
"Apa maksud Kakak?" tegas Ardy yang kini sudah berdiri menghadap kakaknya, Ayu ingin menghentikannya. Namun, ia kembali teringat jika kondisi janinnya sedang kritis dan ia tak boleh banyak bergerak, membuat dia hanya bisa melihat apa yang terjadi saja.
"Iya, maaf. Aku iri karena kamu membeli tas yang aku tak bisa miliki. Aku tak suka jika Ayu memiliki tas yang lebih mahal dariku, aku tak terima. Makanya tadi aku mencekal kakinya saat aku akan berjalan menyusulmu. Aku tak tahu jika … aku minta maaf," ucap Adelia yang kini telah terisak, ia meminta maaf kepada Ardi, khususnya Ayu.
"Maaf, kata Kakak!" bentak Ardy. "Sekarang lihat kondisi Ayu, lihat kondisi bayi yang ada di rahimnya! Kita nggak tahu dia bisa selamat atau tidak, Kak! Apa Kakak pikir aku bisa memaafkan Kakak?" tanya Ardy dengan suara bergetar. Ini untuk pertama kalinya ia membentak kakaknya seperti apa yang ia lakukan saat ini. Selama ini sering berselisih paham. Namun, ia selalu menjaga nada bicaranya saat berhadapan dengan kakaknya.
"Ardy, kakak mohon, maafkan kakak. Kakak menyesal," lirihnya yang kini tertunduk semakin dalam sambil semakin terisak.
"Kak, inilah yang Kakak dapatkan dari apa yang Kakak selama ini lakukan, Ardy kecewa sama Kakak. Selama ini Ayu tak pernah berbuat salah sama Kakak, tapi apa yang Kakak lakukan. Selama ini Kakak sering mencibirnya, menghinanya, dia hanya diam. Aku juga mendiamkan semua karena aku masih menghormati Kakak." Ardy hanya menggeleng menatap kakaknya, menggambarkan betapa ia sangat kecewa kepada kakak kandungnya itu, nafasnya memburu, rahangnya mengerat ia berusaha sekuat tenaga untuk tak meluapkan emosinya kepada kakaknya, ia berusaha untuk menerima kenyataan, jika walaupun ia memarahi kakaknya, menyakiti kakaknya, semua yang terjadi tak bisa diperbaiki lagi kondisi.
Disaat mereka masih bertengkar, Ayu kembali menerima kesakitan.
__ADS_1
"Mas, perutku sakit lagi," lirihnya.
Mendengar itu Anya langsung keluar dan memanggil dokter, tak lama kemudian dokter datang dan kembali memeriksa kondisi Ayu.
"Kita lihat sampai besok, jika tak terjadi pendarahan lagi, semoga saja bayinya masih bisa diselamatkan, sekarang Ibu jangan bergerak dulu."
Mereka semua hanya bisa pasrah, Ardy yang melihat Ayu dengan tatapan kasihan, ia tahu istrinya pasti sangatlah bersedih karena baru mengetahui jika ada janin yang dikandungnya dan janin itu sedang dalam kondisi yang sangat kritis, kapan saja mereka bisa kehilangan bayi tersebut.
Ayu menarik Ardy mendekat, ia memeluk tangan suaminya dan kemudian terisak di sana.
"Kita berdoa saja, semoga semua baik-baik saja, semoga bayi kita masih bisa diselamatkan," ucap Ardy yang kini memeluk erat Ayu, wanita itu kini terguncang menahan isakannya. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa menunggu dan berharap semoga janinnya baik-baik saja.
__ADS_1
Malam itu mereka semua menginap di rumah sakit, termasuk Adelia dan juga Anya, mereka sudah meminta izin kepada suaminya dan menceritakan apa yang terjadi dan kedua suaminya pun tak keberatan jika keduanya ikut menginap di rumah sakit.
Ardy menyuapi Ayu, walau Ayu tak bisa makan karena merasa sangat khawatir. Namun, ia tetap membuka mulut saat Ardy menyuapinya, demi anaknya.
Semua yang ada di dalam sana malam itu tak ada yang bisa tertidur, mereka terus menunggu kabar dari dokter, berharap tak terjadi apa-apa malam itu.
Ayu yang merasa lelah akhirnya pun tertidur. Namun, tidak dengan Ardy dan juga Adelia di saat semuanya sudah tertidur, keduanya masih terus terjaga.
Adelia yang melihat Ardy terus terduduk dan memegang tangan Ayu serta tangan lainnya berada di perut Ayu, menghampiri adiknya itu.
"Ardy, kakak minta maaf ya, kakak sama sekali tidak bermaksud menyakiti Ayu sampai seperti ini."
__ADS_1
"Sudahlah, Kak. Aku marah juga semua sudah terjadi, aku harap mulai sekarang Kakak berhenti untuk menghina Ayu, kasihanilah dia, dia sudah menahan diri untuk menerima semuanya, dia sudah mau tinggal di sini ikut bersama kita bersama dengan orang-orang yang baru dikenalnya dan meninggalkan keluarga dan pekerjaanya. Jadi aku mohon, Kak! Biarkan Ayu menyesuaikan diri dengan tenang," ucap Ardy tanpa melihat ke arah kakaknya, matanya tertuju ke kelopak mata Ayu yang terpejam.
Mendengar itu Adelia pun kembali memundurkan langkahnya dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu, matanya masih enggan terpejam, rasa takut, khawatir masih terus dirasakannya. Rasa penyesalan juga terus menderanya, mengapa ia tak bisa berdamai dengan Ayu, seperti apa yang dikatakan oleh kakak tertua mereka, jika Ayu bukanlah seperti yang mereka bayangkan terlebih lagi kenyataan jika Ayu ternyata memberikan tas itu kepada ibunya, semua itu sungguh sangat diluar dugaannya.