Pacar Onlineku

Pacar Onlineku
Kebaikan Rafif


__ADS_3

Disinilah Rafif berada, di sebuah ruangan kelasnya di mana di dalam kelas itu terdapat 10 anak yang akan belajar bersamanya.


Rafif sekolah di sekolah internasional, membuat teman kelasnya banyak yang berkewarganegaraan asing. Namun, itu tak membuat ia membeda-bedakan mereka.


Guru yang akan mengajar di kelas mereka pun masuk, mereka diberitahu beberapa aturan di sekolah. Mereka semua mengangguk mengerti dan mereka hari ini hanya akan melakukan beberapa perkenalan saja dan berinteraksi antara guru dan murid yang lainnya.


"Oke anak-anak, hari ini kita akan coba memperkenalkan diri, mulai dari nama, usia, cita-cita dan apa pekerjaan orang tua kalian dan kalian bisa sedikit bercerita tentang kehidupan kalian di rumah," jelas guru tersebit. "Oke siapa yang ingin memulai?" ucap guru yang mengajar mereka.


Salah satu anak yang duduk di bangku paling depan mengangkat tangannya.


"Oke, salah satu teman kalian akan memperkenalkan diri dan akan bercerita tentang kehidupannya. Ayo mulai," ucap guru tersebut.


Anak itu pun mulai memperkenalkan diri, usia dan juga menceritakan tentang pekerjaan kedua orang tuanya, di mana orang tuanya bekerja di sebuah restoran lebih tepatnya pemilik restoran, membuat mereka pun semua bertepuk tangan, tak lupa ia juga menceritakan bagaimana orang tuanya sangat menyayanginya dan selalu memenuhi apa yang diinginkannya.


Semua bertepuk tangan kembali setelah anak itu selesai memperkenalkan diri.


"Ayo, siapa lagi?" tanya sang guru membuat yang lainnya kembali mengangkat tangan. Mereka satu persatu mengangkat tangan dan memperkenalkan diri mereka semua, membanggakan ayah dan ibu mereka yang merupakan seorang pebisnis dan memamerkan berapa banyak kekayaan mereka. Di usia mereka yang baru berumur 5 tahun, mereka sudah mengerti akan apa itu arti dari kekayaan orang tua. Mereka tak segan-segan juga memamerkan barang-barang mewah yang mereka miliki, menyebutkan berapa harga tas yang mereka pakai.


"Ayo, Rafif. Sekarang tinggal kamu seorang, sekarang giliran Rafif, ya," ucap guru pembimbing tersebut membuat Rafif pun mengangguk, karena memang hanya tinggal dirinya seorang yang belum memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Hai, namaku Rafif Syabani, aku berusia 5 tahun, cita-citaku aku ingin menjadi seorang pebisnis seperti ayahku," ucapnya kemudian melihat ke arah ibu guru.


"Sekarang Rafif boleh menceritakan apa yang ingin Rafif ceritakan," ucap guru tersebut membuat Rafif kembali mengangguk.


"Ayahku seorang CEO di perusahaan yang entahlah, aku tak tahu nama perusahaan ayahku, tapi dia bekerja di sebuah gedung yang sangat tinggi. Ibuku hanya bekerja di rumah, memasak makanan yang enak dan juga menemaniku bermain. Aku punya kakek dan nenek yang sangat menyayangiku, paman dan bibi serta semua kakak sepupuku, mereka semua sangat menyayangiku. Oh ya, setiap akhir pekan kami akan pergi ke sebuah panti asuhan, membagi-bagikan sebagian rezeki yang kami miliki. Anak-anak di sana tak seberuntung kita semua yang ada di sini, mereka tak punya ayah dan ibu, kakek dan nenek. Mereka hidup sebatang kara. Kata ayah dan ibu kita harus berbagi pada mereka, jika bukan kita yang membantu mereka, siapa lagi. Karena kita memiliki rezeki yang lebih."


"Mengapa kita harus berbagi? Bukannya itu adalah penghasilan kedua orang tua kita, dia sudah bekerja dan menghasilkan uang."


