
Pagi hari Ardy pun mengajak Ayu untuk ikut dengannya ke kantor. Ardy ingin memperkenalkan tempat bekerjanya kepada istrinya.
"Ini serius Mas aku ikut ke kantor? Apa aku takkan mengganggu?" tanya Ayu walaupun tak pernah masuk ke dalam perusahaan di mana suaminya bekerja. Namun, ia tahu dimana suaminya itu bekerja, ia pernah melihatnya saat mereka belum menikah dulu.
"Iya nggak masalah dong, kamu kan pergi bersama dengan suamimu dan menemani suamimu bekerja," ucap Ardy mengecup gemas Istrinya.
"Aku siap-siap dulu," ucap Ayu. Ayu pun memilih beberapa gaun yang kemarin dibelinya, dia sangat bersyukur kemarin bertemu dengan Anya sehingga dia memiliki pakaian yang pantas untuk mendampingi Ardy, ia bisa melihat pakaian-pakaian Ardy yang sudah pasti harganya juga sangatlah mahal.
Ayu memilih gaun yang kemarin dibelinya tentu saja dengan harga yang juga tak kalah mahalnya dari setelan jas Arsy.
Ayu memilih hijab dengan warna yang senada, kemudian ia pun memilih tas yang akan digunakannya, begitu juga dengan sendalnya, semua yang di pakainya terlihat sangat modis.
Ayu melihat penampilannya di depan cermin di mana suaminya juga sedang bersiap-siap, memasang dasinya di cermin yang sama.
"Mas, apa ini tidak terlalu berlebihan, ya?" tanya Ayu melihat penampilannya. Jika di total-total outfit yang dia gunakan mencapai ratusan juta.
"Tentu saja ini tidak akan berlebihan," ucap Ardy kemudian ia pun menuju ke sebuah laci, mengambil liontin yang kemarin dibelinya. Ardy pun memasangnya ke leher Ayu.
__ADS_1
"Bagaimana, cantik kan?" ucapnya setelah kalung itu melingkar dengan sangat pas di leher sang istri, menambahkan sebuah kecupan di sana membuat Ayu merasa geli. Namun, ia sangat suka melihat kalung itu.
"Terima kasih ya Mas atas semuanya," ucap Ayu memegang kalung yang melingkar di lehernya, terlihat sederhana. Namun, elegan.
Jika Ayu tahu berapa harga kalung itu sudah pasti dia akan pingsan, Ardy sengaja membuka label harga pada kalung tersebut, agar Ayu tak lagi memusingkan masalah harganya.
Mereka pun berangkat ke kantor bersama-sama, tentu saja setelah berpamitan kepada ibu dan ayah Ardy yang kebetulan tak keluar rumah.
Ibu Ardy sangat senang melihat penampilan Ayu hari ini. Dengan penampilan menantunya yang terlihat lebih cantik dan elagan , Sepertinya ia harus lebih sering mengajak Ayu ke salon agar terlihat lebih cantik dan itu pasti bisa menyenangkan anaknya.
Begitu mereka masuk ke ruangan Ardy, Ayu kembali tercengang saat melihat ruangan yang begitu megah, di dalam sana ada lemari yang menjulang tinggi, meja besar dan juga kursi yang pasti itu adalah milik Ardy. Semua terlihat mencerminkan seorang pemimpin dengan kedudukan tertinggi di perusahaan itu dan itu sangat mewah di mata Ayu.
Semua yang dilihatnya saat ini sangat jauh dari prediksinya, tadinya ia berpikir ruangan Ardy sama halnya dengan ruangan kepala rumah sakit di mana ia sering melihat bosnya itu mengerjakan pekerjaannya di ruangannya. Namun, ternyata ruangannya sangat berbeda dan juga sangat nyaman tentunya.
"Jika bekerja di ruangan senyaman ini pasti tak akan lelah ya, Mas?" ucap Ayu yang kini duduk di depan kursi Ardy, sedangkan Ardy sendiri duduk di kursi kebesarannya dan mulai menyalakan laptop dan memeriksa beberapa berkas yang ada di hadapannya.
"Tentu saja, apalagi jika ditemani istri secantik kamu, pasti lamanya waktu bekerja tak akan terasa," ucap Ardy membuat Ayu pun hanya tersenyum .
__ADS_1
Sepanjang hari Ayu terus membantu Ardy untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya, Ayu tak terlalu banyak tahu tentang pekerjaan bisnis Ardy. Namun, ia sedikit membantu, Ardy memintanya untuk menyusun beberapa berkas dan menyatukannya dengan yang sejenis. Semua itu merupakan hal yang bisa dilakukan oleh Ayu, mereka bekerja sambil sesekali bercanda bahkan mereka melewatkan makan siangnya.
Ardy memilih untuk makan siang bersama di kantornya dan hanya memesan makanan dari luar.
Ardy tak menyangka jika kehadiran Ayu sangatlah membantu, bahkan ia tanpa sadar bekerja hingga pukul 10.00 malam. Jika tak diingatkan oleh petugas kantor lainnya, mungkin mereka tak sadar jika mereka bekerja bersama hingga tengah malam.
"Ini sudah malam, ayo kita pulang. Kita lanjutkan besok lagi," jawab Ardy mengumpulkan beberapa berkasnya dan mematikan laptopnya.
"Apa tak masalah jika aku terus ikut bekerja di kantor? Apa ibu tak akan keberatan?" tanya Ayu.
"Mengapa ibu harus keberatan, aku rasa ibu akan merasa senang jika kamu ada kegiatan dan membantuku. Lagian ibu itu juga jarang tinggal di rumah, jika aku meninggalkanmu di rumah pasti kamu akan bosan sendirian," ucap Ardy membuat Ayu pun mengangguk dan menurut saja apa yang dikatakan oleh suaminya, kemudian mereka pun pulang. Namun, mereka tak langsung pulang ke rumah, Ardy kembali membawa Ayu untuk berjalan-jalan, menikmati suasana malam layaknya seorang yang sedang dimabuk asmara.
Mereka bergabung dengan beberapa pasang muda-mudi lainnya yang sedang berkencan, menikmati pemandangan ibukota hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam barulah mereka meninggalkan taman kota itu dan menuju ke kediaman mereka. Ayu sangat bahagia hari ini, ia merasa bahwa mereka merasakan masa-masa pacaran yang begitu sangat membahagiakan, ternyata keputusannya untuk mempercepat pernikahan mereka tanpa melakukan taaruf yang berlama-lama itu adalah keputusan yang tepat, mereka saling mencintai adalah suatu hal yang sudah sangat diperlukan dalam sebuah hubungan pernikahan.
Walaupun Ayu dan juga Ardy jarang bertemu dan belum tahu satu sama lain. Namun, karena cinta mereka yang begitu kuat, akhirnya mereka dibawa pada sebuah hubungan yang sangat membahagiakan keduanya.
Ayu yang sangat lelah seharian bersama dengan Ardy membuat ia tidur lebih awal dari Ardy, begitu Ayu selesai membersihkan tubuh dan membaringkan dirinya ia langsung tertidur sedangkan Ardy hanya menggeleng melihat istrinya. Tadinya ia ingin istrinya itu melayaninya. Namun, melihat istrinya yang terlihat kelelahan Ardy pun mengerti dan mencoba menahan diri, ia hanya tidur sambil memeluk istrinya.
__ADS_1