
"Ayo sini!! Aku akan menyuapi mu!" ucap Fabian dengan tersenyum.
Maura yang akhirnya paham maksud dari perkataan Fabian hanya tersenyum tipis.
"Kesini lah!!" ucap Fabian lagu meminta Maura untuk segera datang pada dirinya.
Maura yang mendapat perintah dari Fabian untuk duduk dipangkuan lelaki itu lantas berdiri dari duduknya. Dengan jantung yang berdetak kencang Maura melangkah menuju tempat dimana Fabian duduk. Sebenarnya dia ragu, takut kalau nanti Fabian akan melakukan tindakan seperti petang tadi, tapi tetap Maura lakukan untuk menilai lelaki itu. Bila Fabian tiba-tiba menyerangnya, itu berarti Fabian hanya mencintainya karena nabsu. Namun bila Fabian hanya menyuapinya saja dan tidak melakukan lebih berarti Fabian mencintainya bukan karena nabsu, melainkan mencintainya dari hati yang tulus.
Tapi, saat melihat senyum Fabian yang seolah selalu membuatnya terhipnotis membuat Maura ragu. Dia takut bukan Fabian yang akan menyerangnya terlebih dahulu, melainkan dirinya yang terlebih dahulu menyerang Fabian. Maura menelan saliva nya kasar membayangkan bibirnya beradu dengan bibir Fabian seperti petang tadi. Sungguh didalam otak Maura saat ini hanya ada kemesuman saja yang ada dipikirannya.
"Kamu yakin akan menyuapi aku dengan posisi seperti itu?" Tanya Maura memastikan kalau Fabian tidak salah ucap. Padahal dia sendiri yang merasa takut duduk dipangkuan Fabian. Apalagi jantungnya sudah tidak aman lagi sekarang.
"Kenapa? Apa kamu merasa risih?" Tanya Fabian balik dengan posisi masih duduk di tempatnya. Dia mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut kedatangan Maura.
"Tidak! Kenapa juga aku harus risih." Jawab Maura sambil menyambut uluran tangan dari Fabian. Dia tersenyum dan duduk dipangkuan Fabian meski detak jantung nya sudah tidak bisa dikontrol lagi.
"Kenapa menghadap ke aku? Hadap lah kesana!" Fabian mengangkat dagunya meminta Maura menghadapkan tubuhnya kearah meja, bukan kearah dirinya dengan masih menatap Maura dengan senyum tipis di bibirnya.
"Kenapa? Apa posisi seperti ini tidak nyaman untuk mu?" Tanya Maura sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Fabian. Dia tersenyum manis pada Fabian walau sebenarnya dia begitu malu dengan apa yang dilakukannya saat ini. Sungguh, dia merasa sudah sangat mirip dengan wanita penggoda.
"Posisi ini justru menguntungkan buat ku." Jawab Fabian sambil menatap mata biru Maura yang begitu indah. Tidak lupa kedua tangannya memegang pinggang Maura.
__ADS_1
Jangan tanya soal bagaimana jantung Fabian. Saat ini jantung Fabian tidak kalah berdebar sama dengan jantung Maura yang sama-sama berdebar kencangnya.
"Kalau begitu, suapi aku." Maura membuka mulutnya tepat dihadapan Fabian. Matanya menatap penuh menggoda pada Fabian. Muara merutuki dirinya sendiri kenapa bisa menggoda Fabian seperti ja lang yang haus akan belaian. Ya, sepertinya Maura sudah tergoda dengan Fabian dan menginginkan lelaki itu saat ini. Dia melupakan niat awalnya untuk menilai seberapa besar cinta Fabian untuk dirinya, karena justru dirinya yang terlebih dahulu tergoda dengan dokter muda berstatus duda itu.
Fabian tersenyum tipis, tanpa melihat dan dengan pandangan masih fokus pada wanita yang duduk dipangkuan nya itu, Fabian mengambil steak daging yang sudah dia potong-potong sebelumnya dengan garpu. Lalu dia suapkan pada Maura.
Dengan sengaja Maura mengenakan saus di ujung pinggir bibirnya. Dia memakannya dengan mengunyah pelan sambil terus menatap Fabian.
Fabian meletakkan garpu diatas piring dan mengusap saus yang ada di ujung bibir Maura dengan jari jempolnya. Dia menelan saliva nya kasar, ingin sekali dia mencium bibir Maura yang basah itu namun dia tahan.
Maura yang sudah mengunyah habis potongan steak yang Fabian suapkan kembali membuka mulutnya. Namun sayangnya Fabian hanya diam saja seperti tengah melamun atau mungkin tengah membayangkan sesuatu. Padahal pandangan lelaki itu masih fokus pada dirinya.
