Pacar Onlineku

Pacar Onlineku
Hari Pertama Sekolah.


__ADS_3

5 tahun kemudian, Rafif Syabani tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan juga super aktif, hari ini hari pertamanya masuk ke sekolah TK.


"Ayah, Ibu. Ayo cepat aku sudah tidak sabar," ucap Rafif.


"Iya, sabar dong, ini kan baru 06.30 kamu masukkan jam 08.00," ucap Ayu yang masih menyiapkan bekal putranya.


"Tapi kan Rafif ingin main bersama dengan teman dulu Bu, sebelum jam masuk kelas," ucap Rafif.


"Ya sudah, sekarang sana sarapan sama ayah dulu, setelahnya baru kalian berangkat," ucap Ayu lagi mengecup kedua pipi tembem putranya. Rafif pun dengan cepat berlari menuju ke meja makan, di mana di sana Ardy dan neneknya sedang sarapan.


"Rafif mau diantar kakek dan nenek tidak?" tanya ibu Ardy.


"Nggak, Nek. Semua teman-teman Rafif pasti diantar oleh ayah ibunya, Rafif juga ingin," ucapnya dimana hari ini adalah hari kedua dia diantar ke sekolah, kemarin adalah hari saat mendaftar dan menyesuaikan diri dengan sekolah baru mereka.


Rafif melihat semua teman-temannya diantar oleh kedua orang tuanya.


"Ya sudah, tapi boleh kan sekali-kali nenek yang mengantarmu?" ucap ibu Ardy membuat Rafif pun mengangguk dengan mulut yang penuh dengan sandwich.


"Oke, bekalnya sudah jadi, Rafif di sekolah nanti jangan nakal ya dan bekalnya harus dihabiskan, ini ibu buat agak banyak, nanti jika ada teman yang tak memiliki bekal yang cukup, Rafif mau kan berbagi?"


"Iya, Ibu. Kata Ayah kan kita harus berbagi," ucap Rafif. Di mana sejak dini Ardy sudah mengajarkan putranya itu untuk berbagi ke sesamanya, tak jarang mereka mengajak Rafif untuk ke panti asuhan dan memberikan beberapa rezeki mereka pada anak-anak yang tak seberuntung Rafif di sana.


"Pinter banget sih cucu kakek," ucap ayah Ardy mengusap rambut cucunya, walau dia sudah memiliki cucu dari Anya dan juga Adelia. Namun, kedua cucunya itu tinggal bersama dengan orang tua mereka masing-masing, membuat kini Rafif menjadi cucu kesayangan mereka,karena tinggal bersama dengan mereka. Namun, itu tak mengurangi rasa sayang mereka kepada yang lainnya.

__ADS_1


"Ayu, apa ini sudah selesai?" tanya Ardy menunjuk kotak bekal Rafif.


"Iya, ini sudah selesai tinggal nunggu Rafif sarapan dulu. Ayo Nak, habiskan susunya," ucap Ayu pada putranya.


Rafif adalah anak yang sangat patuh, ia pun langsung menuruti apa yang dikatakan oleh ibunya, meminum susunya hingga setengah.


"Ibu, setengah saja ya. Aku sudah kenyang," ucapnya membuat Ayu pun mengangguk dan menghabiskan sisa susu putranya.


"Ayo kita berangkat," ucap Ayu.


"Ayo salaman pada Kakek, Nenek dulu," tambahnya membuat putranya itu kembali menurut dan langsung berlari menuju ke kakek dan neneknya di kursi lainnya, mencium punggung tangan keduanya.


"Assalamualaikum, Kakek. Rafif ke sekolah dulu," ucapnya membuat kakeknya pun mengecup keningnya begitu pula dengan nenek, mengecup kedua pipi cucu kesayangannya.


"Terus nanti Rafif siapa yang jemput?" tanya ibu Ardy .


"Aku, Bu. Setelah jam pulang nanti , aku langsung dari kantor mas Ardy dan langsung pulang," jelas Ayu membuat ibu pun hanya mengangguk.


