
Setelah bertarung dengan pangkalima sumanta dari desa Runung Pale mereka kembali untuk beristirahat meskipun malam sudah semakin berlalu dan kini mulai mendekati pagi.
saat itu iya lebih memilih untuk tidak tidur dan lebih memilih untuk berjaga menunggu hingga pagi menjelang.
pagi pun tiba, mereka semua telah terbangun dan siap menunggu perintah.
kasut yang juga memang sudah terbangun pun langsung melakukan tugasnya, yaitu mengumpulkan kembali para pangkalima untuk mendengar kembali arahan dari siwara dan Wek rontek yang bertujuan agar mereka mengingat kembali apa yang telah di sepakati semalam.
seusai melakukan pertemuan mereka semua melakukan segala persiapan mulai dari makan pagi dan menyiapkan perlengkapan tempur mereka.
setelah selesai melakukan persiapan mereka membagi kelompok menjadi 2 yang masing masing kelompok berjumlah kurang lebih 700 orang.
Yusak pun dipercaya memimpin pasukan yang akan menyerang pasukan bertahan dari desa Runung Pale yang akan didampingi oleh beberapa pangkalima, sementara pangkalima siwara, Wek rontek dan beberapa pangkalima lainnya akan melakukan penyerangan langsung ke desa, mereka akan melalui jalan pintas di hutan.
disisi lain timanggung juak beserta rombongan dan para tetua yang kini dipenjara di goa Seboro pun sedang melakukan rencana untuk bisa membebaskan diri mereka dari goa yang sangat gelap tersebut. goa yang memang tempat untuk melakukan persembahan tersebut juga terlihat sangat angker.
"apa tidak ada cara kita untuk bebas dari tempat ini timanggung" tanya salah seorang pemuda kepadanya.
"untuk sekarang kita harus bersabar dan menunggu disini" kata salah seorang tetua menjawab pertanyaan tersebut.
"maksudnya menunggu kematian kita disini ?"
"bukan begitu, tadi aku mendengar pembicaraan penjaga diluar, katanya pasukan kita sudah bertambah. dan mereka akan menyerang lagi hari ini."
"semoga saja mereka berhasil jika tidak kita akan mati disini." sahut lagi pemuda itu.
"ini semua salahku, aku juga tidak menduga ini akan terjadi pada kita, ini semua sudah diluar dari apa yang kita rencanakan."
__ADS_1
mendengar apa yang diucapkan timanggung, pemuda itu merasa bersalah dan meminta maaf, sekarang mereka tidak bisa berbuat apa pun dan hanya bisa berdiam diri didalam goa tersebut.
pertempuran pun dimulai kembali, namun kali ini mereka terlihat sangat kuat pasukan yang dipimpin oleh Yusak itu bertarung sangat beringas sehingga hanya membutuhkan waktu 3 jam untuk memukul mundur pasukan musuh yang memang tidak terlalu banyak.
kini mereka mulai memasuki jalan menuju desa,
sementara pangkalima dan Wek rontek pun telah menyerang desa dan bertempur dengan pasukan musuh yang langsung dipimpin oleh Timanggung suliang, sedangkan para pangkalima ya turun langsung dalam pertempuran.
di sana pangkalima siwara melihat melihat sumanta dengan beringas menghabisi beberapa pasukannya.
saat pangkalima sumanta ingin menebas leher salah seorang dari pasukannya iya langsung menangkis serangan itu menggunakan Mandaunya.
"selamat berjumpa kembali anak muda." ucapnya kepada pangkalima siwara.
tanpa basa Basi sumanta langsung menyerang menggunakan Mandaunya yang telah berlumuran darah begitupun sumanta yang kini wajahnya memerah seakan haus akan darah.
tetapi itu berlangsung tidak lama siwara yang tadinya tertekan kini berbalik menyerang, serangan yang cepat dan sangat kuat iya berikan, membuat pria paruh baya itu mulai kelelahan,
melihat itu siwara menghentikan serangan nya dan mundur kebelakang.
