
Masa-masa kehamilan Ayu adalah masa yang paling membahagiakan bagi Ayu sendiri, di mana semua keluarga suaminya sangat menyayanginya.
Ayu semakin bisa merasakan bagaimana besarnya cinta Ardy padanya, dimana suaminya itu selalu mengutamakannya dari segala apapun, termasuk Ardy selama kehamilan Ayu tak pernah keluar negeri, padahal ia memiliki jadwal yang padat ke luar negeri dan semua itu diambil alih oleh ayahnya.
Hingga tak terasa usia kandungan Ayu sudah memasuki 9 bulan dan mereka sedang menunggu hari di mana Ayu akan melahirkan, dokter mengatakan jika Ayu sebaiknya melakukan operasi caesar, karena mempertimbangkan beberapa hal, setelah melakukan pemeriksaan. Ayu yang tadinya ingin melakukan persalinan secara normal akhirnya hanya menurut saja apa yang dikatakan dokter, ia tak mau jika sampai terjadi sesuatu pada bayi yang ada di dalam kandungannya.
Di bulan ini tapat 1 tahun pernikahan mereka, membuat Ayu dan Ardy memilih tanggal operasi sesuai dengan tanggal pernikahan mereka dan itu akan terjadi 2 hari lagi.
Keluarga Ayu dari kampung sudah datang, ada ayah, ibu dan juga Chika tentunya.
Ayu mengetuk pintu kamar ibunya.
"Ibu, apa Ayu boleh masuk?" tanyanya membuat ibu pun memanggil putrinya untuk masuk. Saat Ayu masuk, Chika juga datang dan ikut masuk. Keduanya langsung duduk di samping ibunya yang sedang berbaring di tempat tidur, sedangkan ayah Ayu masih berbincang di luar bersama dengan ayah Ardy.
"Bu, Ayu takut," ucap Ayu membuat ibu hanya mengusap perut anaknya.
"Nggak usah takut, semua pasti akan baik-baik saja. Ibu yakin kamu dan bayi ini pasti akan baik-baik saja, percayakan pada Allah dan juga percayakan pada dokter," ucap ibu membuat Ayu pun mengangguk dan bersandar di dada ibunya, sementara Chika terus mengelus perut sang kakak.
"Kak, ini Kakak ke rumah sakitnya kapan?" tanya Chika.
"Kata Mas Ardy sih besok pagi, kita akan menginap di rumah sakit sambil menunggu proses persalinannya, yang juga akan dilakukan tepat jam 10.00 pagi sesuai dengan jam akad nikah kami dulu," jelas Ayu membuat Chika pun mengangguk.
"Apa Kakak sudah menyiapkan namanya?" tanya Chika lagi.
__ADS_1
"Sudah, Kakak sudah mendiskusikannya dengan Ardy dan memilih satu nama."
"Siapa, Kak?" tanya Chika antusias dan sangat penasaran.
"Rahasia dong, nanti saat acara pemberian namanya baru kami ungkapkan siapa namanya," ucap Ayu menggoda adiknya membuat Chika pun mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya, terserah Kakak saja, tapi Kak apa awalannya juga dari huruf A? Nama Kakak dan nama Ardy kan dari huruf A."
"Rahasia," ucap Ayu lagi membuat Chika merasa sangat kesal dan ingin memukul kakaknya. Namun, langsung ditegur oleh ibunya.
"Sudah, kalian ini masalah nama saja sampai berantem seperti itu, sekarang sebaiknya kalian berdoa semoga proses persalinannya lancar," ucap ibu mengusap perut Ayu, merasakan gerakan bayinya di dalam sana.
"Bu, malam ini aku menginap di sini ya. Aku ingin tidur dekat Ibu."
Ayu sejak kemarin tak bisa tidur dan merasa gelisah menantikan detik-detik persalinannya, malam ini Ayu ingin tidur bersama dengan ibunya, memeluk ibunya. Itulah yang dilakukan Ayu jika ia tak bisa tidur selama ini. walau sudah memiliki suami, tapi tetap saja dekapan sang ibu membuatnya merasa nyaman.