"kami pergi dulu, Bu," ucap Ardy juga mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan keduanya pun pergi mengantar putra pertama mereka untuk menuntut ilmu di hari pertamanya.


Ayu tersenyum saat mereka berjalan menuju ke mobil, di mana putranya itu sangat kegirangan, ia bahkan melompat-lompat saking senangnya akan bertemu dengan banyak teman baru.


"Di sekolah nanti hati-hati, mainnya juga harus hati-hati dan ingat! Rafif nggak boleh nakal, ya," ucap Ayu memperingati sekali lagi, di mana anaknya itu memang sangatlah aktif, ia takut jika sampai anaknya itu berbuat nakal pada teman-temannya.

__ADS_1


"Baik, Bu. Rafif akan selalu ingat nasehat Ayah dan Ibu," ucapnya kemudian mereka pun melajukan mobilnya menuju ke sekolahan.


Di sekolahan itu mereka tak diizinkan untuk menunggu anak-anak mereka, sekolah akan bertanggung jawab penuh pada muridnya, mulai dari anak-anak masuk ke gerbang sampai anak-anak kembali keluar dari gerbang.


Rafif melambaikan tangan pada ayah dan ibunya saat seorang pengajar menjemputnya.


"Saya titip anak saya ya, Bu," ucap Ayu.


"Tentu saja, Bu. Percayakan anak Ibu pada kami dan jangan lupa jemput di jam yang sudah ditetapkan ya, Bu. Jika ada halangan segera hubungi kami, biar kami yang akan mengantarnya pulang," ucap guru tersebut membuat Ayu pun mengangguk dan kembali melambaikan tangan pada Rafif yang sudah melangkah masuk dengan tak sabar menuju ke sekolahan baru mereka, keduanya pun baru pergi saat sudah tak melihat Rafif lagi.


Ardy pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan mereka, di jalan Ayu tak henti-hentinya merasa khawatir karena untuk pertama kalinya ia meninggalkan putranya itu cukup lama.


"Tenang saja, Rafif adalah anak yang pintar dia pasti akan bisa cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya," ucap Ardy menenangkan Ayu sembari menggenggam erat tangan istrinya. Ardi tahu jika saat ini istrinya pasti akan sangat khawatir. Ia pun merasakan hal yang sama. Namun, mereka sadar saat ini Rafif sudah besar, ia harus sudah mulai mandiri. Dimulai dengan mandiri saat mulai mengenalkan lingkungan sekolah.


"Nggak kerasa ya Mas, Rafif sudah sebesar ini perasaan baru kemarin saja aku melahirkannya," ucap Ayu mengecup punggung tangan suaminya dan dekatnya di dadanya.


"Iya, tapi Rafif sudah besar. Bagaimana jika kita mulai program untuk adiknya," ucap Ardy mengedipkan mata, membuat Ayu hanya melirik saja pada suaminya. Dia yang tadinya bermanja-manja di tangan suaminya kini melepaskan tangan Ardy dan lebih memilih mengambil ponselnya, bahkan kini Ayu memiringkan sedikit tubuhnya membelakangi Ardy, membuat Ardy tertawa terbahak-bahak.


Itulah yang dilakukan istrinya saat ia menyinggung masalah untuk kembali melakukan program, agar mereka mendapatkan anak lagi.


Bukan hanya Ardy yang sudah ingin memiliki anak lagi, tapi begitu juga dengan Rafif. Ia seringkali meminta untuk memiliki adik dan selalu bertanya mengapa teman-temannya sudah memiliki adik sedangkan dia tidak.


"Iya, aku hanya bercanda. Kita akan melakukan program jika kamu benar-benar siap," ucap Ardy menarik tangan Ayu agar kembali bermanja padanya, walau usia pernikahan mereka sudah masuk ke usia ke-6 tahun. Namun, tetap saja rasa cinta mereka semakin tumbuh dan semakin romantis.

__ADS_1


"Bener ya, Mas. Kita melakukan program saat aku benar-benar siap," ucapnya membuat Ardy hanya mengangguk sembari menahan tawanya melihat ekspresi istrinya.


__ADS_2