
"Dikta" Panggil seseorang membuat Pak Dikta dan Veranda secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara
"Hai Dikta akhirnya kita ketemu ya" Sapa seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di depan meja mereka
"Ngapain kamu" Ucap Pak Dikta singkat
"Iih Dikta nyebelin deh tadi tu aku habis pergi terus gak sengaja ngeliat kamu, jadi aku samperin deh" Ucap perempuan itu sambil mengerucutkan bibirnya sok imut
"Saya gak nanya" Jawab Pak Dikta pedas membuat Veranda menahan tawanya
"Kamu kok akhir-akhir ini susah dihubungin kan aku kangen ketemu kamu Dikta"Ucap perempuan itu dengan nada manjahh. Bukannya menjawab pertanyaan perempuan itu Pak Dikta malah asik dengan ponselnya membuat perempuan itu kesal bukan main lalu pandangannya terarah ke sosok gadis yang duduk di samping Pak Dikta.
"Lo kan temennya si bocah itu kan" Tanya perempuan itu kepada Veranda
"Dih bocah? Iya deh si paling tante"Sahut Veranda membuat perempuan itu esmosi
"Enak aja lo ngatain gue tante, kenalin gue Lidya model terkenal, dengan body aduhai" Ucap perempuan yang bernama Lidya itu membuat Veranda lagi lagi menahan tawanya
"Lidya? Lo Lidya Danira kan? "Tanya Veranda tiba tiba membuat Lidya mengerinyitkan dahinya
"Lidya Danira siapa tu" Jawabnya ketus
"Ya lo lah lo kan lidya pelakor hubungan orang, udah pelakor gak tau diri lagi minta ke cappadocia" Oceh Veranda tak jelas membuat Lidya dan Pak Dikta yang sedang diam pun melongo mendengarnya
"Sialan lo bocah gue bukan pelakor" Ucapnya emosi sedangkan Veranda hanya mengangkat bahunya acuh
"Dikta sayang masa dia ngatain aku pelakor aku kan pacar kamu bukan pelakor" Adunya dengan nada manja menggoda
"Sudah saya bilang berapa kali saya bukan pacar kamu, dan jangan lagi kamu ngaku-ngaku jadi pacar saya karna itu bukan malah bikin saya seneng, tapi malah bikin saya ilfeel liat kamu" Ucap Pak Dikta dengan nada datar nan pedas
Lidya yang mendengar perkataan nyelekit dari Pak Dikta serta ejekan dari Veranda membuatnya malu bukan main dengan sisa kepercayaan diri yang masih ada dia bangkin dengan emosi bergemuruh lalu pergi dari tempat itu.
"Liat aja gue bakal balesan perbuatan kalian berdua" Batin Lidya lalu benar benar pergi dari sana.
"Bapak gak boleh gitu sama pacar Bapak jangan mentang mentang berantem Bapak jadi ketus gitu kan kasian si tante Lidya Danira tu pasti sakit hati" Ucap Veranda memecahkan keheningan
"Dia bukan pacar saya" Jawab Pak Dikta singkat
"Dih gini ni cowok kalo udah bosen pasti dibuang ntar nyari yang baru gak heran sihh"Oceh Veranda membuat telinga Pak Dikta panas mendengarnya
"Saya bukan laki laki seperti itu Veranda dan dia bukan pacar saya, saya gak pernah pacaran sama siapapun" Ucap Pak Dikta membuat Veranda terkejut mendengarnya
"Bapak gak pernah pacaran? Yakin Pak masa sih Bapak gak pernah atau gak punya pacar secara Bapak kan udah tua nih" Ucap Veranda membuat Pak Dikta mendengus kesal
"Saya gak pernah pacaran Veranda dan apa tadi kamu bilang saya tua? Umur saya baru 26 tahun Veranda" Ucap Pak Dikta dengan nada ketus
"26 tahun Bapak gak laku ck ck ck kesian" Ejek Veranda
"Bukan gak laku tapi saya memang tidak mau pacaran, dan lagi pun saya ganteng banyak perempuan ngantri untuk pacaran sama saya tapi saya yang tidak mau" Ucap Pak Dikta dengan nada sombong Veranda yang mendengar itu berekspresi ingin muntah melihatnya
"Pede amat Pak" Cibir Veranda tapi tak di dulikan oleh Pak Dikta
__ADS_1
"Sudah sore lebih baik kita pulang takut orang tua kamu cariin" Ucap Pak Dikta yang diangguki oleh Veranda
Selama dalam perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka berdua tak ada yang membuka suara Pak Dikta fokus dengan menyetirnya sedangkan Veranda fokus melihat arah jendela.
