
"Bi!!"
Fabian yang tengah berdiskusi dengan rekan kerja sesama Dokter juga Kepala Suster menoleh dan mengalihkan pandangannya saat namanya dipanggil sama wanita yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya. Terlihat Maura melangkah cepat mendekat kearah dimana dirinya berdiri saat ini. Tidak hanya Maura, dibelakang istrinya itu ada Ayah mertua dan juga Amelia.
Fabian melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari dan istrinya itu belum tidur, justru datang menemui dirinya di rumah sakit. Mungkin sedari tadi Maura menunggu kabar darinya juga kabar tentang Anggie, pikirnya.
"Bagaimana keadaan Anggie?" Tanya Maura tidak sabaran saat dirinya sudah berada dihadapan sang suami, Fabian. Tatapan mata juga raut wajahnya terlihat begitu khawatir, mencemaskan keadaan Anggie sekarang.
Dokter juga Kepala Suster yang ada disebelah Fabian menundukkan kepalanya sebentar pada Maura juga Bryan. Mereka semua sudah tahu kebenaran hubungan antara Fabian juga Maura karena Andre sudah membeberkan kebenarannya tanpa sepengetahuan Fabian maupun Maura atas perintah Bryan tentunya. Jadi, para Dokter, Suster dan pegawai rumah sakit lainnya tidak lagi membahas masalah hubungan Fabian maupun Maura. Mereka justru ikut berbahagia atas pernikahan yang baru saja dilaksanakan beberapa hari yang lalu antara Fabian dengan Maura.
Terlihat Bryan mengangguk samar dengan gerakan matanya yang berkedip sekali pada mereka yang menyapa dirinya dengan hormat. Berbeda dengan Maura yang pandangan matanya fokus pada mata Fabian, menunggu jawaban sang suami yang tak kunjung memberikan jawaban pada dirinya.
"Bi!!!" Maura merajuk dengan memegang lengan kanan Fabian karena suaminya itu tidak kunjung memberinya jawaban. "Anggie bagaimana kondisinya?" Tanya Maura lagi dengan tidak sabaran.
Fabian menghembuskan nafas perlahan, dipegangnya tangan sang istri yang memegang tangannya. Ditatapnya mata Maura dengan lembut sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan yang Maura ajukan pada dirinya. "Anggie baik-baik. Dia lagi istirahat sekarang. Tapi,_"
"Tapi apa?" Sela Maura yang masih saja tidak sabaran. Tatapannya menatap Fabian penuh menyelidik.
Bryan hanya geleng kepala melihat putrinya yang tidak bisa sabar dan terlalu mengkhawatirkan keadaan Anggie. Sedangkan Amelia hanya diam saja menunggu penjelasan dari Fabian. Jujur saja dia juga khawatir akan kondisi Anggie, tapi dia masih bisa menahannya untuk tidak begitu banyak bertanya dan menunggu penjelasan dari Dokter yang merawat Anggie.
Fabian tersenyum tipis melihat istrinya itu yang tidak bisa bersabar dan justru menyela ucapannya. Sepertinya istrinya itu sungguh begitu khawatir akan kondisi Anggie saat ini. "Kata Dokter yang menangani Anggie, saat ini Anggie dalam keadaan koma, tidak sadarkan diri. Tapi ini bukan karena kondisinya kritis, melainkan karena dia belum ingin membuka matanya. Mungkin kondisi alam bawah sadarnya masih belum mau untuk kembali, takut apa yang menimpanya terulang kembali. Apalagi ini kali keduanya dia mendapatkan perlakuan seperti itu dan ini yang paling parah."
Tanpa terasa air mata Maura jatuh menetes membasahi kedua pipinya saat mendengar penjelasan dari Fabian akan kondisi Anggie saat ini. Disaat dia merasa kasihan akan kejadian yang menimpa Anggie, dia masih sempat bersyukur akan nasibnya yang sempat seperti Anggie. Meski tidak separah Anggie, tapi kejadian malam itu sempat membuat Maura frustasi dan akhirnya setelah dia ikhlas, justru kebahagiaan yang dia rasakan sekarang. Bisa bersama dengan lelaki yang mencintai dirinya juga menginginkan dirinya. "Semoga Anggie kelak juga akan mendapatkan kebahagiaan seperti yang aku rasakan saat ini." Harap Maura dalam hatinya berdoa.
