
Menjelang subuh, semua keluarga telah tertidur kecuali Ardy, ia tak bisa tidur dan hanya terus berdoa semoga saja Ayu dan bayinya baik-baik saja, tangannya terus menggenggam tangan Ayu begitupun tangan lainnya, ia terus mengusap perut sang istri. Ada begitu banyak harapan dan doa semoga bayinya baik-baik saja, walau ada rasa cemas jika semua itu hanyalah sebuah harapannya saja yang tak mungkin menjadi nyata.
Ayu membuka mata dan menatap mata suaminya yang juga menatapnya. "Mas, kamu nggak tidur?" tanyanya dan Ardy hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman.
"Bagaimana keadaan kamu? Apa masa sakit?" ucap Ardy kembali mengelus perut rata sang istri.
Ayu hanya menggeleng, air mata kembali jatuh disudut matanya. "Kak, aku takut," liriknya kini kembali terisak membuat yang lainnya pun ikut terbangun, termasuk Adelia yang baru saja tertidur, ia masih belum tenang sampai mengetahui kondisi bayi yang ada di dalam rahim Ayu.
"Sudahlah, semua pasti baik-baik saja. Jika memang bayi kita tak bisa selamat, berarti memang Allah menyediakan yang lebih baik lagi untuk kita kedepannya, kamu tenang ya," ucap Ardy membuat Ayu pun hanya mengangguk.
Suara adzan subuh berkumandang, membuat mereka pun bergantian untuk melaksanakan salat subuh, tak lupa mereka semua memanjatkan doa agar bayi Ayu baik-baik saja dan terakhir Ardy yang melaksanakan salat subuh, saat ibunya sudah selesai melaksanakan salat.
__ADS_1
"Aku salat dulu, ya," ucapnya pada Ayu dan melepaskan genggaman tangannya membuat Ayu pun hanya mengangguk dan memegang perutnya, tak lupa ia pun terus mendoakan keadaan bayinya di dalam sana, semoga baik-baik saja.
Ardy melaksanakan salat subuh, setelahnya ia pun menengadahkan tangannya, meminta kepada sang pencipta agar diberi kepercayaan untuk membesarkan titipannya. Ardy meminta dan menengadahkan tangannya sambil terisak, ia benar-benar pasrah dan membutuhkan bantuan dari sang penciptanya saat ini. Harta yang dimilikinya tak mampu untuk menyelamatkan kondisi istrinya saat ini.
Setelah mengeluarkan segala isi hatinya kepada sang pencipta, Ardy pun kembali ke ruangannya. Ia kembali ke posisinya yang semula, menggenggam tangan sang istri dan sesekali mengecup punggung tangannya. Hingga tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa kondisi Ayu.
"Dokter, bagaimana kondisi istriku?" tanya Ardy.
"Untuk memastikannya sebaiknya kita lakukan USG," jelas dokter, kemudian Ayu pun dibawa ke ruang pemeriksaan, dokter mulai mengoleskan gel ke perut Ayu. Semua harap-harap cemas, semua keluarga telah berkumpul dan ingin melihat bagaimana kondisi calon anggota baru di keluarga mereka.
"Alhamdulillah, Pak. Semuanya sudah kembali normal, sepertinya janinnya sudah mulai membaik, semua terlihat normal," jelas dokter yang terus ngotak-ngatik untuk memperlihatkan bagian-bagian dari dalam rahim Ayu kemudian dokter pun memperdengarkan suara detak jantung bayi tersebut.
__ADS_1
"Suara detak jantungnya juga sehat, Pak. Selamat anak Bapak anak yang kuat," ucap dokter tersebut membuat mereka semua bernafas lega.
Ayu tak bisa menahan isakannya saat mendengar kabar baik itu dan saat mendengar suara detak jantung bayinya, ia menangis hingga sesegukan. Ardy membiarkan sang istri menangis, karena ia tahu tangisan itu bukanlah tangisan kesedihan, tapi tangisan kebahagiaan.
Jika Ardy adalah seorang wanita, mungkin juga dia akan menangis tersedu-sedu seperti apa yang dilakukan oleh Ayu, ibunya dan kedua kakaknya. Namun, statusnya sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang suami, membuat ia hanya mengusap air mata yang terus jatuh menetes dari sudut matanya.
"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah. Kau mengabulkan doa-doaku, hamba berjanji akan menjaga anak dan istri hamba sebaik mungkin," ucap Ardi. Ia kembali mengecup Ayu dan menggenggam erat tangannya, mengecup berulang-ulang punggung tangannya.
"Terima kasih, dokter. Terima kasih banyak," ucap Ardy yang juga menjabat tangan dokter tersebut, karena dengan bantuannya lah istri dan anaknya bisa terselamatkan.
"Sama-sama, Pak. Semua ini adalah tugas kami untuk menyelamatkan pasien dan juga kekuatan doa dari kalian semua," ucap dokter tersebut kemudian setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya mereka pun dibawa keluar dari ruangan itu. Ayu masih harus mendapatkan perawatan yang lebih intens, Ayu kembali dipindahkan ke ruangannya. Ayu dirawat di ruangan VVIP, Ardy sangat mengutamakan kenyamanan untuk sang istri.
__ADS_1
Adelia bernafas lega, ia tak bisa menahan rasa senangnya, jika terjadi sesuatu pada bayi itu, ia takkan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Adelia, jadikan ini pelajaran berharga bagimu, walau kau tak menyukai seseorang jangan pernah berbuat seperti hal itu lagi, walau pada Ayu ataupun orang lain, jika kau memang tak menyukainya sebaiknya kamu menghindar saja, jangan menghinanya atau mencoba menyakitinya," ucap Anya membuat Adelia pun tertunduk dan mengangguk.