
"Dia siapa? "Ucap seseorang yang masuk ke dalam Veranda membuat jantung Veranda jedag jedug
Deg
Mendengar suara serak serak basah itu membuat Veranda langsung menoleh ke arah suara tersebut.
Mata tajam itu saling beradu tatap dengan Veranda membuat Veranda menjadi gugup
"Emm i-itu bukan siapa siapa kok"Ucap Veranda dengan nada gugup
"Yakin?" Ucap Pak Dikta sambil mengangkat sebelah alisnya
"Iya" Ucapnya singkat
"Veranda"Panggil Pak Dikta membuat sang empu menoleh
"Ya Pak" Jawab Veranda
"Saya mau bicara serius sama kamu" Ucap Pak Dikta dengan nada serius
"Ya ngomong tinggal ngomong aja kali Pak" Sahut Veranda
"Saya ingin hubungan ini lebih terbuka antara kamu dan saya, saya tau ini terlalu cepat buat kamu, tapi percayalah hati saya benar benar serius dan tulus sama kamu, saya gak mau kamu dimiliki orang lain Veranda. Kamu cuma milik saya"Ucap Pak Dikta
"Tatap mata saya Veranda"Ucap Pak Dikta sambil menangkup kedua pipi Veranda
"Apa sampai saat ini belum ada cinta dihati kamu buat saya" Tanya Pak Dikta dengan sorot mata mendalam
Deg
__ADS_1
Melihat wajah Veranda yang menunduk membuat Pak Dikta melepaskan tangannya dari wajah Pak Dikta lalu mengusap wajahnya secara kasar.
"Saya bodo ya? Hahaha perempuan secantik dan sebaik kamu mana mungkin cinta sama saya"Ucap Pak Dikta dengan nada frustasi
"P-pak" Ucap Veranda ia begitu kaget dengan kalimat Pak Dikta yang barusan ia dengar
"Saya tau Veranda, saya hanya laki laki brengsek, laki laki pecundang yang dengan tidak tau malunya saya menaruh rasa cinta untuk kamu bahkan membuat kamu menikah dengan lelaki brengsek seperti saya!! Saya memang brengsek Veranda saya memang pengecut tapi yang harus kamu tau kamu adalah perempuan kedua yang saya cintai setelah ibu saya, dan kamu adalah perempuan terakhir yang selalu ada dihati saya, saya bukan laki laki lain yang mengumbar janji sehidup semati, tapi saya laki laki yang berprinsip hidup saya hanya sekali, bukan berulang kali, dan saya hidup bukan untuk puluhan wanita, saya hidup hanya untuk satu wanita yaitu kamu." Ucap Pak Dikta dengan nada tulus bahkan air matanya juga ikut mengalir mewakili isi hatinya
Veranda yang mendengar itu sangat terharu laki laki cuek namun bisa mempora-porandakan hatinya bahkan ia sudah sesegukan karna merasa bersalah ke suaminya itu. Pak Dikta yang mendengar isak tangis Veranda segera menoleh.
"Sst jangan nangis air mata kamu terlalu berharga untuk saya" Ucap Pak Dikta sambil menghapus air mata dipipi Veranda
"Laki- laki seperti saya gak pantes kamu tangisin, udah jangan nangis ya setiap air mata kamu yang keluar membuat saya semakin sakit sebegitu gak bergunanya saya membuat perempuan yang saya cintai menangis" Ucap Pak Dikta sambil merengkuh Veranda kedalam pelukannya
"Bapak salah" Ucap Veranda sambil melepaskan pelukannya
"Iya Bapak salah karna bilang saya belum cinta sama Bapak nyatanya sekarang perasaan cinta saya udah tumbuh" Ucapan Veranda tadi langsung membuat Pak Dikta seketika diam kaku ia masih mencerna perkataan Veranda
"K-kamu udah punya perasaan sama saya"Ucap Pak Dikta dengan nada haru
"Iya saya udah cinta bahkan dari mulai ijab qabul hati saya memang terpatri untuk suami saya yaitu Bapak, tapi cintanya nyicil dulu ya Pak baru tumbuh 80% soalnya" Ucap Veranda sambil terkekeh Pak Dikta yang mendengar itu langsung terbahak
"Saya bakal rubah 80% itu menjadi 100% bahkan 1000% supaya cinta kamu hanya untuk saya" Ucap Pak Dikta
"Aaah Pak Gurunya so sweet meleyot hati adek bang" Sahur Veranda dengan nada geli
"Hahaha hati abang sepenuhnya untuk adek" Ucap Pak Dikta mengikuti drama istrinya tersebut
"Saya mau kamu jangan panggil saya Pak lagi" Cetus Pak Dikta tiba tiba membuat Veranda terdiam seketika
__ADS_1
"Terus panggil apa dong" Tanya Veranda
"Ya terserah lah" Ucap Pak Dikta dengan nada acuh
"Emm gimana my sweetie boy, honey mungkin atau enggak baby boy" Ucap Veranda seraya tersenyum jahil
"Yang standar Veranda" Ucap Pak Dikta dengan nada datar ia kaget Veranda akan memanggilnya itu dengan nada yang menggelikan
"Ye itu juga standar kali emm gimana kalo panggil Mas aja" Ucap Veranda
"Boleh" Jawab Pak Dikta singkat tanpa Veranda sadari telinga Pak Dikta sudah memerah menahan salting akibat panggilan "Mas" itu
"Mas salting ya" Cetus Veranda tiba tiba ia sadar melihat sikap Pak Dikta yang tiba tiba memerah selain salting apalagi yakali dia nahan bab wkwk
"Cie Mas salting uhuuyy Mas Diktaku salting" Veranda semakin gencar menggoda Pak Dikta karna sudah tak tahan godaan Veranda Pak Dikta langsung keluar kamar
Melihat sang suami keluar dengan nahan saltingnya itu membuat Veranda terbahak bahak
"Widih mimpi apa gue dapet laki yang nahan salting karna gue panggil mas doang"Batin Veranda
Di ruang tamu setelah melewati godaan Veranda akhirnya Pak Dikta bisa bernafas lega, dua pun tak paham kenapa dia bisa sebegitu saltingnya dipanggil "Mas"
"Veranda Veranda kalo ada kata lebih dari bucin mungkin itu saya" Ucap Pak Dikta sambil menggeleng gelengkan kepalanya
"Emang apa Mas selain budak cinta?? Nyungsep cinta??" Ucap Veranda tiba tiba sambil menongolkan wajahnya disamping bahu Pak Dikta
"Astagfirullah" Ucap Pak Dikta sambil mengelus dadanya ia begitu kaget ngeliat kelakuan istrinya tersebut
"Untung sayang, kalo enggak udah saya lelepin di kolam" Batin Pak Dikta
__ADS_1