Fabian menarik pelan tangan Maura dan didekapnya tubuh sang istri yang tengah menangisi keadaan Anggie. "Sudah, jangan menangis lagi. Anggie baik-baik saja. Berdoa saja semoga Anggie mau membuka matanya dan melanjutkan hidupnya." Ucap Fabian lirih tepat di dekat telinga Maura yang masih terlihat mengeluarkan air mata. Maura juga terlihat mengangguk, meski berat rasanya tidak sedih akan kondisi Anggie saat ini.
"Bagaimana dengan anak yang dikandung Anggie?" Amelia yang sedari tadi diam akhirnya bertanya juga. Dia mengingat kalau Anggie tengah hamil, tapi Fabian tidak menceritakan kondisi kehamilan Anggie sekarang seperti apa.
Maura yang berada di dekapan Fabian langsung menjauhkan tubuhnya meski tangan Fabian masih bertengger di pinggangnya. Dia juga mengangkat kepalanya menatap mata sang suami, menunggu jawaban atas pertanyaan yang diajukan Amelia.
Fabian mengambil nafas sejenak dan dihembuskan nya perlahan. Dia menatap Amelia yang tadi bertanya pada dirinya. "Bayinya tidak selamat." Jawab Fabian pelan. Matanya terlihat sendu, sepertinya Fabian mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu dimana dirinya dan Maura juga harus kehilangan calon anak mereka saat masih dalam kandungan.
Amelia memejamkan mata sejenak mengetahui Anggie juga mengalami keguguran seperti Maura. Itu jauh lebih baik, pikirnya. Karena dengan begitu, Mike tidak meninggalkan jejak yang akan selalu membuat Anggie selalu teringat. Meski luka yang diberikan Mike sungguh begitu dalam dan besar, namun setidaknya Mike tidak meninggalkan darah dagingnya pada Anggie.
Maura menunduk, dia terlihat sedih mendengar kalau anak yang ada didalam kandungannya Anggie tidak selamat. Dia jadi teringat akan Fatih yang baru beberapa minggu meninggalkan dirinya.
Fabian yang melihat Maura menunduk sedih lantas kembali membawa tubuh Maura dalam dekapannya. Dia mengusap lembut rambut kepala Maura. Dia yakin pasti saat ini istrinya itu tengah mengingat Fatih.
__ADS_1
"Dokter Bian, kami permisi dulu." Pamit salah seorang rekan kerjanya diikuti yang lainnya. Tugas mereka sudah selesai, diskusi mereka tadi juga sudah selesai. Maka dari itu mereka pamit undur diri dan meninggalkan kerabat pasien.
Fabian mengangguk pada rekan kerjanya. "Terima kasih." Ucapnya sambil tersenyum tipis pada rekan kerjanya.
"Aku mau melihat Anggie." Kata Maura setelah para dokter juga suster pergi. Dia melepaskan diri dari dekapan Fabian.
Fabian mengangguk sekali. "Masuklah! Itu kamarnya." Fabian menunjuk kamar rawat yang ada disebelahnya.
Maura dan juga Amelia langsung menuju kamar yang ditunjukkan sama Fabian. Keduanya terlihat sedih melihat kondisi Anggie yang begitu memprihatinkan. Meski dalam kondisi tidur, memejamkan matanya, tapi Maura maupun Amelia melihat kesedihan juga ketakutan dalam raut wajah Anggie.
Fabian yang masih ada diluar kamar rawat terlihat berbicara dengan mertuanya, Bryan. Pandangan keduanya melihat kearah kamar yang ada dihadapan mereka melalui kaca pintu.
"Kenapa dia ada disana juga?" Tanya Bryan dengan pandangan mata masih tetap fokus pada seseorang yang ada didalam kamar rawat tersebut. Siapa lagi kalau bukan Raka, lelaki itu tadi kehabisan darah hingga membuatnya pingsan dan saat ini tengah menjalani transfusi darah.
"Bian juga nggak tahu. Tapi dia tadi yang membawa Anggie keluar." Jawab Fabian apa adanya, karena seperti itu yang terjadi tadi. "Sepertinya Anggie menghubungi Raka." Tebak Fabian asal, karena Raka sudah ada disana lebih dahulu untuk menyelamatkan Anggie.
Bryan mengerutkan keningnya, dia melirik kearah menantunya yang entah kenapa bisa memiliki pemikiran seperti itu. "Dia ada di Makassar, tidak mungkin akan sampai secepat itu." Sahut Bryan yang sepertinya geram dengan pemikiran Fabian.
