
"Ma-maksud Bapak apa ya" Tanya Veranda kaget
Pak Dikta hanya diam meresapi pelukannya dengan Veranda sambil memejamkan matanya tanpa berniat membalas perkataan Veranda. Veranda yang seketika sadar sedang dipelukan Pak Dikta langsung memberontak keras, akhirnya mau tak mau Pak Dikta melepaskan pelukannya.
"Maksud Bapak apa-apaan sih, Bapak sadar dong Bapak itu guru. Apa wajar seorang guru memeluk muridnya sendiri" Ucap Veranda tajam membuat Pak Dikta gelagapan
"Gak papa saya hanya reflek" Alibi Pak Dikta tanpa membalas perkataan Pak Dikta Veranda langsung pergi dan menutup pintu secara kuat.
BRAKK
Pak Dikta hanya menggelengkan kepala ngeliat kelakuan gadis itu menurutnya gadis itu sangat menggemaskan.
"Apapun yang terjadi kamu harus jadi milik saya Veranda you're mine" Batin Pak Dikta sambil tersenyum miring
Veranda yang sudah dikelas pun hanya mendatarkan wajahnya ia masih badmood dengan kejadian tadi. Selama pelajaran berlangsung dikelas.
...✨✨✨...
"TET TET TET"
Bel pulang telah berbunyi semua siswa bersiap untuk pulang termasuk Veranda ia sudah ada di lorong untuk menuju parkiran sedangkan Fiona dan Alya sudah pulang terlebih dahulu ia berjalan dengan santai tanpa memperdulikan sekitar.
__ADS_1
"Kamu belum pulang" Suara seseorang tiba-tiba mengagetkan Veranda
Veranda hanya melihat sekilas lalu melanjutkan langkahnya tanpa berniat menjawabnya. Pak Dikta yang melihat itu mengerinyitkan dahinya lalu ia dengan cepat memegang tangan Veranda.
"Apa lagi sih" Sentak Veranda
"Kamu kenapa" Tanya Pak Dikta
"Bapak tanyak saya kenapa, saya yang tanyak Bapak kenapa kayak gini seolah-olah kita ini deket padahal enggak" Sentak Veranda membuat Pak Dikta menelan kekecewaan
"Maaf"Ucap Pak Dikta Veranda yang mendengarkannya hanya menghebuskan nafas kasar
Pak Dikta tanpa basa-basi langsung memeluk Veranda erat tanpa berniat melepaskannya.
"Saya sayang sama kamu Veranda" Ucap Pak Dikta tiba-tiba
"DEG"
Veranda mendadak kaku mendengar pernyataan Pak Dikta barusan bibirnya keluh untuk mengucapkan kalimat apapun.
"Gak gak mungkin Bapak sayang sama saya, Bapak tu guru saya" Ucap Veranda memberontak di pelukan Pak Dikta, ia tak percaya gurunya menaruh rasa kepadanya
__ADS_1
"Saya bener-bener sayang sama kamu Veranda, saya jatuh hati ke kamu saat kita pertama kali ketemu" Ucap Pak Dikta lagi- lagi membuat Veranda kaget
"Izinkan saya untuk menjadi pengisi di ruang hatimu Veranda" Ucap Pak Dikta lembut
"Gak, gak akan pernah Bapak itu guru saya" Sentak Veranda langsung melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Pak Dikta
Pak Dikta yang diperlakukan seperti hatinya sakit mendengar penolakan gadis yang ia sukai tanpa sadar air matanya keluar dari mata tajamnya.
"Saya sayang sama kamu Veranda,kenapa kamu gak percaya" Lirih Pak Dikta, ia pun menghapus air matanya.
"Kamu adalah milik saya Veranda selamanya kamu hanya milik saya" Tekat Pak Dikta lalu melangkah pergi dengan semua rasa sakit.
Sampai di parkiran Veranda terdiam sebentar mencerna semua yang terjadi,ia masih tak percaya gurunya itu menyukai dirinya.
"Gila tu guru bisa-bisanya suka sama muridnya sendiri" Ucap Veranda tak percaya
"Tapi jantung gue kenapa ya deg deg terus, anjirlah pusing gue" Ucap Veranda lalu menjalankan motornya untuk pulang ke rumah
Di lain posisi Pak Dikta hanya menatap sendu kepergian Veranda ia berharap semoga Veranda dapat membuka hatinya untuk dia.
"Saya pastikan kamu akan suka sama saya Veranda" Ucap Pak Dikta lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan parkiran sekolah.
__ADS_1