
Ternyata dari awal pertemuan Veranda dan Niko rupanya sedari tadi aktivitas mereka disaksikan oleh Pak Dikta ia menyaksikan itu lewat dinding yang menutupi tubuhnya agar tak ketauan dua orang itu. Ia berusaha meredam emosinya ketika melihat gadisnya dipeluk oleh laki laki lain, mati matian Pak Dikta menahan emosinya agar tak membogem wajah Niko yang sedari tadi menyentuh Veranda dan Veranda malah membiarkannya? Apa apaan ini ia tak melihat wajah calon suaminya sudah merah padam karna menahan emosi, saking tak mampu menahan emosi ia langsung pergi untuk mengontrol emosinya jangan sampai ia memukul siswanya sendiri di sekolah.
Ting!!
Veranda yang sedang menyandarkan pundaknya di bahu Niko pun perlahan menegakkan kepalanya lalu membuka HP untuk melihat siapa yang memberi pesan itu.
...Pak Niko Muka Tembok...
*Krngn sy skrng!
^^^Ha?? Yg jls dong pak^^^
Keruangan sy SEKARANG!!
^^^Ngapain pak?^^^
Ini prnth bkn prtnyn!
^^^Yaya ntr sy kesana^^^
Skrng Verandaa
^^^Ashiaapp*^^^
^^^Read^^^
"Ngapain sih muka tembok tu nyuruh nyuruh gue sih" Gerutu Veranda
"Kenapa Ver? " Tanya Niko
"Ini gue disuruh Pak Dikta keruangannya" Ucap Veranda membuat Niko mengerinyitkan dahinya
"Ada apa kok lo disuruh kesana" Heran Niko
"Ya mana gue tau, yaudah gue keruangannya dulu ya ntar ngamuk lagi dia" Ucap Veranda lalu berdiri bersiap untuk pergi tapi sebelum melangkah tangan Veranda dicekal oleh Niko
"Kenapa Nik? " Tanya Veranda sambil mengangkat salah satu alisnya
"Makasih Ver lo udah mau nerima kejujuran gue" Ucap Niko sambil tersenyum manis
"Iya Niko gua suka kejujuran lo biar lo gak mendem sendiri, tapi maaf Nik gue gak bisa nerima perasaan lo" Ucap Veranda sambil menundukkan kepalanya
"Sans kali hehe" Ucap Niko sambil berusaha tersenyum dihadapan Veranda
__ADS_1
"Yaudah buruan sana lo keruangan Pak Dikta, ntar kena hukuman lo sama tu guru killer" Ucap Niko sambil terkekeh
"Yaudah gue duluan ya Nik" Ucap Veranda sambil melangkah pergi dari hadapan Niko
"Berasa udah pacaran, padahal masih temenan. Kadang rasa nyaman tidak harus didapetin lewat ikatan pacaran" Batin Niko dengan kata kata ngenesnya.
TOK
TOK
TOK
"Masuk" Sahut dari dalam
"Hmm ada apa ya Bapak nyuruh saya kesini? " Tanya Veranda to the point
"Kamu lupa?" Tanya Pak Dikta sambil menatap Veranda tajam
"Ha? Lupa apa Pak? Emang ad pr ya Pak? Tanya Veranda sambil menggaruk pelipisnya yang terasa gatal sedangkan Pak Dikta hanya bisa menghela nafas kasar melihat gadisnya yang masih lolak itu
"Kamu lupa sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri" Ucap Pak Dikta dengan penuh penekanan
"Ooh itu toh Pak kalo itu gak mungkin saya lupa" Ucap Veranda santai
"Kalo kamu gak lupa, untuk apa kamu pelukan dengan laki laki lain sedangkan sebentar lagi status kamu menjadi seorang istri apakah ity wajar? "Tanya Pak Dikta dengan nada dingin
DEG
"K-kok Bapak bisa tau" Tanya Veranda terbata bata
"Saya melihat semuanya" Ucap Pak Dikta dengan nada semakin dingin bahkan suasana dalam ruangan terasa sangat dingin
Glek
Lagi lagi Veranda dibuat bungkam oleh pernyataan Pak Dikta barusan dia melihat semuanya astaga mau taruh dimana muka Veranda ia seperti seorang istri yang sedang diintrogasi oleh suaminya karna ketahuan selingkuh dengan sahabatnya.
"Itu gak seperti yang Bapak pikirkan" Ucap Veranda dengan sisa keberaniannya
"Emang kamu tau apa yang saya pikirkan? "Tanya Pak Dikta dengan mengangkat salah satu alisnya bahkan jarak tubuh mereka sudah dekat
Lagi lagi dan lagi Veranda mengumpat bisa bisanya ia ngomong itu ke Pak Dikta lengkaplah tekanan Veranda kali ini oleh Pak Dikta ia hanya bisa mati kutu dibuat Pak Dikta , dan jarak antara wajahnya dan wajah Pak Dikta sangat dekat bahkan kondisi jantungnya sudah tak terkondisikan.
