
"Sayang!! Nanti kamu jadi ke Bandung?" Tanya Freya saat melihat Maura yang tengah menikmati sarapan paginya di mini kitchen yang ada di lantai dua bersama Shaqila juga.
Maura mengangguk mengiyakan. "Iya Bun." Jawab Maura sambil memasukkan potongan pancake pisang kedalam mulutnya.
"Jam berapa berangkat nya?" Tanya Freya lagi dan ikut bergabung duduk disana. Dia mengusap pelan kepala Shaqila yang sepertinya tidak begitu nabsu makan.
"Kata Bian tadi sekitar jam sembilan sepuluh." Jawab Maura sesuai isi pesan yang Fabian kirim subuh tadi saat membangunkan dirinya.
Freya mengangguk mengerti. "Kamu nggak apa sayang? Kamu nggak enak badan?" Tanya Freya pada Shaqila sambil menempelkan punggung tangannya pada kening Shaqila. "Nggak panas." Ucap Freya lirih saat tidak merasakan suhu panas pada tubuh Shaqila.
"Adek sariawan, Bun." Kata Shaqila sambil memperlihatkan bibir bawahnya yang ada luka merah karena sariawan.
"Uhh kasihan sekali putri kecil Bunda." Freya memeluk tubuh Shaqila dari samping dengan gemas. "Makan buah jeruk yang banyak buat nambah vitamin C. Sama vitamin yang Bunda belikan jangan lupa diminum." Freya melepas pelukannya pada tubuh Shaqila dan membiarkan putri bungsunya itu kembali menikmati sarapannya. "Kakak juga, vitamin yang sudah Bunda belikan jangan lupa diminum. Jangan jadi pajangan aja." Sindir Freya karena kemarin dirinya saat masuk ke kamar Maura, vitamin yang dia belikan masih tersegel dan belum terbuka. Padahal vitamin itu dia belikan sekitar seminggu yang lalu.
Maura menyengir kuda karena ketahuan tidak meminum vitamin yang sudah Freya belikan untuk dirinya. Bukannya dia tidak suka maupun tidak mau meminumnya, dia hanya lupa saja. Lebih tepatnya malas.
"Kakak!!" Terdengar suara teriakan Nadia dari arah tangga.
"Kak Maura!!"
Maura menoleh ke arah tangga saat suara Nadia semakin mendekat. Dia mengerutkan keningnya melihat Nadia yang sepertinya berlari saat naik ke tangga. Terbukti Nadia terlihat mengatur nafasnya saat sudah berada di dekatnya.
"Bunda pernah bilang tidak boleh berlarian di tangga. Kenapa Kak Nadia tadi lari-lari?" Freya menegur putri keduanya yang berlarian di tangga padahal sudah dia ingatkan sejak dulu untuk tidak berlari saat naik tangga. Dia tidak ingin kejadian Maura yang terjatuh dari tangga saat kecil terulang kembali pada siapapun disisinya.
"Maaf, Bun.!" Nadia menunduk, dia mengakui kalau dia salah sudah mengabaikan larangan yang sudah sang Bunda berikan sejak dulu.
"Sudah tidak apa. Jangan diulangi lagi ya, Kak!" Pinta Freya dengan nada lembut. Percuma saja kalau dia marah-marah, yang ada nantinya tidak akan didengar dan menganggap kalau Bundanya itu jahat.
Nadia mengangguk patuh. Dia lantas mengambil tempat duduk di sisi kanan Maura.
"Kenapa tadi mencari Kakak?" Tanya Maura setelah Nadia duduk dengan sempurna di sisi kanannya.
"Kata Ayah, Kak Maura mau pergi ke Bandung ya?" Tanya Nadia menatap Maura. "Nadia boleh ikut nggak Kak?" Ijin Nadia sambil menatap penuh harap pada Maura.
"Nggak boleh. Kamu di rumah saja." Tolak Maura mentah-mentah tanpa menatap adiknya itu.
"Kenapa nggak boleh? Kak Maura mau liburan kan di Bandung sama Kakak Dokter. Kenapa Nadia nggak boleh ikut?" Protes Nadia yang tidak terima dirinya tidak boleh ikut, padahal kakaknya hanya liburan saja ke Bandung selama dua hari. Ini weekend, jadi tidak masalah kan kalau dia ikut, pikir Nadia.
"Karena Kakak Dokter hanya ajak Kakak Maura, bukan kamu." Maura menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi sambil tertawa kecil menuju ke kamarnya.
