
Briana berjalan menelusuri koridor rumah sakit, ia bergidik ngeri membayangkan Rein yang sedang memainkan pisau seperti psikopat. Tanpa ia sadari ia menabrak tubuh kekar Dokter Bagas. Briana mendongak menatap dokter itu, sementara Dokter Bagas mendengus kesal.
Ia malas bertemu dengan wanita ini, wanita yang sukses membuatnya malu. Sumpah demi apa, ia tidak ingin bertemu dengan wanita ini lagi. Namun takdir selalu mempertemukannya tanpa ia inginkan.
" Oh tuhan, mengapa aku harus bertemu dengan wanita menyebalkan ini lagi," Dokter Bagas menggerutu sembari mengusap wajah kasar.
" Hey, kau pikir aku pembawa sial," protes Briana mencebik.
" Iya, setiap aku bertemu atau berada satu frekuensi denganmu selalu sial!" pungkas Dokter Bagas lalu berjalan begitu saja meninggalkan Briana yang masih tercengang mendengar ucapan Dokter Bagas.
" Dia tampan tapi menyebalkan, siapa juga yang ingin bertemu denganmu terus," gumam Briana mengumpat sambil berjalan menuju ruang rawatnya.
Rein dan Kean akhirnya memutuskan untuk pulang setelah menikmati makanan mereka. Sepanjang perjalanan mereka bernyanyi bersama, karena kelelahan Rein pun tertidur. Kean tersenyum ketika melihat Rein tertidur, mobil Kean baru saja memasuki pekarangan mansion.
Kean keluar dari mobil setelah memarkirkan kendaraannya. Ia membuka pintu mobil secara perlahan, lalu menggendong sang istri yang sedang terlelap seperti putri tidur.
Tubuh Rein sekarang menjadi lebih berisi, wajar saja saat ini Rein sedang mengandung buah hati mereka. Namun Kean lebih menyukai Rein yang sekarang, karena sekarang Rein terlihat lebih sexy.
__ADS_1
Mereka sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Mereka ingin mengetahuinya saat bayi mereka lahir agar menjadi kejutan. Kean berjalan memasuki kamar mereka sambil menggendong Rein, ia merebahkan tubuh Rein di atas tempat tidur.
Kean tersenyum lalu mencium kening sang istri penuh sayang, ia beralih mencium perut dan mengusapnya. Rein sangat menyukainya apabila Kean mengusap lembut perutnya. Seolah sang bayi turut senang, Kean merasakan getaran dari dalam perut Rein.
" Wow, kau menyapaku nak? kau ingin segera bertemu dengan ayah? bersabar oke, sebentar lagi kita akan bertemu," ucap Kean dengan suara pelan di depan perut Rein.
Kean menatap Rein yang masih terlelap, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sementara itu di rumah sakit, Briana terkejut ketika melihat putrinya hendak di bawa oleh seseorang yang tak lain adalah ayah kandung Sheina. Briana bergegas menghentikan pria itu, ia menarik lengan mantan suaminya dengan kasar.
" Lepaskan putriku!" bentak Briana kepada mantan suaminya.
" Aku akan mengambil hak asuh Sheina, hidupnya akan lebih terjamin denganku daripada denganmu yang penyakitan," ejek mantan suami Briana.
" Tidak, ku mohon! biarkan Sheina bersamaku. Aku tidak memiliki siapapun kecuali putriku," Briana memohon sambil menangis tersedu, ia bahkan bersimpuh di bawah kaki mantan suaminya.
Ia tidak mau kehilangan Sheina, satu-satunya harta yang ia miliki dalam hidupnya. Namun mantan suaminya itu mendorong Briana sehingga ia terjatuh ke atas lantai.
__ADS_1
" Hentikan!!" bentak seseorang yang kini berjalan menghampiri Briana.
Semua kini menatap Bagas yang berjalan dengan gagah menolong Briana. Ia membantu Briana untuk berdiri, mantan suami Briana menatap Bagas dengan tatapan tidak suka.
" Siapa kau? kau tidak perlu ikut campur," gertak pria itu kepada Dokter Bagas.
" Aku tidak suka melihat seorang pria menyakiti wanita," kata Dokter Bagas dengan santai.
" Kau siapa berani ikut campur urusan kami?" hardik pria itu dengan sorot mata yang tajam.
" Lelaki macam apa kau beraninya main kasar?" balas Dokter Bagas.
Briana hanya bisa menangis, ia tidak memiliki apapun untuk melawan mantan suaminya. Sheina ikut menangis ketika melihat ibunya menangis seperti itu, ia lalu menatap Dokter Bagas.
" Papa Dokter?" panggil Sheina kepada Dokter Bagas.
" Papa?" ucap Dokter Bagas dan Briana membeo bersamaan.
__ADS_1
...........
Jangan lupa like komen dan vote bestie 💕 Calangheyo 🤗