Pacar Onlineku

Pacar Onlineku
Selamat Datang Baby Boy


__ADS_3

Pagi hari tepat pukul 08.00, Ayu sudah bersiap untuk masuk ke ruang operasi, di mana operasinya akan dimulai sekitar pukul 09.30 menit. Mereka berencana akan menetapkan jam yang sama dengan jam di mana dulu akad nikah Ayu dan Ardy dilaksanakan yaitu tepat pukul 10.00.


Saat melihat dokter masuk, Ayu tak bisa menahan tangisnya dan menggenggam erat tangan ibunya.


"Ibu, aku takut. Bagaimana jika ...," ucap Ayu. Namun, Ardy langsung menghentikan ucapan Ayu dengan memberikan jari telunjuknya di depan bibir Ayu.


"Jangan katakan itu, percaya padaku, semua pasti akan baik-baik saja. Aku akan menemanimu dan selalu bersamamu," ucap Ardy, walau dalam hati ia juga merasa takut. Namun, ia berusaha untuk terlihat tenang dan berusaha untuk membuat Ayu tak takut akan menghadapi proses persalinannya.


Ibu dan mertua Ayu juga memberikannya semangat, di mana ibu Ardy melahirkan ketiga anaknya semua melalui proses caesar yang menjelaskan jika proses caesar itu tak akan membahayakannya, semua pasti akan baik-baik saja. Dokter yang akan menanganinya dokter yang sama yang menangani Ardy dulu saat proses persalinan, jadi dia adalah dokter yang sudah sangat handal, tak ada yang perlu ditakutkan.


Bukan hanya keluarga yang menenangkan Ayu yang terlihat ketakutan, tapi dokter dan perawat juga melakukan hal yang sama. Mereka sudah sering mendapati ibu hamil yang akan melakukan operasi dalam kondisi ketakutan, membuat mereka sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan.


"Sekarang sudah waktunya Dokter, kita masuk ke ruang operasi," ucap salah satu suster yang baru saja masuk dengan pakaian operasinya, membuat mereka semua mendorong Ayu menuju ke ruang operasi.


Saat Ayu di dorong menuju ruang operasi Ayu semakin terisak. Ayu sudah mengenakan pakaian operasi begitupun dengan Ardy.

__ADS_1


"Tenanglah, jangan menangis seperti itu kasihan bayimu," ucap ibu Ayu mengantar anaknya menuju ke ruang operasi. Ardy dan Ayu pun masuk ke ruang operasi bersama dengan dokter dan beberapa perawat lainnya, sedangkan semua keluarga diminta untuk menunggu di luar.


Hal yang pertama yang dokter lakukan adalah menghibur Ayu terlebih dahulu agar Ayu bisa tenang, begitu Ayu sudah bisa tenang dokter pun mulai melakukan beberapa proses yang harus Ayu lalui sebelum operasinya, dimulai dari menyuntikkan obat agar Ayu tak merasakan sakit saat melakukan operasi dan semua itu disaksikan oleh Ardy langsung.


Proses anestesi saja sudah membuat Ardy tak tega melihat istrinya. Namun, ia harus bisa menahannya. Ardy terus mengecup kening Ayu dan mengusap perutnya.


Setelah semua proses selesai, dokter pun mulai siap untuk melakukan proses pembedahan. Ardy tak sanggup untuk melihat apa yang akan dokter lakukan pada perut istrinya, membuat ia hanya menunduk dan mencoba menghibur Ayu dengan kata-kata romantis dan rayuannya, mencoba mengingat masa-masa mereka pacaran dulu mengingat dan masa-masa indah yang mereka lalui saat awal pernikahan dan semua itu sukses membuat Ayu mengalihkan pikirannya dari operasi yang sedang berlangsung. Karena saat ini Ayu sudah tak merasakan apa-apa pada bagian perutnya.


"Mas, apa sudah dimulai, ya?" lirih Ayu saat melihat semua dokter terlihat fokus pada bagian perutnya. Ardy hanya mengangguk, ia mencoba untuk menegakkan tubuhnya dan melihat prosesi di mana dokter mulai melakukan pembedahan, lapisan demi lapisan perut Ayu. Membuat perutnya terasa teriris sama seperti apa yang dilihatnya.


"Apa sudah dimulai, Mas?" tanya Ayu lagi saat melihat ekspresi suaminya.


Ayu menggeleng.


"Semua pasti baik-baik saja, ini tak akan lama," ucap Ardy kembali mengalihkan perhatian Ayu dari operasinya.

__ADS_1


"Sekarang sudah 30 detik lagi jam 10.00, dokter," ucap salah satu perawat yang sejak tadi membantu dokter dalam proses persalinan tersebut.


"Kami juga sudah siap. Apa Ibu sudah siap menyambut kelahiran putra Ibu?" ucap dokter tersebut di mana dokter saat usg mengatakan jika anak Ayu dan Ardy berjenis kelamin laki-laki, keduanya pun mengangguk dengan tak sabar Ardy menegakkan kembali tubuhnya.


Dikter pun mengeluarkan bayi Ayu dan semua itu disaksikan oleh Ardy, bayi itu menangis dengan begitu kencang memenuhi ruang operasi dan langsung diletakkan di dada Ayu. Ayu tak bisa menahan harunya saat melihat bayi mungilnya itu menangis dan terus bergerak di dadanya, ia membekap dengan penuh kasih sayang. Ayu yang selama ini hanya dirasakannya di dalam perutnya sudah bisa dipeluknya dan dilihatnya.


perasaan yang sama juga di rasakan oleh Ardy, ia mencium keduanya secara bergantian dan mengucapkan rasa syukur atas kehadiran keduanya dalam hidupnya.


"Wah, maaf ya. Sepertinya nggak tepat jam 10.00, lewat 5 detik," ucap dokter tersebut membuat mereka pun hanya tertawa mendengar ucapan dokter.


"Terima kasih banyak dokter, terima kasih banyak," ucap Ardy membuat dokter pun mengangguk kemudian mereka pun kembali melakukan proses penjahitan kembali pada perut Ayu. Setelah mengeluarkan ari-arinya, salah satu perawat memberikan gunting kepada Ardy, agar ia menggunting tali plasenta yang menghubungkan putranya dengan ari-arinya.


Ardy pun memotong sesuai dengan arahan perawat dan kini bayinya akan menerima asupan makanan dari ASI yang akan diproduksi oleh Ayu.


Ayu terus memeluk putranya yang terus saja menangis dalam dekapannya, sambil menunggu dokter menyelesaikan untuk menjahit kembali perut yang telah mereka bedah, kebahagiaan bisa dirasakan semua di ruangan itu, baik Ardy, Ayu maupun semua para perawat dan juga dokter.

__ADS_1


Bukan hanya di dalam ruangan yang merasa bahagia. Begitupun semua keluarga yang berada di luar ruangan, dimana mereka bisa mendengar suara tangis dari dalam ruang operasi tersebut.


"Selamat, kita sudah menjadi nenek dan kakek," ucap mereka saling berpelukan. Chika merasa sangat bahagia mendengar suara ponakan pertamanya, cucu pertama di keluarganya.


__ADS_2