
Manik mata Dokter Bagas membulat ketika ia mendengar ucapan Sheina, bagaimana bisa anak kecil itu melakukan kebohongan yang membuat semua orang salah paham.
Semua mata kini tertuju kepadanya seolah meminta penjelasan. Sheina menatap wajah Dokter Bagas penuh harap, seolah ia meminta perlindungan dari nya. Bagas kini berada dalam posisi yang serba salah, apabila ia tidak mengakui mereka otomatis Sheina akan di bawa oleh pria itu.
Sebenarnya ia malas ikut campur dalam urusan orang lain, namun ia tidak tega ketika melihat Briana dan Sheina yang harus terpisah. Bagas sangat merasakan bagaimana rasanya ketika ia terpaksa berpisah dengan ibunya karena ayah dan ibunya bercerai.
" Ya, Sheina adalah calon putriku. Kau tidak perlu takut kehidupannya akan kekurangan. Karena ia akan hidup denganku, aku pemilik rumah sakit BAGASKARA di kota S," jelas Dokter Bagas dengan tegas.
Dokter Bagas dengan cepat mengambil Sheina dari ayah kandungnya. Ia yakin akan ada masalah besar setelah ini, namun ini satu-satunya cara agar pria itu tidak mengganggu Sheina dan ibunya lagi. Sebenarnya Bagas tidak menyukai Briana namun ia tidak tega melihat Sheina.
Mantan suami Briana pun pergi begitu saja, ia merasa kalah. Ia tahu sebesar apa kekuatan keluarga Bagaskara, ia tidak mau ikut campur dalam hubungan mereka. Ia ingin mengambil Sheina karena istri barunya mengalami keguguran dan ia berharap agar dengan adanya Sheina ia akan kembali ceria.
Sheina memeluk Dokter Bagas, ia merasa bahagia karena papa nya tidak jadi membawanya pergi. Sheina mendongak menatap wajah tampan Dokter Bagas.
" Terimakasih banyak Dokter, kau Dokter yang baik hati," ucap Sheina dengan tulus.
__ADS_1
Dokter Bagas berjongkok di depan Sheina, ia menghapus air mata yang tadi membasahi kedua pipinya.
" Sama-sama sayang, sekarang hapus air mata kamu. Dan kembali tersenyum ceria, oke!" kata Bagas sambil membentuk jarinya membentuk huruf O.
Sheina membalas dengan senyuman," Oke," jawabannya singkat.
Dokter Bagas kembali berdiri lalu mengusap lembut puncak kepala Sheina dengan sayang.
Briana membungkukkan setengah badannya kepada Dokter Bagas. Ia merasa bersalah karena selama ini selalu berkata kasar dan menuduh yang tidak-tidak tentang Dokter Bagas. Nyatanya hari ini Dokter Bagas yang membantunya.
" Terimakasih Dok, Dokter sudah membantu saya," ucap Briana merasa sungkan.
Briana mendongak menatap wajah tengil Bagas yang tersenyum mengejek kepadanya. Entah apa yang ada dalam pikiran pria ini, namun ingin rasanya Briana menggetok kepala Dokter Bagas saat ini juga.
" Sudah kuduga, kutarik kembali semua ucapanku barusan," cetus Briana mendelik.
__ADS_1
" Jangan menatapku seperti itu, saat ini semua orang mengetahui aku calon papa Briana. Jadi mama, enggak boleh galak- galak," goda Dokter Bagas lalu pergi begitu saja.
" Iya benar kata om Dokter Ma, Mama enggak boleh galak-galak," sahut Sheina membuat Briana menghela nafas kasar.
Entah mengapa ia merasa setelah ini putrinya akan menjadi antek-antek Dokter Mesum itu. Briana berjalan menelusuri koridor rumah sakit bersama putrinya.
Keesokan harinya di kediaman keluarga Adhitama, pagi ini Kean sangat malas untuk bekerja. Ia masih setia di balik selimutnya setelah meminta jatah menengok bayi mereka di pagi hari.
Rein menghela nafas panjang, sudah berapa kali ia membangunkan suaminya untuk bekerja namun Kean sama sekali belum bersiap. Ia malah masih meringkuk di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
" Ayah Kean, kamu enggak akan kerja?" tanya Rein sambil menggoyangkan tubuh suaminya.
" Boleh libur sehari enggak? aku masih pengen jenguk Dede lagi," rengek Kean manja.
" Lagi?".
__ADS_1
............
Jangan lupa like komen dan vote bestie 💕 Calangheyo 🤗