Pacar Onlineku

Pacar Onlineku
Ayah Yang Hebat


__ADS_3

Pagi hari Ayu sedang membantu ibunya untuk membuat sarapan untuk mereka semua.


Ayu banyak cerita tentang kehidupannya di kota bersama dengan Ardy, begitupun dengan ibu. Ia banyak menanyakan hal-hal pada putrinya yang selama ini ingin diketahuinya.


Sementara Ardy sendiri bersama dengan mertuanya pergi ke kebun, selain seorang pengajar, ayah Ayu juga memiliki kebun dan juga persawahan.


Saat ini waktu panen, membuat ayah Ayu mengecek beberapa orang yang sudah dimintanya untuk membantu dalam proses panen tersebut, hari ini adalah hari sabtu membuat ayah Ayu tak sekolah. Ardy bisa melihat begitu luasnya persawahan di daerah itu.


"Ini semua milik Ayah?" tanya Ardy menunjuk beberapa petak sawah. Ayah Ayu pun menggeleng.


"Mana mungkin semuanya milik ayah, ayah hanya dua punya petak sawah, ini cukup. Setidaknya kami selama ini tak pernah membeli beras," ucap ayah Ayu kemudian ia pun menghampiri orang yang selama ini dimintanya untuk menjaga dan menanami padi di sawah tersebut.


Mereka akan membagi hasil, ayah Ayu yang memiliki lahan dan memodalinya sedangkan orang tersebut hanya menanam dan mengurusnya hingga panen, membuat ia mendapat satu bagian dan ayah Ayu yang dapat 2 bagian. Begitupun dengan kebun sawit milik ayah Ayu, ia juga melakukan hal yang sama, ia yang memiliki lahan dan juga memberikan modal sementara orang yang menjaganya diberi satu bagian dan dia dua bagian.


"Wah, sepertinya pertanian juga cukup menjanjikan ya, Yah? Apa ada sawah yang ingin dijual? Ardy berminat membeli," ucap Ardy.


Sebenarnya Ardy membeli itu untuk mertuanya. Namun, ia tidak enak untuk mengatakannya. Membuat ia hanya mengatakan jika ia ingin membeli sawah untuk Rafif, yang tentu saja nanti pasti akan dikelola dan diurus oleh kakeknya, yaitu ayah Ayu.


"Wah ... kebetulan sekali, di sana ada sawah beberapa hektar yang mau dijual. Namun, pemiliknya tak mau menjual satu persatu membuat tak ada yang mampu membeli lahan seluas itu, mungkin kamu berminat," ucap ayah Ardy yang tahu jika putranya itu pasti bisa membeli sawah yang dimaksudnya.


"Iya, boleh. Ayo kita pergi lihat," ucap Ardy kemudian mereka pun melihat-lihat sawah yang sedang dijajakan, itu sawah yang cukup luas dan Ardy bisa melihat jika letaknya juga sangat strategis dan bagus membuat Ardy pun berminat untuk membelinya.


"Ya sudah, Yah! Masalah pembelian Ayah urus saja semuanya atas nama Ayu saja," ucap Ardy membuat ayah Ayu pun mengangguk.


Setelah makan siang tiba, mereka pun pulang dan menghampiri Ayu dan juga ibunya yang sedang memasak di dapur.


Jika di kediaman Ardy, Ayu sangat jarang memasak karena begitu banyak pembantu. Berbeda dengan di rumah, Ayu dan ibunya lah yang mengurus semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari memasak, menyapu dan membersihkan dan saat ini Chika dan juga Rafif sedang membersihkan area luar rumah.


"Apa makanannya sudah jadi?" tanya ayah menghampiri keduanya membuat ibu pun membuka tudung saji.

__ADS_1


"Iya, semuanya sudah jadi. Tinggal menunggu satu masakan lagi, Ayah dan Ardy bersihkan diri saja kemudian kita makan siang sama-sama," ucap ibu membuat Ardy pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, begitupun dengan ayah mencuci tangan di wastafel.


