
"Kenapa tarik tarik begitu sih sayang? " Tanya Pak Dikta
"Gak risih aja denger omongan ibu ibu tadi" Ucap Veranda
"Yaudah jangan cemberut gitu dong" Ucap Pak Dikta menggoda istrinya
"Buruan Mas ntar keburu malem" Ucap Veranda melangkah terlebih dahulu ia terlalu malu mendengar ucapan Pak Dikta tadi
"Jangan banyak-banyak sayang" Ucap Pak Dikta melihat sang istri mengambil begitu banyak mie instan
"Buat stok Mas" Sahut Veranda
"Iya tapi secukupnya aja jangan sering-sering itu gak sehat sayang" Tegur Pak Dikta dengan nada halus sedangkan yang ditegur hanya menyengir kuda
"Hai Dikta" Panggil seseorang membuat Pak Dikta dan Veranda menoleh
Veranda yang lebih dulu membalikkan badannya seketika memutar bola matanya dengan malas melihat orang yang menegur suaminya itu membuat moodnya menjadi buruk.
"Wah kita ketemu disini emang ya kalo jodoh itu gak kemana" Celutuk orang itu membuat Veranda kesal sedangkan Pak Dikta hanya diam tanpa menyahut omongan orang tersebut
"Kamu belanjaannya banyak banget mau aku bantuin, kebetulan aku juga lagi mau belanja nih" Ucap orang tersebut langsung menyambar troli ditangan Pak Dikta namun dengan cepat Pak Dikta menepisnya
"Ngapain kamu kesini" Ucap Pak Dikta dengan nada dingin
"Ya belanja dongg eh taunya ketemu kamu seneng banget aku" Ucap orang itu dengan senyum manisnya
"Ohiya kok kamu berangkatnya sama si bocil ini" Ucap orang itu membuat Veranda kepalang emosi dengan sebutan "bocil"
"Bocal bocil aja lo gue punya nama kali tante" Sungut Veranda
"Gue bukan tante lo" Sewot orang tersebut yang Veranda panggil tante
"Lah emang gaya lo kayak tante tante" Ucap Veranda dengan nada sinis
"Yaudah yuk Mas ngapain kita ngeladenin dia daritadi buang-buang waktu aja" Ucap Veranda sambil bergelayut manja di lengan Pak Dikta
__ADS_1
Orang tersebut yang mendengar Veranda memanggil Pak Dikta "Mas" seketika melongo ia begitu syok dengan panggilan Veranda itu.
"Dih bocil bocil berani banget lo nyebut calon suami orang pake Mas-mas segala" Ucap orang tersebut ya yang daritadi berdebat dengan Veranda yaitu musuh barunya yang bernama Lidya
"Calon suami siapa maksud lo? Elo gitu aduhh ngaca mbakk punya kaca enggak" Ucap Veranda
"Elo ya daritadi gak ada sopan-sopannya sama gue, apa jangan-jangan lo gak pernah diajari sopan santun sama orang tua lo" Ucap Lidya dengan nada sinis
Veranda yang mendengar Lidya menyebut-nyebut orang tuanya seketika tak terima, darahnya mendidih mendengar penuturan orang yang berada di depannya tersebut.
"Jangan pernah lo bawa-bawa nama orang tua gue"Ucap Veranda dengan nada dingin
"Kenapa gak terima? Apa yang gue ucapin kenyataan kok" Ucap Lidya dengan tersenyum miring
"Sudah hentikan Lidya!! Berapa kali saya harus bilang jangan ikut campur urusan saya! Kamu itu bukan siapa-siapa di hidup saya, jangan bersikap seolah-olah kamu lah yang paling tau segalanya tentang saya sampai-sampai semua orang yang didekat saya kamu komentari. Emang mulut kamu gak ada kerjaan lain selain ngomentarin hidup orang??" Ucap Pak Dikta dengan mulut pedasnya ia terlalu muak dengan tabiat Lidya yang seolah-olah bahwa Lidya lah kekasihnya sangat muak Pak Dikta mendengarnya.
Jleb
Ucapan pedas nan menyelekit memasuki lubung hati Lidya ia memang sudah kebal dengan penolakan Pak Dikta, namun baru kali ini hatinya benar benar sesakit ini.
Teriakan Lidya itupun membuat semua perhatian mengalihkan padanya, Pak Dikta yang melihat Lidya menunjuk wajah istrinya seketika langsung menepisnya.
