
sementara itu Yusak dan kasut yang kini semakin jauh memasuki hutan yang mereka berdua pun, tidak tahu sampai dimana mereka akan terus melangkahkan kaki dengan tanpa adanya penerangan sama sekali,sampai pada suatu ketika mereka merasa sangat lelah dan mencoba mencari tempat untuk beristirahat.
ketika itu pula didepan mereka Tiba-tiba saja terlihat sebuah rumah panggung dengan tiang kayu Belian berbentuk bulat dan besar, selain besar bangunan itu juga terlihat sangat tinggi dan tergambarkan dari anak tangga yang menjulang hampir tegak keatas dengan anak tangga yang entah berapa banyaknya serta terang cahaya api pelita yang dipasang di setiap sudut bahkan hampir di setiap titik penting ditempat tersebut membuat suasana menjadi indah untuk dilihat.
"didalam hutan kenapa ada bangunan besar dan kokoh seperti ini ?"
ucap Yusak penasaran dengan apa yang telah lihat.
"sebaiknya kita naik keatas sepertinya tempat ini ada penghuninya"
sahut kasut mengajak Yusak untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"apa kau yakin akan masuk kedalam rumah itu ?"
tanya Yusak dengan perasaan bimbang, karena menurutnya rumah tersebut sangat aneh dan mencurigakan.
"jika kau tak ingin ikut masuk, biarlah aku masuk sendiri saja."
ucap kasut dan langsung saja menaiki anak tangga yang tinggi dan besar itu, karena merasa tak ingin sendirian Yusak pun mulai menaiki anak tangga mengikuti kasut yang kini seperti berada tepat di atas kepalanya.
setelah sampai di atas mereka terus saja merasa heran karena pelita-pelita dibawah yang tadinya menyala kini satu persatu mulai padam halaman yang tadinya terang benderang telah ditutupi oleh gelap.
"kau lihat itu, siapa yang telah memadamkan pelita-pelita tadi ?"
tanya Yusak kepada kasut yang ternyata sudah berada cukup jauh darinya.
"sialan ternyata iya sudah berjalan meninggalkanku !"
"hei, kasut tak bisakah kau berjalan pelan-pelan saja "?
__ADS_1
teriakan Yusak seketika membuat suasana menjadi berubah, kasut yang berada tepat didepan sebuah pintu tiba-tiba dikejutkan dengan terbukanya pintu tersebut hal itu juga disaksikan dengan jelas oleh Yusak yang berada cukup jauh darinya.
alangkah terkejutnya mereka setelah pintu itu terbuka, sekelompok orang dengan wajah pucat serupa mayat dengan raut wajah yang datar telah berdiri di didepan kasut, kasut yang merasa terkejut seketika melangkah mundur kebelakang.
"silahkan masuk tuan berdua, kedatangan tuan berdua telah lama kami nantikan !"
ucap sekelompok orang berwajah pucat tersebut dengan kompak namun tanpa ekspresi sama sekali.
Yusak yang menyadari bahwa mereka kini berada dalam bahaya mencoba memperingati kasut agar mereka sebaiknya kembali ke desa, tetapi kasut kini seperti tak mendengarkan ucapannya, sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali iya pun mulai mengikuti sekelompok orang berwajah pucat tersebut, sebelum masuk kasut sempat menoleh kearah Yusak dengan wajah datar hampir seperti sekelompok orang yang iya lihat hanya saja wajah kasut tidak pucat seperti orang-orang itu.
tak lama setelah menoleh kasut kembali melangkahkan kaki nya yang terlihat sangat kaku, melihat apa yang telah terjadi Yusak menyadari bahwa mereka sekarang tidak dalam posisi yang baik-baik saja, dengan perasaan yang tidak menentu, Yusak turun dari rumah itu dan pergi melewati jalanan yang tadi mereka lalui, yang memang jalan tersebut hanya lurus saja tanpa ada belokan sedikitpun, hal itu membuatnya masih bisa melangkahkan kakinya meski tanpa penerangan dan berjalan seperti orang buta, bahkan sesekali iya harus menabrak pepohonan didepannya.
sementara siwara yang terus berupaya untuk mencari kasut dan Yusak tidak menemukan jejak sama sekali, meskipun begitu pencarian terus saja dilakukan hingga malam semakin larut dan terasa semakin dingin, seketika siwara berhenti melangkah seketika itu pula matanya fokus memandang kearah salah seorang pemuda di kelompoknya.
pemuda itu terlihat lusuh dan lelah, suasana yang dingin tidak menghentikan keringat di dahinya menetes, melihat pemandangan itu pangkalima siwara memutuskan untuk beristirahat ditempat tersebut.
