
...♥️ Selamat Membaca ♥️...
Setelah 10 menit di kamar mandi akhirnya Davina keluar dengan wajah yang lebih cantik. Bukan karena makeup tapi hanya karena habis mandi dan terlihat segar.
"Sudah selesai...?" Tanya Yeon Jun saat melihat Davina.
"Hemmm..." Davina hanya mengucapkan tersebut dan berlalu begitu saja meninggalkan Yeon Jun.
"Kau kunci...?" Tanya Davina ketika dirinya tidak bisa membuka pintu.
Bukannya menjawab Yeon Jun hanya mengangkat bahunya lalu meminum jus yang ada di depannya. Menikmati hidangan yang sebenarnya telah Yeon Jun siapkan untuk Davina. Hidangan kecil yang berupa makanan-makanan ringan kesukaan Davina.
"Kenapa kau kunci...?" Tanya Davina.
"Takut ada yang kabur saja." Jawab Yeon Jun.
"Siapa...?"
"Masih tanya siapa...? Memangnya disini ada siapa...? Gak mungkin kan aku kabur dari diriku sendiri....?" Yeon Jun menepuk sofa yang ada di sebelahnya. "Sini duduk."
"Aku gak ingin duduk. aku mau pergi. Serahkan kuncinya." Pinta Davina yang pastinya Yeon Jun tidak merespon apapun.
Amarah memenuhi kepala Davina. Dasar keras kepala, kepala batu, menyebalkan. Itulah definisi dari Yeon Jun yang disematkan di otak Davina sekarang.
"Serahkan kuncinya Jun.. Hubungan kita telah usai dan gak ada yang harus kita bicarakan lagi." Ucap Davina sambil mengarahkan tangannya.
"Tapi aku ada." Jawab Yeon Jun sambil menarik Davina kepangkuan nya.
"Apa yang kau lakukan...." Pekik Davina ketika Yeon Jun tidak sungkan-sungkan melingkarkan tangannya di perut ramping Davina.
"Sebenarnya apa mau mu...?" Tanya Davina yang kini merasa sangat berdebar. Duduk di pangkuan Yeon Jun seperti tidak baik untuk kesehatannya.
"Kembalilah padaku. Itu mau ku..." Jawab Yeon Jun sambil menatap wajah Davina.
"Apa kau gila...?"
"Ya aku gila karena kau pergi begitu saja."
"Aku....? Aku....? Kau bilang aku ..?" Tanya Davina sinis.
__ADS_1
"Ya kamu... Kenapa kau pergi begitu saja setelah kau berjanji akan tetap di sampingku.?"
"Hemmm ya aku meninggalkan dirimu begitu saja... Aku sudah mengakui salahku sekarang lepaskan aku dan buka pintunya, aku mau keluar. Perdebatan kita sudah selesai" Davina menarik nafas sejenak. "Lebih baik kau kembali ke Korea. Kita hidup dengan jalan kita masing-masing. Anggaplah kita tidak pernah bertemu."
"Aku tidak mau. Aku akan tetap disini begitu juga kamu. Sebelum kamu memaafkan aku dan mau menerima ku, maka kita akan terkurung di kamar ini berdua... Tentu saja aku sangat senang bisa berdua denganmu." Ucap Yeon Jun mengedipkan matanya lalu tanpa sungkan mengecup bibir Davina sekilas.
"KAMU....!" sentak Davina menggelegar.
"Jangan teriak-teriak sayang. Telingaku sakit." Ucap Yeon Jun pura-pura meringis.
"Kamu keterlaluan... Apa kamu tidak pernah berfikir kenapa hubungan kita jadi seperti ini. Apa kau tidak pernah merasa bersalah padaku hingga kau berani kembali menampakkan wajahmu setelah semua yang terjadi...? Aku hancur Jun. Hancur..." Davina mulai berderai air mata dan tidak lupa sebuah pukulan yang dilayangkan ke dada Yeon Jun.
"Aku kehilanganmu dan aku kehilangan anakku bersamaan. Kau yang menggenggam tangan ku Jun, memberikan janji indah dan mengajakku terbang tinggi, lalu.... lalu kau menghempaskan aku begitu saja."
"Maaf" Ucap Yeon Jun lirih.
"Apa kau tidak pernah berfikir, ketika kau memintaku tetap di sampingmu...? Padahal kau akan bersanding dengan wanita lain, apa kau tahu bagaimana rasanya...? Hancur hancur sehancur hancurnya hatiku saat itu Jun. Padahal saat itu aku sangat membutuhkan mu sebagai sandaran. Tapi aku kehilangan tempat sandaran ku dalam sekejap."
"Maaf..." Bibir Yeon Jun terasa sangat keluh.
