Pacar Onlineku

Pacar Onlineku
Resiko punya Suami Tampan


__ADS_3

Kabar Ayu akan datang ke rumah sakit membawa putranya, membuat rumah sakit menjadi heboh. Walaupun Ardy sudah menikah. Namun, mereka semua masih mengagumi sosok Ardy yang tampannya di atas rata-rata.


Dokter Siti dan juga Pipit sudah menunggu mereka di ruang UGD, di mana mereka sekarang bertugas di sana. Saat Ardy datang, keduanya langsung menghampirinya dan melihat Ardy yang menggendong Rafif.


"Ini apanya yang sakit?" tanya Dokter Siti.


"Ini dokter, kakinya tadi terkena karang saat mandi di laut," jawab Ardy sambil berjalan mengikuti dokter Siti yang menuju ke salah satu ranjang rumah sakit dan menidurkan Rafif di sana.


"Anak pintar, dokter periksa dulu ya lukanya," ucap dokter Siti menatap Rafif, membuat Rafif pun mengangguk dan dokter Siti mulai membuka perban yang membalut kaki anak Ayu itu.


Pipit sudah menyiapkan beberapa perlengkapan yang mungkin saja dokter Siti butuhkan. Namun, keduanya tercengang saat melihat luka yang ada di kaki Rafif yang hanya berupa goresan kecil.


"Lukanya hanya ini?" tanyanya melihat ke arah Ayu membuat Ayu pun mengangguk.


"Ayu, kamu itu seorang perawat jika luka seperti ini aku rasa kamu juga bisa mengobatinya, ini dikasih betadine juga sudah cukup," jelas dokter kemudian ia pun memijat pelan luka yang ada di kaki Rafif.


"Apa masih sakit, Nak?" tanyanya membuat Rafif menggeleng.


"Sudah nggak sakit, tadi sih sakit waktu awal-awal, tapi sekarang udah nggak," jawabnya membuat dokter Siti pun hanya menghela nafas kemudian ia hanya memberikan betadin dan plaster, sudah selesai. Tanpa di perban pun lukanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Dokter, ini nggak diperiksa dulu? Siapa tahu saja kan ada sisa-sisa batu karang yang ada di dalam kaki anakku, takutnya nanti akan infeksi."


"Anakmu mengatakan sudah nggak sakit kan, itu berarti sudah nggak ada dan lihat ini hanya sebuah goresan kecil," ucap dokter bahkan memijat-mijat kaki Rafif saat memeriksanya dan lukanya sudah sangat bersih.


"Aku hanya khawatir, Dokter," jawab Ayu yang merasa tak enak karena telah membuat rumah sakit begitu heboh, ia bisa melihat beberapa perawat bahkan memenuhi ruangan tersebut.


"Ya sudah dokter, kalau begitu kami permisi dulu. Ini nggak usah dikasih obat 'kan?" tanyanya membuat dokter pun mengangguk.


Ardy menggendong putranya kembali ke mobil, sebelum sampai ke mobil beberapa perawat teman Ayu meminta foto, awalnya Ardy tak mau. Namun, mereka terus memaksa membuat Ardy pun melakukan foto bersama mereka sambil menggendong Rafif.


Ayu yang melihatnya merasa sangat kesal, melihat pemandangan di mana Ayu dikerumuni oleh teman-temannya, ia ingin melarang mereka. Namun, ia merasa tak enak, membuat ia hanya melihat ke arah Ardy dan mengerutkan bibirnya.


Ayu berjalan masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya. Ardy yang mengerti jika istrinya mungkin saja cemburu, ia meminta berpamitan kepada mereka semua walau mereka masih tak mau melepaskan Ardy, Ardy tetap meminta maaf dan segera menuju ke mobilnya. Mendudukkan Rafif di jok belakang dan kemudian ia pun bergegas naik ke kursi kemudi.


"Kamu itu kenapa sih, mereka kan hanya minta foto. Apa salahnya. Tadi juga aku sudah menolak. Namun, mereka memaksa."


"Ya walaupun mereka memaksa kamu terus menolak dong, tapi sepertinya kamu senang berfoto bersama dengan mereka, bahkan aku lihat beberapa tadi memelukmu dan kamu biasa saja," ucap Ayu melipat tangannya di dada.


"Kamu cemburu, ya?" goda Ardy membuat Ayu memalingkan wajahnya dan masih melipat tangannya di dada, sementara Rafif di belakang hanya memperhatikan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ardy sendiri sesekali hanya tertawa saat melihat ekspresi istrinya saat ia melontarkan kata-kata rayuan, bukannya senang Ayu malah menutup telinganya dan memperlihatkan ekspresi ingin muntah mendengar gombalan-gombalan dari Ardy.


Rafif yang mengerti, terus saja tertawa cekikikan begitupun dengan Ardy.


"Kalian kok ngetawain ibu, apa salah jika ibu cemburu jika suami ibu dekat-dekat dengan wanita lain," ucapnya melihat ke arah Rafif dan anak itu pun menggeleng.


"Ibu sih sudah tahu setiap kita ke rumah sakit Ayah di kerumuni oleh teman-teman Ibu, Ibu masih saja membawaku. Lihat lukaku baik-baik saja kan. Dokter juga mengatakan jika lukaku tak apa-apa."


"Iya, lain kali jika kita membutuhkan perawatan kita pergi ke rumah sakit lain saja, jangan ke Puskesmas ibu, mereka bersikap seperti itu karena mengenal kalian," ucap Ayu membuat Ardy hanya menghela nafas.


Begitu sampai di rumah ibu Ayu langsung menghampiri mereka dan langsung menggendong Rafif untuk turun dari mobil.


"Bagaimana? Apa kata dokter?" tanya ibu pada Ayu yang baru turun.


"Katanya nggak apa-apa, Bu. Lukanya nggak perlu dikhawatirkan, hanya perlu di plester saja," jelas Ayu membuat ibu pun hanya tersenyum karena ia memang yakin sejak awal jika kaki cucunya itu baik-baik saja.


"Ya sudah, malam ini Rafif tidur sama nenek, ya?" ucapnya membuat Rafif pun mengangguk dan masih berada di pelukan neneknya.


"Bu, biar saya yang menggendong Rafif, dia kan sangat berat," ucap Ardy yang melihat ibu mertuanya itu terlihat kesusahan menggendong cucunya yang memang sudah besar.

__ADS_1


"Nggak usah, ibu bisa, kok," ucapnya kemudian ibu pun berjalan menuju ke kamar, sementara Ayu juga menyusul ibunya. Ardy sendiri menghampiri ayah mertuanya yang duduk di ruang tengah sambil meminum kopi.


Chika yang melihat Ardy sudah datang langsung menuju ke dapur dan membuatkan kopi untuk kakak iparnya, setelahnya ia pun ikut masuk ke kamar bersama dengan Ayu, Rafif dan juga ibunya. Malam ini ia juga ingin tidur bersama mereka. Malam itu Ibu, Ayu, Chika dan Rafif tider bersama, sedangkan Ardy tidur dikamarnya sendiri dan Ayah Ayu tidur di kamar tamu.


__ADS_2