Fabian tersenyum patah sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Benar juga yang dikatakan mertuanya itu, pikir Fabian. "Atau mungkin karena Raka masih ada disini, makanya dia langsung datang saat Anggie meminta tolong." Tebak Fabian lagi.
"Apa mereka memiliki hubungan?" Tanya Bryan menyahuti tebakan Fabian. Pasalnya seorang lelaki tidak akan langsung mau menolong wanita kalau tidak memiliki suatu hubungan. Apalagi ini resikonya terlalu besar. Dan Anggie juga tidak mungkin menghubungi Raka mengingat tiap kali Anggie memiliki masalah selalu menghubungi Maura kalau tidak langsung menghubungi Freya.
Bryan menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban dari Fabian. Menantunya itu katanya pintar, tapi kalau diminta untuk menganalisis sebuah kejadian hasilnya tidak begitu memuaskan. Sepertinya Bryan tidak akan mengandalkan Fabian lagi kalau ada masalah seperti ini. Lebih baik dia mulai sekarang harus mencari orang yang bisa diajak kerjasama, bisa menguasai segala bidang, termasuk mencari informasi sedetail mungkin. Dimana orang itu nantinya akan dia tugaskan untuk berada disisi Attar.
"Ayah pulang dulu." Pamit Bryan saat melihat keadaan sudah mulai kondusif. Anggie juga sudah ditangani Dokter dan Mike juga sudah ada ditempat yang aman, di kantor polisi. Semoga diproses sesuai hukum yang berlaku. "Ajak istri kamu pulang juga. Dia belum ada istirahat dari tadi." Ujar Bryan mengingatkan Fabian sebelum akhirnya dia melangkah pergi untuk pulang ke rumah.
Fabian yang mendengar kalau Maura belum istirahat dari tadi langsung bergegas masuk kedalam kamar rawat Anggie. Dia melihat Amelia yang duduk di kursi disamping ranjang dengan memegang tangan Anggie yang dipasang infus, sedang Maura terlihat duduk ditepi ranjang menghadap ke arah Anggie. Fabian melangkah mendekat sang istri.
Maura menoleh saat ada yang memegang bahunya. Dengan mata sembab karena habis menangis, Maura menatap sang suami yang datang menemuinya.
"Ayo kita pulang!! Kamu belum istirahat dari tadi." Ajak Fabian dengan nada pelan. Dia mengusap rambut kepala Maura dengan lembut. Dia menipiskan garis bibirnya saat melihat wajah sang istri yang tidak terlihat ceria.
Maura tidak menjawab, dia kembali menatap Anggie yang sedari tadi hanya memejamkan matanya saja. Sebenarnya dia ingin tetap berada di samping Anggie, menemani Anggie. Tapi sekarang dirinya bukan Maura yang dulu lagi, dia sudah tidak singel lagi, melainkan sekarang statusnya sudah menjadi seorang istri. Jadi tidak mungkin akan mengabaikan suaminya. Apalagi mereka baru saja menikah.
"Mel, aku pulang dulu ya. Kamu nggak apa kan nunggu Anggie sendiri disini? Besok kita gantian." Ujar Maura sambil menatap Amelia.
Amelia tersenyum tipis, dia juga menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu pulang dan istirahat lah. Biar malam ini Anggie aku yang jaga." Balas Amelia dengan tersenyum menatap Maura. Dia juga tahu diri, tidak mungkin akan memaksa Maura untuk tetap tinggal mengingat Maura sekarang sudah menjadi istri orang.
__ADS_1
Fabian meraih tangan Maura dan digandengnya tangan sang istri keluar dari kamar rawat inap. Keduanya melangkahkan kaki mereka perlahan menuju lobby rumah sakit untuk segera pulang ke rumah.
"Aku nggak suka lihat kamu berlarut dalam kesedihan seperti ini." Kata Fabian saat keduanya sudah berada didalam mobil. Fabian tidak menyetir sendiri, melainkan ada seorang supir yang membawa mobil mereka.
Maura yang tengah bersandar pada bahu Fabian langsung menegakkan badannya, dia menoleh ke arah sang suami yang melarangnya untuk bersedih akan kondisi Anggie.