Chika ikut mengambil posisi di samping ibunya dan kini ibu berada di tengah kedua anak gadisnya.
"Oh ya, Bu. Kemarin Chika juga mendapat panggilan salah sambung, apa Chika gubris juga ya? Dari nada suaranya sih dia cowok," gumam Chika saat mereka semua sudah menutup Mata.
"Hus jangan sembarangan menggubris orang, Ayu beruntung menemukan pria setampan Ardy dan juga sangat mencintainya, bagaimana jika yang kamu temukan itu suami orang, orangnya jelek dan hanya untuk bermain-main denganmu."
"Iya, Bu. Aku kan hanya bercanda," ucap Chika dan bertepatan dengan itu ponselnya berdering.
__ADS_1
Chika melihat layar ponselnya dan melihat nomor orang yang kemarin salah sambung itu kembali menelponnya.
"Bu, dia menelpon. Aku angkat nggak ya?" ucap Chika yang perlihatkan layar ponselnya membuat Ayu dan juga ibunya langsung melihat ke arah telepon Chika. Ayu langsung mematikan panggilan tersebut dan langsung mengalihkannya ke panggilan video.
"Kita lihat dulu orangnya," ucap Ayu membuat Chika pun mengangguk dan menunggu panggilan videonya dijawab. Namun, sampai panggilannya berakhir orang itu tak mengangkat panggilannya dan justru kembali melakukan panggilan telepon biasa dan kali ini Chika yang mematikannya dan kembali melakukan panggilan video.
Orang itu mematikannya dan mengirim pesan jika dia tak mau melakukan panggilan video, lebih baik mereka melakukan panggilan biasa saja.
"Kenapa?" tanya Chika.
"Aku malu," jawabnya.
"Muka kamu jelek, ya?" tanya Chika.
"Nggak juga," jawab orang tersebut.
"Lalu kenapa harus malu?"
Orang tersebut tak menjawab dan hanya kembali melakukan panggilan biasa. Namun, Chik lagi-lagi mematikannya dan melakukan panggilan video, orang itu kembali tak mengangkatnya.
"Hai orang jelek! Jangan menelpon lagi! kalau tidak aku akan melaporkan ke kantor polisi," ucap Chika kemudian memblokir nomor orang tersebut, ia yakin jika orang itu bukanlah orang baik dan hanya ingin bermain-main dengannya jika dia sungguh-sungguh ingin saling mengenal dia pasti mengangkat panggilan video darinya.
Ayu dan ibu tertawa melihat apa yang dilakukan Chika.
__ADS_1
"Dengar, Chika. Sebaiknya kamu itu menjalin hubungan dengan orang yang pasti saja, dengan orang yang ada di depanmu saja, kamu juga harus mencari tahu apakah dia sudah mempunyai pasangan atau tidak, terkadang banyak pria yang mengaku tak mempunyai pasangan, tapi ternyata dia mempunyai seorang kekasih. Bahkan ada yang sudah mempunyai seorang istri dan akhirnya rumah tangga mereka hancur dan kamu akan dijadikan sebagai perusak rumah tangga orang. Apalagi jika hanya berkenalan dengan melalui ponsel, mereka sangat bisa memalsukan identitas mereka, walau itu pria tampan sekalipun. Sebaiknya kamu tak menggubrisnya, katakan saja jika dia memang ingin mengenal mu datang saja secara langsung dan berkenalan, jika perlu menemui ayah dan ibu jangan berkenalan melalui ponsel dan menjalin hubungan seperti itu. Jika ada laki-laki yang mau hanya mengatakan ingin berteman saja, abaikan saja! Masih banyak teman wanita yang bisa berteman denganmu," jelas ibu panjang lebar membuat Chika pun hanya mengangguk.