
Selama 2 minggu, Ayu mendapat perawatan di rumah sakit, selama 2 minggu pula Ayu selalu berbaring di ranjang rumah sakit sesuai dengan apa yang diberitahukan oleh dokter. Jika ia belum boleh terlalu banyak bergerak, walau saat ini kondisi janinnya sudah dikatakan baik-baik saja. Namun, resiko akan adanya keguguran masih mungkin saja dapat terjadi.
Dua minggu selama di rumah sakit, Ardy tak pernah ke kantor, ia 24 jam menemani Ayu di rumah sakit, bahkan saat ke kamar mandi Ardy tak membiarkan Ayu untuk jalan. Ardy mengangkat Ayu dan membantunya untuk melakukan segala sesuatunya bahkan memandikan Ayu.
"Mas, aku bisa mandi sendiri. Tunggulah di luar," pinta Ayu, di mana hari ini dokter sudah mengizinkan Ayu untuk pulang. Namun, tetap saja di rumah dia juga masih harus berhati-hati dengan kandungannya, masih perlu sangat dijaga.
"Emangnya kenapa sih kalau aku mau mandikanmu, kan selama ini juga aku memandikan mu."
"Aku nggak enak, Mas. Di luar banyak orang."
__ADS_1
Mendengar itu Ardy tertawa di mana di luar sana semua keluarga Ardy ada begitupun dengan keluarganya berkumpul. Ayah, ibu dan Chika langsung datang ke ibukota saat mendengar kabar kondisi Ayu.
"Sudah, mereka itu semua tahu jika kita ini suami istri dan aku yakin mereka tak ada yang keberatan, mungkin bahkan jika aku keluar meninggalkanmu sendiri, aku akan kena marah pada ibuku dan ibumu," ucap Ardy yang kini sudah membantu Ayu untuk membersihkan tubuhnya, sekarang Ayu lebih bebas bergerak karena sudah tak ada lagi selang infus yang menempel di tangannya, ia juga sudah tak merasa sakit atau merasakan hal-hal lain lagi, ia merasa dirinya sudah sehat bugar. Namun, tetap saja ia masih terus berhati-hati untuk bergerak, takut jika sampai terjadi sesuatu pada bayi yang ada dalam perutnya, dimana usia bayi tersebut masih sangatlah rentan.
Setelah membersihkan diri, mereka pun pulang ke rumah Ardy, lagi-lagi Ardy mengangkat Ayu saat mobil telah terparkir di depan rumah.
"Mas, aku bisa jalan sendiri," tolak Ayu.
"Tuh kan mereka itu nggak masalah jika aku memanjakanmu," bisik Ardy yang kini sudah mengangkat Ayu menuju ke lantai dua yang ada kamar mereka, tadinya ibu Ardy menyarankan untuk mereka pindah ke lantai bawah. Namun, Ardy mengatakan jika mereka tetap di lantai dua saja. Ayu tak akan naik turun, tapi dialah yang akan menjaga Ayu sampai kondisi janinnya sudah kuat, jika perlu Ardy akan menyewa asisten rumah tangga khusus untuk melayani Ayu sehingga Ayu tak usah turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Setelah Ardy dan Ayu masuk ke kamarnya, kedua keluarga itu pun langsung menuju ke meja makan, waktu makan siang telah tiba. Bibi juga sudah memasakkan makanan untuk mereka, saat mereka memulai makan ibu Ardy pun menyiapkan beberapa menu masakan dan dipisahkan di atas nampan.
"Chika, bisa ibu minta tolong?" ucap ibu Ardy membuat Chika yang belum memulai makan pun mengangguk.
"Ibu mau bawa makanan ini ke atas untuk Ayu dan Ardy, tolong bawakan minumnya, ya," ucap ibu Ardy membuat Chika dengan sigap mengambil air minum yang sudah disediakan oleh mertua kakaknya itu, bukan hanya air mineral, di sana juga terdapat susu ibu hamil yang sudah dibuatkan oleh ibu mertua dari kakaknya.
Ibu Ayu bisa melihat bagaimana mertua anaknya itu sangat memperhatikan putrinya, juga kedua kakak ipar Ayu sudah sangat berubah dari terakhir mereka bertemu dan semua itu membuat ibu Ayu yang selama ini cemas akan kondisi putrinya, kini merasa lega. Ayu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
Selepas ibu Ardy dan Chika naik ke lantai 2, mereka pun memulai makan.
__ADS_1
"Oh ya, Pak. Besok kami rencana sudah akan kembali," ucap ayah ayu membuat ayah Ardy pun mempersilahkan, ia juga mengerti pasti besannya itu mempunyai pekerjaan di kampungnya, mengingat dia adalah seorang pengajar sedangkan dia sudah satu minggu lebih tinggal di ibukota dan meninggalkan pekerjaannya. Begitupun dengan Chika yang masih sekolah pasti, dia tak punya banyak waktu untuk meminta izin dari ke sekolahnya.