
Kini merekapun berjalan semakin dekat dengan kampung tersebut, setelah sampai di gerbang kampung mereka berempat berhenti untuk menyusun rencana.
"sekarang kita harus masuk kedalam kampung, dan kita harus selalu bersama" ucap pangkalima.
"iya sebaiknya kita terus bersama karena aku punya firasat yang tidak baik akan terjadi. untuk itu kita harus bersiap. lanjut Wek rontek kepada mereka bertiga.
setelah menyusun sepakat Mereke masuk kedalam kampung, suasana berbeda mereka rasakan, pemandangan yang tak biasa juga mereka lihat, dimana banyak mayat" yang terlihat sangat memprihatinkan, ditambah bau busuk yang sangat menusuk.
Tak lama setelah berjalan-jalan, tiba-tiba ada seseorang yang nampak sembunyi dibalik batang pohon nangka tak jauh dari tempat mereka berjalan.
"hei ... siapa kau, keluarlah ...!" kata pangkalima berteriak kepada orang tersebut, bukannya keluar orang itu malah lari ketakutan, pangkalima dengan cepat mengejarnya dan akhirnya orang tersebut berhasil ditangkap olehnya.
"siapa kau kenapa kau sembunyi dari kami, kami tidak akan menyakitimu." ucap pangkalima sambil menggoyang-goyang tubuh orang itu.
"maaf tuan, saya hanya mencoba untuk berjaga-jaga saja"
"dimana warga kampung ini yang masih hidup" tanya pangkalima sambil melepaskan orang tersebut yang ternyata seorang gadis.
"sudah tidak ada lagi yang hidup, hanya aku dan adik ku saja yang masih disini, ayah ibuku beserta warga kampung yang lainnya semua sudah mati karena penyakit itu."
"maaf kalau begitu, sekarang dimana adikmu ? " tanya pangkalima kepada gadis itu.
"adik ku sekarang ada di hutan bersama seorang pria yang menolong kami.
mendengar cerita gadis itu pangkalima siwara terdiam, kasut serta Wek rontek dan Yusak pun tiba didekat pangkalima.
"siapa nama mu ?" tanya Wek rontek
"namaku Sunir aku berasal dari kampung ini kedua orang tuaku serta warga yang lain semua telah tewas oleh penyakit itu hanya aku dan adikku saja yang masih selamat."
ucap gadis itu lagi sambil menangis dan menundukkan kepalanya.
"bawa kami ketempat adikmu sekarang" kata kasut
" baik mari ikuti aku."
mereka kembali ke arah gerbang desa menuju hutan tempat iya menyembunyikan adiknya.
tak lama berjalan mereka sampai ditempat itu.
"pak tua...!"
panggil gadis itu kepada seorang pria yang sudah sangat tua.
"siapa mereka Sunir ?"
"tidak tahu pak tua aku juga baru bertemu mereka."
__ADS_1
jawab gadis itu mendekati adiknya yang masih berusia 5 tahunan itu.
"siapa kalian ?" tanya pak tua kepada siwara.
"kami utusan dari timanggung juak kami diperintahkan untuk menyelidiki tentang penyakit ini"
kata pangkalima menjawab pertanyaan pak tua.
"namaku siwara dan mereka itu Wek rontek, kasut dan Yusak."
lanjut pangkalima memperkenalkan siapa mereka.
"masuklah kedalam...!"
mereka pun masuk kedalam pondok yang sangat kecil dan hanya muat untuk beberapa orang saja.
"namaku pak Komeng, aku berasal dari kampung sebatu. aku disini juga ingin menyelidiki hal ini bersama keempat sahabatku, namun mereka tewas saat bertempur melawan nek mundil"
orang tua itu menceritakan semua tentang kejadian yang ternyata bersumber dari kampung Tuluang ini, berawal dari hilangnya mustika kampung sebatu, sampai terjadinya wabah yang mengerikan ini. yang ternyata dalangnya adalah nek mundil iblis yang selalu menggangu manusia dari zaman dulu, sampai akhir berhasil dikalahkan dan dikurung didalam mustika kampung sebatu oleh nek nanggon waktu itu, namun celakanya mustika itu dicuri oleh seorang pemuda yang memiliki ambisi untuk menguasai kampung sebatu, sampai akhirnya pemuda itu meninggal dan nek mundil sudah tak bisa dikendalikan lagi.
