
Sesampainya di ibukota, kedatangan mereka sudah disambut oleh ayah dan ibu Ardy. Satu hari saja tak melihat cucu mereka, keduanya sudah sangat merindukan sosok Rafif.
"Kakek, Nenek!" panggil Rafif berlari ke arah kakek dan neneknya dan disambut pelukan hangat oleh keduanya.
"Cucu nenek semakin tampan saja, baru juga beberapa hari yang nenek tak melihatmu, kamu sudah semakin tampan saja seperti ini" ucap ibu Ardi mencubit gemes pipi cucunya kemudian mencium keningnya.
Ayah Ardi mengusap rambut cucunya dengan penuh sayang dan juga penuh rasa cinta. Ia juga sudah sangat merindukan sosok yang selama ini selalu membuat kegaduhan di rumah mereka. Dua hari mereka tak ada rumah, rumah terasa sepi. Keduanya tak bisa membayangkan jika mereka benar-benar akan pindah rumah sendiri, di mana Ardy sudah berencana ingin membeli rumah untuk keluarga kecilnya, walau keduanya sudah mengatakan dan meminta untuk mereka tinggal di rumah bersama mereka saja.
"Nenek, apa nenek tahu? Waktu di kampung aku manjat pohon sangat tinggi, sampai ayah saja tak berani memanjang untuk menolongku. Ayah harus menggunakan tangga," ucap Rafif mulai menceritakan panjang lebar tentang apa yang dilakukannya di desa, kakeknya mendengar cerita itu langsung melihat anak dan menantunya.
Ibu dan Ayah Ardy melihat ke arah anaknya dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Memanjat apa?" tanya keduanya secara bersamaan.
"Iya, Rafif memanjat pohon mangga yang ada di depan rumah Ayu itu loh Bu, Yah! Pohon mangga yang tinggi jelas Ardy membuat keduanya sangat terkejut.
"Bagaimana caranya dia bisa memanjat? Kamu Yang benar saja, hanya Ibu tak percaya karena saat terakhir ia pergi ke rumah Ayu, pohon mangga itu sudah sangatlah tinggi, tak mungkin cucunya yang tak pernah memanjat bisa memanjat pohon setinggi itu.
"Beneran, Nek. Ayah nggak bohong, Rafif benar-benar manjat dan dibantu oleh tante Chika," jelas Rafif membuat kedua orang tua Ardy kembali melihat ke arah Ardy dan juga Ayu dan kedua pasang suami istri itu pun mengangguk, mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh putranya.
"Apa ada yang terluka? Kamu nggak jatuh kan tanyanya membuat grafikku menggeleng.
"Enggak dong, Nek kami makan mangga di atas sana, memetik buah mangga dan memakannya seperti ini," ucap Rafif memperagakan dengan seolah-olah ia menggigit mangga di tangannya, terus ibu dan meminta kami untuk turun, tapi Rafif nggak bisa turun, akhirnya Ayah membantu Rafif turun dengan menggunakan tangga.
__ADS_1
"Hal itu sangat berbahaya, Nak. Kamu nggak boleh melakukannya lagi, untung saja ada Ayah kamu uang mau menolong, bagaimana jika tidak siapa yang akan menolongmu ucap Ibu Ardi membuat kemudian mereka pun berjalan beriringan menuju ke mobil yang sudah menjemput mereka, sepanjang perjalanan pulang, Rafif terus bercerita panjang lebar tentang apa saja yang dilakukannya di kampung mulai saat iya bermain di bersama dengan Chika memanjat pohon kembali menceritakan semuanya, terakhir piknik dan bermain bersama di pantai dengan banyak anak-anak seusianya.
"Oh ya, Nenek lihat, Nek. Ini luka saat Rafif bermain di laut, nggak sengaja terkena batu karang," ucapnya menunjuk luka yang ada di telapak kakinya, yang masih menggunakan bahan plester.
"Ayu, apa ini lukanya parah? Apa sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya ibu Ardi. Ayu Rafif dan ibu Ardi duduk di kursi belakang, sedangkan Ardy membawa kemudi dengan ayahnya yang duduk di samping. Ayah juga melihat ke arah belakang mencoba melihat luka di telapak kaki cucunya.
"Iya Bu, aku sudah membawanya ke dokter kata dokter itu hanya luka goresan kecil katanya nggak apa-apa, jelas Ayu membuat Ibu Ardi pun mengangguk dan merasa lega.
"Rafif, apa kakinya sama masih sakit lqgi?" tanya nenek membuat Rafif pun menggeleng .
"Nggak, Nek. Ini nggak sakit lagi, tapi Ibu masih tetap memberikan plester, padahal lukanya sudah sembuh, nggak ada sakit-sakitnya," jelas Rafif membuat Ibu Ardy pun mencoba membuka plaster tersebut, ia menghela nafas saat melihat luka yang terlihat sudah sangat mengering, luka itu seperti hanya sebuah goresan saja.
__ADS_1
"Ayu, jika luka sekecil ini, tak perlu memakai plaster, ini malah akan membuatnya, semakin lama sembuh jika memakai plester seperti ini, biarkan saja, nanti juga ia bisa sembuh sendiri, jelas Ibu Ardy.