"ternyata aku mendapat lawan yang sangat kuat hari ini. semoga saja kau bisa pulang dengan selamat"
pria paruh baya itu mulai menyadari bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, merasa mendapat lawan yang sangat kuat iya mengubah gaya bertarungnya kali ini iya menggunakan kekuatannya untuk melawan pangkalima siwara.
sumanta kini duduk bersila ditengah keramaian perang, siwara yang juga menyadari hal itu pun langsung menjatuhkan lututnya ketanah.
nampak cahaya merah yang berkedip ditangan sumanta yang dalam keadaan mengepal dan iya langsung saja melepaskan cahaya yang kini berubah menjadi hitam tersebut kearah pangkalima siwara, tetapi siwara tak tinggal diam saat cahaya hitam tersebut mendekatinya mandaunya yang sudah terbang didepan wajah lantas menyerang dan berhasil mematahkan serangan itu.
__ADS_1
"oh jadi kau pemilik Mandau terbang juga." ucap sumanta
tetapi ucapan itu seperti tak dilirik sama sekali oleh Mandau itu dan langsung menyerang , hasilnya kini pria paruh baya bernama sumanta itu telah iya kalahkan.
Melihat kematian pangkalima Samanta, timanggung suliang menjadi marah dan semakin brutal, iya memerintahkan seseorang untuk membawa Serunti beserta tawanan lainnya untuk dibawa ke Medan pertempuran.hal ini iya lakukan untuk membuat lemah pasukan lawannya.
Sedangkan pangkalima siwara masih bertarung dan menghabisi musuh-musuh nya, meninggalnya Samanta sangat berpengaruh terhadap timanggung suliang, orang yang iya anggap sangat membantunya dari di segala hal tersebut juga merupakan adik kandungnya satu-satunya dan sekarang di telah kehilangan saudaranya itu.
Sambil menangis iya mendekati jasad adiknya itu dan merangkulnya lalu mengendong ya dan membawanya keluar dari area berdarah itu. Setelah meletakkan jasad adiknya iya kembali ke Medan perang dan mencari siwara.
"Dimana pemuda itu aku akan membuat perhitungan dengan nya."
Matanya melihat didalam area pertempuran itu, iya terus saja mencari sampai iya melihat siwara yang sedang bertarung melawan salah satu pangkalima tanpa berpikir panjang timanggung Siluang langsung berlari menghampiri siwara yang sedang bertarung dan spontan iya pun meluncurkan tendangan kearah siwara, tendang itu mengenai tepat di kepala siwara.
Siwara yang sedang bertarung tak sempat menangkis serangan yang dilakukan secara tiba-tiba itu, yang membuatnya terpental cukup jauh, serangan itu membuat siwara menjadi sempoyongan.
Merasa tidak puas timanggung Siluang yang merasa sangat marah dan tak ingin membuang kesempatan, iya pun langsung kembali menyerang siwara yang sedang berusaha untuk bangun.
Hal yang sama pun dilakukan, tendangan yang sangat keras iya berikan pada siwara. Kini siwara sudah sangat tidak berdaya. Belum puas iya menendang kini tangan nya telah mencekam erat leher siwara dan memukul perutnya sampai di mulut siwara mengeluarkan darah.
Setelah melakukan itu kini iya mulai puas dan melepaskan siwara yang sudah tak berdaya. Sementara siwara yang sekarat merasakan sakit luar biasa itu hanya diam dan seakan pasrah dengan keadaannya sekarang.
"Hei pemuda, hari ini akan menjadi akhir dari hidupmu. Kau akan merasakan rasa sakit yang tidak akan kau rasakan lagi."
Setelah mengucapkan kata-kata itu timanggung suliang duduk bersila di atas tanah yang berlumuran darah itu seketika mandaunya pun terbang didepan nya.
"Bersiaplah anak muda !"
__ADS_1
Siwara yang tak berdaya hanya melihat hal itu, iya juga melihat Mandau terbang itu yang seperti sudah tak sabar ingin menebas lehernya.