"apakah ada cara untuk mengalah iblis itu" tanya Wek rontek.
"untuk sekarang tidak ada, hanya keturunan nek nanggon lah yang bisa mengalahkan iblis itu.
"aku adalah keturunan nek nanggon."
tanya pangkalima setelah menjelaskan siapa dirinya.
"hanya Mandau terbang yang mampu mengalahkan iblis itu," sahut pak tua dengan nada meragukan ucapan pangkalima.
"kami sudah bertarung melawan nek mundil namun kami telah dikalahkan, termasuk Mandau ku kini menghilang entah kemana."
kata pangkalima dengan raut wajah sedikit merasa kecewa.
"jika kau memang cucunya nek nanggon itu artinya kau bisa mengendalikan Mandau terbang milik nenek mu itu."
"aku hanya bisa menggunakan Mandau tersebut namun belum sempurna."
jawab siwara menjelaskan mengenai dirinya yang belum terlalu mampu mengendalikan Mandau miliknya itu.
sementara itu ditempat lain, terlihat nek mundil sedang melakukan semedi
untuk menyembuhkan dirinya, yang ternyata iya juga terluka sangat parah, akibat kibasan Mandau terbang.
"sialan siapa pemuda itu, kenapa iya bisa mengendalikan Mandau terbang yang dulu mengalahkan ku."
"dia pasti cucu nya nek nanggon."
__ADS_1
nek mundil terlihat sangat marah dan nampak ketakutan setelah menyebut nama nek nanggon dan Mandau itu. iya pun melanjutkan tapa nya.
setelah selesai makan pangkalima dan kasut mencoba untuk memasuki kampung untuk melakukan ronda namun yang mereka lakukan sia-sia merekapun kembali di pondok tanpa menemukan petunjuk mengenai nek mundil.
setelah malam ketiga, tiba-tiba saja nek mundil mendatangi pondok mereka.
"heh...heh...heh...dimana kau wahai keturunan nek nanggon ? malam ini aku akan menuntut balasan atas apa yang telah dilakukan nek nanggon padaku 30 tahun yang lalu."
sambil mengitari pondok tersebut iblis itu terus saja tertawa.
dengan nekat pangkalima dan rombongan keluar dari dalam pondok itu.
"aku disini iblis"
"heh...heh...heh.... ayo lawan aku kalian semua...."
nek mundil langsung menyerang pondok itu sampai hancur.
"turunlah kau iblis jangan hanya berani disitu saja, ucap pangkalima
nek mundil pun turun dan langsung menyerang pangkalima sampai terpental di reruntuhan pondok yang sudah hancur itu.
"aku bisa saja memberikan penyakit itu pada kalian saat ini, tapi aku masih ingin bermain-main dulu, heh...heh...heh..."
ucap nek mundil sambil tertawa.
Wek rontek, kasut dan Yusak menyerang nek mundil bersamaan namun mereka juga terpental begitu saja sebelum menyentuh nek mundil.
"kalian tidak terluka" tanya pak tua Kepada mereka.
"sebaiknya kalian mundur lah, aku yang akan melawan" ucap pangkalima dengan penuh keyakinan sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"heh...heh...heh...kau yakin masih ingin melawanku ?"
"majulah nek mundil !"
nek mundil pun menyerang dengan tongkatnya yang mampu mengeluarkan kekuatan berupa Sambaran petir yang jika terkena serangan itu orang akan langsung lumpuh tak berdaya.
beberapa kali nek mundil melakukan hal yang sama namun berhasil dielakkan oleh pangkalima.
merasa dirinya dipermainkan iya pun menggunakan ajian pamungkasnya.
seketika itu tiba-tiba saja disekitaran tubuh nek mundil mengeluarkan asap dan tak menunggu lama asap tersebut menyebar disekitar tempat itu dan membuat mereka semua pingsan terkecuali pangkalima, kasut dan Wek rontek, yang berhasil menahan serangan asap itu.
alangkah terkejutnya nek mundil melihat asap buatannya hilang sekejap mata dan sebilah Mandau berayun didepannya.
bersambung...
__ADS_1