"Bunda!! Bilangin sama Kakak Dokter kalau Nadia juga mau ikut ke Bandung." Nadia memohon pada Freya dengan tampang sendu.
Freya menghembuskan nafas perlahan, hampir ketiga putrinya kalau punya kemauan harus selalu dituruti. Semoga saja Attar tidak seperti ketiga saudara perempuannya. Bisa pecah kepala Freya bila semua anaknya kemauannya harus dituruti semua.
"Iya nanti Bunda tanyakan sama Kakak Dokter. Tapi Kak Nadia harus janji sama Bunda kalau nanti sama Kakak Dokter tidak diperbolehkan ikut, Kak Nadia nggak boleh sedih." Freya membuat perjanjian terlebih dahulu sama Nadia.
Nadia mengangguk setuju. Walau sebenarnya dia yakin kalau Fabian maupun Maura tidak akan mengajaknya. Pasti mereka ingin liburan berdua saja dan tidak mau diganggu, pikir Nadia.
__ADS_1
"Kak Nadia kaya anak kecil aja orang mau pergi liburan selalu ikut. Sadar Kak, sudah mau masuk SMA." Ejek Shaqila yang sepertinya tidak sadar kalau dirinya juga selalu ingin ikut kalau melihat orang akan pergi liburan.
"Sadar diri dong!! Kaya kamu nggak aja." Balas Nadia yang tidak terima diejek sama Shaqila.
"Kenapa jadi kalian yang berantem?" Tegur Freya saat kedua putrinya adu mulut. "Sudah!! Kalau Bunda melihat dan mendengar kalian berantem, uang saku kalian Bunda stop selama seminggu. Nggak boleh beli mainan atau apapun itu." Ancam Freya yang sepertinya pusing tiap kali melihat anak-anaknya berantem. Dia berlalu pergi sambil memegang kepalanya yang sepertinya sungguh pusing.
🌷🌷🌷
"Katanya tadi jam sembilan, paling lambat jam sepuluh. Ini sudah lewat jam setengah dua belas baru berangkat." Oceh Maura karena Fabian baru saja menjemputnya sekitar pukul setengah dua belas kurang. "Memangnya kemana dulu kamu tadi?" Tanya Maura menatap Fabian yang tengah mengendalikan kemudi mobil.
"Aku habis ketemu Raka tadi." Jawab Fabian yang langsung membuat Maura menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Fabian.
"Ketemu, Raka? Ngapain? Kalian berantem?" Tanya Maura dengan mengerutkan keningnya. Dia masih menatap ke arah Fabian. Bahkan dia sampai duduk menyamping supaya lebih mudah melihat wajah Fabian dan juga mendengar jawaban yang akan Fabian berikan.
Fabian melihat ke arah Maura, dia tersenyum dengan tangan kirinya dia gunakan untuk mencubit gemas pipi kanan Maura.
"Aku nggak berantem sama dia." Jawab Fabian dengan menggeleng pelan.
"Terus kenapa?" Tanya Maura cepat karena dia begitu penasaran.
"Dia mau minta maaf atas semua perbuatannya yang sudah dia lakukan padaku sejak dulu." Jawab Fabian apa adanya. Raka tadi ingin bertemu dengan dirinya karena memang ingin minta maaf. Sepertinya Raka sudah sadar kalau perbuatannya itu salah. Atau Raka hanya mengalah saja, Fabian tidak tahu. Yang pasti saat ini Fabian sudah memaafkan Raka dan bila seandainya Raka mengulangi kesalahan yang sama, mungkin Fabian akan bertindak lebih, bukan sekedar memaafkan saja.
"Dan kamu memaafkan nya?" Tebak Maura dan dijawab anggukan kepala sama Fabian, membuat Maura geleng kepala melihatnya. "Semudah itu kamu memaafkan dia." Gerutu Maura yang kesal sendiri karena dengan mudahnya Fabian memberi maaf pada Raka. Kalau itu dirinya yang ada di posisi Fabian, sudah pasti langsung dia laporkan ke polisi.
"Kenapa aku harus tidak memaafkan dia, kalau karena dia aku bertemu dan jatuh cinta sama kamu." Ujar Fabian dengan tersenyum manis pada Maura. Dia menatap Maura sekilas dan kembali fokus pada kemudinya. Dia tidak mau terjadi hal buruk saat berada di perjalanan.
