
Sesampainya di rumah Ayu langsung memandikan Rafif. Namun, saat menyambuni bagaikan kaki anaknya, Rafif meringis kesakitan, membuat Ayu terkejut dan langsung mengecek apa yang membuat anaknya itu meringis kesakitan.
Alangkah terkejutnya saat ia melihat ada luka gores di sana dan itu cukup lebar menurutnya.
"Ya ampun, kamu terkena batu karang?" tanyanya membuat anak itu hanya merintis kesakitan saat ayo memeriksa lukanya.
"Ibu jangan ditekan-tekan rasanya sakit," keluh Rafif membuat Ayu menjadi semakin panik.
"Apa sangat sakit?" tanya Ayu, membuat Rafif pun mengangguk dan terlihat ada tetesan darah yang mengalir saat ayu kembali menekannya.
"Ayahhh ... ibuuu... Mas Ardiiii...," teriak Ayu yang melihat darah yang menetes di kaki putranya. semakin banyak saat Rafif mencabut batu karang kecil yang tadi sempat melekat pada kakinya.
Ayah, Ibu Ayu dan Ardi yang mendengarnya langsung berlari menuju ke kamar mandi, begitu pun dengan Chika.
"Ada apa?" tanya mereka secara bersamaan dan mereka semua sangat terkejut saat Ayu menunjuk luka di kaki Rafif sambil terisak.
Semua melihat luka itu yang kini telah bersih karena Rafif terus menyiramnya dengan air mengalir.
"Ada apa?" tanya Ardy pada putranya, Rafif sendiri hanya mengangkat bahunya saat saling bertatapan dengan ayahnya.
__ADS_1
"Apa rasanya sakit?" tanya Ardi Rafif kembali menggelang.
Semua bingung, Rafif terlihat baik saja, justru Ayu lah yang terus aja menangis karena mengkhawatirkan putranya.
"Ya udah, ayo mandi dulu," ucap Ardi kemudian menyiram tubuh putranya yang penuh dengan sabun, setelahnya ia langsung menggendong Rafif untuk keluar.
"Kita bawa ke puskesmas, aku ambilkan bajunya dulu," ucap Ayu bergegas berlari mengambil pakaian ganti Rafif yang duduk di ruang tengah kemudian memakaikannya. Sementara itu Ardi mulai membersihkan luka putranya. Lukanya itu sudah tak mengeluarkan darah lagi. Kakek memberikan obat dan sekarang luka itu sudah diperban.
"Ini sudah nggak apa-apa. Nggak usah dibawa ke puskesmas," ucap Ayah Ayu yang dibenarkan oleh Ardi.
"Enggak, nanti bisa bernanah jika tak bersih. kita bawa ke puskesmas saja, dibersihkan dulu biar lebih aman," ucap Ayu yang masih belum tenang, membuat Ardy pun hanya mengalah dan menyetujui untuk membawa Rafif ke Puskesmas.
Ayah Ayu dan Ardy memutuskan untuk melakukan salat berjamaah di masjid, sementara Ayu bergantian dengan Chika menjaga Rafif yang kini terlihat duduk dengan tenang sambil memakan makanan yang disuapkan oleh neneknya, sambil menonton acara televisi yang sedang ditontonnya. Ia merasa lapar sehabis bermain di pantai.
Setelah mereka semua melaksanakan salat magrib, Ardy pun menghampiri putranya.
"Hai jagoan, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Ardi membuat anaknya pun mengangguk.
"Iya, Yah! Ini hanya luka kecil, besok juga sembuh. Nggak papa kok, nggak usah dibawa ke rumah sakit," ucapnya.
__ADS_1
"Nggak boleh, Sayang. Kita harus bawa ke puskesmas, takutnya infeksi. Nanti ada dokter Siti yang akan mengobati Kamu, orangnya baik kok, nggak galak."
"Tapi, nggak disuntik kan, Bu?" tanya Rafif yang takut dengan jarum suntik, membuat Ayu pun mengangguk.
"Enggak, kok. Cuman dibersihin dikit aja."
Mendengar penjelasan itu, Rafif pun hanya mengangguk dan melihat ke arah ayahnya. Ardy juga mengangguk, agar anaknya itu patuh dan mau dibawa ke rumah sakit, walau sebenarnya luka itu bisa saja tak di bawah, hanya Ayu yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan putranya.
Ayu mengirim pesan kepada Pipit, mengabarkan jika dia sedang menuju ke rumah sakit untuk segera menunggunya, juga menanyakan dokter siapa saja yang sedang berjaga di sana.
Mengingat sudah masuk pergantian shift malam.
"Iya, datanglah. Kebetulan aku dan dokter Siti yang piket, sekalian aku juga sangat merindukanmu. Kamu kok nggak memberi kabar jika mau datang?" balas Pipit.
"Iya, maaf. Soalnya dadakan. Ya udah, sekarang aku menuju ke sana."
"Siap, aku tunggu," jawab Pipit.
Ardi pun mulai melajukan mobilnya untuk mengantar putra mereka mengobati luka di kakinya, yang hanya terkena goresan batu karang.
__ADS_1
Ditemani Chika dan tentu saja Ayu, di samping putranya, sedangkan ayah dan ibu Ayu memilih untuk tinggal di rumah saja, mereka juga sebenarnya juga menyarankan untuk tak usah membawanya ke rumah sakit, mengingat Ayu saja dulu sering mendapatkan luka itu saat pergi berenang di pantai dan mereka hanya memberi obat. Besoknya Ayu kembali sehat, berlari tanpa dibawa ke rumah sakit. Namun, melihat anaknya yang begitu khawatir membuat ia membiarkan saja, mungkin dengan membawanya ke rumah sakit Ayu bisa lebih tenang.