Operation Love

Operation Love
Tidak Normal?


__ADS_3

Briana menatap tajam pria yang kini berada di depannya, pria itu dengan santai duduk sambil memesan menu makanan bersama Shiena. Oh astaga bagaimana bisa Sheina cepat sekali akrab dengan pria menyebalkan ini.


" Sheina, kita hanya sebentar tidak perlu memesan makanan nak," bujuk Briana sambil menatap tajam Bagas.


" Kita kan laper ya Shei?" bukan Sheina yang menjawab namun Bagas. Sheina menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum seolah ia sekongkol dengan Bagas.


" Jangan meracuni anakku, kami bisa makan di rumah," ketus Briana.


" Kita kan udah enggak punya tempat tinggal ma," celetuk Sheina membuat Briana auto menutup mulut putrinya.


" Benarkah?" tanya Bagas penasaran.


" Iya, uncle sebenarnya kami di usir dari rusun tempat kami tinggal karena tidak sanggup membayar," Briana memberi kode kepada putrinya agar ia tidak menceritakan masalah mereka kepada orang lain.


Bagas menatap Briana, jujur ia merasa kasihan terhadap wanita ini namun ia bingung bagaimana caranya ia membantu mereka. Tiba-tiba saja Bagas memiliki sebuah ide yang dapat membantu mereka.


" Sheina, suka salad enggak?" tanya Bagas.


" Sangat suka Uncle," jawab Sheina antusias.


" Di ujung sana ada salad bar, Sheina dapat mengambil salad sepuasnya di sana," ucap Bagas sambil menunjukkan stand salad di ujung sana.


" Benarkah?" tanya Sheina dengan manik mata berbinar.


" Benar," kata Bagas lalu Sheina dengan cepat berjalan menuju stand salad tersebut.


Kini tinggal Briana dan Bagas berdua, Briana mendelik menatap Bagas. Ia tahu laki-laki ini memiliki maksud lain terhadap dirinya.

__ADS_1


" Tinggallah di apartemen denganku," ajak Bagas. Sementara Briana auto menyilangkan kedua tangannya di atas dada ketika mendengar ucapan Bagas.


" Maaf Dokter, meskipun aku miskin tapi aku bukan wanita murahan," sarkas Briana tidak suka dengan tawaran Bagas.


" Perasaan kemarin kau mencoba mendekati Dokter Kean, mendekati pria beristri lebih mengerikan dari wanita murahan," balas Bagas.


" Waktu itu aku khilaf," sahut Briana merasa malu mengingat kelakuan bodohnya kemarin.


Bagas terkekeh lalu menatap Briana, " Jangan GR dulu, kita tinggal berbeda kamar dan tugasmu hanya membersihkan apartemenku," ucap Bagas.


" Tidak mau, aku bukan pesuruh mu. Nanti kau mencuri kesempatan dalam kesempitan saat kita tinggal bersama," tolak Briana.


" Lagi pula aku tidak tertarik dengan dada mini sepertimu," bisik Bagas lalu tertawa.


Briana menatap tajam wajah Bagas, ingin rasanya ia mencekik leher pria itu saat ini. Tak lama kemudian Sheina datang menghampiri dengan membawa semangkuk salad buah favoritnya.


" Iya uncle, aku sangat suka salad buah," jawab Sheina lalu duduk di dekat Bagas.


Sheina merasa nyaman berada di dekat Bagas, ia merasa Bagas seperti penyelamat hidupnya. Sheina memakan salad yang baru saja ia ambil dengan nikmatnya.


" Sheina, mau tinggal sama uncle enggak?" tanya Bagas membujuk Sheina.


" Mau banget uncle," jawab gadis polos yang tidak tahu apa-apa itu begitu antusias.


" Tapi mama mu tidak mau, bagaimana dong?" rengek Bagas terdengar menyebalkan di telinga Briana.


Sheina menatap ibunya penuh damba, seolah ia sedang memohon agar keinginannya tercapai. Briana di tatap seperti itu oleh putrinya tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa. Ia terpaksa mengikuti keinginan Sheina dan Bagas.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu setelah selesai makan mereka pergi menuju apartemen Bagas. Sepanjang perjalanan Sheina merasa senang, Briana tidak pernah melihat Sheina seperti ini.


Sheina dan Bagas terlihat seperti ayah dan anak kandung, Briana menepis bayangan yang membuatnya tidak ingin lagi bermimpi untuk mengejar pria kaya.


Lama mereka dalam perjalanan kini mereka baru saja sampai di apartemen Bagas. Sheina dan Briana memasuki apartemen yang terlihat sangat luas dan rapi. Ia tidak percaya apartemen ini hanya di tinggali oleh satu orang saja.


Sheina langsung berkeliling apartemen setelah mendapatkan izin dari Bagas. Manik mata Briana mengeksplor seluruh ruangan tengah, ruang tengah yang sangat tertata rapi.


" Dokter? apa benar ini apartemen seorang pria?" tanya Briana selidik.


" Kau pikir?" Bagas malah balik bertanya.


" Mengapa apartemen mu seperti apartemen wanita yang sempurna dan tertata rapi? Atau jangan-jangan kau bukan pria normal ya," cerocos Briana membuat Bagas menatapnya dengan tatapan tajam.


" Apa kau bilang?" gertak Bagas kesal.


" Kau masih melajang sampai sekarang, ya mungkin saja," kata Briana terbata.


" Aku bahkan bisa membuat mu hamil nona," bisik Bagas membuat Briana bergidik ngeri.


" Apa??".


.....


Lu malah nantangin sih 🤣


Jangan lupa like komen dan vote bestie 💕 Calangheyo 🤗

__ADS_1


__ADS_2