Pacar Onlineku

Pacar Onlineku
Kamu Milikku


__ADS_3

Malam hari mereka hanya istirahat sebentar untuk salat magrib dan kembali melanjutkan menerima para tamu undangan, ternyata tamu undangan yang datang jauh lebih banyak dari dugaan mereka, membuat keduanya harus terus berdiri di atas panggung hingga pukul 10.00 malam.


"Bu, aku sangat capek. Bolehkah aku istirahat lebih dulu?" ucap Ayu melihat ke arah ibunya yang sejak tadi mendampinginya.


"Tentu saja boleh, Nak. Lagian ini juga sudah lewat dari jam yang kita tetapkan, sisanya biar kami yang menerima tamu, kamu istirahatlah bersama dengan Ardy," ucap Ibu Ayu.


Ardi sebenarnya masih sangat segar dan kuat untuk menerima para tamu. Namun, melihat Ayu yang terlihat sudah lelah, ia pun memutuskan untuk membawa Ayu ke kamar mereka. Sementara para keluarganya, termasuk kedua orang tuanya sudah kembali ke hotel, mereka akan kembali ke ibukota besok siang.


Rencananya pesta pernikahan juga akan digelar di ibukota, ada banyak keluarga yang lainnya yang juga ingin menyaksikan pernikahan Ardy dan mereka tak sempat datang, begitupun dengan para karyawan dan juga rekan bisnisnya, membuat Ardy dan juga semua keluarga memutuskan untuk menggelar acaranya seminggu setelah acara Ayu selesai, agar mereka juga tak terlalu kelelahan.


Begitu masuk ke kamar, Ayu langsung duduk dan meluruskan kakinya, ingin rasanya ia langsung merebahkan diri. Namun, pakaian pengantin serta perhiasan yang digunakannya memaksanya untuk tetap duduk.


"Mas, panggil Chika dong!" ucap Ayu yang sudah merubah panggilannya dari yang biasanya hanya menyebut nama Ardy mengubah panggilannya menjadi Mas.


"Untuk apa?" tanya Ardy yang bukannya memanggil Chika pria yang sudah menjadi suaminya itu justru mengunci pintunya.


:Aku mau minta Chika membantu membuka gaun pengantin ini, coba lihatlah! Hijabnya saja begitu ribet, sampai berlapis-lapis seperti ini."

__ADS_1


"Biar aku yang membantumu. Apa gunanya aku disini jika kamu masih membutuhkan Chika hanya untuk membuka pakaianmu."


"Ini menggunakan banyak jarum pentul, apa Mas bisa membukanya? Nanti bukannya membuka hiasan di kepalaku ini, Mas malah menusuk kepalaku atau bahkan menusuk jarimu sendiri," ucap Ayu membuat Ardi hanya tersenyum dan melangkah menghampiri Ayu.


"Kamu tenang saja, jika masalah seperti ini dengan menutup mata pun aku bisa melakukannya," ucap Ardy kemudian memulai perlahan membuka satu persatu hiasan yang ada di kepala Ayu dan ternyata dugaannya salah, tadinya ia berpikir hanya tinggal membuka saja. Namun, ternyata begitu banyak yang harus dibukanya. Mahkotanya saja membutuhkan waktu yang sangat lama karena benar-benar melekat pada hijab Ayu, begitu juga dengan lapisan-lapisan hijab yang entah berapa jarum pentul yang digunakan oleh semua yang memakaikannya, sehingga sangat sulit untuk dibuka.


"Bagaimana, bisa nggak?"


"Iya bisa !"


"Ini sedikit lagi kok."


"Dari tadi Mas bilangnya sedikit lagi, tapi ini sudah dari tadi. Kepalaku benar-benar pegal. Aku ingin berbaring, punggungku juga terasa sakit," ucap Ayu di mana ia melihat dari cermin hijabnya itu sudah tak karuan, sepertinya Ardi membuka bagian yang salah sehingga membuat semua itu menjadi lebih sulit.


"Sudah deh, jika nggak bisa jangan dipaksa panggil Chika saja, ini kepalaku sudah sakit dari tadi kamu tarik-tarik terus protes."


Ardy menghela nafas, ia menyerah sepertinya ia memang sangat sulit untuk membuka semua itu, baru saja Ardy ingin keluar untuk memanggil Chika. Namun, ia melihat sebuah gunting yang ada di atas nakas, ia pun memutar langkahnya dan kembali berbalik.

__ADS_1


"Kenapa nggak jadi manggil Chik" tanya Ayu yang melihat suaminya itu kembali tanpa keluar dari pintu yang sudah dikuncinya tadi.


"Jika nggak bisa manual kita gunakan cara lain," ucap Ardy memperlihatkan gunting yang ada di tangannya, membuat Ayu sangat terkejut dan ia pun langsung berdiri.


"Mas, mau apa?" tanyanya melihat gunting yang kini dimainkan oleh Ardy.


"Sudah, kamu tenang saja. Percayakan padaku," ucap Ardy kembali menarik tangan Ayu agar duduk kembali di kursi meja riasnya. Ayu awalnya menolak. Namun, Ardy terus memaksa dan mengatakan jika dia yang akan membukanya menggunakan gunting.


"Tapi, ini mahal loh, Mas. Jika digunting akan rusak," ucap Ayu yang sayang melihat hiasan kepala itu, pasti akan rusak dan tak bisa dipakai lagi jika pembukaannya dengan mengguntingnya.


"Nggak masalah, yang penting kan gaunnya masih bagus, lagian ini juga nggak akan dipakai lagi 'kan," ucapnya yang tidak sudah mulai menggunting helaian dami helaian hijab yang sejak tadi melilit di kepala Ayu dan benar saja hanya dalam beberapa detik semua itu sudah terlepas dari kepala Ayu, tapi jangan tanyakan seperti apa keadaan hijab itu, hijab itu sudah tak berbentuk lagi dan kini sudah menjadi serpihan-serpihan di lantai.


"Oke, sekarang kita buka bagian yang lain," ucap Ardi melihat ke arah pakaian Ayu. Ayu yang mengerti apa yang dimaksud dengan suaminya langsung menutupi dadanya dengan tangannya, ia menggeleng kuat.


"Nggak, aku bisa buka sendiri. Aku buka di kamar mandi saja," ucap Ayu ingin berlari masuk ke kamar mandi. Namun, terlambat tangannya sudah dicekal oleh pria yang sudah mengikrarkan namanya dalam ijab kabulnya.


"Nggak, biar aku yang membukanya, kamu itu milikku sekarang!" ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2