
Tepat pukul 04.59 Veranda sudah sampai di apartemen Pak Dikta sesuai alamat yang Pak Dikta kirim ia sudah mencet bel berulang kali tapi tidak ada sahutan dari dalam.
"TET"
"Buset kalo dia tidur bener-bener kebo daritadi gue pencet bel kagak kedengaran" Gerutu Veranda karna kesal Veranda akhirnya mengetuk pintu secara brutal
"TOK TOK TOK TOK"
"Assalamualaikum Pak Dikta ooh Pak Dikta "
Ceklek
Suara pintu terbuka terpampanglah wajah tampan Pak Dikta yang habis mandi karna air di rambutnya masih menetes.
Glek
Veranda susah payah menelan salivanya melihat pemandangan yang di depannya
"Buset ganteng amat yak" Batin Veranda
"Saya tau saya tampan gak perlu sampai ileran gitu ngelihat saya" Ucap Pak Dikta membuat Veranda tersadar dari lamunannya
"Et dah pede amat Pak"Ucap Veranda
"Yaudah kamu masuk dulu duduk di sofa" Ucap Pak Dikta yang diangguki Veranda
Veranda mengamati seluruh apartemen Pak Dikta ia meneliti setiap sudut yang terlihat bersih dan rapi warna abu-abu dan putih menambah kesan elegan di apartemen Pak Dikta untuk seorang laki-laki. Veranda pun duduk menunggu Pak Dikta yang tidak tahu sedang apa dikamarnya.
"Maaf sudah buat kamu nunggu lama" Ucap Pak Dikta tiba-tiba
"Gak papa Pak" Ucap Veranda
"Sekarang kamu kerjakan soal ini,saya juga mengerjakan kerjaan saya dari kantor"Ucap Pak Dikta yang diangguki Veranda
Veranda mengerjakan soal dengan teliti sekali-sekali ia mencuri pandang ke Pak Dikta ia meneliti setiap inci wajah Pak Dikta yang baru ia sadari wajah orang yang paling ngeselin di hidupnya sangat tampan.
"Wajah saya tidak ada jawaban Veranda jangan kamu lihat terus" Ucap Pak Dikta yang sadar kalo Veranda memerhatikannya ia tak berani menoleh ke wajah Veranda karna akan ketauan kalo ia sedang salting terlihat telinganya yang memerah
"Hem gak sengaja ke liat kok" Alibi Veranda yang dibalas Pak Dikta dengan mengangkat sebelah alisnya
"Eh kok telinga Bapak merah" Ucap Veranda polos yang membuat telinga Pak Dikta semakin memerah
__ADS_1
"Kerjakan sekarang Veranda" Ucap Pak Dikta dengan penekanan langsung membuat Veranda cepat-cepat mengerjakan tugasnya
Saat Veranda sedang fokus mengerjakan tugasnya, tiba-tiba Pak Dikta berdiri guna menstabilkan detak jantungnya.
"Pak Dikta mau kemana? " Tanya Veranda
"Ke dapur" Ucap Pak Dikta singkat tanpa mengalihkan badannya
"Ooh saya titip teh es 1 ya Pak" Ucap Veranda sambil menyengir
"Hm"Dehem Pak Dikta sebagai jawaban lalu Pak Dikta melangkah pergi menuju dapur
"Sial jantung gue gak bisa diajak kompromi,kalo gini terus bisa-bisa Veranda curiga" Ucap Pak Dikta pelan sambil mengelus dadanya
"Sabar Dikta sebentar lagi dia akan menjadi milik lo" Ucap Pak Dikta lagi lalu ia membawa teh es ke ruangan tengah untuk ia kasih ke Veranda
Veranda sedang teliti mengisi jawaban dari tugasnya tanpa ia sadari ada yang memperhatikannya dari jauh.
"Ini teh es pesanan kamu" Ucap Pak Dikta tiba-tiba
"Oh iya makasih Pak maaf ngerepotin" Ucap Veranda tak enak
"Tidak apa-apa" Jawab Pak Dikta
"Ooh ta-tadi sudah pulang katanya ada urusan "Ucap Pak Dikta terbata-bata yang langsung dipercayai Veranda
"Ooh" Jawab Veranda
"Saya minum dulu ya Pak" Ucap Veranda yang diangguki Pak Dikta Veranda meneguk teh esnya dengan sekali tegukan
"Huf leganya" Ucap Veranda
"Haus banget emang dari mana kamu? "Heran Pak Dikta
"Kan butuh tenaga Pak untuk sampai apartemen Bapak ini"Ucap Veranda
"Lebay kan kamu pake lift bukan jalan kaki" Ucap Pak Dikta datar
"Ye tau Pak tapi tetep aja pake tenaga" Ucap Veranda tak terima
"Terserah kamu deh" Ucap Pak Dikta yang membuat Veranda menyengir kuda
__ADS_1
"Aduh"Ucap Veranda tiba-tiba yang membuat Pak Dikta terkejut
"Kamu kenapa Veranda" Ucap Pak Dikta kaget
"Gak tau Pak tiba-tiba kepala saya pusing banget" Aduh Veranda
"Yaudah kamu istirahat aja jangan dipaksa" Ucap Pak Dikta lembut
"Gak usah Pak saya masih kuat, saya ijin pulang dulu ya Pak" Ucap Veranda sambil berdiri
"Jangan dulu kamu masih pusi... Veranda" Ucapan Pak Dikta tiba-tiba terhenti karna melihat Veranda jatuh pingsan ia terlihat khawatir melihat kondisi Veranda tanpa basa-basi lagi ia langsung menggendong Veranda ke kamarnya.
"Maafkan saya" Batin Pak Dikta sambil menggendong Veranda
...✨✨✨...
Sudah 1 jam Veranda ada di kamar Pak Dikta tampak pintu kamar itu masih tertutup rapat tanpa diduga tiba-tiba ada segerombol orang datang ke apartemen Pak Dikta.
"TET TET TET"
"Kemana orangnya sih Ma" Ucap Bang Keinan emosi
"Sabar Nan Mama juga gak tau" Ucap Mama Lili cemas
"Biar Papa dobrak aja" Ucap Papa Veranda sudah kepalang emosi
"Jangan gitu Pa Papa harus sabar" Ucap Mama Veranda
"PAPA HARUS SABAR GIMANA MAH" Ucap Papa Veranda tanpa sadar membentak sang istri
"Maafkan Papa Mah, Papa gak bisa menahan emosi" Sesal Papa Veranda yang diangguki sang istri
"Biarin Papa dobrak ya Mah" Mohon Papa Veranda dengan nada lembut yang membuat sang istri langsung mengangguk
BRAK
BRAK
BRAKKK
Di hentakan ketiga akhirnya pintu terbuka lebar tanpa basa-basi mereka bertiga langsung melangkah masuk tanpa sengaja pandangan mereka mengarah ke ara pintu berwarna hitam itu. Mereka melangkah secara bersama menuju pintu tersebut, Bang Keinan langsung saja memegang gagang pintu tersebut yang rupanya tidak dikunci langsung saja ia buka dengan kasar.
__ADS_1
"ASTAGFIRULLAH" Ucap mereka bertiga secara bersamaan
Bersambung????