Pak Guru Is My Husband

Pak Guru Is My Husband
Meminta Hak?


__ADS_3

"Cucu? " Ulang Pak Dikta


"Iya cucu Bunda nunggu cucu dari kamu loh Dik, kamu kan anak satu satunya udah nikah pulak, buru buru lah ngasi Bunda cucu keburu Bunda semakin tua" Ucap Bunda Pak Dikta tanpa sadar menyentuh hati Veranda


Deg


"Apa gue egois selama ini" Batin Veranda


Pak Dikta yang sadar ekspresi wajah Veranda langsung berubah ketika sang Bunda menyentil soal cucu langsung menjawab omongan sang Bunda.


"Aku gak mau buru buru dulu Bun, masih mau nikmatin waktu berdua dengan istri aku" Ucap Pak Dikta


"Tapi kan usia kamu sudah matang sudah cocok jadi Ayah" Ucap Sang Bunda


"Udah Bun jangan terlalu menuntut mereka biarkan mereka yang menjalani hubungan ini, kita sebagai orang tua cuma bisa memberi tau, tapi yang menjalani tetap mereka" Ucap Ayah Pak Dikta tegas yang dari tadi hanya diam seketika membuat Bunda Pak Dikta menunduk


"Maaf Yah" Ucap Bunda Pak Dikta yang diangguki oleh sang suami


"Maafin Bunda ya Dikta, Vera" Ucap Bunda Pak Dikta


"Iya Bun gak papa kok" Ucap Veranda sambil tersenyum


Selepas makan malam Veranda dan Pak Dikta langsung menuju kamar, Veranda yang daritadi hanya diam membuat Pak Dikta menghela nafasnya ia sudah tau apa penyebab istrinya diam itu.


"Veranda" Panggil Pak Dikta membuat Veranda mendongak menatap wajah Pak Dikta


"Sini duduk ada yang mau saya omongin" Ucap Pak Dikta sambil menepuk pinggiran raniang disampingnya itu


"Ada apa Mas" Ucap Veranda setelah duduk disampingnya itu


"Saya minta maaf kalo omongan Bunda tadi menyinggung kamu" Ucap Pak Dikta sambil memegang tangan Veranda


"Aku paham kok Mas, wajar Bunda ngomong gitu kamu kan anak satu satunya, kamu harapan Bunda" Ucap Veranda membuat Pak Dikta semakin merasa bersalah


"Vera saya sama sekali gak nuntut kamu, saya bakal tunggu kamu sampai kamu siap" Ucap Pak Dikta tulus


"Aku udah siap kok Mas"Ucap Veranda sambil tersenyum


"Enggak enggak kamu ini lagi emosi pikirin baik-baik ya, saya bakal tetep nunggu kamu sampai siap, mau 1 tahun, 2 tahun atau mungkin masih beberapa tahun lagi saya gak papa Veranda saya gak masalah, saya gak mau kamu melakukan atas dasar tuntutan atau karna paksaan" Ucap Pak Dikta bersungguh sungguh membuat Veranda tersenyum haru mendengarnya


"Mas aku siap bukan berarti karna paksaan atau tuntutan orang aku siap karna memang kewajiban aku sebagai istri untuk melayani kamu" Ucap Veranda dengan tulus


"Izinin aku menjadi istri yang sesungguhnya Mas, izinin aku memberikan yang sudah sepantasnya kamu dapatkan, aku cuma minta bimbing aku untuk menjadi istri yang baik, kalo pun aku salah tolong tegur aku Mas" Ucap Veranda sambil mengecup tangan Pak Dikta


Pak Dikta yang mendengar ucapan sang istri tanpa sadar air matanya menetes keluar membasahi wajah tampannya itu.


"Sayang kamu serius" Ucap Pak Dikta memastikan lagi


"Sangat serius Mas" Ucap Veranda sambil tersenyum


Tanpa aba aba Pak Dikta langsung menubruk tubuh mungil istrinya begitu beruntungnya ia mendapatkan balasan atas perasaannya itu, dalam hatinya ia berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Veranda.