"Jangan pernah tunjuk istri saya dengan tangan kotor kamu" Ucap Pak Dikta dengan nada tegas
Deg
Air mata yang sejak tadi Lidya keluarkan seketika terlepas semua, ia merasa dunianya terasa berhenti sejenak setelah mendengar pengakuan Pak Dikta istri? Astaga lelucon apalagi ini?Lidya masih menampik bahwa tak mungkin Veranda menjadi istrinya Pak Dikta.
"A-apa istri?" Ucap Lidya
"Iya Lydia" Ucap Pak Dikta
"Hahaha pasti kamu becanda kan Dikta gak mungkin kamu mau nikah sama dia"Ucap Lidya masih tak percaya
"Apanya yang gak mungkin? Kamu gak tau apa apa tentang hidup saya Lidya jadi stop seolah olah kamu tau segala hal tentang saya. Ya saya sudah menikah dengan perempuan yang kamu tunjuk ini dan saya sangat mencintai dia, dia perempuan yang berharga buat saya yang mampu menjaga harkat dan martabatnya gak seperti kamu yang mengobral tubuhmu layaknya pakaian diskonan" Ucap Pak Dikta dengan lontaran-lontaran kalimat menyelekit
__ADS_1
Deg
Lagi-lagi Lidya merasa sangat sakit hati akibat ucapan Pak Dikta walaupun apa yang diucap Pak Dikta memang benar adanya Lidya yang dengan beraninya menjadi simpanan om-om untuk memenuhi gaya hidupnya yang mewah bahkan tak jarang klien kerja Pak Dikta merupakan klien ranjang Lidya juga.
"Mas" Tegur Veranda karna merasa ucapan Pak Dikta sudah kelewatan namun Pak Dikta tak peduli teguran sang istri
"Setega lo sama gue Dikta padahal lo tau gimana perasaan gue bahkan kita sempat mau tunangan dengan seenteng itu lo ngelupain bahkan dengan teganya ngucapin kata-kata yang nyakitin gue" Ucap Lidya dengan berurai air mata
"Kenapa enggak? Kamu bukan siapa-siapa saya, dan ingat bukan saya yang bilang kita akan tunangan tapi kamu yang berspekulasi sendiri bahkan dengan beraninya kamu menyebar berita kebohongan itu kemana-mana" Ucap Pak Dikta dengan rahang mengeras
Bagaimana tidak seemosi ini selama ini Pak Dikta sudah menahannya disaat Lidya berkoar-koar kalo dia dan Pak Dikta akan bertunangan bahkan secara terang-terangan Lidya berani bergelayut dilengannya kenapa ia tak menepisnya? Pak Dikta tak mau membuat Lidya malu dengan mengusirnya namun kali ini ia sudah tak bisa menahan melihat istrinya ditunjuk-tunjuk membuat darahnya mendidih bahkan dengan gamblangnya Pak Dikta membuka kedok Lidya secara terang-terangan membuat Lidya malu? Bagaimana tidak semua mata menatap jijik padanya.
"*Cantik-cantik kok jadi pelakor sih is jijik saya"Celetuk ibu ibu bersanggul
"Ih bukan cuma pelakor dia juga simpanan om om" Celetuk Ibu dengan kacamata melorot
"Mesti dijaga nih suami suami kita jangan sampe kepincut ulet keket modelan kayak dia" Sahut ibu lainnya
"Aduh kalo saya sih malu ngaku ngaku tunangan tapi bukan siapa siapa"Celetuk ibu lainnya membuat semua pengunjung tertawa*
Lidya yang sudah tak tahan gunjingan semua orang langsung melangkah pergi dengan wajah yang memerah bahkan belanjaannya langsung ia tinggal.
"Kalian harus bayar mahal semua kejadian ini, gue gak terima dan gue bakal buat kalian menyesal udah ngelakuin ini. Dikta Veranda tunggu pembalasan gue"Batin Lidya sambil mengepalkan kedua tangannya
"Mas apa kamu gak kelewatan" Tegur Veranda
"Ini pelajaran buat dia buat gak seenaknya ngomong" Ucap Pak Dikta
"Tapi kesian mas dia sampai digituin sama orang orang" Ucap Veranda
"Udah sayang gak papa kadang kita harus jadi orang tegaan biar orang gak seenaknya" Ucap Pak Dikta dengan nada lembut
Veranda yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, namun didalam hatinya ia salut sebegitunya Pak Dikta ngebelanya bahkan dengan gamblangnya ia membuka kebusukan orang tersebut.
"Mas mulut kamu ternyata pedes juga ya" Ucap Veranda seraya terkekeh
__ADS_1