
Setelah bercerita sonarus Memutar tubuhnya dan sekarang membelakangi siwara dan rombongannya,
Mendengar apa yang telah diceritakan oleh sonarus Siwara merasa prihatin, akan tetapi rasa prihatin tersebut berubah ketika Sonarus Memerintahkan Komang untuk membawa mereka dan dijadikan sebagai tahanan dan masukan kedalam penjara bawah tanah, hal itu dilakukan oleh sonarus karena beberapa alasan yang menurutnya sangat penting untuk semua.
"Maaf siwara, aku harus menahan kalian untuk sementara waktu, ini semua aku lakukan demi keamanan kami dan juga untuk keselamatan kalian."
Siwara hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh sonarus Sebab iya yakin mereka pasti akan dibebaskan dalam waktu dekat.
Kemudian mereka dibawa dan diMasukan kedalam penjara bawah tanah.
"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang ?"
karena merasa kesal Dul pun kini mulai merasa kesal, karena mereka yang tadi bertujuan mencari kasut, tetapi malah dimasukan kedalam penjara bawah tanah di negeri yang iya sendiri tak percaya bahwa iya berada disana.
"Kenapa kita tidak melawan saja, kita disini kan untuk mencari pangkalima kasut, tetapi kenapa kita sekarang malah menjadi tawanan mereka."
ucap Dul dengan suara yang terdengar kesal.
"dan aku setuju dengan mu, rasanya aku sudah mulai muak dengan keadaan kita sekarang."
Sahut yusak membenarkan apa yang telah dikatakan oleh dul.
karena tak ingin memperkeruh suasana siwara yang mendengar keluhan dari keduanya hanya diam seraya membaringkan tubuhnya dilantai tanah kemudian memejamkan matanya.
Sementara di desa runung pale, acara pesta telah berlangsung dengan sangat meriah, kebahagian yang dirasakan oleh warga desa terpancar pada raut wajah 5 orang penari Jonggan, kelima wanita itu menari sangat lincah dengan senyuman yang seakan tak habis ditelan malam.
Akan tetapi apa yang dirasakan oleh dara Serunti justru sebaliknya, iya hanya berdiam diri didalam kamar yang telah disediakan oleh penduduk desa runung Pale, iya terlihat murung dan sesekali iya mencoba mengelap air mata nya menggunakan selendang kain, setelah ibunya meninggal satu-satunya orang yang paling mengerti akan dirinya hanyalah siwara, namun sampai saat ini, pria yang memang sangat iya cintai dan sekarang tepat dua hari dua malam siwara belum juga kembali apalagi memberi kabar kepadanya.
Disisi lain timanggung juak yang menghadiri pesta tiba-tiba saja berpamitan kepada para tetua dan pemangku adat, sebab besok pagi-pagi sekali mereka sudah harus kembali ke desa sungai Unak, perjalanan yang jauh mengharuskan iya untuk beristirahat.
tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh dara Serunti timanggung juak pun terlihat sangat sedih, karena hingga malam ini belum juga ada kabar mengenai putranya kasut, begitu pula siwara dan yang rombongan lainnya.
saat timanggung juak sedang duduk menyendiri di kamarnya, seseorang pria muda mengetuk pintu kamarnya kemudian iya membuka pintu.
"masuklah !"
kemudian pria muda tersebut mengikutinya dari belakang lalu kemudian duduk dilantai kamar itu.
"apakah sudah ada informasi mengenai kasut ?"
"belum, saat kami menyusuri hutan kami hanya bertemu dengan sebagian dari rombongan, tetapi kami tidak menemukan pangkalima kasut dan pangkalima siwara serta rombongan yang ikut bersamanya, karena pencarian itu dilakukan dengan cara memecah kelompok menjadi 3 kelompok."
__ADS_1
"dimana mereka sekarang ?"
"diluar, timanggung."
"antar kan aku kepada mereka !"
karena merasa kurang puas dengan apa yang diceritakan oleh pria tersebut, timanggung akhirnya bertemu sendiri dengan rombongan yang telah kembali di desa, pertanyaan demi pertanyaan iya lontarkan, akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa menjelaskan kemana siwara dan rombongan berada sekarang,
setelah mendengar semua penjelasan, iya akhirnya kembali ke kamarnya.
sementara itu didalam penjara bawah tanah terlihat siwara dan rombongan sedang tertidur pulas akan tetapi tak lama kemudian Komang bersama salah seorang penjaga membangunkan mereka semua.