Maura menolehkan kepalanya yang kebetulan Fabian juga menoleh kearahnya membuat bibir mereka bertemu dengan tidak sengaja. Mereka saling pandang dengan bibir yang masih saling menempel satu sama lain hingga akhirnya Maura memejamkan matanya saat merasakan tangan Fabian menahan tengkuknya. Keduanya kembali berciuman dan saling bertukar saliva juga beradu lidah.
🌷🌷🌷
BRAKKK
Danu yang tertidur di sofa terbangun saat mendengar suara meja yang di gebrak dengan kencang. Dia melihat kearah meja Raka yang dimana sang pemilik tempat tengah terlihat emosi dan pergi begitu saja. "Kenapa lagi dia?" Gumam Danu yang merasa aneh dengan sikap Raka akhir-akhir ini. Saat ini dia dan juga Raka tengah jaga malam.
Raka keluar dan mencari tempat sepi untuk meluapkan emosinya. Dia begitu kesal dan marah dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sebuah video yang dikirim sama orang suruhan nya. Video yang menggambarkan kemesraan Maura dengan Fabian.
__ADS_1
Pagi tadi saat tahu Maura bertolak pergi ke Bali, Raka langsung mengutus orang suruhannya untuk mengikuti Maura. Siapa sangka, ternyata Maura pergi ke Bali untuk menemui Fabian. Dan lebih menyebalkan nya lagi dia harus melihat kemesraan antara Maura dengan Fabian dari video yang dikirim orang suruhannya.
"Brengsek!!" Umpat Raka dengan emosi yang menggebu. "Ku kira setelah Bian lisensinya dihentikan dia akan menjauh pada Maura, ternyata aku salah. Tidak ada gunanya juga gosip itu aku sebar. Mereka berdua justru semakin dekat bahkan mereka sudah,_" Raka tidak melanjutkan perkataannya karena marah dan kesal bila mengingat video ciuman yang Maura dan Fabian lakukan.
Orang suruhan Raka tadi selain mengirim video kemesraan antara Maura dengan Fabian, juga mengirim video saat Maura dan Fabian berciuman. Tentu saja hal itu membuat Raka marah dan juga kesal.
Bagaimana tidak kesal. Dia saja yang suka sama Maura sejak dulu belum pernah sedekat itu dengan Maura. Tapi ini Fabian yang jelas dekat dengan Maura karena sebuah kesalahan satu malam justru dengan mudahnya memiliki hubungan. Raka tidak terima akan kemenangan Fabian yang mendapatkan Maura dengan mudahnya. Dia dulu rela saat Maura bersama Rafa, tapi tidak dengan Fabian.
"Sial!! Semua ini karena obat sialan itu." Raka kembali mengumpat karena sebuah obat yang tidak memiliki salah apapun. Karena obat itu juga, gadis yang dia suka harus menjadi korbannya karena Fabian meminum obat yang sudah dia siapkan.
Raka mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Terus awasi mereka. Laporkan semua yang mereka lakukan tanpa terkecuali." Perintah Raka pada orang diseberang sana. Dia lantas memutus sambungan telepon dan melihat lagi video yang dikirim orang suruhannya. "Kalau tahu kamu ternyata segampang itu dirayu, sudah dari dulu aku merayu dan menjeratmu, Maura." Raka terlihat kesal kenapa tidak dari dulu dia memberanikan diri mendekati Maura secara terang-terangan kalau tahu ternyata Maura dengan mudahnya berpindah ke lain hati. Padahal dia tahu jelas kalau Maura dulunya tidak mudah tergoda dengan lelaki lain selain dengan Rafa tentunya.
BUGHH
Raka meninju dinding kaca dengan keras untuk meluapkan emosinya. Untung saja kaca itu tebal dan tidak pecah. Dengan sisa emosinya, Raka memasukkan kembali ponselnya disaku kemejanya.
"Fabian!! Aku akan merebut Maura bagaimana pun caranya. Aku tidak ingin kamu mengambil apa yang aku suka dari dulu." Ucap Raka menatap tajam kearah dinding kaca dihadapannya. Dia lantas pergi dari tempat itu.
Anggie yang sedari tadi memang ada disana dan bersembunyi saat Raka datang dalam keadaan marah, membuat Anggie hanya mampu menutup mulutnya dengan mata melotot tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Anggie pada dirinya sendiri. Dia menggeleng tidak percaya dan keluar dari persembunyiannya. Dia melihat kearah dimana Raka pergi. "Jadi Raka, orang yang menyebar gosip itu, dan selama ini juga Raka suka sama Maura." Gumam Anggie antara sedih dan kaget mengetahui fakta kalau Raka ternyata menyukai Maura. "Terus obat!! Obat apa yang Raka maksud tadi?"
__ADS_1