tidak ingin pencapaian aku dianggap aji mumpung sama mereka karena aku menikah dengan kamu, putri dari keluarga Abrisam. Aku ingin berjuang sendiri untuk mencapai posisi itu dan bersaing dengan mereka merebutkan posisi itu dengan pantas dan layak kalau aku memang pantas berada di posisi sebagai wakil direktur rumah sakit." Ungkap Fabian menjelaskan alasannya kenapa sampai detik ini dirinya masih belum mau menerima tawaran yang Andre berikan. Fabian menggerakkan kepalanya, menoleh kearah Maura. "Itu alasannya kenapa aku selalu menolak tawaran dokter Andre, karena aku ingin berjuang sendiri untuk berada diposisi itu."
Maura tersenyum tipis, dia paham apa yang dirasakan Fabian sekarang ini. Pasti Fabian ingin membuktikan pada mereka yang memandang rendah suaminya itu kalau dia mampu dan bisa berada di posisi wakil direktur rumah sakit dengan usaha sendiri tanpa ada sangkut pautnya dari keluarga Abrisam.
Maura memegang tangan kiri Fabian dan diusapnya lembut. "Aku akan selalu mendukungmu, mendoakan kamu setiap waktu juga langkah mu, dan selalu ada di sisimu apapun yang terjadi. Kecuali kematian juga penghianatan." Ucap Maura dengan tegas di kalimat terakhir.
"Aku tahu." Fabian kembali memeluk tubuh Maura. "Terima kasih sudah mau mendukungku, Amor." Ucap Fabian dengan tulus. "Aku juga mau minta maaf karena sampai sekarang belum bisa mengambil cuti nikah. Belum bisa ngajak kamu honeymoon. Mereka masih mengawasiku. Aku tiap hari masih harus laporan pada departemen umum. Aku janji, setelah suasananya kondusif, aku akan mengambil cuti dan kita akan pergi honeymoon kemanapun yang kamu inginkan."
Maura sedikit menjauh badannya dari tubuh Fabian tanpa melepaskan pelukan dari Fabian. Dia sedikit mendongak, menatap mata Fabian Fabian dan tersenyum. "Aku tunggu waktu itu tiba. Waktu dimana kita akan menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang menganggu."
"Terima kasih kamu sudah mau bersabar untuk ku, Amor." Fabian mengecup singkat bibir Maura.
Maura melepaskan pelukan dari Fabian. Dia tersenyum manis pada Fabian. Maura sedikit berjinjit, mendekatkan wajahnya pada wajah Fabian. "Sama-sama my heart." Balas Maura dengan suara pelan. "I love you." Bisik Maura tepat didepan wajah Fabian. Maura juga mencium ujung bibir Fabian singkat sebelum akhirnya dia berlalu pergi untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karena malu akan pengakuan cintanya.
Fabian menarik kedua sudut bibirnya keatas membentuk senyuman yang nyaris hampir tertawa mendengar pengakuan cinta dari Maura. "Aku tahu kamu cinta sama aku. I love you, too Maura Hanin Az-Zahra."
__ADS_1