
kemudian para prajurit pun bersiap untuk memenggal kepala semua rombongan terkecuali siwara, yang pada saat itu di asing kan dari rombongannya, namun sebilah pedang panjang berkilau juga telah membungkamnya, sehingga iya tak dapat berbuat apa-apa melihat rombongannya sudah berada diujung maut setelah mendengar perintah sang atasan.
saat akan sedikit lagi mereka dieksekusi, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat menakutkan, suara tersebut terdengar dari depan pintu gerbang menuju lorong kerajaan.
"hentikan !"
tiba-tiba saja Sonarus , Komang, sontat beserta pasukannya datang untuk menghentikan tindakan tersebut, sontak nek baruangk yang terkejut melihat hal itu dengan segera pergi meninggalkan lorong kerajaan lalu menghilang begitu saja dari pandangan mereka.
sementara anak buah nek baruangk kini telah terkepung begitu juga dengan istana yang juga telah dikuasai dengan mudah oleh pasukan ksatria merah, siapapun yang melawan telah dibunuh, seperti beberapa panglima perang milik nek baruangk, hal tersebut nampak dari 4 buah kepala panglima terkuat yang telah mati dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Sonarus.
ternyata aksi ini sudah lama direncanakan, hanya saja Sonarus harus menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan aksi besar tersebut dan kehadiran siwara serta rombongan memberi titik terang sekaligus semakin memperkuat rencana tersebut.
"siapapun yang ingin melawan silahkan, tetapi kami pun akan mengampuni yang tunduk kepada perintahku !"
ucap Sonarus mengancam sekaligus memberi peluang kepada pasukan nek baruangk yang masing tersisa dan terkepung.
karena tak ingin mati pasukan tersebut pun melepaskan siwara dan rombongannya serta menjatuhkan pedang mereka kelantai dan berlutut menyembah kepada Sonarus, yang berarti mereka memilih untuk menyerah dan tunduk kepada perintah Sonarus.
"akhirnya kita selamat"
ucap Yusak sembari mengelus dadanya.
__ADS_1
akan tetapi siwara menoleh ke kiri dan kanan, terus memperhatikan sekelilingnya namun iya tak melihat keberadaan kasut yang tadinya berdiri di samping kanan nya.
"apa kau melihat kasut ?"
tanya siwara pada Yusak,
"tidak, iya menghilang bersamaan dengan hilangnya nek baruangk !"
jawab Yusak.
setelah bertanya pada Yusak siwara mendekat menghampiri Sonarus, untuk meminta bantuan agar bisa menemukan kasut sahabatnya yang sepertinya telah dikuasai pikirannya oleh nek baruangk.
"aku akan berusaha menemukan sahabatmu itu, akan tetapi aku tak bisa berjanji padamu, nek baruangk adalah orang yang licik, dan kami tidak mengetahui tempat persembunyian nya namun aku yakin iya akan menyusun rencana baru dan kembali mencari peluang untuk menyerang kami."
sementara mereka berbincang-bincang didalam istana, seorang prajurit datang menemui mereka dan melaporkan bahwa di ujung barat dari istana pasukan dengan kekuatan besar telah mendekat untuk menyerang mereka,
"lapor tuan disebelah barat istana, kami melihat pasukan berkapasitas besar serta peralatan tempur yang hebat telah mendekati istana, mohon perintahnya !"
ucap prajurit itu dengan sigapnya telah siap menunggu perintah dari Sonarus, apakah mereka harus menyerang dan bertahan di istana atau pergi melalui jalur ke selatan istana.
"kira-kira berapa banyak jumlah mereka ?"
__ADS_1
"menurut laporan dari prajurit terdepan mereka berjumlah tidak kurang dari 2 ribu orang, 20 ekor gajah dewa, 20 pelontar api dan masih banyak peralatan tempur lainnya yang mereka bawa."
"kembalilah ke kelompok mu dan tunggu perintah dari ku !"
"baik tuan !"
beberapa saat kemudian Sonarus dan beberapa orang panglimanya termasuk Komang dan Sontat, masih terlihat berdialog mengenai rencana mereka,
siwara dan Yusak yang merasa keputusan harus diambil dengan cepat pun masuk kedalam ruangan tempat mereka sedang berdiskusi.
"kita harus bergerak cepat, Sonarus, pasukan itu sekarang semakin mendekati istana."
"kami sudah memutuskan untuk berperang hari ini, kekuatan kita tidak kalah jauh dari mereka, lagi pula disebelah timur istana kami telah menyiapkan pasukan pemanah untuk menetralisir jika kita terdesak."
"kalau begitu izinkan kami berperang bersama kalian !"
"terimakasih, aku izinkan kalian untuk berperang bersama kami "!
kata Sonarus yang dengan senang hati mengizinkan siwara serta rombongannya untuk berperang bersamanya.
bersambung___
__ADS_1