Pangkalima Mandau Terbang

Pangkalima Mandau Terbang
Misteri hutan larangan 4


__ADS_3

setelah melihat tempat itu menggunakan kemampuannya yang mampu melihat dunia mahluk halus, siwara terdiam sejenak, diamnya itu membuat Yusak merasa takut,karena hampir sama seperti apa yang terjadi kepada kasut.


tak lama setelahnya siwara mengubah arah pandang, tubuh nya yang sebelum nya membelakangi Yusak serta rombongan, kini menjadi saling berhadapan.


"apa kalian siap ?"


Tanya siwara kepada Yusak dan semua orang dalam kelompok itu, pertanyaan itu membuat Yusak merasakan ada sesuatu yang akan terjadi kepada mereka.


"siap apa ?"


tanya Yusak.


"sebaiknya sekarang kalian duduklah dan tutup mata kalian sampai aku perintahkan untuk membukanya kembali !"


"baik pangkalima !"


sahut rombongan dengan serentak.


perintah tersebut dilakukan oleh semua orang dalam kelompok itu begitu juga Yusak yang dengan rasa penasarannya iya juga mengikuti apa yang diperintahkan oleh siwara.


"tetap lakukan hal itu sampai aku memberikan aba-aba !"


setelah duduk dan menutup mata siwara berdiri dan sekarang iya menggenggam sehelai daun dan mengibaskan daun tersebut kepada semua rombongan yang berjumlah 7 orang, dan seketika suasana menjadi sunyi mencekam, perlahan tubuh mereka menjadi terasa semakin panas.


"sekarang bukalah mata kalian dengan perlahan, ingat jangan terkejut dan tetaplah tenang !"


kata siwara menyuruh mereka membuka mata mereka, sambil mengingatkan untuk tidak terkejut dengan apa yang akan mereka lihat.


semua rombongan di kelompok itu membuka mata, mereka sangat terkejut dengan apa yang terlihat dihadapan mereka, didepan kini telah berdiri sebuah rumah besar sama persis seperti apa yang diceritakan oleh Yusak.


"nah kalian lihat kan, di sanalah kasut dibawa oleh orang-orang aneh itu." ucap Yusak dengan suara yang sangat pelan.


"sekarang apa yang akan kita lakukan ?" tanya salah seorang dari mereka.


"tetaplah diposisi kalian sampai aku memberikan perintah untuk bergerak !"


baik pangkalima !"

__ADS_1


karena tak ingin celaka mereka semua menuruti apa yang diucapkan oleh siwara, sementara itu siwara berjalan beberapa langkah ke depan yang dihadapannya sudah berdiri dua buah tangga yang terbuat dari kayu Belian.


Setelah melihat kedua tangga itu iya memilih untuk berjalan kearah tangga yang berada disebelah kanannya lalu menyentuh tangga tersebut dan memejamkan matanya, dalam pandangannya iya melihat kasut dan Yusak menaiki tangga tersebut hingga mereka sampai keatas.


begitupun peristiwa dimana kasut telah dipengaruhi oleh iblis dan membawanya pergi masuk kedalam rumah tersebut, karena merasa kemampuan Panambus nya tak mampu untuk untuk masuk kedalam rumah itu iya dengan cepat membuka matanya dan kembali mendekati rombongan.


"apa yang kau lihat ?" tanya Yusak


"aku hanya melihat apa yang telah kau ceritakan padaku, untuk sementara kekuatanku tak mampu menembus pintu rumah tersebut."


"sekarang apa yang harus kita lakukan, apakah kita hanya menunggu disini saja."


tanya Yusak pada siwara.


"mau tidak mau kita harus masuk kedalam rumah itu."


karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kasut siwara memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan mulai menaiki anak tangga dan diikuti oleh Yusak serta rombongan.


sesampainya di atas mereka langsung mendekati pintu yang hanya ada satu-satunya dirumah itu, setelah berada tepat didepan pintu siwara mencoba untuk menempelkan jarinya, hal yang kembali membuat mereka terkejut kembali terjadi, pintu yang belum disentuh tersebut tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. pemandangan yang tidak biasa pun mereka lihat dan hampir tidak mempercayainya.


tidak seperti rumah pada umumnya rumah tersebut didalamnya ternyata adalah sebuah kota yang ramai akan penduduk, aktivitas di kota itu seperti layaknya manusia biasa, ada pedagang dan pembeli, proses negosiasi pun terjadi disana, lalu lalang orang yang saling berpapasan dan masih banyak lagi kegiatan lainnya yang mereka lihat di kota itu.


sekali lagi siwara memperingati mereka agar tetap selalu bersama.