"Ayu sana panggil Chika dan juga Rafif, ini biar ibu yang lanjutkan," ucap ibu membuat Ayu pun membuka celemeknya dan menuju keluar, ia melihat ke kiri dan ke kanan. Namun, tak ada Chika dan juga Rafif.


"Ke mana keduanya?" gumam Ayu yang melihat jika sebagian daun mangga yang berada di halaman rumah itu sudah disapu oleh Chika dan juga Rafif. Namun, ada bagian lain yang belum selesai dan sapu keduanya tergeletak begitu saja. Ayu melihat ke garasi, motor mereka lengkap itu berarti mereka tak keluar.


"Ke mana mereka?" ucap Ayu yang sudah memeriksa ke dalam rumah mereka juga tak ada. Samar-samar Ayu mendengar suara cekikikan kemudian ia pun menengok ke atas.


"Astagfirullahaladzim," teriak Ayu saat melihat putra kesayangannya itu berada di atas pohon mangga bersama dengan Chika, mereka sedang mengupas mangga dengan cara menggigitnya dan mulai memakan mangganya yang sudah mulai matang.


Memanjat pohon dan memakan mangganya seperti yang mereka lakukan saat ini adalah cara yang Ayu ajarkan pada Chika saat kecil dulu. Saat seusia Rafif, Ayu juga sering memanjat pohon itu bersama dengan Chika. Namun, melihat Rafif berada di dalam di atas pohon, ia sangat panik di mana tak sekalipun anaknya itu pernah memanjat pohon dan pohonnya sudah sangat tinggi dibanding sewaktu ia memanjat dulu.


"Chika, apa yang kamu lakukan! Bagaimana jika Rafif jatuh. Ayo pegang dia, bantu dia untuk turun, kamu tadi naik lewat mana?" ucap Ayu yang melihat tak ada ranting yang ada di sana yang bisa dipakai sebagai pijakan.


"Ya lewat pohon lah, Kak. Kakak saja terlalu memanjakan Rafif, ternyata Rafif ini jago manjat loh," ucap Chika melihat kepanikan kakaknya.


"Rafif, ibu bilang turun!" ucap Ayu bernada perintah membuat Rafif pun ingin turun sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Ayu, kamu ini kenapa sih dari tadi aku dengar kamu tuh teriak terus," ucap Ardy yang baru saja mengenakan pakaiannya.


"Itu Rafif manjat pohon, cepat bantu dia turun. Aku nggak mau sampai anakku jatuh," ucap Ayu menarik Ardy.


Ardy yang mendengarnya juga ikut terkejut, dimana ia tahu pohon yang dimaksud Ayu mungkin saja pohon yang ada di depan rumah mereka dan pohon itu sangat tinggi, ia saja tak bisa memanjat pohon itu.


Begitu melihat putranya duduk di dahan pohon, Ardy sangat terkejut. Ia tak kalah terkejutnya dengan Ayu. Namun, ia sedikit lebih tenang karena melihat ada Chika di atas sana yang terlihat memegangi Rafif.


Bukan hanya Ayu dan juga Ardy yang terkejut, orang tua Ayu juga ikut terkejut melihat cucu mereka di atas pohon mangga, dimana pohon mangga itu cukup tinggi dan jika Rafif sampai jatuh ia pasti akan cedera.


"Ini bagaimana cara menurunkannya?" ucap Ayu membuat mereka juga bingung. Chika sendiri yang berada di atas pohon juga bingung bagaimana cara menurunkan Rafif melihat kepanikan mereka semua. Tadinya saat memanjat Chika hanya mengikuti Rafif dari belakang karena anak itu pandai memanjat sendiri dan ia juga tak yakin jika Rafif bisa turun tanpa bantuannya, tapi bagaimana cara dia membantunya.