"hei Komang, apa kau buta tidakkah kau melihat bahwa kami sedang tidur untuk beristirahat ?"
tak terima karena tidurnya terganggu Yusak dengan rasa sakit hati pun berkata kasar kepada Komang
"siwara, kau dipanggil untuk menghadap junjungan kami, beliau ingin berbicara denganmu empat mata !"
"apa hanya siwara, kami bagaimana ?"
sahut Yusak, mendengar siwara yang akan dibawa keluar dari dalam penjara itu.
ucap Komang menegaskan perkataannya.
"baik aku bersedia untuk berbicara 4 mata dengan junjungan mu."
kemudian penjaga penjara membuka pintu dan membiarkan siwara keluar dari dalam ruang penjara yang gelap dan sunyi tersebut, mereka pun mulai berjalan menuju ruangan dimana Sonarus telah menunggu. perjalanan menyusuri lorong yang hanya diterangi oleh sebatang obor namun bisa membawa mereka sampai pada gerbang utama penjara bawah tanah.
"masuklah !"
setelah pintu ruangan terbuka siwara masuk didalam, sementara Komang menunggu diluar.
"silahkan duduk !"
"apakah gerangan kau memanggil ku Sonarus ?"
"maaf jika aku menganggu istirahat mu, aku melihat kau adalah orang yang cerdas juga memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia biasa, jadi aku memutuskan untuk membantumu mencari teman mu."
"lantas sekarang apa rencana mu ?"
"besok, pagi-pagi sekali Komang dan beberapa orang kepercayaan ku akan menemani kalian untuk menuju panyang Sula."
__ADS_1
"apa hanya itu rencana mu untuk melakukan sesuatu yang sangat berbahaya seperti ini ?"
"tenanglah siwara, sebaiknya kau ikuti saja apa yang aku rencanakan sekarang, selebihnya kau akan mengerti nantinya."
"baik !"
siwara pun menyetujui dengan apa yang direncanakan oleh sonarus meskipun iya belum terlalu memahami apa rencana itu sebenarnya.
"sekarang apa boleh aku kembali menemui rombongan ku ?"
"silahkan !"
kemudian siwara pun mulai berjalan hendak meninggalkan ruangan itu, tetapi langkah nya terhenti setelah mendengar Sonarus menghentikannya.
"tunggu siwara, ada hal yang belum aku sampaikan padamu, untuk melawan pasukan nek baruangk itam kau membutuhkan senjata khusus."
"senjata apakah itu Sonarus, apakah kau meragukan kemampuan Mandau ku ini ?"
"tidak siwara, bukan begitu maksudku disini besi biasa tak akan mampu melukai iblis apalagi membunuhnya."
"lantas senjata apakah yang mampu mengalahkan mereka ?"
"di negeri ini kami membuat senjata mengunakan besi batu, yakni besi yang kami dapatkan dari pengunungan."
"jika memang begitu bisakah kau tunjukan kemampuan pedangmu itu kepadaku ?"
"baiklah"
Sonarus mengeluarkan pedangnya dan begitupun siwara iya menarik perlahan mandaunya."
"sekarang coba kau serang aku menggunakan alat tempur mu itu !"
tanpa menunggu lama siwara mengayunkan mandaunya tepat dileher Sonarus, Sonarus pun dengan cekatan menangkis ayunan Mandau dan iya terpental pada dinding ruang tersebut, untung saja mandau yang hampir saja mengenai lehernya tersebut mampu iya tangkis dengan pedangnya, walaupun tubuhnya harus terpental cukup jauh.
"senjata apa yang kau gunakan itu, kemampuannya sangat dahsyat ?"
"ini adalah Mandau warisan dari kakekku Mandau ini juga terbuat dari besi batu atau besi sanaman."
belum selesai sampai disitu, Sonarus semakin dibuat terkesan setelah melihat Mandau tersebut bisa terbang sendiri dan kembali pada sarangnya.
bersambung...
__ADS_1