
setelah menunjukan kemampuan mandaunya, siwara terlihat sangat lelah, walaupun hanya sebentar saja memperlihatkan kemampuan mandau kepunyaan nya namun hal itu sangat menguras energinya.
begitupun Sonarus iya terlihat mengalami luka ringan saat mencoba menahan serangan siwara yang hanya sekejap saja bisa menghempaskan tubuhnya hingga terpental dan membentur dinding ruangan tersebut.
Komang yang menunggu diluar tiba-tiba memasuki ruangan, karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada junjungannya, saat memasuki ruangan Komang melihat Sonarus sudah tersandar ditembok dengan posisi tangannya menyentuh dadanya.
karena iya menyangka bahwa siwara telah melakukan penyerangan iya pun dengan sigap dan sangat cepat menyerang siwara yang masih dalam keadaan lemah.
alhasil serangan yang iya lakukan membuat siwara pingsan dan tergeletak begitu saja dilantai.
"apa yang kau lakukan, kami tidak sedang berkelahi, kami hanya memperlihatkan kemampuan senjata yang kami miliki."
"kalau begitu maafkan aku junjungan, aku hanya tidak ingin ada yang mencoba untuk menyakitimu.
"ya sudah, kalau begitu cepat kau bawa siwara ke kamar tamu, aku akan memulihkan tenaga ku dahulu."
"baik junjungan !"
setelah mendengar penjelasan dari Sonarus, Komang pun dengan segera memanggil anak buahnya untuk membawa siwara ke dalam sebuah kamar.
"sudah kuduga bahwa siwara memang bukan manusia biasa !"
"ada apa dengan siwara, junjungan ?"
"apa kau tahu Komang, hanya dengan satu serangan iya bisa menumbangkan aku hingga aku terluka, kekuatan nya sangat dahsyat."
"lantas sekarang apa rencana mu junjungan ?"
"aku ingin besok kau menemani mereka untuk berangkat ke panyang Sula, ajaklah pangkalima sontat agar menemani mu serta beberapa prajurit !'
"maaf junjungan, tapi menurutku itu sangatlah bahaya, apalagi bagi mereka."
"ikuti saja apa yang aku katakan karena aku telah memikirkan rencana ini dengan matang."
"baiklah, junjungan, jika memang itu yang kau kehendaki !"
kemudian Komang meninggalkan ruang tersebut, saat ingin menuju ke kamarnya tanpa sengaja melintasi kamar yang telah dihuni oleh siwara, karena melihat pintu kamar tidak tertutup rapat iya pun bermaksud ingin menutup pintu kamar tersebut, saat akan menutup pintu iya dikagetkan oleh Mandau yang terbang melayang di udara sambil mengelilingi siwara yang sedang tertidur lelap, melihat apa yang terjadi didepan matanya tanpa menunggu lama Komang pun meninggalkan kamar tersebut, setelah menutup rapat pintu kamar itu.
malam telah berlalu dan pagi mulai menyambut hari ini.
__ADS_1
"siwara !.. siwara !"...
"uwah !"
"hei siwara, bangunlah !"
Yusak berusaha untuk membangunkan siwara, meskipun sulit namun pada akhirnya siwara terbangun dari tidurnya.
"ternyata kalian sudah berkumpul disini !"
"apa kau baik-baik saja ?"
" ya tentu saja"
Sonarus dan Komang yang ternyata sudah menantikan siwara didepan pintu kamar mendekati siwara yang masih terbaring ditempat tidurnya.
"apa kau siap untuk melakukan perjalanan hari ini ?"
"tentu saja aku siap, tubuhku terasa sangat segar pagi ini !"
"baguslah jika begitu, sebaiknya kau bersiap-siap terlebih dahulu, aku akan menunggu mu diruang pertemuan.