"Kamu benar. Kita bertemu karena sama-sama mabuk. Tapi di balik semua itu ada campur tangan dari Raka juga." Maura semakin bingung dibuatnya. "Sebenarnya malam itu aku bukannya mabuk, tapi karena ada yang mencampur obat perangsang ke dalam minuman ku. Pelakunya Gerry, tapi yang menyuruh Raka. Dia ingin aku membuat kesalahan dengan seorang ja lang, lalu disebarkan ke seluruh komunitas dokter. Tapi sayangnya aku justru membuat kesalahan dengan orang yang dia sukai. Lucu banget kan." Maura geleng kepala melihat Fabian yang justru tertawa setelah menceritakan semuanya.
"Jadi obat yang dimaksud Anggie kemarin itu obat perangsang. Aku pikir sejenis obat terlarang." Ucap Maura lirih saat mengingat Anggie sempat memberi tahu selain Raka menyukai dirinya, juga mengatakan kalau Raka menggunakan obat untuk seseorang.
"Kamu juga tahu?" Tanya Fabian yang sepertinya kaget saat Maura juga mengetahui tentang obat itu.
Maura mengangguk. "Aku tahu dari Anggie kemarin setelah pulang dari Bali." Jawab Maura apa adanya.
Fabian mengangguk paham. "Raka sekarang juga dipindahkan kerja di Makassar." Maura membuka mulutnya tidak percaya. Secepat itukah Ayahnya memutasi Raka. Dan kenapa cuma di mutasi saja, kenapa tidak dijebloskan ke penjara sekalian, pilir Maura.
"Dia tadi ingin bertemu untuk minta maaf sama aku. Sebenarnya dia juga ingin bertemu dengan kamu, tapi dia tidak berani." Ungkap Fabian. "Kelihatannya dia beneran suka deh sama kamu. Buktinya dia tidak berani bertemu dengan kamu." Sambung Fabian dengan melirik ke arah Maura sambil tersenyum.
"Tapi aku tidak suka sama dia." Timpal Maura yang langsung mengubah posisi duduknya menghadap ke depan. Dia begitu kesal saat melihat senyum Fabian disaat mengatakan kalau Raka suka sama dirinya. Apa dia tidak cemburu apa, pikir Maura saat melihat senyum Fabian tadi.
"Terus siapa yang kamu suka?" Tanya Fabian. "Aku ya?" Lanjutnya lagi sambil menatap sekilas ke arah Maura.
"Ya." Plak. Maura menepuk pelan mulutnya sambil memejamkan matanya saat mulutnya dengan lancarnya menjawab iya atas pertanyaan dari Fabian. Dia merutuki dirinya yang bisa-bisanya tidak bisa menjaga image. Biasanya sebelumnya dia bisa menahan diri untuk tidak menjawab tiap kali Fabian menanyakan siapa yang dia suka. Tapi entah kenapa tadi mulutnya reflek bilang iya dan membenarkan kalau dirinya suka sama Fabian.
Walau sebenarnya dia memang suka sama Fabian, cinta sama lelaki itu, tapi dia gengsi untuk mengakuinya. Meski semua perlakuan dan juga tingkah dan gerak tubuh dia sudah menunjukkan kalau dirinya tidak hanya suka, tapi juga cinta sama Fabian. Maura belum berani mengatakannya langsung. Dia masih gengsi.
Fabian tertawa kecil. Tangan kirinya dia lepaskan dari setir mobil dan kembali memegang Maura. Kini rambut kepala Maura yang dia pegang. Dia mengusap kasar rambut Maura bagian depan. "Akhirnya ngaku juga setelah sebelumnya gengsi untuk mengakuinya."
__ADS_1
"Gengsi? Cih!! Apa itu gengsi? Nggak ada yang namanya gengsi dalam rumus hidup aku." Sanggah Maura yang sepertinya tidak terima kalau dirinya dibilang gengsi, walau sebenarnya dirinya memang gengsi untuk mengakui kalau dirinya suka bahkan cinta sama Fabian. Dia juga tidak mau kehilangan Fabian.
Fabian kembali tertawa melihat Maura yang sepertinya tidak terima saat dirinya mengatakan kalau gadis itu gengsi. Dia mengambil tangan kanan Maura dan dia genggam erat dengan tangan kirinya.
"Meskipun kamu tidak mau mengakuinya, semua itu tidak akan merubah perasaan cinta ku padamu." Fabian membawa tangan Maura yang dia genggam mendekat ke bibirnya. "I love you, Amor." Cup, Fabian memberikan kecupan pada punggung tangan kanan Maura.
