
...🧡 Selamat Membaca 🧡...
Jakarta, Indonesia
Setelah pulang dari Korea, Davina melakukan perawatan untuk kepulihan fisik dan mentalnya. Semua bisnis keluarga di handel oleh Dalfa dan Dalfi. Mama Asila dan papa Galang melepaskan semua tanggung jawab mereka mengurus hotel dan perusahaan karena ingin menemani Davina. Karena rasa kasih sayang dari keluarga itulah membuat Davina tidak terpuruk terlalu lama.
Setelah dinyatakan sehat dan diperbolehkan aktivitas. Davina kembali menjalani kehidupannya sesuai arusnya. Dirinya kembali meneruskan S2 dan melanjutkan S3 di Indonesia. Davina menjalankan kuliah sambil mengambil alih untuk mengelola bisnis perhotelan yang ditinggal orang tua kandungnya.
Walaupun sudah lima tahun berlalu, Davina masih sering teringat dengan kenangan-kenangan indah yang dia lalui bersama Yeon Jun ataupun Mi Ra. Tak jarang dirinya ingin stalking dua orang yang pernah mengisi hidupnya. Tapi Davina slalu memendam keinginannya itu, Davina takut rasa keingintahuannya itu akan membuat luka yang tak pernah kering semakin susah disembuhkan.
Mama dan papa tahu betul jika Davina belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalunya. Oleh karena itu mama ataupun papa sering meminta Davina membuka hati untuk laki-laki lain tapi hal itu sulit bagi Davina. Tak hanya kedua orang tuanya, Kedua kakaknya juga sering mengenalkan Davina kepada teman-teman mereka tapi tetap saja Davina belum menemukan orang yang cocok.
Terlalu sulit untuk menemukan orang yang cocok disaat hati masih mendambakan orang lain. Hingga Davina pernah mencoba menerima rencana perjodohan yang dilakukan keluarganya. Tapi teryata Tuhan memiliki rencanannya sendiri, perjodohan itu tidak berjalan lancar karena laki-laki yang dijodohkan dengannya sebenarnya sudah punya pacar. Laki-laki itu belum berani mengenalkan pacarnya di depan publik, oleh karena itu mereka tidak melanjutkan perjodohan dan bersepakat untuk berteman. Syukurnya, keluarga menyerahkan keputusan di tangan Davina dan laki-laki tersebut, jadi mereka tidak terlalu terbebani.
Tidak terasa lima tahun telah berlalu. Davina yang telah menyelesaikan kuliahnya langsung mengambil alih bisnis perhotelan miliknya. Selain mengurus hotel, Davina sering mengisi seminar-seminar untuk memotivasi anak muda. Cantik, berbakat, muda dan pintar melekat pada image Davina.
"Bu, ada mama tuh." Zizi menggunakannya lengan Davina.
"Hah? Apa Zi..?"
"Itu nyonya datang. Itu tuh." Zizi menunjuk arah pintu restauran dan Davina memutar badannya untuk mengikuti arah tangan Zizi. "Sama manager tampan lo bu..."
Hemmm laki-laki itu, dia adalah manager salah satu perusahaan yang kerjasama denganku. Dirinya adalah salah satu laki-laki yang sudah terang-terangan mengejar ku. Namanya...
"Heru"
"Ganteng banget bu.... ibu pacaran sama pak Heru...?"
"Gak lah." Davina berdiri dan segera mendekat ke mamanya "Kok mama bisa datang dengan Heru...?"
"Tadi mama tidak sengaja ketemu dia di depan jadi barengan saja deh masuknya." Davina hanya manggut-manggut mendengar penuturan mamanya.
Mama cukup kenal dengan Heru. Karena dulu di awal-awal Davina memimpin Hotel, mama slalu membantu Davina dari segala hal. Kini setelah Davina sudah bisa menghandle semua, mama memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Apalagi dia sudah dikaruniai sepasang cucu dari Dalfa dan Dalfi.
"Kamu sudah selesai makan siang...?" Tanya Heru sambil melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 12.05 "Jam segini...?"
"Iya pak sudah.. Saya memang sengaja makan lebih awal karena jam satu saya ada meeting." Jawab Davina jujur.
"Owh begitu.... Padahal aku mau ngajak makan siang tapi sayang kamu malah sudah makan siang." Heru tampak kecewa.
"Maaf ya pak Heru." Ucap Davina basa basi.
"Gak pa-pa mungkin lain waktu kita bisa makan siang atau makan malam bersama. Bisa kan..?" Tanya Heru tanpa sungkan. "Bolehkah tante..?"
"Boleh donk... Atau gak nak Heru mampir saja ke rumah kami saja nanti malam, mama udang makan malam di rumah.. Nak Heru mau kan..?"
"Tentunya saya mau Tante. Asal tidak merepotkan Tante dan Davina tidak keberatan pasti saya akan datang " Ucap Heru sambil melirik Davina.
"Silahkan pak Heru. Saya tidak akan keberatan, apalagi jika mama yang mengundang langsung." Jawab Davina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah Tante. Saya akan datang." Ucap Heru dengan senyum yang mengembang.
