Pangkalima Mandau Terbang

Pangkalima Mandau Terbang
Masa Lalu keluarga siwara


__ADS_3

saat iya akan masuk di ruangan tersebut, langkah kakinya seketika berhenti. entah mengapa ada rasa keraguan dihatinya.


"silahkan masuk pangkalima, salah seorang tetua telah menunggu kedatangan mu."


"terimakasih," ucap nya heran sambil memandangi sekitar.


iya pun masuk kedalam ruangan tersebut dan terlihat seorang lelaki yang sudah sangat tua telah duduk bersila tepat ditengah-tengah ruangan itu.


"duduklah, dulu kau kemari bersama ayahmu yaitu pangkalima Rumpayak beserta kakek mu pangkalima nek nanggon, waktu itu usia mu baru lima tahun"


ucap lelaki tua itu yang membuat pangkalima bingung harus berkata apa, iya pun duduk sembari meletakan mandau disampingnya tepat dihadapan lelaki tua itu.


"ada apa kakek memanggilku datang kemari?"


"maaf sebelumnya jika aku telah berbohong padamu, ada banyak hal yang harus aku ceritakan padamu."


"kau mendapatkan gelar pangkalima, bukan tanpa tujuan dan maksud, gelar itu adalah warisan dari kakek mu yang dilanjutkan oleh ayahmu Pangkalima Rumpayak dan sekarang gelar itu ada padamu."


ayahmu juga orang yang sangat hebat, dia mampu menyelesaikan setiap masalah yang terjadi di binua kita, namun sayang suatu ketika saat ibumu meninggal sesudah melahirkan mu dia menjadi pemurung dan tak banyak bicara hingga suatu ketika desa ini diserang dan iya bertarung seperti tak ada tujuan.


meskipun kemenangan ada di pihak kita namun sangat disayangkan peperangan yang berlangsung selama 4 hari itu berhasil melenyapkannya nyawa ayah mu, gugurnya gugurnya pangkalima Rumpayak adalah luka mendalam untuk binua saat itu.


kau masih sangat kecil saat itu sehingga kami sepakat untuk tidak memberitahukan peristiwa tentang meninggalnya ayah mu karena usiamu baru 5 tahun.


sehingga wajar saja jika kau tak mengenali mereka secara penuh.


tidak lama setelah peristiwa itu kakek mu pangkalima nek nanggon meninggal dalam keadaan sakit parah karena usia yang sudah sangat tua. dan aku masih ingat satu pesan terakhir dari kakek mu,


beliau berkata untuk tidak mengenalkan mu pada dunia perang. iya lebih menginginkan kau menjadi orang biasa saja.


tetapi apalah daya binua ini jika tanpa keturunan nek nanggon. memang ada banyak pangkalima disini tapi belum ada yang menyamai kemampuan Mandau terbang yang hanya bisa dikendalikan oleh keturunan nek nanggon saja.


memang ada upaya kami ingin menjauhkan kau dari perang dan juga Mandau terbang itu namun kami gagal.


termasuk membuatkan mu tempat tinggal jauh dari perkampungan, agar kau tak bertemu dengan Mandau itu, tetapi alangkah terkejut nya kami semua. suatu ketika kau berusia 10 tahun Mandau itu mulai mencari mu sampai kau kini telah bersama Mandau itu meskipun kau belum mampu menguasai sepenuhnya.

__ADS_1


mendengar cerita itu pangkalima hanya duduk diam sambil iya mengingat sedikit masa lalunya yang memang benar seperti apa yang diceritakan oleh kakek itu.


"sekarang apa yang harus aku lakukan kakek."


"rajinlah berlatih tenaga dalam, sebab jika tenaga dalam mu lemah kau akan dikendalikan oleh Mandau itu dan hanya menjadi mayat hidup." ucap orang tua itu dengan nada yang tegas.


"apakah kakek bisa membantuku ?"


"dengan usiaku yang sudah sangat tua ini untuk berjalan di teras rumah pun aku harus dibantu, bagaimana mungkin aku bisa membantumu.


ucap lelaki yang nampak sudah sangat tua dan renta itu dengan perasaan sedih.