"Saya sayang sama kamu" Ucap Pak Dikta sambil mengecup dalam kening istrinya itu lalu merebahkan sang istri diatas ranjang

__ADS_1


"Aku juga sayang sama Mas" Ucap Veranda sambil tersenyum


Veranda yang melihat wajah Pak Dikta yang akan mendekat langsung mendorong pelan kening suaminya itu.


"Kenapa sih sayang" Sungut Pak Dikta ia kesal tiba tiba sang istri mendorong keningnya padahal pemanasan aja belum


"Doa dulu Mas, hapal gak kamu doanya" Ucap Veranda


"Hapal dong sayang aku ngapalin udah dari SMP" Ucap Pak Dikta sambil tersenyum sedangkan Veranda melongo mendengar ucapan sang suami


Pak Dikta membaca doa dengan fasih setelah itu ia mendekat ke arah wajah Veranda mencium kening sang istri dengan penuh cinta, cukup lama Pak Dikta mencium kening istrinya tersebut, lalu beralih mencium kedua mata sang istri, beralih ke pipi dan terakhir ia mencium bibir sang istri sambil ******* lembut.


Setelah itu yang tau hanya Veranda dan Pak Dikta lah yang tau???


...✨✨✨...


Sinar matahari mulai menyinari dirumah keluarga Pramaja semua sedang melakukan aktivitas sehari harinya tampak Bunda Pak Dikta yang sedang melayani sang suami.


"Dikta sama Veranda kemana sih Yah, masa jam segini belum keliatan" Ucap Bunda Pak Dikta


"Yaudah biarin aja Bun, kan kamu sendiri yang mau minta cucu" Ucap Ayah Pak Dikta dengan santai


"Ohiya lupa Bunda Yah" Ucap Bunda Pak Dikta sambil menyengir kuda


Sementara dikamar Pak Dikta tampak sepasang suami istri yang masih bergulung selimut, sinar matahari yang menembus jendela pun tak mampu membuat mereka bangun. Namun tak berselang lama sepasang mata mulai membuka matanya mata tajam itu mulai menilik arah sekitar untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dimatanya, tak lama pandangannya terhenti ke seorang gadis ups bukan lagi gadis tapi wanita yang masih belum bangun dari tidurnya.


Pak Dikta melihat wajah sang istri yang masih tidur seketika tersenyum ia masih membayangkan kejadian semalam yang membuatnya mabuk kepayang, hampir jam setengah 3 subuh Pak Dikta baru berhenti menggempur Veranda, ia begitu bahagia menjadi orang yang pertama menerima mahkota sang istri. Dengan usilnya Pak Dikta mulai menciumi mata, pipi, kening, serta bibir Veranda bahkan ia ********** dengan cukup lama, Veranda yang merasa tidurnya diusik itupun perlahan mulai mengerjapkan kedua matanya dan yang ia lihat pertama yaitu sang suami yang sudah berhadapan dengan wajahnya membuat kedua pipinya merona.


"Pagi Mas" Ucap Veranda


"Gimana tidurnya nyenyak? "Tanya Pak Dikta usil


"Is gimana mau nyenyak orang kamu gangguin mulu" Sungut Veranda


"Maaf sayang aku cuma gak mau kamu telat sarapan, yaudah yuk kita bersih-bersih dulu" Ucap Pak Dikta


"Kita? Mas dulu aja baru aku" Ucap Veranda sambil membuang muka


"Kelamaan sayang, mending langsung aja biar cepett" Ucap Pak Dikta sambil menggendong Veranda ala bridal style


Veranda yang digendong tiba tiba itu langsung teriak bagaimana mana tidak Pak Dikta menggendongnya tanpa sehelai benangpun membuat Veranda malu sampai ke ubun-ubun.