"Mama kenapa kesini...?" Tanya Davina yang sedari tadi belum menanyakan maksud kedatangan mamanya.
"Mama mengantarkan ini." Mama mengangkat bekal yang dia bawa "Mama masak makanan kesukaanmu eh malah kamu sudah makan."
"Memangnya kenapa kalau sudah makan...?" Davina mengambil alih bekal tersebut "Aku pasti akan tetap menghabiskan makanan yang dimasak mamaku yang cantik. Karena makanan yang dibuat mama itu beda, ada kasih sayang dan cinta di dalamnya."
"Dasar kamu ya, persis dengan kakak-kakak dan papamu." Ucap mama kepada Davina.
"Ya gimana mama itu benar-benar Chef terhebat" Ucap Davina sambil memeluk lengan mamanya.
"Selamat siang nyonya." Sapa Zizi kepada mama Asila dan Heru "Selamat Siang pak Heru."
"maaf mengganggu waktunya bu Davina, kita harus segera berangkat. Takut jika nanti terlambat." Jelas Zizi dengan sopan
"Baiklah. Kau panggil driver. Tunggu aku di lobi." Titah Davina
"Baik bu... Saya permisi" Pamit Zizi.
"Zizi nanti datang juga ya ke rumah ya. Ikut makan malam." Pinta mama Asila sebelum Zizi beranjak pergi.
"Iya nyonya."
"Mama Zizi.... Mama... Jangan panggil nyonya." Omel mama Asila
"Iya nyonya... Saya permisi." Zizi tetap memanggil nyonya dan berlalu setelah berpamitan.
"Mungkin karena ini jam kantor ma, jadi dia memanggil seperti itu." Jelas Davina.
"Memangnya kenapa..? Mama juga gak keberatan di panggil mama dimana pun."
"Iya-iya mama cantik nanti Davina sampaikan ke Zizi. Dev juga pamit dulu ya." Davina mencium pipi Mama.
"Iya sayang hati-hati."
"Mari pak Heru...."
"Hati-hati" Jawab heru dengan senyum menawan.
...🧡🧡🧡🧡🧡...
"Bu..."
"Hem...?" Davina mengalihkan perhatiannya kepada Zizi
"Ibu beneran gak suka sama pak Heru..?"
"Kenapa Zi..?"
__ADS_1
"Cuma tanya aja sih." Ucap zizi dengan nyengir.
"Kau suka pak Heru kan...?" Tebak Davina.
"Gak... Gak... Gak kok." Jawab Zizi salah tingkah.
"Hahaha... Kau lucu sekali sih" Davina tertawa terbahak-bahak melihat reaksi sekretarisnya tersebut.
"Ahhh ibu..."
"Dengar ya Zi. Pak Heru itu baik, pintar, mandiri dan bertanggung jawab jelas aku suka pak heru, tapi hanya sebagai rekan kerja. Kalau untuk menjadi seorang kekasih ataupun lebih aku tidak pernah berfikir sejauh itu." Jelas Davina.
"Kenapa bu...? Ibu susah banget move on dari mantan ibu yang orang Korea itu. Seganteng apa sih dia....? Dasar pria bodoh, padahal punya pacar sebaik ibu masih saja disia-siakan." Omel Zizi yang tahu sedikit tentang kehidupan Davina.
"Hemmm entahlah." Davina tersenyum dan memilih fokus ke tab yang dia pegang. "Minggu depan kita akan peresmian hotel, bagaimana persisnya...?"
"Sudah beres. Senin kita berangkat ke Bali untuk peresmiannya.."
"Undangan sudah tersebar...?"
"Iya bu... Oh ya bu, saya dengan dari sekertarisnya pak Heru, saat peresmian nanti kita akan kedatangan tamu spesial lo bu."
"Siapa...?"
"Dia atasan pak Heru, CEO dari Korea. Pemilik HY Group. Sponsor yang slalu memberikan sponsor besar untuk kita. Aku dengar beliau akan berlibur di Bali bersama keluarganya. Masih muda, tampan tapi sayangnya sudah punya anak." Nada kecewa dilontarkan Zizi di akhir kalimatnya.
"Apa mereka mau datang ke acara peresmian..?"
Zizi menggelengkan kepalanya. "Mereka sedang ada acara pribadi, jadi tidak mau di undang dalam acara bisnis. Tapi bu, CEO mereka meminta waktu untuk bertemu dengan ibu secara pribadi. Kira-kira kenapa ya bu...?"
"Mungkin beliau ingin kenalan. Kau atur pertemuan dengan sebaik mungkin ya. Jangan sampai membuat beliau kecewa."
"Siap bu."
"Korea..." Davina tersenyum simpul.
"Bagaimana kabar mu Yeon Jun...? Andai hal buruk itu tidak terjadi pasti anak kita sudah besar sekarang. Aku akan menjadi mama muda dan kau sudah jadi Appa. Terlepas dari apapun, Semoga kalian semua menjadi keluarga bahagia." Batin Davina
🧡
🧡
🧡
🧡
🧡
...Terimakasih Dukungan Dari Reader Semua...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Like, Rate dan Komen...