"Bukannya aku melarang kamu mengkhawatirkan keadaan Anggie." Fabian langsung memberikan klarifikasi sebelum istrinya itu salah paham. "Boleh saja kamu khawatir pada dia, aku tidak melarangnya. Tapi jangan berlarut. Aku sudah bicarakan pada dokter yang menangani Anggie, kami akan mencari psikiater untuk menangani mental Anggie. Kami berharap Anggie mau membuka matanya dan melanjutkan hidupnya dengan baik."
Maura yang tadinya ingin protes, lantas memeluk tubuh sang suami dengan erat. Dia tersenyum dalam pelukannya. "Thank you, Bee." Ucap Maura yang hatinya merasa senang karena suaminya juga memikirkan kondisi mental Anggie.
Kening Fabian mengkerut, dia menundukkan kepalanya melihat sang istri yang tengah memeluknya. "Kamu tadi bilang apa?" Tanya Fabian sampai memiringkan kepalanya melihat Maura.
"Thank you." Jawab Maura dengan mendongak menatap Fabian dari bawah.
Fabian menggeleng kepala. "Bukan itu. Yang satunya lagi."
Maura mengerutkan keningnya bingung, bola matanya bergerak menandakan kalau dia tengah berpikir. Dia lantas menggelengkan kepalanya karena dia tadi hanya bilang 'Thank you' saja.
"Kamu tadi manggil aku apa?" Tanya Fabian dengan menatap mata Maura lekat.
Maura menipiskan bibirnya, dia menggeleng. "Nggak ada." Jawab Maura dan kembali menunduk sambil memeluk tubuh Fabian. Dia menggigit bibir bawahnya saat mengingat tadi dia memanggil apa pada Fabian.
"Tadi kamu bilang B-I atau B-E-E? Aku harap kamu panggil aku Bee sebagai panggilan sayang kamu ke suami tampan kamu ini." Ujar Fabian sambil membalas pelukan dari Maura. Dia juga terlihat mencium puncak kepala Maura dengan sayang. "Bee Amor. Lucu juga ya? Lebah cinta Fabian dan Maura." Ucap Fabian dengan tersenyum kecil.
Maura yang mendengar terlihat menggerakkan kepalanya naik turun, membenarkan ucapan Fabian. Dia juga mengeratkan pelukannya pada tubuh Fabian. Dia memejamkan matanya sambil menghirup aroma maskulin tubuh sang suami yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
🌷🌷🌷
Keesokan paginya, sekitar jam empat subuh Raka terlihat sudah bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia diam dengan pandangan mata lurus kedapan, menatap jendela yang sudah dia buka dan membuat dinginnya udara pagi masuk kedalam kamar dan menusuk tulangnya. Entah apa yang Raka pikirkan. Dia diam dengan kening terkadang mengkerut seperti memikirkan sesuatu.
Raka melihat tangan kirinya yang terpasang jarum infus. Dia melepasnya jarum infus itu dan berdiri dari duduknya. Dia melangkah keluar dari kamar rawatnya.
Raka terdiam sejenak, melihat kearah kanan kirinya. Masih sepi, mungkin karena ini masih jam empat subuh dini hari. Kakinya melangkah menuju kamar yang ada disebelahnya. Di lihatnya dari luar kaca untuk memastikan terlebih dahulu sebelum akhirnya dia membuka pintu itu dengan perlahan. Matanya menatap seseorang yang meringkuk tidur di sofa. Dia masuk lebih dalam lagi dengan langkah pelan tanpa alas kaki.
Raka masih dalam diam menatap perempuan yang tadi malam dia selamatkan. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Anggie. Namun tangannya hanya menggantung di udara dan akhirnya dia tarik lagi tangannya.
Tatapan mata Raka memindai seluruh tubuh Anggie dari ujung kepala sampai ujung kaki. Luka semalam yang ada ditubuh Anggie terlihat sudah diobati, meski belum mengering, seenggaknya luka itu sudah dibersihkan dan diobati.
__ADS_1
Tatapan mata Raka sekarang beralih pada perut Anggie. Dia mengingat jelas malam tadi inti Anggie mengeluarkan darah. Tidak sedikit, namun banyak. "Apa anak itu tidak selamat?" Gumam Raka lirih, menanyakan keadaan bayi yang dikandung Anggie.
Tatapan mata Raka kembali menatap wajah Anggie yang masih terlihat pucat. "Aku nggak tahu anak siapa yang kamu kandung. Tapi kenapa rasanya begitu sakit saat melihat keadaan kamu? Apalagi melihat darah itu keluar dari dalam inti kamu dengan banyaknya."