"Veranda saya boleh tanya sesuatu sama kamu? " Tanya Pak Dikta tiba tiba
"Tanya apa Pak" Ucap Veranda
"Kamu pernah pacaran" Tanya Pak Dikta
"Pernah" Jawab Veranda
"Berapa kali" Tanyanya lagi
" Satu" Jawab Veranda
"Kok bisa putus terus sekarang kamu deket sama siapa? " Tanyanya lagi membuat Veranda mengerinyitkan dahinya
"Kok tumben Bapak nanya nanya begini ada apa ? " Curiga Veranda
"Tinggal jawab aja Veranda" Sahutnya
"Dia selingkuh, dan saya gak lagi deket sama siapa siapa"Ucap Veranda
"Yakin kamu? Terus laki laki yang ganggu les kamu itu gimana? Siapa itu Kiko Kiko gitu namanya"Ucap Pak Dikta
"Ck Niko Pak namanya ganti ganti aja nama anak orang" Ucap Veranda sebal
"Ya bukan lah Pak saya sama Niko itu udah bestie banget sahabat dari kelas 10 jadi gak heran kalo kita itu deket banget" Terang Veranda
"Yakin cuma sahabatan? Ingat Veranda gak ada sahabatan antara cewek dan cowok pasti ada salah satunya yang menyimpan perasaan dari kamu atau dari si Niko itu" Jelas Pak Dikta yang membuat Veranda seketika terdiam diam diam ia menyetujui ucapan Pak Dikta, namun dengan cepat ia menepisnya
"Gak mungkinlah Pak saya suka sama Niko, apalagi Niko gak mungkin suka sama saya"Elak Veranda
"Kenapa kamu bisa bilang gak mungkin emang kamu tau perasaan Niko ke kamu gimana" Ucap Pak Dikta membuat Veranda bungkam
"Gak bisa jawabkan kamu? Ada baiknya kamu sama Niko untuk berjarak sedikit saya gak melarang kamu berteman tapi kamu harus tau batasannya sebentar lagi status kamu bukan hanya kamu sendiri tapi ada nama suami kamu yaitu saya dan dengan ada jarak antara kamu dan Niko kamu bisa tau Niko punya perasaan lebih atau enggak ke kamu" Ucap Pak Dikta panjang kali lebar yang membuat Veranda menganga karna baru ini dengar Pak Dikta ngomong panjang selain ngomong materi pembelajaran
"Wiihh kerenn baru denger saya Bapak ngomong panjang lebar gini" Ucap Veranda sambil bertepuk tangan saking antusiasnya
"Kamu gak dengerin saya bilang apa? " Tanya Pak Dikta
"Enggak" Dengan polosnya Veranda menggeleng membuat Pak Dikta menggeram kesal
"Untung sayang kalo gak udah saya tenggelemin kamu" Batin Pak Dikta
15 menit kemudian mobil Pak Dikta telah sampai di depan gerbang rumah Veranda
"Makasih ya Pak udah traktir dan nganter saya pulang" Ucap Veranda
"Ya sama sama" Ucap Pak Dikta
__ADS_1
"Bapak mau mampir dulu gak? " Tawar Veranda
"Gak usah saya mau langsung pulang aja" Tolak Pak Dikta
"Yaudah hati hati ya Pak"Ucap Veranda sambil tersenyum manis Pak Dikta yang melihat senyuman itu terhipnotis seketika namun ia segera menepisnya
"Ya,saya duluan salam sama orang tua kamu"Pamit Pak Dikta yang diangguki oleh Veranda
...✨✨✨...
Malam Hari
Di kediaman keluarga Pramaja seusai makan malam Pak Dikta langsung ke kamarnya dan termenung dengan kejadian yang hari ini ia alami ia sungguh tak menyangka sebentar lagi gadis yang ia sukai benar benar menjadi miliknya terasa mimpi namun nyata. Ia pun membuka ponselnya dan membuka aplikasi galeri terpampang foto Veranda yang diam diam ia ambil waktu di mobil, senyum manis Veranda seketika menular ke Pak Dikta ia tersenyum melihat wajah gadis itu.
"Kamu membuat saya gila Veranda" Ucap Pak Dikta sambil mengguling gulingkan badannya sambil memeluk foto Veranda yang di galerinya itu.
Pagi Hari
Jadwal pelajaran pertama di kelas Veranda yaitu olahraga semua bersiap siap mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga,lalu beramai ramai turun ke lapangan berbaris rapi sebelum Pak Agus membunyikan pluit kesayangannya itu.
"Selamat pagi semuanya" Ucap Pak Agus
"Pagi Pak" Sahut semuanya
"Pagi ini kita akan mempelajari materi bola basket jadi untuk yang putra dan putri segera membuat barisan dan akan maju satu persatu "Terang Pak Agus
Semua siswa siswi satu persatu maju untuk mempraktekkan permainan bola basket itu untuk sampai masuk ke dalam ring agar nilai nya di atas KKM
"Oke selanjutnya" Ucap Pak Agus membuat Veranda segera maju ia dengan lihai mendribble bola basket itu lalu melakukan jump shot dan bola itu pun masuk ke dalam ring membuat semua orang bertepuk tangan melihat keahlian Veranda dalam bermain bola basket bahkan seseorang dari lantai 2 pun tersenyum tipis melihat gadisnya itu begitu lihai.
"Gila keren banget lo Ver" Ucap Fiona
"B aja"Jawan Veranda
"Lo belajar darimana sampe bisa lihai gitu? "Tanya Alya
"Memang dari SMP gue suka basket cuma semenjak SMA udah jarang mainnya" Ucap Veranda yang dibalas anggukan oleh mereka
"Eh Vera pasti capek kan lo ni gue bawain minuman" Ucap Niko yang tiba tiba datang
"Thanks Nik tapi lo gak perlu repot repot kayak gitu" Ucap Veranda tak enak
"Gak repot kali kayak sama siapa aja sih lo" Ucap Niko lalu merangkul pundak Veranda membuat Veranda seketika tidak nyaman dengan posisi itu
"Em Nik jangan gini gak enak di liat orang" Ucap Veranda lalu menurunkan tangan Niko dari pundaknya Niko yang melihat itu mengerinyitkan dahinya heran akan tingkah Veranda
"Tumben lo gini Ver biasa juga gak papa" Heran Niko
"Gak gue gak enak aja diliat orang, em yaudah gue mau ke toilet dulu ya Nik" Ucap Veranda lalu mengajak kedua temannya melangkah pergi
Niko yang melihat Veranda semakin menjauh hanya bisa menghela nafasnya kasar
__ADS_1
"Kapan lo ngeliat gue sebagai cowo bukan sebagai temen Ver" Lirih Niko ia hanya berharap Veranda akan peka terhadap perasaannya selama ini.