Huft
__ADS_1
Pak Dikta meniup wajah Veranda membuat Veranda memejamkan matanya dan jarak wajah mereka hanya tersisa 5cm jantung keduanya pun berpacu dengan cepat, Pak Dikta mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan ia memiringkan sedikit kepalanya Veranda yang ngerasa hembusan Nafas beraroma mint itu semakin dekat ia berusaha menutup matanya rapat rapat.
"Jangan main main dengan saya sayang, kamu adalah milik saya dan saya tak akan membiarkan siapapun mengambil kamu dari saya" Bisik Pak Dikta tepat ditelinga Veranda membuat Veranda membuka matanya Pak Dikta yang melihat Veranda membuka matanya hanya mengulumkan senyum
"Kenapa kamu tutup mata? Mau banget ya saya cium" Goda Pak Dikta membuat pipi Veranda memerah karna malu
"A-apain sih Pak gak ada ya siapa juga yang mau dicium sama Bapak" Elak Veranda
"Oh ya kalo gak mau saya cium terus ngapain kamu tutup mata" Ucap Pak Dikta dengan suara seraknya membuat Veranda berusaha mengatur detak jantungnya
"Sial" Batin Veranda bisa bisanya ia tertipu guru muka tembok kaya Pak Dikta ini
"Saya tadi cuma reflek Pak, lagian salah Bapak juga ngapain deket deket dengan saya, ingetloh Pak, Bapak itu guru jangan kurang ajar deh sama muridnya" Ucap Veranda setelah mengumpulkan alasan dan keberaniannya sedangkan Pak Dikta hanya mengangkat salah satu alisnya sambil tersenyum tipis
"Diluar ruangan ini kamu memang murid saya, tapi di dalam ruangan ini kamu adalah calon istri saya" Ucap Pak Dikta sambil berbisik dengan suara seraknya membuat ia lagi dan lagi memerah akibat ucapan Pak Dikta
"Veranda tatap mata saya"Ucap Pak Dikta menyuruh Veranda menatap wajahnya
"Apaan sih Pak gak usah macem macem deh" Elak Veranda dengan memalingkan wajahnya ke arah lain
"Tatap mata saya Veranda Claudysa Shakila"Ucap Pak Dikta dengan penuh penekanan Veranda yang mendengar nada seperti itu pun langsung menoleh dan bertatapan dengan mata Pak Dikta yang sudah dari tadi menatapnya
DEG
"Jantung gue gak sehat astaga perlu bawah ke dokter obgyn nih" Batin Veranda meracau
"Sebentar lagi kita akan menikah Veranda, kamu adalah calon istri saya, dan saya adalah calon suami kamu, saya gak melarang kamu untuk berteman tapi jaga batasan kamu. Apa pelukan rangkulan seperti tadi wajar dalam pertemanan?" Ucap Pak Dikta yang dibalas gelengan oleh Veranda Pak Dikta lalu memegang tangan Veranda digenggamnya erat
"Bolehkah saya egois untuk kali ini, kamu milik saya Veranda saya tidak mengijinkan siapapun laki laki memegang tubuh mu seujung kuku pun, karna kamu milik saya hati saya sudah terpaut dengan kamu Veranda" Ucap Pak Dikta lalu menarik Veranda ke pelukannya Veranda yang mendengar ucapan Pak Dikta bukannya marah ia malah semakin deg degan tak karuan setelah mendengar omongan Pak Dikta itu
"Jangan seperti itu lagi Veranda kamu membuat saya gila, hargai saya sebagai calon suami kamu Veranda" Ucap Pak Dikta sambil meletakkan kepalanya di bahu Veranda memeluk erat gadis itu seolah olah tak mau kehilangan
"Maafin saya Pak saya gak bermaksud gak menghargai Bapak, kejadian tadi pyur pelukan sebagai temen gak lebih" Ucap Veranda sambil mengelus punggung laki laki itu Pak Dikta yang merasakan Veranda membalas pelukannya tersenyum lebar
"Kali ini saya maafkan kamu, tapi jangan sampe diulangi sampe kayak gitu lagi saya mutilasi laki laki itu" Ucap Pak Dikta dengan nada manjah Veranda yang mendengar nada aneh itu hanya terkikik geli
"Kejam amat Pak" Ucap Veranda sambil terkekeh
"Biarin"Sahutnya sambil mendusel duselkan wajahnya di leher Veranda membuat sang gadis geli
"Iih geli tau Pak" Geli Veranda sambil tertawa ia berusaha melepaskan pelukannya dengan Pak Dikta, Pak Dikta makin mempererat pelukannya tak mau kalah Veranda pun memberontak keras lalu pelukan itu perlahan terlepas Pak Dikta memundurkan badannya sedikit dan
Cup
__ADS_1
Satu kecupan dari Pak Dikta mendarat dibibir hanya kecupan tidak lebih tapi membuat mata Veranda membulat sempurna
"BAPAK BIBIR SAYA GAK PERAWAN LAGII" Pekik Veranda yang membuat Pak Dikta kelabakan dan langsung menutup mulut gadis itu dengan tangannya.