
"Tumben baru turun" Ucap Sang Bunda setelah melihat Pak Dikta yang sedang di meja makan mengambil lauk pauk
"Iya kesiangan Bun" Sahut sang putra
"Vera nya mana? " Tanya sang Bunda
"Belum bangun Bun" Ucap Pak Dikta membuat Bundanya senyum senyum
"Yaudah Bun aku ke atas dulu ya mau nganterin sarapan Veranda" Ucap Pak Dikta yang diangguki sang Bunda
Setelah masuk ke dalam kamar Pak Dikta melihat Veranda yang sedang duduk ditepi ranjang sambil memainkan handphonenya
"Sayang makan dulu yuk" Ucap Pak Dikta membuat Veranda memberhentikan aktivitasnya
"Iya" Ucap Verada sambil turun dari ranjang
"Kamu gak makan Mas? "Tanya Veranda
"Enggak belum laper kamu aja dulu yang makan" Ucap Pak Dikta
"Ih gak boleh gitu ini udah siang tau, sini aku suapin aja" Cerocos Veranda membuat Pak Dikta tersenyum mendengar perhatian sang istri
"Iya iya" Sahut Pak Dikta
"Yaudah sini aaak" Ucap Veranda sambil menyuapkan makanan kedalam mulut Pak Dikta, Pak Dikta menerimanya dengan senang hati
"Kamu juga makan dong" Ucap Pak Dikta sambil mengambil alih sendok di tangan Veranda lalu menyuapinya dengan lembut
Veranda yang diperlakukan dengan lembut itu tak bisa menyembunyikan senyumnya ia merasa bahagia diperlakukan semanis ini oleh suaminya
"Biar saya yang bawa ke bawah kamu istirahat aja" Ucap Pak Dikta yang diangguki Veranda
"Gimana gak makin cinta gue kalo diginiin mulu mana mukanya aduhai banget" Monolog Veranda
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka Pak Dikta masuk lalu menutup pintunya kembali ia melihat Veranda yang sedang senyum senyum sendiri, ia pun menaiki ranjang dan berbaring disebelah Veranda.
"Kenapa senyum-senyum begitu hem? "Tanya Pak Dikta dengan suara serak seraknya itu
"Eh?" Veranda tiba tiba tersadar ketika ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya
"Ngapain sih Mas peluk-peluk gini" Ucap Veranda
__ADS_1
"Ya gak papa dong emang salah suami meluk istrinya hmm" Tanya Pak Dikta dengan lembut
"Ya enggak sih tapi kan.." Ucapan Veranda terhenti ketika telunjuk Pak Dikta menutup bibirnya
"Sst udah jangan protes mending kamu istirahat lagi semalem kan tidur kamu belum cukup" Ucap Pak Dikta membuat Veranda mengingat kejadian semalam ia pun dibuat salah tingkah ketika mengingat kejadian malam itu
"Is gak usah dibahas kali malu tauu!!" Ucap Veranda kesal
"Gak usah malu nanti juga keseringan udah biasa" Ucap Pak Dikta santai membuat pipi Veranda meronah
"Veranda" Panggil Pak Dikta
"Hmm" Deheman Veranda sebagai jawaban
"Saya mau bilang terimakasih ke kamu"Ucap Pak Dikta membuat Veranda menoleh ia mengangkat sebelah alis pertanda 'kenapa'
"Terimakasih kamu udah ngasi harta berharga kamu untuk laki laki seperti saya" Ucap Pak Dikta
"Mas" Tegur Veranda ia tak suka perkataan suaminya tersebut
"Harusnya laki-laki brengsek seperti saya gak pantas perempuan sebaik kamu, tapi Tuhan baik sama saya dia ngirimin bidadari pelengkap hidup saya"Ucap Pak Dikta tulus
"Cukup Mas, jangan kamu bilang diri kamu sendiri itu brengsek, aku gak suka dengernya aku ngasi mahkota aku karna memang kamu pantes dapetinnya. Kamu suami aku Mas sudah sewajarnya aku melayani kamu, dan ingat cukup kali ini aku denger omongan kayak tadi jangan sampe ak denger lagi, aku bakal marah besar sama kamu" Ucap Veranda tersirat nada tegas didalamnya
Tanpa banyak kata lagi Pak Dikta langsung menarik istrinya itu untuk terjatuh diatas dadanya dan memeluk erat tubuh sang istri
"Eits masa masih pake saya sih Mas formal banget sama istri"Dumel Veranda
"T-terus saya harus pake apa saya gak tau" Gugup Pak Dikta karna jujur ia tak tau apa panggilan panggilan orang ke pacarnya atau istrinya
"Pake aku kamu dong Mas masa itu aja kamu gak tau" Ucap Veranda
"Iya aku coba" Ucap Pak Dikta dengan nada kikuk
"Nah gitu dong saya Mas Dikta banyak-banyak" Ucap Veranda sambil menghambur kepelukkan sang suami sedangkan Pak Dikta yang dipeluk seperti itu hanya terkekeh gemas.
