
Beberapa bulan kemudian, kini usia kandungan Ayu sudah menginjak 7 bulan. Semua sangat perhatian padanya baik Ardy, kedua mertuanya dan juga kedua kakak Ardy.
Jika dulu Adelia orang yang paling tak menyukai Ayu. Namun, semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu itu, Adelia menjadi orang yang paling perhatian pada Ayu, bahkan hampir setiap hari Adelia datang dan menjenguk Ayu, memasakkan masakan sehat dan juga makanan yang diinginkan Ayu selama Ayu mengidam.
Adelia merasa sangat bersyukur saat Ayu mau memaafkan atas kejadian yang pernah dilakukannya, walau Ardy belum memaafkan kakaknya itu. Namun, Adelia sudah bersyukur jika Ayu memaafkannya.
Adelia tak lagi melakukan hal bodoh dengan melakukan hal-hal yang menyinggung perasaan Ayu, justru sebaliknya ia selalu berusaha untuk membuat Ayu merasa bahagia.
Semua sudah tak sabar untuk menanti kelahiran bayi yang dikandung Ayu.
Siang hari Ayu merasa sangat ingin memakan sesuatu yang manis. Namun, ia tak tahu apa yang ingin dimakannya, di usia kandungan yang sudah memasuki 7 bulan Ayu terkadang masih ingin makan sesuatu layaknya orang yang sedang mengidam. Jika dia menginginkannya ia harus memakannya sesegera mungkin. Jika tidak, air liur pasti akan selalu memenuhi rongga mulutnya.
Ayu yang berada di lantai atas keluar dari kamarnya dan melihat ke lantai bawah, di mana mertua dan kedua kakak iparnya sedang duduk bersantai di ruang tengah.
Ayu ingin meminta mereka untuk membelikan sesuatu makanan manis. Namun, ia merasa tak enak, karena selama ini selalu merepotkan mereka.
"Aku telepon Mas Ardy saja," gumam Ayu kemudian ia pun masuk ke dalam kamar mengambil ponsel dan mulai menelpon suaminya, panggilan pertama Ardy tak jawab, panggilan kedua kalinya Ardy masih tak menjawab.
"Apa Mas Ardy sedang kerja, ya?" gumam Ayu karena biasanya suami itu sangat jarang tak mengangkat panggilannya. Kemudian Ayu memutuskan untuk mengirim pesan saja, jika dia sangat ingin memakan sesuatu yang manis. Ayu meminta Ardy untuk memesankan untuknya.
__ADS_1
Lama Ayu menunggu, 1 jam, 2 jam pesannya belum juga dibalas. Kini Ayu merasa sangat gelisah, sesekali ia mengusap perutnya ia berdiri di balkon kamarnya, menunggu sampai suaminya itu datang. Ayu terus mengecek ponselnya berharap suaminya itu membalas pesannya. Namun, pesannya sudah terkirim, tapi belum dibaca oleh si penerima pesan, membuat Ayu pun akhirnya pasrah.
"Sebaiknya aku makan buah saja," gumamnya sambil berjalan turun ke lantai.
"Ayu, kamu ingin apa?" tanya Adelia saat melihat Ayu turun dari tangga.
"Enggak, Kak. Aku hanya ingin mengambil buah," jawab Ayu dengan senyuman kemudian melangkah masuk ke dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa buah apel, anggur, dan juga strawbery.
Ayu pun mulai mencuci dan mengambil pisau untuk memotong buah apel tersebut, bibi datang menghampiri.
"Biar saya bantu, Bu," ucap bibi. Namun, Ayu menolak.
"Mengapa strawberry dan anggur juga aku potong-potong, ya?" gumam Ayu yang menyadari apa yang dilakukannya, tadinya ia hanya berniat untuk memotong-potong buah apel agar ukurannya menjadi lebih kecil sedangkan anggur dan strawberry tak berencana untuk dipotongnya, karena memang ukurannya sudah kecil. Ayu menatap buah-buahan yang ada di mangkuk tersebut.
"Mengapa tak dijadikan es buah saja, ini tinggal dikasih sirup, susu dan es batu," gumamnya lagi kemudian ia meminta bibi untuk menyiapkan apa yang diinginkannya tadi. Ia memasukkan sirup, susu dan es batu sampai jadilah es buah.
Ayu mencicipi racikannya, rasanya memang enak. "Apakah sejak tadi dia memang menginginkan es buah," gumamnya.
"Apa mau ditambah buah lain? Di kulkas masih ada buah-buahan," ucap bibi membuat Ayu pun mengangguk, Ayu memakan es buahnya sambil melihat bibi mengupas beberapa buah lainnya dan menyimpannya di racikan es buah tadi, tak lama kemudian Adelia dan Anya menghampiri Ayu dan bibi yang berada di dapur.
__ADS_1
"Kalian lagi buat apa?" tanya Adelia, Ayu hanya memperlihatkan apa yang dimakannya sambil terus mengunyah makanannya.
"Wah, bagi dong," ucap Anya membuat Ayu menunjuk gelas dan mangkuk es buahnya. Ayu memakan es buah itu sambil mengobrol, tak lama kemudian Ardy datang dengan membawa beberapa kantong makanan sesuai dengan pesanan Ayu, yang ingin memakan makanan manis.
"Ayu, kamu itu mau membuat aku khawatir, tadi aku menelpon ponselmu berulang-ulang, tapi tak diangkat," ucap Ardy meletakkan semua kantongan itu ke depan Ayu dan meminta bibi untuk memindahkannya ke piring.
"Maaf, Mas. Ayu lupa membawa ponsel, ponselnya ada di kamar. Tadi Ayu menelpon Mas berkali-kali, tapi nggak diangkat juga."
"Iya, nggak papa. Maaf ya," ucap Ardy mengecup kening Ayu kemudian menunduk mengecup perut Ayu yang sudah membuncit.
"Ini banyak sekali, kamu belinya untuk Ayu?" tanya Anya begitu bibi sudah memindahkan sekitar 10 lebih makanan manis.
"Aku tak tahu Ayu suka apa, makanya aku membeli semuanya, tadi aku menelpon untuk memberitahu makanan apa yang dia suka, tapi Ayu tak mengangkatnya," ucap Ardy.
Ardy ikut makan es buah yang dibuat Ayu tadi, sementara Ayu sudah berpindah memakan makanan manis yang memang sejak tadi diinginkannya.
Ardy, Adelia dan juga Anya memperhatikan Ayu. Ayu mencicipi semua makanan tersebut dan mereka bisa melihat jika Ayu begitu senang.
Mereka semua sangat senang melihat Ayu makan dengan lahap. Bagaimana tidak, mulai dari bulan pertama sampai bulan ke lima Ayu sangat susah untuk di minta makan. Namun, bulan ke-6 sampai sekarang ia begitu lahap saat memakan sesuatu, baik itu makanan manis atau makanan pokok. Ibu, Adelia serta Anya selalu memasak sendiri makanan yang diinginkan Ayu.
__ADS_1