
melihat situasi yang sangat tidak baik, Sonarus membagi pasukan pemanah menjadi tiga, yaitu dibatas benteng, dibarisan ketiga setelah pasukan pedang.
perubahan strategi itu beberapa saat berhasil dilakukan namun semua nya berubah setalah pasukan musuh memborbardir pasukan panah menggunakan peralatan berupa pelontar api, namun kali ini bola api yang mereka lontarkan lebih besar dan kekuatannya lebih dahsyat dari sebelumnya,
pasukan pemanah di benteng tak satupun tersisa, bahkan Sonarus yang berada didekat benteng pun terkena dampak dari serangan bola api yang bertubi-tubi itu.
setelah beberapa lama siwara dan Yusak yang dipercaya untuk memimpin pasukan kedua tiba di Medan pertempuran, pasukan itu dipecah menjadi dua, Yusak memimpin setengah dari pasukan tersebut, perlawanan dengan strategi baru ini pun berhasil membuat pasukan musuh ketar ketir, melihat strategi itu nek baruangk menambah jumlah prajuritnya menyerangnya, serangan tersebut diiringi dengan hujan panah yang terlebih dahulu menyerang lawannya dan disertai juga bola-bola api yang terus membombardir pasukan siwara dan Yusak, mereka berdua pun kelihatan terdesak.
karena terdesak mereka memutuskan untuk mundur, namun ternyata mereka telah berada dalam kepungan musuh, Sonarus yang seperti orang kehilangan akal memberi isyarat pada prajurit tersembunyi yang telah iya siapkan, ada pun isyarat tersebut iyalah dengan menembakan 7 anak panah yang telah diberi asap sebagai pembeda dari panah yang digunakan untuk menyerang musuh.
__ADS_1
tak lama setelah ke 7 anak panah itu dilepaskan tiba-tiba saja tanah menjadi bergetar, awan menutupi langit, sehingga suasana terlihat mendung, seakan-akan segera turun hujan.
perlahan-lahan prajurit dengan wajah menyeramkan dan badan setinggi pohon mulai terlihat dikedua arah yang berbeda, kehadiran mereka mengalihkan perhatian para prajurit yang telah mengepung siwara dan Yusak, dan kesempatan itu mereka manfaatkan untuk menerobos pasukan musuh dan berhasil menyelamatkan diri serta prajurit yang masih selamat.
saat akan hendak mundur, siwara dan Yusak berhenti, karena didepan istana prajurit berbadan besar dan berwajah menyeramkan datang untuk menyerang, siwara pun memutuskan untuk kembali ke Medan perang, sementara pasukan musuh terdesak siwara dan Yusak membantu untuk memukul mundur musuh yang tadinya mengepung mereka.
tak butuh waktu lama bagi pasukan tersembunyi itu meluluh lantahkan jiwa-jiwa prajurit musuh yang kini dalam posisi sebaliknya, yaitu terkepung dalam lingkaran kematian.
setelah berhasil mendapatkan jalur tersebut iya berlari dan berhasil melalui para pasukan musuh dengan dan tanpa bertarung, dari kejauhan iya melihat kasut sedang bersama nek baruangk yang berada di atas bukit dan ditemani oleh beberapa penasehat, lantas tanpa berlama-lama siwara berlari menuju bukit itu sesampainya iya didekat bukit 4 orang prajurit penjaga menghadangnya, dan iya pun berhasil dilumpuhkan lalu dibawa kehadapan nek baruangk dan kasut.
__ADS_1
"ada apa dengan mu siwara, bukankah aku sudah menyuruhmu meninggalkan negeri ini, tapi kau malah masih ditempat ini dan membantu musuh melawan kami."
"buka matamu kasut, tempatmu bukan disini, ikutlah dengan ku dan kita kembali ke negeri manusia."
"tetapi aku tidak mau, aku lebih senang disini, karena disinilah seharusnya aku hidup."
"sadarlah sahabatku, kasut, kau lihat aku, aku disini mempertaruhkan nyawa bahkan Yusak dan rombongan manusia lainnya, telah terancam keselamatannya demi untuk membawamu kembali ke negeri manusia."
mendengar ucapan siwara kasut terlihat bingung, iya melihat siwara dengan badan penuh darah dan wajah kelelahan, pandangannya menjadi sejuk dan mengangkat siwara berdiri.
__ADS_1
bersambung___