"Is Mas turunin apaan sih selimut aku jatuh itu" Ucap Veranda


"Gak perlu pake selimut-selimutan sayang, aku udah tau semuanya" Ucap Pak Dikta frontal membuat Veranda menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya itu


Setelah sampai dikamar mandi Pak Dikta mendudukkan Veranda terlebih dahulu diatas closet, lalu mulai mengisi air hangat di bath up, setelah merasa hangatnya sudah pas Pak Dikta langsung mengangkat Veranda kembali dan memasukkan perlahan kedalam bath up air hangat itu.


"Kamu mandi dulu kalo ada apa-apa langsung teriak aja ya" Ucap Pak Dikta sambil meletakkan handuk dan bathrobe


"Mas mau kemana" Tanya Veranda


"Mau keluar? Kenapa mau mandi sama saya? Atau mau saya mandiin" Goda Pak Dikta membuat Veranda menyiram wajah Pak Dikta dengan air

__ADS_1


"Yaudah is sana aku mau mandi" Ucap Veranda kesal


"Iya iya saya kalo ada apa-apa panggil aku ya"Ucap Pak Dikta sambil mengacak ngacak rambut Veranda lalu melangkah keluar


"Gila jantung gue makin jedag jedug aja nih deket Mas Dikta" Ucap Veranda kepada dirinya


Setelah keluar dari kamar mandi tadi Pak Dikta langsung membereskan kamarnya meletakkan pakaian kotor miliknya dan Veranda ke dalam keranjang kotor, ketika ia akan mengambil spray kotor ia tersenyum melihat bercak darah yang menempel bukannya memasukkan ke keranjang kotor Pak Dikta malah menyimpannya dalam lemari.


"Kenang-kenangan" Batin Pak Dikta sambil senyum-senyum


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan Veranda yang menggunakan bathrobe mulai berjalan, namun cara berjalan Veranda yang sedikit melebar itu membuat Pak Dikta gemas melihatnya, tanpa aba-aba Pak Dikta langsung menggendong Veranda dan meletakkannya di pinggir ranjang.


"Is apaan sih Mas aku bisa jalan sendiri kali" Ucap Veranda sebal


"Mau nunggu berapa lama orang kamu jalan kayak siput gitu" Ledek Pak Dikta


"Udah tunggu disini biar saya yang ambilin pakaian buat kamu" Ucap Pak Dikta


Pak Dikta melangkah mengambil pakaian apa yang cocok untuk Veranda setelah itu ia beranjak memberikannya ke arah Veranda, Veranda yang melihat pakaian dalamnya ditangan Pak Dikta mmbuat pipinya memanas ia begitu malu aset pribadinya dipegang Pak Dikta. Veranda langsung merampas barang pribadinya itu lalu beranjak, namun Pak Dikta mencegahnya.


"Mau kemana? " Tanya Pak Dikta


"Ke ruang ganti" Jawab Veranda ketus


"Disini aja makenya" Ucap Pak Dikta santai


"Dasar omes kamu Mas" Sungut Veranda


"Hahahaha" Tawa lepas Pak Dikta melihat ekspresi menggemaskan sang istri


" Biar saya yang keluar kamu disini aja gantinya" Ucap Pak Dikta


"Mas mau kemana? " Ucap Veranda masih dengan nada ketus


"Mau keluar mau ngambilin kamu sarapan, emang kamu mau keluar dengan kondisi begini? "Tanya Pak Dikta yang dijawab gelengan oleh Veranda


"Yaudah kamu tunggu disini aja, saya keluar dulu" Ucap Pak Dikta


"Iya" Sahut Veranda


"Veranda" Panggil Pak Dikta membuat Veranda menoleh dan kesempatan itu tak disia-siakan Pak Dikta ia langsung mengecup sekilas bibir istrinya itu


Cup


Veranda yang masih syok hanya bisa terdiam, sedangkan Pak Dikta sudah ngacir keluar sebelum Veranda sadar


Tak lama


"MAS DIKTA" Teriak Veranda membuat Pak Dikta yang didepan pintu tertawa


"Hahahaha" Tawa Pak Dikta setelah itu ia langsung beranjak ke meja makan sebelum Veranda semakin ngamuk.

__ADS_1


__ADS_2