
Ceklek
Veranda membuka pintu rumahnya terlihat rumah begitu sepi, padahal sang suami sudah berada dirumah.
"Assalamualaikum Mas" Teriak Veranda tapi tak ada jawaban
Akhirnya Veranda melangkah menaiki tangga ke arah kamar mereka.
Ceklek
Pintu kamar terbuka lebar terlihat sosok yang Veranda cari sedang berbaring tengkurap dengan kepala menelungkup.
"Mas" Panggil Veranda
Merasa namanya terpanggil Dikta langsung saja membalikkan badannya, dan betapa terkejutnya Veranda melihat wajah tampan suaminya yang sudah dipenuhi bekas air mata.
"Yaampun Mas, kamu kenapa?" Pekik Veranda
"Kamu lama banget sih sayang" Ucap Pak Dikta dengan bibir mencebik
"Maaf deh tadi aku keasyikan sampe lupa jam" Ucap Veranda dengan perasaan bersalah
"Aku tu kangen sayang, mana kamu gak bisa dihubungin" Lirih Pak Dikta dengan mata berkaca-kaca
"Eh kok nangis sih Mas astaga iya aku minta maaf ya" Ucap Veranda dengan lembut
"Hiks hiks a-aku tu g-gak bisa jauh hiks dari kamu" Ucap Pak Dikta dengan terbata-bata wajahnya memerah akibat menangis terlalu lama
Veranda terkejut melihat sikap suaminya itu,tak seperti biasa Pak Dikta bertingkah seperti anak kecil. Apa emang ini sifat aslinya? Pikir Veranda
"Iya iya aku minta maaf jangan nangis lagi" Ucap Veranda dengan lembut membuat tangis Pak Dikta mereda
"Pelukk" Ucap Pak Dikta dengan puppy eyesnya membuat Veranda gemas dan langsung memeluk tubuh tegap sang suami
"Uuh manja banget sih suami aku" Ucap Veranda
Veranda menaiki kasurnya lalu merebahkan disamping tubuh sang suami, dengan segera Pak Dikta memeluk tubuh mungil sang istri dan mendusel-duselkan hidungnya dileher Veranda membuat Veranda kegelian.
__ADS_1
"Mas jangan gitu geli iih" Ucap Veranda
"Gak mau aku suka gini" Ucap Pak Dikta tanpa menghentikan aksinya
Veranda hanya bisa menggeram kesal melihat kelakuan sang suami ia berusaha sekuat tenaga menahan kegelian, merasa tak ada yang mendusel-duselkan di lehernya Veranda segera menoleh ke arah sang suami terlihat mata sembabnya sudah terpejam, ia pun mengelus lembut rambut hitam milik sang suami.
"Puk puk pantat aku sayang" Ucap Pak Dikta dengan mata terpejam
Veranda melotot mendengar perkataan suaminya apa puk puk? Ingin sekali ia manabok mulut Pak Dikta itu.
"Sayang puk puk" Rengek Pak Dikta, karna malas berdebat Veranda akhirnya menepuk pantat Pak Dikta dengan sedikit kasar
Pok
Pok
"Pelan-pelan sayang" Ringis Pak Dikta tapi dengan mata yang terpejam
Pak Dikta mengambil tangan Veranda lalu menuntun tangan Veranda ke bokongnya dan menepuknya dengan pelan.
"Ya ampun lakik gue kepentok apa sih" Batin Veranda
Puk
Puk
Dengan pelan Veranda menepuk bokong suaminya, ia merasa seperti punya bayi bahkan tingkahnya melebihi bayi.
Drt
Drt
Bunyi ponsel Veranda membuat ia melihat siapa yang menghubunginya tertera nama 'Niko' yang menghubunginya. Dengan segera Veranda beranjak ke arah balkon dan mengangkat telponnya.
"*Halo?" Ucap Veranda
"Halo Ver gue minta nomor Julian dong" Ucap Niko
__ADS_1
"Kenapa gak chat aja sih" Ucap Veransa
"Kalo chat mau subuh kali lo bales ke Alina sama Sasa lagi gak aktif mereka" Ucap Niko
"Emang buat apaan lo nomor Julian? Buat pinjol ya lo" Ucap Veranda
"Sembarangan lo sorry gini-gini gue udah kaya sejak lahir, gue minta nomor Julian buat ngajak ngumpul kayaknya asik tu anak buat join sama temen-temen gue" Ucap Niko
"Ooh oke gue kirim di chat ya" Ucap Veranda
"Oke thanks Ver" Ucap Niko
"Yoi" Ucap Veranda*
Tut
Sambungan telepon dimatikan langsung oleh Niko membuat Veranda menggeram kesal melihat kelakuan sahabatnya itu.
"****** emang si Niko" Umpat Veranda
Veranda memasuki kamarnya dengan santai, meletakkan ponselnya di meja, lalu berjalan ke arah lemari.
"Habis nerima telpon dari siapa?" Tanya Pak Dikta tiba-tiba membuat Veranda kaget
"Dari Niko Mas" Sahut Veranda
"Kok kamu nerima telpon Niko di balkon? Kenapa gak disini aja? Kamu ada main ya sama Niko" Ucap Pak Dikta panjang lebar membuat Veranda pusing mendengarnya
"Stop oke aku jawab satu-satu, aku jawab telpon Niko di balkon biar gak ganggu kamu tidur,memang aku main kok sama Niko" Ucap Veranda dengan santai ia tak menyadari arti dari kata 'main'
"Jadi kamu selingkuh sama Niko" Ucap Pak Dikta dengan nada dingin
"Kalo ngomong tu mikir" Sentak Veranda dengan nada tinggi membuat Pak Dikta kaget
"Kamu bentak aku?" Ucap Pak Dikta dengan bibir gemetar dan mata berkaca-kaca
"Eh?" Kaget Veranda melihat respon Pak Dikta
__ADS_1