__ADS_1


"Tunggu, jangan bergerak. Ayah ambil tangga di belakang," ucap ayah Ayu kemudian ia dan Ardy pun berlari menuju ke belakang rumah mengambil tangga dan memilih tangga yang ukurannya sangat panjang, begitu mereka sampai kembali ke pohon mangga mereka bersusah payah mendirikan tangga itu yang sangat berat dan akhirnya mereka pun berhasil. Namun, tetap saja Rafif harus turun sendiri lebih dulu sebelum mencapai anak tangga.


"Ayo Ardy naik, jemput Rafif biar kami yang memegang tangganya," ucap ayah Ayu, Ardy yang mendengar itu terdiam sejenak, karena dia sendiri takut dengan ketinggian. Namun, demi putranya ia pun memberanikan diri untuk naik.


"Mas, jika kamu nggak bisa biar Ayu saja," ucap Ayu yang bisa merasakan tangga itu bergetar karena suaminya juga bergetar saat menaiki anak tangga satu persatu.


"Sudah, nggak papa biar aku saja," ucap Ardy, ia pun kini sudah sampai di anak tangga terakhir dan mencoba untuk berdiri agar bisa membantu putranya itu untuk turun, tentu saja ia harus sangat berhati-hati jika sampai putranya sampai jatuh, anaknya itu pasti akan celaka.


"Kamu kok sampai manjat sih, ini sangat tinggi, Nak," ucap Ardy mencoba membantu Rafif untuk turun, anak itu terlihat sama sekali tak ada ketakutan, ia bahkan santai turun dengan bantuan ayahnya dan sudah memijak anak tangga.


"Tunggu, ayah turun lebih dulu kamu ikut di belakang ayah," ucap Ardy kemudian ia pun turun satu persatu anak tangga diikuti Rafif yang juga menuruni anak tangga satu persatu dengan santai, berbeda dengan Ardy yang menuruni anak tangga dengan kaki dan tangan yang bergetar membuat tangga itu pun ikut bergetar.


Begitu mereka sudah sampai di bawah, Ardy mengusap keringatnya.


"Rafif, lain kali jangan memanjat seperti ini, ini sangat berbahaya kamu juga harus berpikir sebelum melakukan apapun, walau itu sangat menyenangkan, memanjat sambil memakan mangga di atas pohonnya, tapi juga harus mempertimbangkan resikonya, kamu nggak boleh melakukannya lain kali!"


"Iya, Ayah. Maaf ini salah Rafif," ucap Rafif menunduk merasa bersalah.


Kemudian Chika pun ikut turun, ia langsung menarik Rafif dan menyembunyikannya di belakangnya.


"Ini semua bukan salah Rafif, ini semua salahku. Jika ingin marah, marah saja padaku tadi Rafif sudah menolak karena takut, tapi aku yang memaksanya," ucap Chika membuat ayahnya hanya menggeleng.


Usia anaknya sudah sangat dewasa ia bahkan sudah masuk ke perguruan tinggi, tapi tingkahnya masih seperti anak usia 15 tahun.


"Ya sudah, ayo kita masuk. Makan dulu nanti kita bahas lagi masalah ini," ucap ibu menarik cucu laki-lakinya itu untuk masuk ke dalam rumah disusul oleh ayah dan Cika begitupun Ardy dan Ayu.


Ardy masih merasa bergetar, ia melihat tangannya yang juga masih bergetar karena apa yang dilakukannya tadi, membuat Ayu hanya mengusap punggungnya.


"Mas, kamu Ayah yang hebat," ucapnya membuat Ardy pun mengangguk dan merasa bangga atas ucapan yang baru saja diucapkan oleh istrinya.

__ADS_1


Jika bukan ingin menyelamatkan anaknya ia tak mungkin mau naik ke tangga yang setinggi itu dan melakukan apa yang tadi dilakukannya.


__ADS_2