"hei kau !"
"ya, siapa namamu ?
"namaku Dul, aku juga ikut berburu bersama pangkalima kasut dan Yusak !"
sahut pemuda yang tak lain adalah Dul salah satu orang yang tergabung didalam kelompok berburu tadi siang.
"jika begitu kau pasti tahu tempat apa ini ?"
"tentu saja aku tahu, ini adalah tempat dimana pangkalima kasut menangkap hewan hasil buruan aku serta pangkalima Yusak juga menyaksikan pangkalima kasut bertikai dengan babi itu dan berhasil mengalahkan babi yang dibantu oleh pangkalima Yusak"
jawab Dul sambil menceritakan kejadian penangkapan babi pada siang harinya, dan ternyata itulah sebabnya pangkalima siwara berhenti dan beristirahat ditempat tersebut, karena iya melihat bekas darah yang sudah mengering dan rumput yang tumbang seakan telah terjadi pertarungan ditempat itu.
__ADS_1
"disini juga menjadi tempat terakhir kami melihat pangkalima kasut, karena iya kelihatan seperti mencari sesuatu dan aku tak tahu itu.
Ucap pemuda itu melanjutkan ceritanya.
"tapi apakah benar jalan ini menuju hutan kelawar ? " tanya pangkalima
"iya benar sekali jalan lurus didepan kita adalah jalan menuju hutan kelawar."
jawab salah seorang lainnya yang juga ikut berburu bersama kasut dan Yusak.
karena merasa kasut dan Yusak dalam bahaya siwara tak ingin menunda perjalan mereka akhirnya melanjutkan pencarian menyusuri jalan setapak yang katanya menuju hutan kelawar itu.
setelah cukup lama berjalan tiba-tiba terdengar suara ayam jago berkokok, dan itu menandakan hari sudah mulai mendekati pagi, tetapi bukan hanya itu kecurigaan juga mereka rasakan, karena tidak mungkin ada ayam berkokok ditempat itu, sebab hutan tempat mereka berada sekarang adalah hutan terlarang.
"apa kalian mendengar ayam yang berkokok tadi ?" tanya siwara.
"iya kami juga mendengarnya, tapi aneh jika ayam berkokok disini, tempat ini adalah tempat terlarang dan sangat jauh dari perkampungan dan desa, bahkan desa Runung Pale yang paling dekat dari sini membutuhkan waktu hingga setengah hari perjalan untuk bisa sampai disini."
ucap Dul menjelaskan tentang keanehan yang iya dan semua orang yang mendengarkan suara ayam yang berkokok tadi.
siwara semakin yakin bahwa apa yang diceritakan tentang hutan kelawar memang benar adanya. dan semakin kuat pula rasa penasaran untuk mencari tahu akan hal tersebut.
"jika begitu mari kita lanjutkan perjalanan aku sangat yakin mereka sekarang berada dalam bahaya."
ucap siwara mengajak rombongan untuk melanjutkan pencarian, kini mereka berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
lamanya berjalan dalam pencarian membuat mereka sampai tidak menyadari bahwa hari sudah pagi.
ketika hendak mencari sumber air siwara yang bejalan sedikit menepi seperti melihat seseorang yang sedang terbaring diujung jalan tepat didepan nya, iya langsung saja menghampiri seseorang yang terbaring diujung jalan, alangkah terkejutnya iya ternyata orang itu adalah Yusak sahabatnya.
__ADS_1
setelah mengetahui orang itu adalah Yusak iya mencoba untuk membangunkannya.
bersambung...