"aku rasa ini saja yang dapat aku ceritakan kepada mu, lain kali kita berbincang-bincang lagi"


"gunakanlah kemampuanmu untuk binua ini, jangan sesekali kau terpancing untuk bersekutu dengan iblis."


"baiklah terimakasih kakek telah mau bercerita denganku."


lelaki tua itu yang sudah berusia kurang lebih 70 tahun mencoba bangun dari tempat duduknya, tetapi tidak mampu, pangkalima yang melihat hal itupun langsung membantu dan mengantar kakek itu sampai ke kamarnya. dan iya pun langsung pergi ke teras rumah yang memang sangat besar dan memiliki banyak kamar didalamnya.


"sebaiknya pangkalima beristirahat dikamar saja."


"untuk saat ini aku tidak bisa beristirahat dengan tenang" ucap pangkalima yang terlihat memiliki beban dipikirannya, mendengar ucapan itu dara Serunti pun pergi tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


malam pun tiba Wek rontek dan timanggung terlihat menghampiri pangkalima.


"apa yang kau lakukan disini?"


"aku hanya duduk sambil menikmati suasana desa ini, ucap pangkalima menjawab pertanyaan Wek rontek.


"apa rencana mu selanjutnya ?"


"besok aku akan kembali kehutan, aku akan berlatih lebih keras lagi."


"aku sudah tahu apa yang kau pikirkan pangkalima, tetapi alangkah baiknya untuk sementara kau berlatih di rumahku saja, kebetulan besok aku dan dara Serunti juga akan pulang ke kampung, aku berharap kau menerima tawaran ku."

__ADS_1


"baiklah, aku memang membutuhkan pembimbing saat ini."


dara Serunti yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu terlihat senang dan tersenyum sendiri.


sementara ditempat lain kasut yang dibantu oleh Yusak pergi ke acara tarian adat yang selalu di adakan hampir setiap malam didesa itu,


terlihat Yusak tiba-tiba melepaskan tangannya yang membopong kasut dan berlalu naik keatas panggung untuk berjoget.


"hei Yusak apa yang kau lakukan kenapa kau membiarkan aku sendiri ?"


" sebaiknya kau menonton dari situ saja."


kata Yusak menjawab sambil berlari, sementara Yusak asik menari kasut hanya diam tak bisa berbuat apa-apa, luka dikakinya membuatnya geram ditambah lagi Yusak yang selalu menggodanya sedari tadi.


tak terasa malam pun sudah larut pangkalima terlihat sudah sangat mengantuk, iya pun bangun dari tempat duduk dan berjalan menuju kamarnya yang terletak paling ujung dari barisan kamar dirumah itu.


"kau sudah akan tidur pangkalima,


"iya, kenapa kau belum tidur dara Serunti,


"entah kenapa malam ini aku tidak bisa memejamkan mataku," ucap dara Serunti yang terlihat sudah sangat mengantuk,


"tapi diraut wajah mu kau sudah terlihat sangat mengantuk, sebaiknya kau berusaha memejamkan matamu karena besok kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh." ucap pangkalima sambil membuka pintu kamarnya dan tanpa mengetahui perasaan dara Serunti iya langsung masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan dara Serunti sendirian diluar kamar.


tak lama kemudian Yusak dan kasut pun datang, terlihat Yusak yang mabuk membopong kasut yang terluka, pakaian mereka nampak kotor sepertinya mereka sering tumbang diperjalanan,


"eh Serunti kau belum tidur juga, sebaiknya kau tidur ini sudah sangat larut malam,


"iya baiklah," ucap Serunti menjawab perkataan kasut sambil memasuki kamarnya.


"eh kasut dimana kamar mu ? kau jalan sendiri saja lelah sekali aku membopongmu".


"kita sudah berada didepan kamar ku, kau sebaiknya menuju ke kamarmu sendiri saja."


"baiklah." kata Yusak yang sedang mabuk dan berjalan terpingkal sambil sesekali iya berpegangan di tembok lorong dirumah itu.

__ADS_1


Bersambung_


__ADS_2