Bagaimana reaksi Maura, tentu saja saat ini wajahnya terasa panas. Bibirnya bergetar, menahan diri untuk tidak tersenyum. Bahkan kupu-kupu didalam perutnya ingin meledak saat ini juga.
Entah kenapa setiap perlakuan yang Fabian berikan pada dirinya membuat Maura merasa menjadi wanita paling dicintai di muka bumi ini. Menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.
🌷🌷🌷
Setelah mengukur jalan kurang lebih hampir tiga jam, akhirnya Fabian juga Maura sampai di Bandara. Mobil masih melaju, Maura tidak tahu Fabian akan membawanya kemana karena setiap kali ditanya pasti jawabnya kita akan bermalam di Bandung.
"Bi!! Kita bukan bermalam di hutan kan?" Tebak Maura saat mobil memasuki kawasan sepi dan banyak pepohonan rindang.
"Kalau kamu berani, aku tidak masalah kita menginap di hutan." Jawab Fabian dengan tersenyum.
"Nggak lucu ih." Maura memukul pelan lengan Fabian.
Fabian justru tertawa. "Aku akan ajak kamu melihat sesuatu yang indah." Kata Fabian tanpa melihat kearah Maura. Dia fokus pada jalan juga kemudinya.
"Kemana?" Tanya Maura penasaran. "Awas aja kalau nanti tidak bisa dinikmati keindahannya itu." Sambung Maura memberi ancaman.
"Aku yakin kamu nanti akan menikmatinya, atau mungkin kamu akan ketagihan dan minta lagi." Maura mengerutkan keningnya mendengar perkataan ambigu yang keluar dari mulut Fabian. Kenapa otaknya jadi berpikir yang macam-macam. Bahkan sekarang tubuhnya jadi merinding sendiri membayangkan sesuatu yang mesum akan terjadi pada dirinya juga Fabian disana nanti.
"Bersihkan dulu itu otak mesum kamu." Dengan gemas Fabian mengacak rambut Maura saat melihat Maura yang mengusap-usap lengannya dengan ekspresi bergidik geli.
"Ayo turun!! Kita sudah sampai."
Maura melihat sekeliling. Mesin mobil sudah mati dan berhenti. Dia segera membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil. Pandangan mata Maura berbinar saat melihat panorama alam yang masih begitu asri. Ada air terjun juga disana, tidak begitu jauh dari lokasinya berdiri saat ini. Mungkin sekitar lima puluh meter.
"Amor!!"
Maura celingukan mencari keberadaan Fabian yang tengah memanggilnya. Dia berjalan cepat menuju ke arah Fabian, dimana lelaki itu berdiri di dekat sebuah rumah tradisional yang masih terlihat rapi dan bersih.
"Ini rumah siapa?" Tanya Maura penasaran karena Fabian bukannya membawanya ke air terjun, melainkan ke sebuah rumah.
"Ini rumah peninggalan Opa." Jawab Fabian sambil membuka gembok pintu. "Ayo masuk!!" Fabian mempersilahkan Maura masuk kedalam rumah.
Maura masuk dan melihat sekeliling rumah yang nampak sederhana, namun tertata rapi dan bersih. Dia membuka pintu samping rumah dan dimana disana dia bisa melihat air terjun dengan sangat jelas. Bahkan suara gemericik air yang jatuh terdengar begitu merdu di telinga, seperti alunan musik. Apalagi ditambah suara kicauan burung, menambah suasana alam yang sangat asri.
"Kamu senang?" Tanya Fabian yang saat ini sudah berdiri di samping Maura.
Maura mengangguk senang. Dia menoleh ke arah Fabian. "Terima kasih sudah membawa aku kesini." Ucap Maura dengan memeluk tubuh Fabian. Dia begitu senang diajak liburan dengan suasana alam seperti ini. Sudah lama Maura tidak menikmati alam seperti saat ini.
"Aku tidak mau hanya ucapan terima kasih saja. Aku mau sesuatu yang lain." Maura tertawa kecil melihat Fabian yang pura-pura merajuk karena tidak mau diberi ucapan terima kasih. Dengan masih memeluk tubuh Fabian, Maura berjinjit dan mencium tepat di ujung bibir Fabian.
__ADS_1
"Bian!! Kamu kesini sama siapa?"