"Aku tidak berani kembali ke Indonesia karena aku rasa aku telah mengecewakan keluarga ku dan Aku tidak bisa mengeluh padamu karena kau memberiku jarak yang begitu jauh hingga aku tidak bisa lagi bersandar padamu. Aku hanya bisa menahan diri dan sibuk dengan kesedihanku. Hingga aku lupa ada malaikat yang dititipkan Tuhan padaku."
"Dia sudah kembali ke sisi Tuhan. Aku sudah tidak bersedih karena kehilangan mu ataupun bayi itu. Sekarang aku juga sudah bisa melupakan mu, jadi kau juga harus melupakan kami. Lebih baik kau kembali dan jangan lagi meminta aku untuk kembali padamu. Kau terlalu egois jika menginginkan itu."
Davina menangis dan nafasnya memburu. Semua hal yang Davina pendam akhirnya telah tersampaikan kepada orang yang seharusnya mendengar.
"Maafkan aku sayang. Maaf..." Yeon Jun memeluk Davina erat yang tengah menangis.
Pernyataan Davina tepat sasaran. Ya semua hal yang di katakan Davina benar dan Yeon Jun menyadari semua itu.
"Kau jahat Jun... Jahat... Kau meyampakkan aku begitu saja."
"Maaf Dev... Maaf. Maafkan aku dan Maaf untuk anak kita. Maaf aku benar-benar menyesal.."
"Aku sudah memaafkan mu. aku sudah mengikhlaskan semua dan begitu juga hubungan kita. Jadi tolong berhenti mempermainkan perasaanku."
"Aku tidak mempermainkan perasaan mu sayang. Tolong percayalah padaku. Ijinkan aku memperbaiki kesalahan-kesalahan ku. Aku mohon..." Pinta Yeon Jun.
Davina diam untuk beberapa saat. Suasana menyedihkan ini sangat tidak menyenangkan. Kenapa harus ada luka diantara mereka? Kalau saling mencintai kenapa saling melukai..? Apakah cinta harus saling tersakiti?
__ADS_1
"Maaf... Aku tidak bisa."
"Aku mohon berikan satu kali kesempatan. Aku masih sangat mencintai mu. Aku tidak akan melukai mu lagi. Itu janjiku.,"
"Tidak ada jaminan yang bisa ku pegang dari janjimu. Bisa saja kau akan melepaskan ku lagi ketika kau berada di persimpangan, seperti waktu dulu. Sejujurnya, aku slalu merindukan mu dan aku slalu bermimpi tentang hari-hari indah kita, tapi di setiap mimpi itu aku slalu melihat seorang bayi yang menangis. Aku merasa bersalah aku bodoh, aku sudah mengecewakan keluarga ku, aku sudah melakukan hal yang tidak seharusnya ku lakukan, dan aku sudah membunuh bayiku karena keegoisan ku."
"Sttt Tidak sayang... Kau tidak membunuhnya."
"Saat itu aku ketakutan, aku merasa anak ku adalah beban, aku merasa hancur, aku sibuk dengan rasa terlukaku hingga aku mengabaikan nyawa kecil di dalam tubuhku. Aku mengabaikan titipan Tuhan yang juga butuh diperhatikan." Suara Davina serak karena terus menangis.
"Maafkan aku... Maaf"
"Kau bisa kembali ke Korea. Lupakan semua masa lalu. Aku sudah terbiasa hidup tanpamu. Aku mohon jangan membuka luka yang belum mengering."
Yeon Jun terdiam. Melihat Davina menangis membuat hatinya teriris. Selama ini Yeon Jun slalu merasa bahwa dia adalah pria brengsek yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan. Jadi wajar bukan kalau Davina tidak memaafkan dirinya.
Yeon Jun melepaskan pelukannya. Membiarkan Davina beranjak dari pangkuan Yeon Jun. Davina ingin langsung pergi tapi lagi-lagi Yeon Jun mencegahnya.
"Duduk dulu Dev" Yeon Jun menarik Davina agar dia duduk di sofa. "Hapus air matamu, cukup jangan menangis lagi. Tetap disini dan Kau tenangkan dirimu dulu. Setelah itu kau bisa pergi dari sini." Setelah mengucapkan hal itu Yeon Jun keluar dari kamarnya begitu saja meninggalkan Davina yang tengah menangis.
Yeon Jun pergi tanpa menoleh kembali. Entah kenapa, hati Davina merasa ada hal yang telah kembali kini hilang kembali saat Yeon Jun sudah hilang dibalik pintu. Diam-diam hati yang terlihat baik-baik saja tersebut, masih menyimpan satu nama yang membuatnya slalu hampa dan slalu ia rindukan.
"Maafkan aku Jun...." Hikssss
♥️
♥️
♥️
♥️
♥️
...Terimakasih Dukungan Dari Readers Semua...
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...Like, Rate dan Komen...
__ADS_1