"Ohiya Mas sebelum pulang nanti kita belanja ya" Ucap Veranda yang masih dipelukan Pak Dikta
"Iya sayang" Sahut Pak Dikta sambil mengeratkan pelukannnya dengan sang istri
...✨✨✨...
Waktu menunjukkan pukul 15.30 Veranda dan Pak Dikta telah siap untuk menuju apartemennya
__ADS_1
"Ayah,Bunda kita pulang dulu ya"Ucap Pak Dikta membuat mereka menghela nafas kecewa jujur mereka masih ingin sang anak beserta isinya untuk tinggal disini
"Gak bisa nginepnya ditambah lagi Dik? " Tanya sang Bunda
"Gak bisa Bun, Vera masih ada tugas sekolah" Ucap Pak Dikta
"Iya Bunda Vera masih ada tugas nanti deh kalo lagi senggang kita nginep lagi disini" Ucap Veranda tersenyum manis membuat Bunda Pak Dikta juga tersenyum
"Yaudah Bunda gak bisa maksa kalian, pokoknya kalo ada waktu kesini ya Bunda kesepian" Ucap Bunda Pak Dikta membuat Veranda dan Pak Dikta merasa sedih
"Bunda jangan khawatir kita akan sering-sering kesini"Ucap Pak Dikta
"Iya" Ucap Bunda Pak Dikta
"Yaudah kita pamit dulu ya Bun, titip salam sama Ayah" Ucap Pak Dikta sambil menyalimi sang Bunda diikuti Veranda
"Kita pulang dulu ya Bun, Bunda jaga kesehatan ya" Ucap Veranda sambil tersenyum
"Iya sayang kamu juga jaga kesehatannya"Ucap Bunda Pak Dikta sambil mengelus rambut Veranda
"Kita duluan ya Bun, assalamualaikum"Ucap Keduanya
"Waalaikumssalam"Jawab Bunda Pak Dikta
Didalam mobil hanya diisi keheningan suara angin dan kendaraan kedua pasutri ini sama sama diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Jadi mau belanja? "Tanya Pak Dikta
"Jadi Mas" Ucap Veranda
"Yaudah kita singgah ke supermarket depan aja ya" Ucap Pak Dikta yang diangguki oleh Veranda
Kedua pasutri ini turun dari mobil Pak Dikta yang melihat Veranda jalan terlebih dahulu segera menyusulnya dan menggenggam tangan sang istri membuat Veranda tegang.
"Mas" Tegur Veranda
"Udah gak apa apa" Ucap Pak Dikta lalu ia segera mengambil troli belanja dengan tangan masih setia bergandengan
"Mas lepas dulu ih aku mau milih barang-barangnya gimana" Ucap Veranda sinis
"Emang gak bisa pake satu tangan aja" Ucap Pak Dikta
"Ya gak bisa lah Mas" Sewot Veranda membuat Pak Dikta menyengir kuda
__ADS_1
"Yaampun pasangan baru ya Mbak sama Mas nya saya dulu juga gitu sama suami saya" Ucap salah satu pengunjung
"Iya jangan galak galak atuh mbak kalo saya mah jangankan dipegang dirantai juga mau" Ucap pengunjung lainnya sambil cekikikan sedangkan Veranda hanya tersenyum canggung lalu ia segera menarik tangan Pak Dikta untuk menjauh dari sana.