"baik ?"
ditengah perjalanan mereka dibagi menjadi 3 kelompok, yang dimana siwara, Komang, Yusak dan Sontat masuk dalam satu kelompok dan mereka berjalan paling belakang, sementara 2 kelompok lainya berjalan terlebih dahulu, selain itu Komang serta anak buahnya juga menyamar dan berpakaian layaknya penduduk biasa, hal itu dilakukan agar tidak ada yang mengetahui bahwa mereka adalah pasukan dari ksatria tanah merah.
sebelum keluar melewati gerbang perbatasan, mereka melihat seorang wanita yang dianiaya oleh sekelompok orang, kelompok itu berjumlah enam orang, dan salah seorang dari mereka berpakaian seperti pejabat kerajaan dan membawa senjata berupa pedang.
karena tak tega melihat apa yang terjadi pada wanita itu, Komang memutuskan untuk membantunya,
"hei kau lepaskan wanita itu !"
"sebaiknya kalian tidak ikut campur urusanku, atau kalian pun akan sama seperti dia"
ucap orang tersebut sambil memperlihatkan seseorang yang telah mati iya bunuh, orang tersebut yang tak lain adalah suami dari wanita itu.
"aku ingin sekali pergi dari sini, tetapi setelah aku memberi pelajaran padamu !"
"kurang ajar !"
__ADS_1
pria tersebut lantas menyerang Komang dengan senjatanya dan hampir saja mengenai Komang.
setelah menyerang Komang, pria tersebut menyuruh anak buahnya untuk menyerang Komang secara serentak, Komang yang hanya sendiri dibuat kualahan menghadapi orang-orang yang telah mengepungnya. karena tak ingin melihat temannya terluka sontat lantas membantu Komang dengan menebas salah satu anak buah pria tersebut.
pertarungan dua lawan empat orang pun terjadi dengan sengit, walaupun hanya berdua tetapi para anak buah pria itu bukanlah tandingan Komang dan Sontat, setelah beberapa saat bertarung, ke empat iblis itu berhasil mereka tumbangkan satu persatu, dan kini hanya menyisakan ketua dari rombongan itu.
"rupanya kalian bukan orang sembarangan !"
"dan kau sepertinya pegawai kerajaan, kau sama sekali tak pantas menggunakan pakaian itu.
"memangnya siapa kalian dan beraninya kalian berkata seperti itu kepada, perkenalkan namaku Kondo, dan aku adalah pangkalima yang dipercaya untuk berjaga di kota ini oleh calon raja kami yaitu nek baruangk."
"oh ternyata kau adalah anak buahnya nek baruangk ?"
"jika begitu hari ini adalah akhir dari hidupmu !"
"hahaha... majulah ...!
tanpa menunggu lama Komang langsung menyerang, akan tetapi tidak semudah itu mengalahkan Kondo seorang pangkalima yang mempunyai ilmu kebal tersebut. serangan demi serangan iya luncurkan sesekali mengenai tubuh Kondo akan tetapi serangan tersebut seperti tak ada artinya bagi Kondo.
merasa lawannya sangat kuat, Komang berhenti melakukan serangan dan mundur beberapa langkah kebelakang.
"berhati-hatilah, Komang, dia bukan iblis biasa iya memakai ilmu kebal !"
"aku tahu."
"apa perlu aku membantumu melawannya ?"
tanya sontat kepada temannya itu.
"tidak, sebaiknya kau mundur lah dan aman wanita itu !"
"baiklah."
mendengar perintah teman sekaligus atasan itu sontat tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membantu wanita yang sudah tak sadarkan diri tersebut.
sementara siwara dan Yusak pun hanya melihat saja pertarungan kedua iblis tersebut yang berlangsung sangat sengit, walau pun Komang seperti sangat kualahan, bahkan beberapa kali iya harus terpental dan jatuh saat menerima serangan balasan dari Kondo.
"apakah kita hanya menonton saja, siwara ?"
__ADS_1
"sekarang tak ada yang bisa kita lakukan, karena sudah menjadi budaya di negeri ini kita tidak boleh mengganggu pertarungan yang dilakukan oleh dua orang, sampai salah satu dari mereka kalah dan mengakui kekalahannya, jika kita membantu Komang, itu artinya secara tak langsung kita telah menyatakan kekalahan kepada orang yang kita tolong.
bersambung...