"Kata ayahku semua rezeki itu pemberian tuhan dan kita harus bersyukur dengan apa yang tuhan berikan, ya dengan cara membagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, salah satunya adalah anak-anak yatim yang berada di panti asuhan," jelas Rafif.


"Ayah dan ibuku tak pernah mengatakan hal itu," ucap salah satu anak.


"Siapa bilang aku tak punya harta, harta ayah dan ibuku sangat banyak," ucapnya tak mau kalah.


"Ayah dan ibuku juga sering mengajakku ke tempat-tempat seperti yang Rafif maksud dan mereka juga menjelaskan jika berbagi adalah hal yang sangat baik untuk kita, terkadang aku juga ingin berbagi, tapi aku belum punya uang," ucap salah satu dari mereka lagi.


"Jika nanti kamu ingin pergi ke panti asuhan, ajak aku ya, aku juga ingin berbagi."


"Kata ibu berbagi bukan hanya dengan uang, dengan mainan kita, pakaian kita yang sudah tak kita pakai juga boleh, yang penting masih bagus," jelas Rafif membuat yang lainnya jadi semangat untuk berbagi bersama dengan yang lainnya.

__ADS_1


Kelas itu pun heboh, mereka membahas masalah apa yang diangkat oleh Rafif tadi.


"Ya sudah Rafif, terima kasih ya silakan duduk," ucapin bu guru kemudian ibu guru pun lebih menjelaskan lagi apa makna berbagi dan bersyukur dengan harta yang mereka miliki. Ibu guru itu juga menjelaskan jika mereka tak boleh bersikap manja atau menghambur-hamburkan uang, walau mereka memiliki ayah dan ibu yang memiliki penghasilan yang lebih, berbagi memanglah sangat baik dan juga mengajari mereka bagaimana cara menabung dan apa arti dari menabung.


Bel pun berbunyi, bel pertama mereka diizinkan untuk membuka bekal mereka masing-masing. Rafif langsung membuka bekalnya dan melihat begitu banyak makanan yang ada di sana.


"Wah ... Rafif makanan kamu banyak sekali. Apa kamu bisa menghabiskannya?" sahut ibu guru yang memeriksa mereka semua, membantu anak-anak yang tak bisa membuka kotak bekal mereka termasuk Rafif.


"Ya nggak bisa lah Ibu guru," jawab Rafif sambil tertawa. "Ini kan jumlahnya sangat banyak nanti perut Rafif bisa meledak jika memakan semua ini," jelasnya.


"Kalau begitu tanyakan pada ibu ya, besok jika makanannya nggak usah dibawa sebanyak ini," ucap ibu guru lagi.


"Kata ibu makanan ini boleh dibagi-bagi kepada teman yang bekalnya tak cukup," jawab Rafif kemudian ia pun berdiri dan melihat teman-temannya. "Apa ada di antara kalian yang ingin berbagi bekal denganku? Bekalku banyak," ucap Rafif membuat beberapa anak pun mengangkat tangan dan mendekat ke arah Rafif, di mana ada dari mereka yang tak sempat membawa bekal.


"Ya sudah, kalian makan sama-sama, ya," ucap ibu guru membuat beberapa teman Rafif kini berkumpul bersama dengan Rafif dan mereka pun makan bersama bekal yang Rafif bahwa, mereka tertawa dan sesekali bercanda.


Hari pertama Rafif sudah menjadi idola di kelasnya, dengan kebaikan dan juga pengetahuan yang ia miliki.


Dihari pertama mereka tak menulis atau belajar hal-hal lain dan hanya saling mengakrabkan diri dan hari ini semua anak-anak di kelas berakhir sangat bahagia. Mereka langsung akrab satu sama lain, mengingat di kelas itu tak begitu banyak murid.

__ADS_1


Pihak sekolah sengaja melakukan hal itu, agar di dalam satu kelas itu mereka bisa saling akrab dan nyaman saat menerima pelajaran.


__ADS_2