"tempat apakah ini siwara, tempat ini seperti sebuah kota besar ?"


tanya Yusak


"pertanyaan mu itu tak bisa aku jawab, nanti juga kau akan mendapatkan jawaban nya sendiri !"


karena dalam keadaan bingung dan seakan bermimpi siwara tidak mau menjawab pertanyaan Yusak, karena terpukau dengan apa yang dilihatnya iya hanya berfokus pada kota yang berada hanya selangkah didepan nya tersebut.


"kita akan masuk sekarang !"


kau yakin siwara ?"


mendengar bahwa mereka akan masuk kedalam kota tersebut, Yusak menjadi ragu dengan apa yang telah di putuskan oleh siwara.

__ADS_1


tak mau menjawab pertanyaan Yusak, siwara mulai melangkahkan kakinya menuju keramaian didalam rumah tersebut.


setelah siwara memasuki tempat tersebut yang juga diikuti oleh Yusak serta rombongan, mereka dipandang aneh oleh penduduk kota semua mata menatap kearah mereka, aktivitas seketika seperti berhenti.


"kenapa mereka semua menatap kearah kita ?" kata Dul gugup.


"mungkin karena kita berbeda dengan mereka !" kata salah seorang lainnya menjawab tanya dari Dul.


"iya lihatlah mereka, mereka memang hampir mirip dengan kita, tetapi dari segi fisik mereka terlihat aneh, lihatlah telinga mereka besar seperti telinga gajah, dan lihat hidungnya lebih mirip seekor rusa, tubuh mereka juga pucat seperti tak ada darah."


sambung lagi salah seorang lainya dari kelompok itu. pembicaraan mereka terhenti setelah melihat siwara yang terus berjalan menuju sebuah tempat penjualan pakaian, iya mengambil sehelai kain dan bertanya kepada penjual kain tersebut.


"berapa harga kain ini ?"


"tuan-tuan ini sebenarnya siapa dan dari mana ?"


bukannya menjawab pertanyaan siwara orang tersebut malah bertanya balik kepadanya.


"kami dari desa Runung Pale, maksud kedatangan kami disini adalah mencari teman kami yang tersesat di kota ini"


"ternyata kalian adalah manusia dari Runung Pale !" ucap lelaki dengan telinga panjang dan hidung seperti rusa Dengan wajah pucat seperti mayat hidup, setelah sempat berucap lelaki tersebut bukannya melayani siwara sebagai pembeli tetapi iya malah mengemasi barang dagangannya dan pergi meninggalkan siwara.


"hei pak tua, aku belum membayar kain yang aku pegang ini !"


"simpanlah itu untukmu !"


seru lelaki tua itu kepada siwara sembari pergi membawa barang dagangannya.


"apa begitu cara mereka melayani pembeli" kata Yusak sedikit jengkel melihat kelakuan lelaki tua yang dia anggap tidak sopan dan merasa permainkan mereka.


"sudahlah sebaiknya kita lanjutkan pencarian kita.


kata siwara kepada Yusak.


setelah berbincang sedikit dengan lelaki tua tadi siwara menilai bah kehidupan disini sama seperti manusia pada umumnya.


diujung pasar siwara melihat sebuah rumah makan dan sepertinya makanan disana sangat enak iya pun berpikiran untuk mampir disana sambil mencari informasi mengenai tata cara kehidupan disini sekali untuk mendapatkan informasi mengenai kasut.

__ADS_1


siwara dan rombongannya terus saja berjalan meskipun tatapan semua orang ditempat itu memandang mereka dengan tatapan aneh dan menakutkan, wajah datar tanpa ekspresi seakan-akan tidak menyukai kedatangan siwara dan rombongan.


bersambung...


__ADS_2